Kara keluar dari kamar mandi setelah selesai mencuci wajahnya dan menggosok gigi. Ia mengambil jaket dari dalam lemari lalu menyambar tasnya yang ada di atas meja. Sebelah tangannya mengambil ponselnya dan memasukkan ke dalam tas. Ia keluar dari dalam kamar dan melihat Karin yang baru saja bangun dan tengah menuju dapur untuk mengambil air.
“Kamu mau ke mana?” tanya Karin saat menyadari Kara sudah rapi padahal hari masih sangat pagi.
“Mencari Petra.” Kara membuka laci lemari kecil ruang tamu dan mengambil kunci mobil dari sana.
“Aku ikut.” Kata Karin yang langsung mendapat gelengan keras dari Karin. “kamu tahu dia di mana?” tanya Karin saat melihat Kara mulai mendekati pintu.
“Mungkin.” Jawab Kara cepat.
“Hati- hati.” Karin berteriak saat Kara baru saja keluar dari pintu. Karin mengangguk meski tahu Karin tak bisa melihat anggukannya. Gadis itu membuka kunci mobil dan melesak di balik kemudi. Security tergopoh- gopoh membuka gerbang dan mempersilakan mobil itu keluar dari rumah.
Kara menekan pedal gas dalam- dalam. Membelah jalanan yang pagi itu masih sangat lenggang. Ia fokus pada jalanan menuju sebuah pantai yang pernah ia datangi bersama Petra. Sepanjang perjalanan, ia terus berdoa semoga pria itu ada di sana. Semoga firasatnya benar. Semoga pria itu bisa ia temukan di tempat itu.
Tempat itu adalah satu- satunya harapan Kara. Ia tidak tau harus mencari ke mana lagi jika pria itu tak ada di sana. Ia hanya ingin melihat pria itu bagaimanapun keadaannya. Ia ingin memastikan bahwa pria itu dalam keadaan baik- baik saja.
***
Kara menepikan mobilnya di parkiran. Ia setengah berlari hingga sampai di tepi pantai. Matanya menatap ke segala arah namun tak menemukan orang yang ia cari. Ia berlari menyusuri tepi pantai. Angin pantai menggoyangkan beberapa helai rambutnya yang hari tergerai melewati bahu. Ia terus menyusuri pantai yang masih sepi itu hingga melihat sosok orang yang dikenalnya. Langkah kaki Kara berhenti. Ia menatap pria yang tengah menatap lurus ke hamparan air di depannya.
Lututnya bergetar. Ia jatuh terduduk. Dalam hati bersyukur melihat pria itu. Ia menepuk- nepuk dadanya yang kembali terasa sesak.
“Kara.” Ia mengangkat wajahnya dan melihat Petra menatap ke arahnya. Wajah penuh lebam itu menatapnya kebingungan. Kara menarik napas lalu berdiri, setengah berlari lalu memeluk pria itu.
Petra meringis merasakan sakit di sekujur tubuhnya saat Kara memeluknya.
“Kenapa kamu beborhong?” tanya Kara, masih belum melepas pelukanya. Petra yang sudah tak tahan menahan sakit akhirnya melepas pelukan Kara dengan paksa.
Kara terdiam, lalu menatap Petra yang meringis sambil memegangi perutnya. Kara memegang kancing kemeja Petra. Ia hendak membuka kancing itu hingga akhirnya Petra memegang pergelangan tangannya, mencegah Kara membukanya.
“Bukankah kamu berjanji untuk tidak terluka.” Kara menatap sebagian wajah Petra yang membiru. Petra terdiam. Kara melepas genggaman Petra di pergelangan tangannya dan membuka tiga kancing kemeja pria itu.
Gadis itu mundur selangkah. Bibirnya bergetar. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Tubuh pria itu penuh dengan bebatan perban. Entah ada berapa luka yang diderita pria itu. Kara tak sanggup membayangkannya.
“Aku tidak apa- apa.” Petra mengambil sebelah tangan Kara, memberitahukan gadis itu bahwa ia baik- baik saja.
“Kamu masih bisa bilang baik- baik saja setelah mendapat semua luka ini.” Kara menatap Petra yang tersenyum sumir. Pria itu kembali mengancingkan kemejanya yang terbuka.
“Aku akan membaik dalam beberapa hari.” Petra meyakinkan. Luka ini bukan apa- apa. Ia bahkan pernah nyaris meninggal saat mengalami kecelakan beberapa tahun lalu.
“Kenapa kamu tidak pulang?” tanya Kara saat keduanya duduk di tepi pantai.
“Aku merasa bersalah karena tak bisa menepati janjiku.” Kata Petra, “aku tidak ingin kamu khawatir saat melihat keadaanku.”
“Bodoh.” Runtuk Kara, “aku lebih khawatir saat kamu tak pulang dan aku tak tahu kamu ada di mana.”
Petra tersenyum lalu mengusap kepala gadis di sebelahnya. Buncahan rindu dalam hati Petra meledak dan kini dadanya terasa hangat.
“Ayo kita pergi yang jauh.” Kata Kara sambil menatap Petra dengan tatapan menyedihkan. “aku sudah cukup kehilangan ibuku. Aku tak mau kehilanganmu, ataupun Karin.”
“Mau pergi ke mana?” tanya Petra.
“Ke mana saja. Ke tempat yang jauh dan aman. Ayo hidup tenang bersamaku dan Karin.” Kata Kara.
Petra tersenyum, “Kamu pasti tahu kalau pergi bukan pilihan yang tepat untuk menghindari ini semua.” Kata Petra. “orang itu akan mengejar kita. Ke manapun kita pergi.”
Kara tahu. Kara tahu itu. Hanya saja, ia tak punya pilihan lain selain menghindari ini semua. Ia tahu bahwa siapapun yang ada di sampingnya, akan ada dalam bahaya. Entah itu Petra, ataupun Karin, atau mungkin juga Sandra dan Kinan. Orang itu telah mengambil ibunya yang sangat berharga baginya. Ia tidak akan membiarkan orang itu kembali mengambil orang- orang yang berharga baginya.
Menjelang siang, Petra kembali ke hotel tempat ia menginap, tak jauh dari pantai. Ia mengajak Kara bersamanya dan memutuskan untuk memesan layanan kamar untuk makan siang mereka.
“Sampai kapan kamu mau di sini?” Kara membuka tirai jendela kamar dan pemandangan pantai langsung menyambutnya.
“Aku akan menghabiskan beberapa hari di sini.” Jawab Petra. Ia berdiri di samping Kara dan menatap pemandangan di depannya.
“Kamu akan kembali ke rumah?” Kara membalik badan hingga berhadapan dengan pria itu.
“Tentu saja. Aku masih terikat kontrak denganmu.” Jawab Petra.
“Kamu masih ingin melanjutkan kontrak itu setelah semua yang terjadi padamu?” Kara tak habis pikir. “Aku akan menyuruh Karin membatalkan kontrak. Kamu tak akan terikat lagi olehku. Jangan pernah kembali ke rumah dan jangan pernah menemuiku lagi.” Kata Kara tegas. Kalau ia tidak ingin kehilangan pria itu, ia harus membuat pria itu menjauh. Ia tak punya pilihan. Pria itu akan hidup lebih baik jika tak ada di sampingnya. Lebih baik melihat pria itu dari jauh namun tetap sehat dibanding melihat pria itu dari dekat namun penuh luka. Pria itu berhak mendapatkan hidup yang lebih baik. Pertemuan keduanya adalah kesalahan besar, dan Kara tak ingin semuanya terlambat.
“Aku tidak mau.” Jawab Petra tak kalah tegas.
“Kenapa? Kenapa kamu keras kepala sekali? Kamu tidak ingin pergi dari kota ini, tapi tak juga ingin menjauh dariku.” Kata Kara dengan nada frustrasi.
Petra mendekat, merengkuh leher Kara dan mencium bibirnya pelan. Kara terkejut, tubuhnya menengang saat merasa bibir pria itu menyentuh bibirnya. Sebelah tangan pria itu mengusap pinggangnya dan membawa tubuhnya lebih dekat. Kedua mata Kara akhirnya terpejam dan ia membalas ciuman pria itu
***
Wanita itu memutar pelan gelas berisi wine di tangannya. Matanya menatap foto- foto di depannya. Foto- foto Samuel dan Sandra di lorong apatemen dan ditempat- tempat private lainnya. Ia tersenyum sinis lalu meneguk wine dalam gelasnya.
“Ini akan menjadi berita besar.” Katanya.
“Publikasikan besok.” Katanya. Seorang gadis mengangguk lalu mengambil foto- foto itu dan pergi dari hadapan wanita itu. Wanita itu tersenyum puas lalu meminum air dalam gelasnya hingga tandas.
“Aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang, Kara. Aku akan mengahancur semua sumber kebahagiaanmu.” Kata wanita itu penuh keyakinan.
***
Kara tak bisa memejamkan matanya semalaman. Yang ia lakukan hanya berbaring ke samping dan menatap wajah Petra yang tertidur pulas di sebelahnya. Kara sebenarnya ingin memesan kamar di hotel yang sama, namun Petra bersikeras bahwa Kara bisa tidur di ranjangnya yang berukuran besar.
“Aku bisa tidur di sofa kalau kamu takut.” Kata Petra. Namun dengan kondisi pria itu, Kara akhirnya menyuruh Petra tidur di ranjang yang sama, mereka memberikan jarak yang cukup di bagian tengah.
Kara mengingat kata- kata Petra beberapa jam yang lalu.
“Aku tidak mau kehilanganmu. Jangan minta aku untuk pergi. Ayo selesaikan ini semua lalu hidup dengan tenang.” Kata Pria itu sambil menggenggam tangannya dengan erat. Kara tahu bahwa ia bisa mempercayai pria itu.
Kara tersenyum dalam keremangan kamar hingga tiba- tiba mata Petra terbuka perlahan.
“Kamu tidak tidur?” tanya Petra saat melihat jam yang menunjukkan waktu semakin malam.
“Aku sudah beberapa hari tidak melihatmu. Aku tidak ingin membuang waktu untuk tidur.” ucap Kara. Petra tersenyum lalu menarik tangan Kara agar mendekat ke arahnya.
“Ayo istirahat dan kembali ke rumah besok.” Petra menyelipkan sejumput rambut gadis itu ke belakang telinga dan mengecup dahinya pelan. Kara tersenyum lalu memejamkan matanya. Kara lupa kapan terakhir kali tertidur pulas. Malam itu, sejenak ia melupakan semua masalahnya, ia terlelap dalam pelukan hangat Petra.
***
“Bukankah aku sudah bilang, kalau kamu mau selingkuh, jangan sampai ketahuan.” Wanita itu menampar suaminya dengan keras hingga kepala pria di depannya terlempar ke samping.
“Kamu bukan hanya mempermalukan keluargamu, tapi juga keluargaku.” Wanita itu menatap pria di depannya dengan tatapan tajam. Samuel mengusap pipinya yang terasa panas. Ia terdiam dan masih mendengar suara istrinya yang lantang. “bagaimana kamu bisa mengendalikannya jika sudah seperti ini.” Sentak wanita itu dengan keras.
Samuel menengadah lalu menatap wanita di depannya yang menghela napas kasar.
“Putuskan hubungamu dengan wanita itu.” kata wanita itu akhirnya. “kalau sampai aku melihatmu mengunjunginya ataupun menghubunginya, aku akan melabrak wanita itu dan mempermalukannya.” wanita itu masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras.
Samuel menelan ludah, lalu masuk ke pintu yang ada di seberang kamar wanita itu dan menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Ia menatap langit- langit kamarnya dan menarik napas panjang. Ia tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi juga. Hal yang selama ini ia takutkan. Ia membuka ponselnya dan melihat lagi foto- fotonya dan Sandra yang sudah beredar di media sosial.
***
Kara membuka matanya perlahan dan menyadari Petra sudah tak ada di ranjang. Ia bangun dan langsung menatap layar televisi yang menyala.
Skandal pengacara terkenal, Samuel Chandramawa, yang berselingkuh dengan Sandra, sahabat Kara Karenina.
Kara masih terpaku saat mendengar presenter itu membacakan berita. Kara mengucek- ucek matanya saat melihat foto- foto keduanya di lorong apartemen ditampilkan di layar berukuran tiga puluh dua inchi tersebut. Kara berharap ia hanya bermimpi, ia bahkan mencubit lengannya sendiri dan mengaduh sakit. Menyadarkannya bahwa kini semua orang tahu hubungan terlarang Samuel dan Sandra.
Ia menoleh ke samping dan melihat Petra duduk di kursi tak jauh dari ranjang.
“Bagaimana bisa?” tanya Kara. Petra terdiam, tak bisa memberikan jawaban apapun.
Kara berdiri dan mengambil ponselnya yang tergelatak di atas nakas. Ia membuka media sosialnya yang tercengang saat berita hubungan Samuel dan Sandra ada di mana- mana. Ia mengigit bibirnya yang bergetar lalu mencoba menghubungi Sandra namun tak ada jawaban.
“Aku akan ke apartemen Sandra.” Kara mengambil jaketnya di atas sofa dan memakainya cepat- cepat.
“Aku ikut.” Kata Petra. Kara menatap Petra lalu menggeleng.
“Kamu perlu banyak istirahat.” Kata Kara sambil memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. Tapi Petra tak menghiraukan kata- kata Kara. Ia mengambil kunci mobil Kara di atas meja.
Kara tak punya banyak waktu untuk berdebat sehingga ia membiarkan Petra ikut ke apartemen Sandra. Keduanya keluar dari kamar hotal dan langsung masuk ke mobil Kara yang terparkir di parkiran.
Petra menyalakan mesin, menekan pedal gas lalu menjalankan mobilnya ke apartemen Sandra. Kara bergerak gelisah di kursinya. Ia menghubungi Karin dan gadis itu bilang, ia juga dalam perjalanan ke kediaman Sandra.
TBC
LalunaKia