CHAPTER DUA PULUH ENAM

1972 Words
            “Bukankah itu Karin?” Kara menatap sebuah restoran dengan kaca jendela transparan saat menepi untuk ketiga kalianya di sebuah taman. Petra mengikuti arah pandang Kara dan menatap restoran yang ada di seberang.             “Bukankah dia temanmu?” tanya Kara lagi saat melihat Kara bersama seorang pria yang tak lain adalah Gerald.             “Gerald.” Kata Petra saat melihat pria itu duduk di depan Karin di restoran itu.             Kara berdecak, “Karin bilang mereka tidak ada hubungan apa- apa. Tapi coba lihat? Bukankah mereka sedang berkencan.”             “Tidak juga. Pria dan wanita yang pergi berdua belum tentu sedang berkencan.” Kata Petra. Kara terdiam. Benar, ia teringat dirinya dan Petra yang kini sedang pergi berdua, dan tentu saja  mereka tidak sedang berkencan.             “Kamu benar.” Kata Kara. “lihatlah, bukankah mereka berdua cocok.” Kara menatap lagi Karin yang tengah asik berbicang- bincang dengan Gerald yang duduk di depannya.             “Ya, mereka berdua kelihatan cocok.” Jawabnya sambil mengangguk.             “Aku selalu berharap Karin bisa menemukan pria yang tepat. Karin selalu bilang bahwa dia tidak akan pernah menikah dan akan terus berada di sampingku.” Kara tertawa kecil, “dia selalau bilang, antara pacar dan aku, dia tidak akan bisa mendapatkan keduanya. Jadi dia lebih memilih bersamaku sampai tua.”             “Karin merasa berhutang budi padamu.” Kata Petra. Kara menatap Petra, dan berpikir pria itu sudah tahu bagaimana ia dan Karin bertemu.             “Hutang budi apanya. Aku tak berbuat apa- apa.” Kara mengingat masa- masa itu. “aku hanya membagi sedikit uang yang ku punya saat itu. Aku yang saat itu hanya lulus SMP, memutuskan untuk membantu biaya kuliah Karin karena tahu dia lebih pintar dariku. Dan setelah bertahun- tahun berjuang sendiri, aku akhirnya punya seseorang untuk berbagi keluh kesah.” Ceritanya. “aku yang sangat beruntung bertemu dengan Karin. Aku yang berhutang budi padanya.”             Selama beberapa saat pandangan keduanya terpaku pada sosok yang sama. Sosok yang tengah menikmati hidangan di atas meja dengan penuh senyum dan tawa, hingga akhirnya mereka dikagetkan dengan suara jendela kaca mobil bagian belakang mereka yang pecah. Bersamaan dengan itu suara desingan motor melaju melewati mobil mereka.             Kara terkejut lalu menoleh dan melihat sebuah batu besar yang ada di kursi penumpang belakang. Petra buru- buru menyalakan mesin dan menekan pedal gas untuk mengikuti motor tersebut.             “Kamu tidak apa- apa?” tanyanya pada Kara tanpa menoleh, ia masih terus fokus pada jalanan untuk mengikuti ke mana arah motor itu.             Kara hanya mengangguk, lalu memegang erat safety beltnya saat merasakan Petra semakin menaikkan angka di spidometer. Petra membelah jalanan, matanya fokus menatap motor yang terus melaju kencang di depannya.             Tubuh Kara bergetar, wajahnya pucat pasi. Ia menatap Petra yang memegang kemudi dengan sangat erat. Pria itu menekan klakson beberapa kali berharap orang- orang memberinya jalan, ia tak ingin kehilangan pria yang baru saja melemparkan batu besar itu ke dalam mobil. Tak peduli orang- orang menyerukkan sumpah serapah kepadanya.             “Pelan- pelan.” Kata Kara akhirnya. Napasnya tersengal saat melihat Petra hampir menabrak mobil di depan mereka demi mengejar motor itu. Suara klakson menggema di jalanan karena Petra mengemudi dengan ugal- ugalan.             “Aku tidak akan kehilangannya.” Kata Petra penuh tekad, masih tidak menoleh pada Kara yang mulai keringat dingin.             Motor itu memasuki jalanan yang sepi dan berhenti di sebuah bangunan tua tak berpenghuni dan tak terawat.             Petra menghentikan mobilnya saat memasuki gerbang. Ia melihat kedua orang itu turun dari motor dan berdiri menatap ke arahnya.             “Jangan keluar.” Kata Kara sambil memegang tangan Petra dengan erat. Ia mencengkeram pergelangan Petra kuat- kuat.             “Pulang lah saat aku keluar.” perintah Petra. Ia tahu ia membawa Kara dalam bahaya saat melihat kedua orang itu mengeluarkan pisau lipat dari saku mereka.             “Tidak. Ayo pulang bersama.” Kata Kara dengan nada memohon.             Petra menatap Kara yang wajahnya sudah pucat. Keringat menetes dari dahinya. Ia mengusap pipi gadis itu dan berkata, “Pulanglah. Aku akan menyusul setelah menyelesaikan ini.” Kata Petra, “pastikan kamu selamat sampai rumah.” Katanya sambil bersiap keluar dari mobilnya.             “Tidak. Jangan keluar. Aku mohon. Ayo kita kembali.” Pinta Kara dengan nada memohon dan putus asa. Ia masih menggenggam tangan pria itu erat- erat. Memelas agar pria itu mau mendengarkan kata-katanya.             “Aku akan pulang secepatnya. Aku berjanji.” Katanya lalu melepas paksa genggaman Kara dan bersiap keluar dari mobil.             “Jangan sampai terluka.” Kata Kara akhirnya, ia tahu bahwa Petra tak akan mendengar kata- katanya, “aku mohon jangan sampai terluka.” Kata Kara dengan bibir bergetar. Petra tersenyum sambil mengangguk, memastikan bahwa ia akan menepati janjinya, lalu keluar dari mobil.             Kara berpindah tempat duduk dan menatap Petra yang mengisyaratkannya untuk segera pergi dari tempat itu.             Petra mendekat saat memastikan mobil Kara menghilang dari pandangannya.             “Siapa yang menyuruh kalian?” tanya Petra. Tak ada yang menjawab, salah satu laki- laki itu maju dan langsung melemparkan pukulan yang bisa dihalau Petra. Keduanya terlibat perkelahian sengit. Darah dan lebam di wajah dan tubuh Petra tak juga membuat pria itu menyerah. Pria itu masih terus membalas pukulan demi pukulan hingga akhirnya berhasil menunsukkan pisau ke lengan Petra.             Petra meringis lalu melihat wajah lawannya yang juga penuh luka. Ia berteriak lalu mendekat dan menendang pria itu sekuat tenaga hingga lawannya tersungkur di tanah. Tanpa ampun, ia menginjak d**a pria itu hingga pria itu menyemburkan darah dari mulutnya.             Ia masih memukuli lawannya tanpa ampun hingga merasakan sesuatu menusuk tubuh bagian belakangnya. Ia menoleh melihat orang yang satunya baru saja menusukkan pisau lipatnya ke punggungnya. Darah langsung mengucur saat pria itu menarik pisau dari tubuh Petra.             Petra mengambil pisau dari pria yang tersungkur dan berdiri, menatap pria yang lainnya.             “Sekarang kita lawan yang sepadan.” Ia menacungkan pisau yang sudah penuh dengan darahnya.             “Siapa yang menyuruh kalian? Jawab selagi aku berbaik hati padamu.”             Pria itu melirik temannya yang sudah tergeletak di tanah dan sepertinya tak punya kekuatan lagi untuk melawan. Ia setengah berlari ke arah Petra dan terlibat dengan perkelahian tak kalah sengit. Mereka saling menusuk, memukul, menendang dan melakukan apapun untuk bertahan.             Penuh luka, Petra berhasil melumpuhkan lawan ke duanya. Ia menaruh kakinya di atas d**a pria itu.             “Siapa yang menyuruhmu?” Petra berteriak dengan frutrasi. Ia mengelap sudut bibirnya yang berdarah. Tapi pria itu tak juga mau membuka mulutnya hingga suara sirine polisi terdengar.             Mobil polisi memasuki gerbang, empat orang petugas polisi mengacungkan pistolnya ke arah Petra yang sudah siap membunuh pria itu. Petra menunduk di samping pria itu dan melihat napas pria itu sudah tersengal dengan wajah penuh darah. Petra menaruh ujung mata pisaunya di leher pria itu dan tersu berbisik, “siapa yang menyuruhmu?”             Polisi mendekat perlahan hingga akhirnya mengelilingi Petra. Petra yang sudah putus asa karena tak juga mendapat jawaban akhirnya menjatuhkan pisaunya dan membiarkan polisi memborgol kedua penjahat itu.             Polisi memborgol tangan kedua penjahat itu dan membantu mereka untuk berdiri. Kaki keduanya belum sempat melangkah saat sebuah letusan senjata api terdengar. Kedua penjahat itu tersungkur di lantai. Kepala keduanya mengeluarkan darah.             Petra dan polisi lainnya langsung mencari asal suara tembakan. Petra menatap kedua penjahat itu dengan lemas. Keduanya sudah tergeletak di tanah, dengan kepalanya yang mengucurkan darah. ***               Petra terbaring di rumah sakit dengan tubuh penuh luka yang sudah di bebat perban. Dokter baru saja keluar setelah melakukan serangkaian pemeriksaan dan perawatan pada lukanya. Ia melirik jam lalu ke ponselnya yang terus berdering. Nama Kara ada di layar.             Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Petra. Dua orang polisi masuk dan berdiri di depannya. Polisi itu bertanya bagaimana kondisinya dan apakah ia bersedia dimintai keterangan saat itu juga.             Petra mengangguk pelan lalu menceritakan semua yang terajdi sampai ia berkelahi dengan dua orang itu. Diakhir jawabannya, polisi memberitahu bahwa mereka gagal menangkap orang yang menembak penjahat itu. Mereka hanya menemukan dua buah senjata laras panjang yang digunakan. Tapi beberapa polisi masih mencoba menyisir lokasi untuk mendapatan petunjuk.             Petra menghela napas, ia tahu bahwa ia tidak berharap banyak pada polisi. Mereka merencanakan semua dengan sangat matang sehingga tak akan mudah menangkapnya.             Setelah puas dengan jawaban Petra, kedua polisi itu pamit dari hadapannya dan akan menemui Kara keesokan harinya untuk meminta keterangan dari gadis itu.   ***               “Kamu yakin dia tidak ada di rumahnya?” tanya Kara pada Karin. Ia masih mondar- mandir di ruang tamu dengan sebelah tangan memegang ponselnya. Sekeras apapun gadis itu mencoba menghubungi Petra, pria itu tak pernah menjawab panggilannya.             “Gerald meyakinkanku kalau dia tidak ada di sana.” Jawab Karin. Kara mengusap wajahnya frustrasi. Sudah dua hari sejak kejadian itu dan Petra tak juga pulang ke rumah.             Polisi mendatanginya kemarin untuk meminta keterangan darinya. Saat ia bertanya di mana pria itu, polisi menyebutkan salah satu rumah sakit. Tapi saat Kara sampai di sana, pria itu sudah tidak ada. Perawat bilang bahwa pria itu sudah pergi sejak kemarin. Kara akhirnya berkeliling kota demi mencari keberadaan pria itu. Ia menyetir mobil seperti orang gila dan terus menatap jalanan dan berdoa semoga bisa menemukan pria itu. Tapi, pencariannya hari itu tak membuahkan hasil. Kara harus menelan kecewa saat tak juga menemukan sosok itu sampai malam. Ia kembali ke rumah dengan langkah gontai dan bahu yang melemas.             Malam itu, Petra tak kembali ke rumah seperti yang dijanjikannya sebelumnya. Pria itu tak mengangkat panggilannya ataupun membalas pesannya. Ia bahkan ke rumah Gerald dan tak menemukan pria itu di sana. Gerald sama bingungnya seperti dirinya.             Setelah kematian ibunya. Ia merasakan kembali perasaan itu. Rasa sesak yang membuat matanya sulit terpejam. Sesak yang menyiksanya. Sesak yang nyaris mematikannya. Ia ingin menangis, ia ingin menangis agar rasa sesak itu hilang.             Keesokan harinya, tak juga ada kabar dari pria itu. Petra sepeti hilang begitu saja. Kara memutar kemudinya, ia kembali berkeliling untuk menemukan Petra, tak peduli bahwa mungkin bahaya mengancam nyawanya. Begitu juga dengan Gerald dan Karin yang juga terus mencari keberadaan pria itu.             Ia menyesal. Ia menyesal meninggalkan Petra malam itu. Ia menyesal mengikuti perkataan pria itu. Ia harusnya menjadi egois dan memaksa pria itu pulang bersamanya, atau seharusnya ia menunggu Petra menyelesaikan urusannya. Ia menyesal. Ia harusnya tak percaya begitu saja pada pria itu.             Ia tak tak sanggup kehilangan pria itu. Luka saat kehilangan ibunya bahkan belum sembuh sepenuhnya, bagaimana mungkin ia harus kehilangan pria itu sekarang. Bagaimana mungkin pria itu sanggup mengabaikan puluhan panggilan dan pesannya. Bagaimana mungkin pria itu bisa meninggalkannya begitu saja tanpa ada kalimat perpisahan. Bagaimana mungkin pria itu berbohong padanya.   ***               Petra merenung di keremangan kamarnya. Sebelah tangannya mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. 67 panggilan tak terjawab, 53 pesan. Petra menelan ludah lalu memilih untuk tak membaca pesan itu. Ia membuka menu galerinya dan menatap foto ia dan Kara saat pemotretan untuk launching produk milik Kinan. Ia tersenyum melihat senyum Kara dalam foto itu. Ia mengusap wajah dalam ponselnya dengan ibu jarinya. Ia merindukan gadis itu, sangat. Tapi, ia tak punya nyali bertemu gadis itu dengan keadaannya yang seperti ini.             Ia baru tak bertemu selama dua hari namun merasa bahwa kerinduannya nyaris membuat jantungnya meledak. Ia tak memungkiri bahwa dorongan untuk kembali rumah dan memeluk gadis itu begitu kuat. Namun, ia tak ingin melihat Kara sedih saat tahu keadaannya dan ia tak berhasil menepati janjinya. Ia sudah mengingkari dua janjinya pada gadis itu. Janji untuk tak terluka dan janji untuk langsung pulang ke rumah selepas urusannya selesai.             ***               Mata Kara masih menyalang tajam saat jam menunjukkan pukul dua malam. Ia masih menatap ponselnya. Berharap Petra menghubunginya atau sekadar membalas pesannya. Tapi ponselnya tak bordering. Pria itu tak pernah menghubunginya sekalipun sejak kepergiannya malam itu.             Kara membuka menu galeri dan menatap foto Petra yang ia ambil secara diam- diam. Ia menscroll layar ponselnya hingga sampai pada potret pantai yang ia ambil saat mengikuti Petra yang hari itu memperingati hari kematian Kamila, istrinya. Kara terduduk di ranjang dan tampak berpikir. Ia menatap pantai itu baik- apa, juga hotel- hotel yang terlihat di kawasan itu.             “Mungkinkah?”  TBC LalunaKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD