“Kamu tidak sadar kalau wajahmu ada di hampir semua berita. Berani- beraninya kamu keluar rumah tanpa masker dan topi.” Kata Gerald pada Petra yang duduk di depannya.
Petra yang pergi terburu- buru lupa memakai makser dan topinya. Ia sendiri tidak menyangka bahwa efeknya akan sedahsyat ini. Sepanjang perjalanannya menemui Gerald di sebuah restoran. Tak sedikit orang yang mengenalinya. Beberapa orang bahkan memotret wajahnya secara terang- terangan. Begitupun saat ia sampai di restoran. Ia bisa mendengar beberapa orang di meja tak jauh dari tempatnya berbisik dan beberapa mata mendaratkan pandangannya ke arahnya secara terang- terangan.
“Aku tidak menyangka akan seperti ini.” Keluh Petra yang yang sama sekali tak suka menjadi pusat perhatian.
“Abaikan saja mereka.” Kata Gerald. “aku menelusuri jejak digital Daniar.”
“Siapa Daniar?” tanya Petra memotong.
“Anak tersangka yang meninggal di kantor polisi.” Jelas Gerald. “aku mewawancarai beberapa teman terdekatnya dan menemukan fakta bahwa hidupnya dikenal cukup mewah di kampusnya meskipun ayahnya cuma seorang supir pribadi.”
“Mungkin pacarnya kaya?” kata Petra.
“Dia tinggal di sebuah apartemen mewah di pusat kota tanpa sepengetahuan orangtuanya. Para tetangganya tahu bahwa ia mengekos dekat kampus dan tak setiap hari pulang ke rumah. Ia menggunakan mobil setiap berangkat ke kampusnya.” Gerald meneguk isi gelasnya lalu melanjutkan, “seorang teman dekatnya mengatakan, Daniar pernah bilang bahwa pacarnya adalah pria beristri.”
“Siapa?”
“Isvari Hendrawan.” Kata Gerald.
“Kamu yakin?”
“Sahabatnya pernah berpapasan dengan pria itu di lorong apartemen Daniar. Ia memastikan sendiri bahwa pria itu masuk ke apartemen itu.”
“Dia bilang pada polisi saat Daniar meninggal?” Petra melihat Gerald menggeleng. “Ia hanya memberitahukan padaku.”
“Bagaimana bisa?”
“Aku mengaku sebagai polisi. Kasus kecelakaan ini tak pernah terselesaikan, aku bilang polisi membuka kembali kasus ini dan mulai kembali penyelidikan.” Jawabnya, “sahabatnya pikir kecelakaan itu murni kecelakaan sehingga ia tidak berpikir bahwa informasi itu akan membantu penyelidikan sebelumnya.”
“Mungkinkah Hendrawan dalangnya karena tahu Daniar hamil?”
“Itu kesimpulan sementaraku.” Kata Gerald.
“Jadi pria itu menjadi kaki tangan orang yang sudah membunuh anak dan istrinya?” kata Petra, “Tapi polisi tak memiliki catatan kalau mereka masih berhubungan. Daftar panggilan yang dipulihkan polisi pun tidak ada yang mencurigakan, dia hanya menghubungi beberapa teman jauhnya sebelum melakukan percobaan pembunuhan terhadap Kara.”
Petra melihat Gerald tampak berpikir, namun ia tak memiliki kesimpulan lain. Semuanya masih terlalu rumit dan keduanya tak mampu mengurainya.
***
Petra masuk ke dalam rumah dan melihat Kara tengah mengacak- acak rambutnya frustasi.
“Ada apa?” tanya Petra sambil duduk di depannya. Ia melihat sebuah novel tergeletak di atas meja.
“Aku tidak bisa menangis.” Keluh Kara.
“Bagus lah. Untuk apa menangis.” Petra menatap Kara dengan bingung.
“Air mata ku yang berharga tak bisa keluar. Bagaimana aku bisa berakting dengan natural kalau tidak bisa menangis.” Jelas Kara.
“Pakai tetes mata saja.” Petra memberi solusi.
Kara berdecak. “aku tidak pernah menggunakan itu selama perjalanan karierku. Aku tidak suka menggunakannya.”
Petra melihat Kara menghela napas. Bahunya gadis itu melemas. Punggungnya menyadar pada sofa yang empuk.
“Aku sudah menonton film sedih, juga membaca buku yang selalu membuatku menangis. Tapi lihat? Mataku kering. Air mata itu tak juga mau keluar.” Kata Kara, “apa jangan- jangan air mataku habis karena selama ini terlalu banyak menangis.”
“Mana mungkin. Seseorang tidak akan pernah kehabisan air mata.” Jelas Petra.
Kara kembali mengacak- acak rambutnya dengan frustasi.
“Ayo jalan- jalan keluar.” Ajak Petra.
“Ke mana?” tanya Kara.
“Makan mie instan di minimarket.” Jawab Petra.
“Ayo.” Tak butuh berpikir, Kara langsung berdiri dan masuk ke dalam rumahnya untuk berganti pakaian. Ia keluar beberapa menit kemudian dan terdiam saat melihat Petra yang menunggu di ruang tamu dengan masker dan topi.
“Aku yang artis, tapi kamu yang lebih takut dikenali.” Kata Kara. Karin yang baru keluar dari kamarnya tak urung tertawa.
“Petra sekarang lebih terkenal dari pada kamu.” Kata Karin sambil mendekat. “kamu yakin tak mau menjadi model?” tawar Karin sekali lagi yang langsung mendapat gelengan keras dari Petra.
Petra akhirnya menggandeng tangan Kara keluar sebelum Karin memberondongnya dengan tawaran- tawaran lain. Petra membuka pintu penumpang untuk Kara dan menghela Kara ke dalamnya. Pria itu membawa Kara ke minimarket tak jauh dari komplek perumahannya. Setelah membeli mie instan kesukaan Kara, keduanya memakannya di dalam mobil.
“Kenapa suka mie instan?” tanya Petra setelah berhasil menghabiskan isi dalam cupnya.
“Aku dan ibuku pernah ada di posisi hanya mampu membeli mie instan. Aku tak pernah bosan meski memakannya setiap hari. Jika orang lain mungkin sudah mengalami usus buntu, aku nyatanya tak pernah sakit.” Kara tersenyum mengenang masa kecilnya.
“Mie instan mengingatkanku bahwa aku pernah berada di posisi sulit. Aku pernah benar- benar merasa di bawah.” Lanjut Kara yang mambuat Petra tersenyum kecil. Tatapan Petra teralihkan pada seseorang di seberang.
“Bukankah itu Samuel?” Petra menunjuk keluar jendela. Ke sebuah restoran perancis tak jauh dari mobil mereka terparkir. Kara mengikuti arah pandang pria itu.
“Iya.” Kata Kara sambil memasukkan mie instan ke dalam mulutnya.
“Dengan siapa? Sepertinya bukan klien.” Petra melihat Samuel bersama seorang wanita yang melingkarkan lengannya di lengan Samuel dengan mesra. Namun, tatapan Samuel tampak jengah hingga ia mencoba melepaskan pegangan wanita itu dengan sebelah tangannya yang bebas.
“Memang bukan klien.” Jawab Kara dengan nada tak acuh.
“Bukankan kamu harus memberitahu pada Sandra yang apa kamu lihat?” Petra menatap Kara yang masih sibuk dengan cup di tangannya.
“Tidak. Tidak perlu.” Jawab Kara. Ia menatap Petra yang tengah menatapnya dengan tatapan kebingungan.
Kara menghela napas. “Dia istrinya.” Jawabnya akhirnya.
“Bukankah Sandra istrinya?”
“Iya, dia juga istrinya. Sandra dinikahi secara siri oleh Samuel, dan tidak ada yang tahu hubungan keduanya.” Kara tertawa sumir saat melihat Petra menatapnya kebingungan.
“Sandra wanita yang cantik dan sukses, kenapa memilih menjadi simpanan?”
Kara meneguk air dalam botol lalu menjawab, “Sandra sebelumnya pernah menikah karena perjodohan dan ternyata mengalami KDRT dalam pernikahannya. Saat ia meminta izin ayahnya untuk bercerai, ayahnya mengalami serangan jantung dan di rawat di rumah sakit selama berminggu- minggu. Ia mengurungkan niatnya untuk bercerai dan bertahan selama bertahun- tahun dalam pernikahan yang baginya seperti neraka.” Cerita Kara. “ia baru berani mengambil keputusan bercerai tak lama setelah ayahnya meninggal.” Lanjutnya. “lalu hidup membawanya bertemu dengan Samuel, pria yang juga terjebak dalam pernikahan karena perjodohan orangtua.”
Petra terdiam, ia melihat Kara tersenyum sumir. “Aku, Kinan dan Sandra dipertemukan dengan kondisi yang sama- sama berat. Kinan juga bercerai dengan suaminya yang sudah dipacari selama lima tahun lebih. Selepas bercerai, ia berjuang demi hidupnya dan anak semata wayangnya. Sandra berusaha mencari jati dirinya kembali setelah bertahun tahun mendapatkan kekerasan fisik dan psikis dari mantan suaminya.” Kara bercerita. “kami berjuang hingga bisa sampai di titik ini.” Kara menangang saat- saat ia dan kedua temannya berjuang untuk hidup masing- masing dan saling menguatkan hingga akhirnya bsia menjadi seperti sekarang.
“Saat pertama kali melihat kalian bertiga. Aku tahu bahwa kalian wanita- wanita hebat.” Kata Petra, membuat Kara tersenyum.
“Aku selalu bersyukur Tuhan mempertemukanku dengan semuanya. Kehadiran Sandra, Kinan dan Karin membuatku bahagia. Senang bisa bertemu orang- orang yang juga mengalami kesulitan. Kami saling mendukung satu sama lain hingga sekarang.”
Keduanya kembali berkeliling kota. Melihat hiruk- pikuk dari sore hingga menjelang malam. Kara menatap keluar jendela sementara Petra fokus pada kemudi. Kara lupa kapan terakhir kali pergi berjalan- jalan. Rutinitasnya telah membuatnya kehilangan banyak waktu meski hanya untuk melihat hiruk- pikuk jalanan kota.
Kara menikmatinya, mungkin ia memang harus berlibur sedikit. Pekerjaan dan masalahanya akhir-akhir ini tak hanya menyita waktunya. Tapi juga mengubur kebahagiaannya. Ia harus mulai menikmati hidupnya hingga akhirnya siap untuk memulainya semuanya kembali.
Mereka kembali singgah di minimarket. Petra keluar dari mobil dan kembali dengan dua buah es krim di tangannya. Ia memberikan salah satunya pada Kara. Kara membuka kaca jendelanya setengah dan memakan es krimnya. Ia memerhatikan trotar yang ramai oleh orang berlalu- lalang. Pria dan wanita berpakain rapi menyusuri trotoar untuk kembali ke rumah sepulang dari kantor. Anak- anak muda dengan skateboard memenuhi sebagian trotoar, beberapa anak muda lainnya berkerumun tak jauh dari sana.
“Mereka anak muda yang bahagia.” Kata Kara saat melihat gerombolan itu saling bercanda dan tertawa. “sayang sekali aku melewatkan masa- masa keemasan itu.”
“Tak ada batasan umur untuk menjadi lebih bahagia. Kalau kamu tidak bisa bahagia saat muda, kamu bisa bahagia saat tua nanti.” Kata Petra, “atau mungkin saat ini.”
Kara menoleh ke arah Petra yang juga tengah menatap gerombolan anak muda tak jauh dari tempat terparkirnya mobil mereka.
Kara berpikir. Saat ia mulai terjun dalam dunia entertain dan akhirnya memiliki banyak uang, apakah dirinya sudah bahagia? Kehidupannya malah terasa membosankan. Ia tak suka berbelanja dan liburan seperti yang lainnya sehingga tak banyak yang bisa ia lakukan untuk melepas penat. Yang ia lakukan hanya bekerja setiap hari dan menghasilkan banyak uang. Ia tak benar- benar merasa bahagia.
TBC
LalunaKia