Petra mengakhiri perjalanannya ke sebuah taman kota yang malam itu tampak ramai. Kara masih mengikuti di sebelahnya. Beberapa anak muda bernyanyi dan memainkan musik, beberapa lainnya hanya bergerombol dan mengobrol bersama. Taman itu juga diramaikan oleh berbagai komunitas yang memang rutin bertemu di sana setiap minggu. Orangtua dan anak- anak juga terlihat di sana. Penjual makanan dan minuman memenuhi samping trotoar.
“Kamila suka melihat live music di taman di kota kami.” Kata Petra saat melihat beberapa anak bernyanyi dikelilingi orang- orang yang menikmati nyanyiannya.
“Aku bisa membayangkan bagaimana kebahagiaan istrimu.” Kara dan Petra ikut menonton sekumpulan anak muda itu.
“Tidak peduli sebahagia apapun dia. Aku menyesal tak bisa melindunginya hingga membiarkan ia tewas.” Kata Petra, “bahkan tak ada yang bertanggung jawab atas kematiannya.” Lanjutnya.
Kara mengerti seperti apa penyesalan yang dirasakan pria itu. Sama seperti penyesalan yang sempat ia rasakan. Penyesalan karena tak sempat melindungi orang yang mereka cintai. Penyesalan karena membiarkan orang yang mereka cintai mati sia- sia.
Kara menahan diri dari keinginan untuk memeluk pria di sebelahnya. Ia ingin sedikit membagi beban pria itu. Tapi, ia tak punya keberanian. Ia ingin Petra tak lagi menyesal tentang apa yang bukan menjadi kesalahannya, sama seperti saat menyuruhnya untuk kembali bangkit setelah kematian ibunya. Tak ada yang perlu disesali karena semuanya sudah terjadi. Yang mereka harus lakukan adalah bangkit dan kembali menjalani hidup dengan baik.
“Aku yakin Kamila tidak ingin kamu menyesali semua yang sudah terjadi.” Kata Kara. “Kamila akan lebih senang jika kamu bisa melanjutkan hidup dengan baik tanpa bayang- bayang penyesalan yang bahkan bukan kesalahanmu.”
“Aku selalu berharap bahwa aku bisa menggantikan Kamila. Dia begitu cantik, baik, optimis dan bahagia, dia tidak pantas mati seperti itu.” lirih Petra.
Kara tahu bagaimana perasaan Petra pada istrinya. Terlihat dari sorot mata pria itu bagaimana ia mencintai wanita itu dan bersedia melakukan apapun untuknya. Pria itu bahkan rela menukar nyawanya dengan Kamila jika bisa.
Kara memberanikan diri menggenggam tangan Petra. Laki- laki itu menoleh. “Ayo hidup lebih baik. Aku tidak ingin membuat ibuku menyesal dengan menyia- nyiakan hidupku. Aku yakin Kamila juga tidak ingin melihatmu menyia- nyiakan hidupmu dengan terus merasa menyesal.”
Petra menatap mata Kara dalam- dalam lalu membawa tubuh wanita itu dalam pelukannya.
***
“Maaf kalau hari ini aku mengganggu.” Kata Kara saat keduanya keluar dari taksi dan berjalan pelan ke dalam rumah.
“Tidak apa- apa. Hari ini terasa lebih mudah karena kehadiranmu.” Jawab Petra dengan seulas senyum tipis.
Petra dan Kara memasuki rumah. Dua pasang mata itu menatap Karin yang sedang duduk di ruang tamu. Petra tersenyum pada Karin lalu masuk kamarnya sementara Kara duduk di sofa ruang tamu.
“Kamu bersenang- senang?” tanya Karin saat melihat Kara duduk di depannya.
“Aku ada di waktu yang tidak tepat.” Kata Kara. Gadis itu membuka topinya, menaikkan kedua kakinya ke atas sofa lalu menyelonjorkannya. Kepalanya di tempatkan di tangan sofa dengan tubuh yang terlentang di atas sofa.
“Kenapa?” Karin tampak penasaran.
“Hari ini hari peringatan kematian istrinya.”
Karin menutup mulutnya yang terbuka. “Istrinya sudah meninggal?” tanyanya meyakinkan. Kara mengangguk.
“Hidupnya tak jauh lebih baik dari hidupku.” Kata Kara sambil berdiri lalu masuk ke kamarnya. Meninggalkan Karin dengan rasa penasaran.
Kara berdiri di depan kaca besarnya. Ia menatap dirinya sendiri. Ia menatap potret di depannya dengan seksama, dari atas sampai bawah. Ia sudah merangkak sejauh ini. Ia tak punya pilihan selain meneruskan langkahnya.
***
Kara sedang membaca buku di ruang tamu. Karin duduk di sofa seberang, sibuk dengan laporan keuangannya hingga tiba- tiba Kara mendengar Karin memekik keras.
“Ada apa?” tanya Kara.
“Kinan baru saja mengupload pemotretan kemarin di laman instagram.” Jawab Karin. “kolom komentarnya langsung meledak.” Lanjutnya.
“Apa itu berhasil? Peminatnya produknya pasti banyak kan?” kata Kara dengan nada bangga, “semua produk yang aku iklankan memang tidak pernah gagal.” Kata Kara tepat saat Karin menggeleng cepat.
“Semua terfokus pada Petra. Mereka semua memuji ketampanan pria itu.”
Sebelah alis Kara terangkat. Ia mengulurkan tangan untuk meminta benda pipih dalam tangan Karin. Ia menscroll layar dan membaca komentar- komentar dalam unggahan yang menampilkan potret dirinya dan Petra.
“Dia tampan.”
“Bukankah dia pengawal Kara?”
“Aku sudah sering memerhatikannya saat mendapingi Kara di beberapa kesempatan.”
“Dia sering memakai topi dan masker saat mendampingi Kara, tapi dari matanya, aku tahu bahwa ia tampan.”
“Dia cocok menjadi model.”
Dan masih banyak komentar serupa. Kara berdecak, “Aku seperti tak kasat mata. Sama sekali tak ada memerhatikan aku.” Keluh gadis itu dengan nada sebal.
“Kalau kita bikin hubungan settingan antara kamu dan Petra, mungkin bisa mengembalikan ketenaranmu.” Kata Karin dengan penuh semangat.
Kara menggeleng cepat. “Kamu tahu bahwa aku tak suka terlibat settingan dalam bentuk apapun.” Kata Kara. Selama masuk ke dunia entertain, sudah tidak terhitung berapa settingan yang ditawarkan untuknya demi popularitas dan uang. Ada yang meminta dengan imbalan uang agar popularitas artis baru naik, ataupun untuk menaikkan film atau single barunya. Tapi, Kara selalu menolak. Ia tidak ingin terlibat dengan settingan semacam itu. Ia ingin mendapatkan uang dan ketenaran karena kerja keras dan bakatnya, bukan settingan yang mungkin hanya bertahan beberapa saat.
Petra bergabung dengan keduanya tak lama kemudian. Ia duduk di sebelah Karin dan kebingungan saat melihat Karin dan Kara menatapnya dengan intens.
“Kamu berminat jadi model atau artis? Ini saat yang tepat.” Kata Karin. Petra langsung menggeleng. Ia tak pernah berpikir ataupun bermimpi untuk masuk ke dunia entertain. Baginya dunia itu menakutkan. Begitu banyak kepalsuan dan kebohongan yang dipertontonkan.
“Ayolah, aku bisa mencarikan iklan yang cocok untukmu.” Kata Karin.
Kara berdecak, “kamu pintar mencari peluang saat aku sudah tidak laku lagi.”
Karin tertawa, sementara Petra masih kebingungan.
“Lihat ini.” Kara memberikan ponsel Karin pada Petra.
Petra membaca apa yang ada di layar dan menunjukkan raut wajah tak percaya.
“Mereka terlalu berlebihan.” Petra menaruh ponsel di atas meja.
“Aku juga bingung, kamu punya modal untuk menjadi model, kenapa memilih jadi pengawal?” tanya Kara. “aku pikir kamu bisa mendapatkan pekerjaan yang jauh lebik dari ini.” Lanjutnya, Karin tak urung ikut mengangguk.
Keduanya melihat pria itu menghela napas. “aku di sini untuk mencari pembunuh istriku.” Katanya. Karin dan Kara saling pandang.
“Menurutmu, pembunuhnya ada di kota ini?” tanya Kara. Ia melihat pria di depannya mengangguk.
“Lalu, kamu sudah dapat petunjuk?” tanya Kara lagi. Karin menatap Petra dengan rasa penasaran yang sama. Sejak pertama kali mewawancarai pria itu. Ia tahu bahwa pria itu bukan pria biasa. Pria itu seperti punya sesuatu yang dia sembunyikan.
“Aku mencurigai satu orang saat datang ke sini. Tapi sepertinya aku salah.” Kata Petra.
“Siapa dia?” tanya Karin dengan rasa penasaran.
Petra menggeleng. Enggan memberitahukan bahwa pria itu Rayyan, mantan pacar Kara.
Karin baru saja hendak membuka mulut saat melihat Kara berkedip ke arahnya, mengisyaratakan gadis itu untuk tak bertanya lebih jauh.
***
Kara tak punya banyak kegiatan di rumah. Ia menghabiskan banyak waktu untuk menonton film- film sedih. Berharap ia bisa menangis. Setelah kepergian ibunya dan tak ada air mata sedikitpun yang keluar, ia menyadari tak ada lagi yang bisa membuatnya menangis.
Selama berkarier, Kara lebih banyak mengambil peran- peran dalam film romance karena minim resiko, salah satu keunggulannya adalah mudahnya ia dalam menangis. Ia bisa dengan mudah menangis tanpa bantuan apapun. Hanya mendalami adegan dan dialog. Dan sekarang, saat ia merasakan bahwa salah satu keterampilannya untuk menangis menghilang, ia tak yakin apa ia bisa kembali ke dunia yang telah membesarkan namanya.
“Apa aku harus menjejali mataku dengan cabai.” Kara merutuk, ia menekan tombol pada remot televisi lalu membanting benda itu ke atas meja.
“Pelan- pelan saja.” Karin masuk ke ruang tamu dan duduk di sebelahnya.
“Ah, ini membosankan.” Kara menyadarkan tubuhnya ke sofa. Ia bosan, ia yang terbiasa aktif mendadak harus mengabiskan waktu di rumah. Belum ada pekerjaan yang masuk untuknya. Tapi Karin justru banyak mendapatkan telepon dari orang- orang yang penasaran terhadap sosok Petra.
Tak sedikit juga yang menginginkan Petra untuk mempromosikan produknya. Setelah nama Kara booming dengan segudang masalahnya, kini nama Petra menjadi yang paling dicari di kolom pencarian. Semua orang mencoba mencari tahu lebih siapa sosok Petra. Mereka mencari akun medsos atas Petra namun tak menghasilkan apapun. Petra tak memiliki akun media sosial. Ia hanya punya satu akun i********: bukan atas namanya untuk memantau isi timeline Rayyan.
Petra menjadi pria yang banyak di perbincangkan di media sosial. Foto- fotonya saat mendampingi Kara di berbagai kesempatan mendadak di ekspos demi memenuhi rasa penasaran orang- orang.
Semua berita dan foto- foto Petra yang dimuat di salah satu berita mendulang view yang fantastis. Semua portal media tak ingin menyia- nyiakan kesempatan emas itu untuk menulis artikel dan foto- foto pria itu.
Kara berdecak melihat berandanya di penuhi wajah pengawalnya. Setelah menggeleng- gelengkan kepalanya karena bingung bagaimana bisa seseorang begitu populer dalam semalam, ia akhirnya tersenyum. Tak sedikit foto kebersamaan keduanya di unggah ke media- media sosial. Pria itu lebih sering memakai masker karena dari awal tak begitu suka jika wajahnya tertangkap kamera. Tapi, pada beberapa kesempatan, pria itu membiarkan wajahnya terekspos sempurna. Pria itu hanya berdiri di belakangnya, atau di sebelahnya, atau mengekorinya di belakang dan selalu tampak gagah dengan postur tubuh tinggi dan cukup berotot.
Penampilannya ditunjang oleh pakaian mahal yang Kara belikan untuknya. Pakaian itu membalut tubuh Petra dengan sempurna. Seperti kata Karin, pria itu punya modal yang cukup untuk terjun ke dunia entertain. Dibanding pengawal, pria itu jelas lebih cocok menjadi model.
TBC
LalunaKia