10. Kecelakaan

1257 Words
“Mbaknya hati-hati dong!" Sentak seorang lelaki paruh baya yang baru saja terjatuh dari motornya. Sama seperti Arsyila yang kondisinya jauh lebih parah, sudah jatuh, tertimpa motornya pula. Dia bahkan tidak mampu merespon kata-kata lelaki yang baru saja bertabrakan dengannya itu. Arsyila meringis kesakitan. Dan beberapa menit setelahnya, dia dan lelaki paruh baya itu menjadi pusat perhatian, orang-orang di sekitar juga berkumpul untuk memberi bantuan. "Mbaknya nggak apa-apa?" Tanya seorang lelaki yang merupakan juru parkir di pasar tradsional itu, sambil menegakkan kembali motor Arsyila. "Saya nggak apa-apa," ucap Arsyila. Sebisa mungkin Arsyila berdiri sendiri tanpa ingin disentuh oleh lelaki yang sedang berusaha membantunya. Hingga akhirnya dia sudah kembali berdiri tegak, sambil menahan perih di bagian siku, juga kakinya yang lecet terkena besi-besi di bagian motor. "Mbak Arsyila, nggak apa-apa? Ayo saya antar ke klinik dekat sini." Arsyila langsung menoleh, suara itu dia mengenalnya. Ibu-ibu yang tadi tidak memiliki uang cash dan berhasil ditolongnya, kembali lagi. Padahal seingat Arsyila, wanita itu sudah masuk ke dalam mobilnya beberapa menit lalu. Arsyila mendadak kehilangan fokusnya ketika dia sedang berpikir keras mengingat-ingat mobil siapa itu, rasanya dia merasa tidak asing. Hingga karena itu, dia tidak sengaja bersenggolan dengan pengendara motor lainnya yang kebetulan sedang melaju dengan kecepatan yang lumayan. "Eh, I-Ibu? Kok balik lagi?" Tanya Arsyila gugup. "Mbak, ini bagaimana urusannya? Motor saya lecet!" Lelaki yang sudah berumur itu kembali marah, dan menuntut. Padahal, kondisinya sama-sama rugi, walau sebenarnya ini sebagian besar adalah kesalahan Arsyila yang tidak berhati-hati. "Saya ganti, Pak." Arsyila mengeluarkan dompetnya lagi. Mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan, lalu menyerahkannya pada lelaki itu. Arsyila enggan ribut dengan orang asing apalagi orang tua, dan dia juga tidak punya tenaga lebih untuk berdebat maka dia memilih mengalah saja. Setelah menerima uang dari Arsyila, lelaki itu langsung pergi tanpa mengatakan apapun. "Iya, kebetulan mobil saya memang belum jalan. Karena orang-orang sekitar pada heboh, katanya kecelakaan, saya langsung turun, ternyata Mbak Arsyila. Untung saya belum pergi dari sini. Ayo Mbak, saya bawa ke klinik. Itu tangannya memar loh." Jujur saja Arsyila kebingungan saat ini. Beberapa bagian tangannya khususnya pergelangan, mulai terasa nyeri dan memperlihatkan memarnya. Hoodienya yang berbahan lumayan tebal juga robek di bagian siku, karena terseret aspal. Dan belanjaannya tadi juga berhamburan di jalan. Sungguh, Arsyila tidak tahu harus menggambarkan hari ini bagaimana. Dia seperti mendapatkan keberuntungan sekaligus kesialan dalam satu waktu. "Kalau saya ikut Ibu ke klinik, motor saya gimana, Bu?" Lirih Arsyila. "Tenang aja, biar sopir saya yang bawa. Sekalian juga dibawa ke bengkel. Mbaknya saya antar ke klinik, saya bisa nyetir, kok," ucap wanita itu tanpa ragu. Bibir pucat Arsyila akhirnya membentuk seulas senyum tipis. Dia mengangguk. "Iya Bu." Dia juga merasakan rangkulan di pundaknya. "Pak, tolong ya, motornya dibereskan." Pinta wanita itu pada sopirnya yang saat itu juga turun, mengawalnya. "Baik Bu." Ibu ini baik banget, Masya Allah. Puji Arsyila dalam hati, bahkan dia sama sekali belum mengetahui wajahnya. Sesekali, wanita itu membenarkan selendang yang menutupi sebagian kepalanya karena tertarik ke belakang, diterpa angin. "Sanggup jalan, kan?" "Bi-bisa kok Bu," sahut Arsyila gugup. Dia masih mampu berjalan walau agak tertatih, karena sebagian kaki dan betisnya terluka sekaligus memar. Arsyila masih saja berdecak kagum, bertemu orang sebaik ibu-ibu ini. Bahkan dia membukakan pintu mobil untuk Arsyila. Beneran deh mobil ini kayaknya nggak asing banget. Oh mungkin rata-rata orang kaya pakai mobil begini, ya? Gumam Arsyila. Untuk kedua kalinya dia bersikap norak saat menaiki sebuah mobil mewah, meski itu hanya kata-kata di dalam hatinya. "Hah, akhirnya. Panas banget di luar." keluh wanita itu. Arsyila mengerjapkan matanya berkali-kali ketika wanita di sebelahnya membuka masker, menyalakan mobil dan bersiap untuk melaju. "Bu Laura?" Jantungnya juga berdetak tidak keruan, ketika melihat wajah asli orang yang sudah ditolong sekaligus menolongnya di pagi menjelang siang ini. "Kamu kenal saya?" Laura pun kaget. Seberapa terkenal dia hingga wanita muda di sebelahnya ini mengetahui namanya? "Sa-saya… salah satu karyawan di perusahaan Bu," jelas Arsyila. Sungguh dia semakin gugup tanpa alasan. Padahal sejak tadi, istri bos besarnya ini memperlakukannya dengan sangat baik. "Ya ampun, pantas aja kamu kenal saya." Laura tertawa. "Maaf Bu, saya jadi nggak enak ngerepotin Ibu." Arsyila menundukkan pandangan bahkan tak berani menatap Laura. "Santai aja, Arsyila. Nggak masalah. Anggap aja ini balasan saya karena tadi kamu udah nolongin saya," ucap Laura lembut. Diapun melajukan mobilnya perlahan-lahan. "I-iya Bu." "Kamu belanja di pasar sini, kamu tinggal di sekitar sini juga, kah?" "Iya Bu, kosan saya daerah sini. Nggak terlalu jauh kok dari pasar." "Sama dong, rumah saya juga daerah sini," sahut Laura. Arsyila hanya mengangguk lalu tersenyum. Yang dia tahu juga seperti itu. Pak Abi bos besar perusahaan beralamat di daerah Jakarta Selatan, tapi dia tidak tahu pastinya di mana. Kini, Arsyila mendadak kehilangan bahan obrolan. Penasaran Arsyila akhirnya terjawab. Pantas saja dia seperti mengenal kendaraan mewah ini, ternyata sering parkir di area VIP perusahaan, milik Pak Abi, pastinya. Begitulah yang ada di dalam pikiran Arsyila. "Kok bisa kecelakaan, gimana ceritanya?" Laura kembali mengajukan pertanyaan. "Ta-tadi, waktu saya baru aja keluar dari parkiran, saya mau nyebrang untuk putar arah, saya nggak lihat ke kanan, Bu. Hanya lihat ke satu arah, ternyata ada bapak-bapak yang lewat, lumayan kencang," jelas Arsyila apa adanya. "Salah saya juga nggak hati-hati, Bu." Arsyila mengakui itu. "Iya… makanya saya tuh paling serem kalau naik motor, misalnya jatuh atau kecelakaan dikit aja pasti langsung berefek gitu. Kayak kamu, langsung memar terus itu kaki kamu ya ampun, lukanya lumayan besar." Sembari menyetir, Laura melirik ke arah kali Arsyila yang terluka. "Iya Bu…" lirih Arsyila. "Makanya dulu, waktu muda, saya nggak belajar bawa motor sama sekali. Saya mendingan naik ojek atau angkot." Laura melanjutkan ceritanya di masa muda. "Terus pas ketemu dan kenal sama suami saya, dia malah bersedia ngantar saya ke sana kemari. Saya nggak dibolehin pergi sendiri. Ini aja cuma mau belanja dapur doang, harus diantar sopir padahal saya bisa nyetir sendiri.” "Beruntung banget Ibu…Pak Abi pasti baik banget." puji Arsyila. "Iya sih, tapi… nggak begitu juga, ah ceritanya panjang." Laura tertawa, ingat-ingat masa dulu. Hanya sekitar sepuluh menit saja, mereka sudah tiba di klinik yang Laura maksud dan kebetulan tidak jauh dari pasar itu. "Nah, udah sampai. Kamu tunggu di sini, ya? Saya panggilkan petugas yang ada di dalam untuk bawain kursi roda buat kamu. Saya yakin kamu kesulitan berjalan kalau dalam kondisi kaki kamu yang begitu." Laura menggunakan maskernya dan membenarkan selendang di kepalanya lagi, sebelum turun. "Iya.. Bu. Makasih." Entahlah Arsyila tidak tahu lagi harus berkata apa, Ibu bos ini terlalu baik menurutnya. Beberapa menit kemudian, ada satu orang perawat yang sedang mendorong kursi roda ke arah mobil. Cepat-cepat Arsyila membuka pintu mobil, dia turun perlahan dari mobil sport yang agak tinggi itu. Arsyila meringis menahan perih pada luka di kakinya yang kian menganga. "Bu, maaf ya, saya repotin Ibu sampai sejauh ini." Arsyila yang sudah duduk di kursi roda, mendongak menatap Laura. "Nggak apa-apa. Saya temanin sampai kamu selesai ditangani. Nanti saya antar kamu pulang–" "Eh Bu, nggak apa-apa. Nggak usah Bu, nanti saya hubungi teman saya aja." Arsyila bukannya menolak kebaikan Bu Bos. Hanya saja dia sungguh merasa tidak enak jika Laura sampai melakukan sejauh itu. Memangnya dia siapa? Sampai Laura harus berkorban sebanyak itu padanya. Laura merogoh tasnya karena baru saja mendengar notifikasi chat masuk. Dia agak kesulitan membaca pesan di layar ponselnya karena tidak menggunakan kacamata, hingga menjauhkan sedikit layar ponselnya. Baby, kamu di mana? pergi ke pasar kok lama banget? aku khawatir kamu diculik berondong. “Ini loh, udah tua, masih aja posesif.” gumam Laura tanpa sadar. “Eh, gimana Bu?” tanya Arsyila. Dia pikir, Laura mengajaknya berbicara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD