Di sebuah ruangan kerja yang mewah, dengan interior bergaya minimalis, ada seorang lelaki paruh baya, sedang menikmati makan siang yang dibawakan oleh putra tercintanya. Lunch box milik Abi, sudah bersisa setengah porsi. Sementara Arash, belum menyentuh makanannya sama sekali. Ada banyak hal yang dia pikirkan hingga lelaki itu tak memiliki niat dan nafsu untuk makan meski makanan itu berasal dari restoran favoritnya. Dua lelaki beda usia itu sedang mengobrol ringan tentang keseharian masing-masing. Terutama Abi, lelaki itu mengeluh bahwa akhir-akhir ini kesehatan dan konsentrasinya semakin menurun.
"Tapi yang papa bilang itu benar, Rash. Akhir-akhir ini Papa memang sering cepat lelah. Mata papa juga nggak kuat lagi kalau terus-terusan mandang layar macbook atau ipad, perih. Kalau terlalu banyak baca juga bikin ngantuk–"
"Wih, g****k! g****k!" Arash menepuk keningnya, dengan mata yang masih tertuju pada layar ponsel yang sedang digenggamnya. Baru saja dia mengumpati dirinya sendiri yang begitu ceroboh.
"Aduh, Pa! Sakit!" Keluh lelaki itu, kala menerima ketukan di keningnya, menggunakan sendok besi hingga menghasilkan suara yang terdengar begitu padu.
"Kamu ngatain papa g****k?!" Protes Abi. "Papa nggak nyangka kamu seberani itu, mentang-mentang Papa butuh kamu, kamu bisa berkata sesuka–"
"Ya ampun, Pa. Bukan. Aku lagi baca chat. Maaf Pa, kalau papa salah paham. Soalnya keadaannya lagi gawat darurat." Arash mengusap keningnya yang baru saja terkena hantaman sendok.
"Chat dari siapa yang bisa membuat kamu memaki di depan orang tua, hah?!"
Arash kali ini tidak terlalu memperdulikan sang papa. Dia masih fokus membalas chat dari bos cantiknya yang baru saja mengirimkan sebuah foto berupa struk pembelian dan chat yang tak jauh dari bentuk sindiran.
Waduh, maaf bu :(
Padahal saya senang banget Ibu chat saya.
Tapi kenapa malah jadi gini.
Saya nggak maksud pamer, Bu. Saya beneran lupa. Tapi saya harap ibu nggak mikir lain tentang saya.
Bu Bos
Nggak masalah. Cuma saya beneran kaget sama harganya. Thanks.
Arash menghembuskan napas berat. Jawaban Arsyila begitu padat, singkat dan jelas, menandakan bahwa atasannya itu masih belum welcome dengannya. Walau sudah menampakkan perkembangan baik. Atau memang seperti itu sifat Arsyila, kaku mirip kanebo kering?
"ARASH?!"
Sentakan suara Abi berhasil menyadarkan Arash. Cepat-cepat dia meletakkan ponselnya di atas meja dan kembali beralih pada papanya yang sempat dia abaikan.
"Yes Papa!"
"Apa itu pacar kamu? Atau dia orang yang cukup spesial? Kamu tau papa nggak suka kalau kita lagi ngobrol tapi kamu malah fokus ke yang lain, apalagi kita sedang makan. Lihat makananmu bahkan belum terbuka. Ada apa? Siapa itu? Sepenting apa?"
Pertanyaan bertubi-tubi dari sang papa, membuat kepala Arash makin berdenyut. Efek ketukan di kepalanya dengan sendok saja masih agak terasa. Ditambah lagi pertanyaan papanya yang seolah-olah sedang menginterogasinya.
"Papa kan tau aku nggak punya pacar," sangkal Arash. "Bukan apa-apa, nggak penting juga," lanjutnya. Oke, dia memang bisa menyangkal dengan kata-kata. Tapi tidak dengan hatinya yang masih gelisah karena melakukan kesalahan fatal lagi di hadapan Arsyila. Sungguh dia tidak berniat pamer. Saking semangatnya memberikan paket makan siang sebagai permintaan maaf pada atasannya itu, Arash bahkan tidak terpikir kalau struk itu masih tertinggal di dalam paper bag.
"Tapi kamu aneh akhir-akhir ini. Kamu nggak bikin masalah lagi, kan?" Tanya Abi memastikan.
"Oh, enggak kok Pa." Dengan perasaan enggan dia membuka lunch box miliknya. Menu yang sama seperti Arsyila. Andai boleh memilih, dia ingin makan bersama Arsyila. Tapi kenyataannya dia sekarang makan bersama papanya yang tidak lagi muda dan terus-terusan banyak berharap padanya. Sedangkan Arash sendiri menganggap dia belum bisa diandalkan sama sekali.
"Nanti meeting bulanan, kamu wajib ikut," pinta Abi tegas tanpa bertele-tela.
"Orang-orang malah bingung Pa, aku siapa kok bisa ikut nimbrung?"
"Sekaligus kamu perkenalkan diri–"
"Perkenalan yang sesungguhnya atau–"
"Ya enggak lah, Arash. Bilang aja kalau kamu itu statusnya masih calon karyawan, yang butuh bimbingan, butuh belajar, atau apalah."
"Oke Pa. Ada lagi?"
"Itu… dengan Arsyila. Kamu wajib banyak nanya dan belajar sama dia. Kalau perlu, setiap kegiatan yang dia lakukan atau event yang dia ikuti mengenai kantor, kamu juga ikut nimbrung. Pelajari cara-cara dan strategi yang Arsyila terapkan. Anak itu pintar, Papa salut sama dia."
Arash memegang dagunya ketika mendengar kalimat papanya barusan. Belajar dengan Arsyila? Itu juga keinginannya. Tapi, masalahnya apa wanita itu bersedia. Mata Arash memicing menatap sang papa yang kerap kali memberi pujian pada Arsyila.
"Aku nggak yakin Pa," ucap Arash kemudian.
"Alasannya?"
"Susah. Bu Arsyila itu, kayaknya benci banget sama aku, Pa," keluh Arash.
Dan tanggapan papanya adalah menertawakannya. "ilfeel dia sama kamu, pasti gara-gara kamu bawa ke hotel," ucap Abi.
Arash berdecak. "Itu salah satunya."
"Sebisa mungkin, perbaiki hubungan kamu dengan atasan. Kalau sama atasan sendiri aja kamu nggak bisa menjalin hubugan baik, gimana dengan relasi-relasi kamu nantinya?"
Bukannya Arash tidak mau. Tapi menurut Arash, akses untuk melakukan pendekatan pada Arsyila sepertinya agak tertutup dan dia harus menemukan jalan lain yang mungkin bisa membuat wanita itu lebih ramah dengannya.
"Aku usahakan Pa."
"Pokoknya, dalam seminggu ini, papa mau dengar kabar baik dari kamu. Minimal ada satu kegiatan yang Arsyila lakukan, dan kamu terlibat langsung di dalamnya!"
"Oke Pa."
Entahlah bagaimana nantinya. Arash merasa untuk ke depannya terlalu banyak tugas dari papanya yang harus dia laksanakan, yang paling sulit menurutnya adalah melakukan pendekatan pada karyawan kesayangan papanya, alias Bu Bos Arsyila yang super cuek.
*
Weekend, sabtu-minggu. Adalah hari yang paling dinanti-nanti oleh semua karyawan, termasuk Arsyila. Di hari sabtu, biasanya wanita menggunakan waktunya untuk berbelanja, mengisi stock bahan makanan di kulkasnya yang mulai menipis. Di hari minggu, biasanya Arsyila mencuci atau membereskan kamarnya. Selain hobi bekerja dan membuat program-program baru, Arsyila juga senang memasak. Hanya saja dia tidak memiliki waktu untuk menyalurkan hobinya yang satu itu, kecuali saat weekend ataupun di hari kerja dengan catatan dia sedang tidak terburu-buru.
Sekitar jam tujuh pagi, gadis itu sudah bersiap memakai hoodienya yang super longgar, dipadu dengan celana kulot dan hijab instan. Pagi ini, Arsyila akan berbelanja sayuran dan bahan lainnya ke pasar tradisional yang ada di sekitar alamat kosnya. Tidak lupa memakai helm dan membawa motor matic kesayangannya, motor yang sempat ditinggal semalaman di parkiran perusahaan karena harus pulang bersama si anak magang yang super menyebalkan walau sebenarnya sifat baik Arash mulai terlihat di sela-sela sifat jahilnya.
"Saya mau cabe merahnya sekilo, tolong pilih yang bagus, dan yang lurus. Soalnya kalau bengkok, rada susah dirajang." Arsyila menoleh pada seorang wanita di sebelahnya. Wangi semerbak parfum yang beraroma manis mengusik indera penciumannya, hingga Arsyila tidak fokus pada apa yang akan dibelinya di pasar itu. Bukan hanya karena parfumnya yang membuat Arsyila gagal fokus, tapi karena request wanita paruh baya itu, yang membuat Arsyila tersenyum di balik maskernya.
Selain aromanya yang wangi, yang menarik perhatian Arsyila juga wanita di sebelahnya ini adalah stylenya. Sangat tidak cocok untuk dibawa ke pasar tradisonal seperti ini. Arsyila sempat kagum karena jarang ada orang kaya yang mau masuk ke pasar tradisional, pasti cenderung berbelanja di supermarket yang serba higienis tanpa harus berdesak-desakan.
"Oke Bu, apalagi?" Tanya si penjual. Sementara sambil menanti si abang penjual melayani pelanggan di sebelahnya, Arsyila sedang menimbang-nimbang apa yang akan dibelinya.
"Bawang merahnya dua kilo, bawang putih dan bawang bombay, masing-masing setengah kilo." pinta wanita itu. "Sama sayur-sayur yang ini, ya?"
"Bang, saya cabe merah seperempat aja. cabe rawitnya juga seperempat." Arsyila akhirnya bersuara, dia merasa tak bisa berlama-lama, karena banyak hal yang harus dikerjakan di kosnya.
"Oke Mbak. Kalau Ibu, ada lagi?"
"Udah deh, itu aja. Dihitung, ya Mas."
"Sebentar ya Bu."
Sambil menanti, Arsyila masih mencuri-curi pandang pada tante-tante di sebelahnya. Meski wajahnya tidak terlihat karena tertutup masker, tapi Arsyila bisa menerka bahwa wanita ini pasti cantik.
"Totalnya seratus tujuh puluh dua ribu ya Bu," ucap si penjual sembari menyerahkan pesanan wanita itu.
Lantas wanita itu mengeluarkan dompetnya dari dalam tas jinjing yang dibawanya. "Waduh, saya nggak bawa uang." Tidak hanya penjual yang menoleh ke arahnya, tapi juga Arsyila. Yang benar aja, orang kaya nggak bawa uang?
"Terus ini, batal Bu?" Penjual masih bersikap ramah.
"Maksudnya, saya nggak bawa uang cash. Kebiasaan cashless sih. Duh, sebentar ya saya telpon sopir saya–"
"Pakai uang saya aja, Bu," sahut Arsyila. Tanpa ragu dia mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan dari dompetnya dan menyerahkan ke penjual.
"Saya pinjam uang cash kamu, nanti saya transfer ke kamu, ya?" Tanpa membuka masker, Arsyila dapat melihat senyum wanita itu, dari sorot matanya yang menyipit.
"Iya boleh Bu, nggak masalah," jawab Arsyila dengan ramah, sambil memilih beberapa jenis sayuran. Dia bisa mengerti keadaan ibu ini karena Arsyila juga pernah mengalaminya. Saat dia hendak membeli nasi uduk seafood di warung tenda kaki lima, ternyata dia tidak memiliki uang cash. Untung saja abang-abang tempat Arsyila membeli itu sudah cukup mengenalnya hingga Arsyila bisa kembali lagi besok untuk membayar.
"Baik banget Mbaknya." Puji wanita itu, menunggu Arsyila menyelesaikan belanja dan transaksinya dengan si penjual.
"Saya cuma menolong, Bu. Dari pada Ibu nggak jadi belanja cuma karena nggak ada uang cash. Hehe."
Arsyila dan wanita paruh baya itu berjalan bersisian sembari membawa belanjaan masing-masing, untuk keluar dari pasar, menuju parkiran. Sampai detik ini, mereka tidak mengetahui wajah satu sama lain. Namun, entah mengapa mendengar suaranya Arsyila merasa seperti tidak asing.
"Sebelum kita pisah, nomer rekening Mbaknya jangan lupa."
"Iya Bu, sebentar, saya juga nggak hapal." Laura membuka ponselnya untuk mengecek nomer rekeningnya. Lalu menyebut satu persatu.
"Atas nama Arsyila Jelita Puspasari?"
"Iya Bu, benar."
"Ini, sudah saya transfer ya? Lima ratus ribu." Beberapa detik setelahnya, wanita itu memperlihatkan layar ponselnya pada Arsyila. Karena sinar matahari yang mulai meninggi, Arsyila jadi tidak terlalu jelas melihatnya namun dia percaya saja bahwa transaksinya pasti sudah berhasil.
"Loh kok lima ratus ribu, itu kebanyakan Bu, belanjanya Ibu kan cuma seratus tujuh puluhan?”
"Nggak apa-apa, saya genapin biar Mbaknya gampang buat narik di atm. Kalau gitu, sekali lagi terima kasih ya Mbak."
Arsyila mengangguk sopan. Sungguh dia merasa tidak enak, uangnya diganti berkali lipat. Tapi tidak apa-apa, Arsyila menganggap ini adalah rejeki tak terduga sebagai balasan dari niat tulusnya menolong seseorang tanpa memandang siapa, walau menurutnya itu terlalu berlebihan. “Sama-sama Bu. Hati-hati ya.”
“Iya, Mbaknya juga hati-hati. bye!”
Mereka berpisah di parkiran. Arsyila masih menatap wanita itu berjalan menuju sebuah kendaraan roda empat yang tergolong mewah. "Eh, aku kayak kenal mobilnya." Gumam Arsyila.