8. Chat Pertama

1189 Words
"Pak, saya beneran nggak bisa pergi kali ini. Bukan hanya karena mau menyelesaikan laporan. Tapi saya sedang datang bulan, perut saya sakit dan nggak nyaman, Pak." Arsyila tidak berbohong soal ini, meski sebenarnya rasa sakit itu masih mampu ditahan, tapi dia sengaja menjadikan alasan agar atasannya itu mau mengerti. Arsyila merasa buang-buang waktu jika harus pergi keluar untuk makan bersama Marcel. Rencana Arsyila, siang ini dia memesan makanan di kantin saja. Tidak berencana meninggalkan ruangan sampai laporannya selesai. Bila perlu, dia juga lembur di kantor agar urusan laporan dan urusannya dengan Marcel selesai, walau nyatanya tidak semudah itu. Karena Marcel masih diam seakan sedang menatapnya, Arsyila terpaksa memasang wajah memelas, dia memberikan tatapan memohon pada lelaki itu. "Please, Pak. Kali ini bulan saya menolak–" "Oke kali ini nggak apa-apa. Tapi saya anggap kamu punya utang dengan saya, dan kamu harus bayar di lain waktu. Kenapa sulit sekali, ya, mau makan bareng kamu?" Keluh Marcel membuang napas kasar, dia kembali melepaskan jas yang sudah dipakainya, dan mencampakkan secara asal di sofa ruangannya. "Maaf Pak, lain waktu–" "Janji dulu dengan saya!" Marcel menyentuh lengan Arsyila, lantas wanita itu langsung menepisnya. "Saya usahakan, tapi tolong, Bapak kesannya jangan memaksa–" "Saya paksa aja kamu nolak terus, apalagi enggak?" Marcel menggerutu. Dia duduk kembali di kursi kebesarannya sembari menaikkan kedua kaki di atas meja. Arsyila diam dan hanya mengangguk tipis. "Saya permisi, Pak–" "Saya belum selesai bicara, Arsyila. Kata siapa kamu boleh pergi?" Arsyila yang sempat memutar balikkan tubuhnya hendak melangkah, terpaksa menunda niatnya itu dan kembali menoleh pada Marcel. "Kamu sadar nggak sih, saya ini siapa?" Tanya Marcel tegas dengan tatapan menghujam. Arsyila mengangguk. "Bapak atasan saya, dan Bapak bisa merekomendasikan saya untuk dimutasi atau dikeluarkan dari perusahaan sekalipun," balas Arsyila tak kalah tegas. Dia sampai hapal segala jenis ancaman yang dikatakan Marcel padanya tiap kali dia menolak ajakan lelaki itu. "Kalau kamu udah tau, kenapa kamu nolak terus? Kamu masih single, kan?" "Karena sejujurnya saya nggak takut sama sekali dengan ancaman Bapak. Saya yakin perusahaan ini, apalagi Pak Abi selaku petinggi, yang bijaksana. Nggak mungkin sembarangan memecat karyawan tanpa alasan yang jelas. Sejauh saya bekerja di sini, saya nggak pernah menciptakan kinerja yang buruk sampai saya harus dipecat." Tegas Arsyila, memberanikan diri menatap wajah Marcel. Lantas lelaki itu tertawa. "Oh, terlalu percaya diri, kamu ya? Atau jangan-jangan… selama ini, kamu dan Pak Abi?" "Jangan membuat fitnah tanpa bukti yang jelas, Pak!" Ketus Arsyila. "Saya rasa pantas saja Abimana sering memberi kamu pujian di forum, ternyata kamu simpanannya?" Detik itu juga Arsyila ingin meremas dan menarik bibir Marcel yang sudah berbicara asal dan menudingnya yang tidak-tidak. "Kalau sampai Pak Abi dengar kata-kata Bapak barusan, saya yakin Pak Abi akan membuat perhitungan pada Bapak! Saya permisi!" Arsyila rasa dia terlalu lama membuang waktunya untuk meladeni perdebatan tak penting dengan Marcel. Arsyila tak takut sama sekali dengan ancaman-ancaman mutasi atau pemecatan, karena semua keputusan ada di tangan Abi, selaku pemilik. Bukan pada Marcel yang jabatannya hanya direktur. "Oke, silakan pergi. Perlu kamu ingat ya, Arsyila, saya tau di mana alamat kosmu, kamar nomor berapa. Bahkan alamat orang tuamu di Jogja saya juga tau." Marcel tertawa setelah mengatakan itu. Awalnya Arsyila ingin menjawab dan menunda langkahnya. Tapi setelah dia pikir-pikir, ternyata Marcel tipe lelaki berbahaya sejenis penguntit yang mengerikan. Ada baiknya dia tidak berurusan lagi dengan lelaki ini, tapi itu tidak mungkin mengingat Marcel adalah atasan Arsyila. Wanita itu kembali ke ruangannya dengan perasaan campur aduk, antara kesal dan takut karena secara tidak langsung hidupnya mulai terancam. Ketika pintu lift terbuka, dia berpapasan dengan Arash. Tampak lelaki itu sedang membawa sebuah paper bag, dan tersenyum ke arahnya. Tanpa berkata apa-apa, walau hanya sekadar menyapa. Arsyila hanya membalas dengan senyum tipis dan membiarkan Arash masuk ke dalam lift, sementar dia keluar karena sudah tiba di lantai tujuannya. Arsyila tiba di ruangan, kosong. Tak ada siapapun di sana. Dan dia dikejutkan dengan sesuatu di atas meja kerjanya berdekatan dengan macbooknya yang masih tertutup. Sebuah paper bag dan setangkai bunga mawar. Begitu melihat paper bag ini, Arsyila merasa tidak asing, seperti baru saja melihatnya, dia langsung teringat Arash. "Mau apa lagi, anak itu?" Dia bergumam meski belum terlalu yakin kalau itu dari Arash. Arsyila membua paper bag, berisi dua box makanan. Ketika box itu dikeluarkan dari dalam paper bag, aromanya menyeruak. Mengusik lambung Arsyila yang sebenarnya sejak tadi sudah meronta minta diisi. Arsyila tersenyum tanpa sadar. Lunch box itu berisi nasi, dengan lauk ayam goreng mentega, sayur, dan telur gulung. Dan yang satunya adalah dessert tiramisu cake. Arsyila jadi bingung, ingin menyantap yang mana dulu. Tidak hanya itu, ada sebotol jus jeruk, lengkap dengan air mineralnya. Makan siang paket komplit, Arsyila sendiri belum pernah memesan yang seperti ini. Dia lapar, tidak mungkin menolak rejeki di siang bolong seperti ini. Tapi sebelum menyantapnya, Arsyila perlu mencari tahu dulu, benarkah ini dari Arash atau dari orang lain? Apa yang Arsyila cari, akhirnya dia temukan di dalam paper bag. Selembar kertas yang diambil dari lembaran note book, berukuran sedang. Ada sebuah tulisan tangan di sana. Saya minta maaf, kalau membuat ibu nggak nyaman dengan keberadaan saya. Saya minta maaf atas kejadian tadi malam, sekaligus pagi ini. Saya perlu menjelaskan, bahwa semalam saya terpaksa membawa ibu ikut ke hotel, karena kondisinya sangat urgent. Saya harus mencari adik perempuan saya yang kemungkinan besar sedang berada dalam bahaya. Salah saya karena nggak berkata jujur dan malah mengatakan hal yang membuat Bu Arsyila marah sampai menampar saya. Selamat menikmati makan siang ini, semoga hari-hari ibu selalu bahagia. Tertanda ANR Arsyila tidak bisa memungkiri dia agak terharu dengan kata-kata Arash di kalimat itu. Andai Arash berkata jujur, dia tidak mungkin marah apalagi sampai menampar Arash yang saat itu akan menyelamatkan adik perempuan yang kondisinya sedang alam bahaya. "ANR?" Wanita itu berkerut kening. "Arash apa nama lengkapnya?" Tiba-tiba Arsyila penasaran dengan lelaki itu. Dia meraih setangkai mawar segar berwarna putih, lalu memasukkan ke dalam vas bunga yang ada di meja ruang tamu di ruangannya, menggabungkan bunga itu di antara bunga-bunga lain, yang merupakan bunga hias terbuat dari plastik. Perut Arsyila sudah tidak bisa lagi diajak kompromi, Arsyila berdo'a sebelum menyantap makanan itu perlahan-lahan. Rasanya nikmat, walau menunya sejenis menu masakan lokal khas Indonesia. Jenis-jenis masakan yang Arsyila sukai. Suapan demi suapan terasa sangat nikmat sampai akhirnya dia merasa perutnya benar-benar penuh, apalagi setelah meneguk jus jeruk itu sampai setengah botol. "Pintar juga tuh bocah pilih menu makanan." Secara tidak langsung, Arsyila memuji Arash. Arsyila merogoh dan mengintip lagi isi paper bag masih ada selembar kertas berukuran sangat kecil di dalam sana yang berupa struk pembelian, dengan nilai total lima ratus delapan puluh lima ribu. Nama restorannya juga tertera di dalam struk, membuatnya melongo, karena itu salah satu restoran ternama dan terkenal mewah di Jakarta. "Jadi barusan aku makan siang senilai hampir enam ratus ribu? Itu anak banyak banget duitnya?" Gadis berhijab itu merogoh saku blazernya untuk mengambil ponsel. Memotret struk itu lalu mengirimkannya pada seseorang. Makasih untuk paket makan siangnya. Bikin saya kenyang sekaligus takjub dengan harganya. Btw melalui struk ini, kamu mau pamer kalau kamu baru kasih saya makan siang semahal ini? Chat pertama yang Arsyila kirimkan pada Arash.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD