Arsyila pergi ke toilet untuk menenangkan diri. Bukan dia orang yang gampang baper atau sejenisnya. Hanya saja, Arsyila yang sebenarnya seseorang yang introvert, sangat sulit menerima kehadiran orang baru. Apalagi, Arash terang-terangan sering mengajaknya bicara tak penting, bahkan menyakiti hati. Sejak kecil, Arsyila selalu dibatasi pergaulannya oleh orang tuanya, terutama ayahnya. Arsyila dilarang pergi bermain bersama temannya, dengan alasan di luar sana berbahaya. Hingga Arsyila lebih sering di rumah, bermain sendiri, tanpa ada pergaulan sejak kecil. Dia hanya ada teman bermain jika sedang pergi dengan orang tuanya ke acara keluarga, bertemu dengan sepupu-sepupunya.
Kebiasaannya yang tidak punya teman sejak kecil, terbawa sampai dia dewasa hingga Arsyila menjadi orang yang membatasi dirinya pada pergaulan. Di kantor saja, hanya Rayna teman dekatnya. Tidak ada yang lain. Sesekali, Radit ikut menimbrung diantara mereka berdua, itupun hanya untuk sekadar makan siang bersama. Jadi, kesimpulannya setelah mengenal Arash, dia menganggap Arash itu manusia aneh.
Selama lima belas menit Arsyila berada di kamar mandi, setelah tenang dan merasa lebih bisa menghadapi Arash, dia keluar dari sana.
Arsyila melangkah masuk ke ruangan divisi marketing, sebelum masuk ke ruangannya. Ada dua orang office boy di sana sedang menata sepasang meja dan kursi, lalu tiba-tiba Arash keluar dari ruangannya dengan menenteng tasnya. Lelaki itu tersenyum tipis pada Arsyila saat mereka berdekatan. "Saya minta maaf, saya keluar dari ruangan Ibu, supaya Ibu lebih nyaman sendrian," ucap Arash setengah berbisik.
Arsyila tidak menjawab, dia hanya berjalan melewati Arash dan mengabaikannya. Kenapa nggak dari kemarin kamu duduk di luar?
Wanita itu merasa lebih tenang sekarang. Dia duduk di kursinya, sembari membuka macbooknya. Ada banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini meski saat ini jam sudah menunjukkan hampir jam dua belas siang, waktunya istirahat. Tapi Arsyila memilih menunda istirahatnya karena kebetulan dia sedang dikejar deadline.
Arsyila mengambil ponselnya untuk mengetik pesan singkat berupa sebuah perintah yang akan dia kirimkan pada beberapa anggotanya di grup divisi marketing.
Arsyila :
Tolong semuanya, untuk laporan bulanannya saya tunggu sampai jam lima sore ini, karena saya akan segera mengirimnya ke direktur marketing besok pagi. Terima kasih atas kerjasamanya.
Radit
oke Bu!
Rayna
siap Bu!
Minda
saya agak telat ya, Bu, mungkin jam tujuh malam, soalnya ada data yang belum saya dapatkan.
Arash
Kalau saya, bisa bantu apa, Bu?
Arsyila geleng kepala setelah membaca balasan dari semua anggotanya termasuk Arash.
Arsyila
Minda, tolong dipercepat ya. Kalau bisa sebelum malam, soalnya saya harus kroscek lagi semua laporan kalian.
Minda
Baik Bu, saya usahakan.
Arash
Dikacangin :(
Arsyila lupa kalau di dalam grup itu sudah ada anggota baru. Ini obrolan serius, Arash bisa-bisanya bercanda di forum percakapan. Arsyila tidak mau ambil pusing lagi. Banyak yang harus dia kerjakan selain memikirkan tingkah Arash. Lantas, Arsyila kembali fokus pada pekerjaannya.
Telepon interkom di ruangan Arsyila berdering nyaring ketika dia fokus berpikir untuk merangkai kata-kata dan strategi pemasaran baru yang akan dipresentasikan hari senin nanti.
"Halo selamat siang, dengan Arsyila divisi marketing," ucap wanita itu dengan ramah.
"Arsyila, ke ruangan saya sekarang, ya!" Titah suara di seberang sana dan Arsyila sudah tidak perlu lagi menerka itu siapa.
"Iya Pak, baik Pak."
Wanita itu keluar dari ruangannya dengan sedikit tergesa. Namun, dia singgah sebentar ke meja Rayna untuk mengatakan sesuatu. "Hari ini aku nggak makan siang kayaknya, kalian duluan aja nanti, nggak usah nungguin," ucapnya, kemudian kembali melangkah tanpa menunggu jawaban Rayna, karena dia benar-benar terburu-buru.
Arsyila mengetuk pintu ruangan direktur marketing, atasannya yang terkenal tegas, dan tidak bisa nego untuk sesuatu yang tidak masuk akal. Apalagi keterlambatan pengiriman laporan dan untuk kali ini, Arsyila sudah paham kenapa dia dipanggil. Sudah pasti karena dia terlambat.
"Masuk!"
"Selamat siang, Pak."
"Saya rasa, kamu udah tau kenapa saya panggil kamu ke sini?"
Wanita itu mengangguk pelan. "Saya minta waktu sampai besok pagi, Pak. Karena anggota tim saya sedang mengerjakannya, saya harap bapak bisa–"
"Udah, nggak masalah. Saya kasih waktu kamu sampai besok. Tapi siang ini, kamu harus makan bareng saya!" Lelaki dewasa dan tampan bernama Marcel itu berkata tegas, dia menarik jas miliknya yang tergantung tepat di belakang kursinya.
"Ayo Arsyila, jangan kebanyakan bengong." Lelaki itu berdiri sambil mengenakan jasnya. Sementara Arsyila masih terdiam kaku menyiapkan jawaban.
Bukan Arsyila bodoh dan tak paham, selama ini Marcel memang sedang berusaha mendekatinya. Tapi selalu Arsyila tolak secara halus dengan berbagai alasan.
"Tapi Pak maaf, saya kan harus kerjakan laporan itu–"
"Kali ini aja, Arsyila. Please. Saya atasan kamu, tapi harus memohon sama kamu?"
Arsyila benar-benar merasa hari ini kacau paket komplit. nggak yang muda, yang tua, tingkahnya bikin pusing. Batin Arsyila. Yang tua dimaksud Arsyila adalah lelaki yang sedang dia hadapi saat ini, usianya sudah mendekati kepala empat, tapi masih juga jomlo dan kini Arsyila menjadi incarannya.
*
Arash merasa lega, walau kata maaf dari Arsyila belum dia dapatkan, tapi setidaknya dia sudah melakukan sesuatu yang mungkin bisa sedikit meluluhkan hati Arsyila walau kemungkinan dia dimaafkan masih sekitar beberapa persen saja.
Diam-diam, saat Arsyila tidak ada di ruangannya dan diapun ditinggalkan sendirian oleh rekan-rekannya yang lain, Lelaki itu meletakkan sebuah paper bag tepat di atas meja kerja Arsyila. Paper bag itu berisi makan siang yang Arash pesan di sebuah restoran ternama, langganan keluarganya. Selalu menyajikan makanan terbaik dan pasti rasanya tidak usah diragukan lagi.
Dia tersenyum tipis, dalam hatinya berharap ini akan menjadi awal yang baik untuk menjalin hubungan yang lebih pantas dengan atasannya. Maksud Arash, dia tak ingin Arsyila menganggapnya musuh. Dia hanya ingin Arsyila lebih nyaman dan tidak risih ketika berada di dekatnya. Setidaknya, dengan rencannya kali ini, mereka bisa berteman, itu saja sudah lebih dari cukup bagi Arash.