Abi meremas kertas yang sedang dipegangnya saat melihat Arash mendekatinya dengan ekspresi penuh rasa bersalah. Dia sendiri tak menyangka di hari pertama anaknya terjun ke dunia perusahaan justru membuat masalah hingga direkomendasi untuk diberhentikan. "Ini yang kamu bilang aman?" Tanya Abi dengan penuh penekanan.
Arash duduk tepat di sebelah sang papa, tanpa berani menegakkan kepalanya. Otaknya sedang berpikir, kesalahan di bagian mana yang telah dilakukannya, sefatal apa? Hingga dia sampai direkom harus diberhentikan. Arsyila, dia ingat wanita itu. Tapi, Arash merasa yang dia lakukan hanya sebatas candaan, apa tidak boleh sekadar bercanda? Apa karyawan-karyawan di sana begitu serius semuanya? Sama seperti papanya yang… kaku.
"Arsyila ini, dia salah satu karyawan terbaik di perusahaan papa, selain pintar, dia juga sopan, attitudenya bagus. Nggak pernah ada gosip aneh-aneh tentang dia. Kalau dia sampai berani mengeluarkan rekomendasi seperti ini, itu artinya ada alasan tertentu," jelas Abi tentang Arsyila. Dia pernah beberapa kali berbicara secara langsung ketika meeting rutin bulanan, Abi sering menanyakan banyak hal pada Arsyila mengingat divisi marketing yang dipimpin Arsyila adalah kunci keberhasilan dan kemajuan pemasukan perusahaan.
"Jadi, papa kenal dekat dengan Arsyila? Atau dia termasuk karyawan kesayangan Papa?" Tanya Arash penuh selidik, tanpa rasa bersalah, sementara sang papa sedang menunggu penjelasannya.
"Kenapa malah jadi kamu yang mewawancarai Papa? Jelaskan dulu, apa yang kamu perbuat sampai Arsyila merekom kamu berhenti?!" Seperti biasa, Abi selalu bersikap tegas pada anak-anaknya ketika melakukan kesalahan. Seperti malam tadi, saat Arash berhasil membawa pulang adiknya dalam keadaan baik-baik saja, Abi habis-habisan mengomeli Abira. Bukan dia tidak sayang, justru karena dia terlalu sayang, Abi harus memberikan batas-batas tertentu pada anak mereka. Tapi terkadang, Abira sulit dikendalikan, beda dengan Arash yang cenderung suka di rumah daripada berkeliaran tak penting seperti yang sering dilakukan Abira.
"Jadi, begini, Pa…" Arash mengambil napas dalam sebelum dia menceritakan semuanya, dari awal hingga tidak ada yang tersisa, termasuk dia yang memaksa ingin berbagi ruangan dengan Arsyila, makan bakso berdua, sampai dia terpaksa harus membawa Arsyila ke hotel untuk mencari Abira karena kondisinya sedang urgent. Tidak hanya itu, Arash juga menceritakan apa yang dia katakan pada Arsyila saat itu hingga tamparan mendarat di pipinya.
"Hahaha." Dan yang membuat Arash heran, reaksi papanya bukan marah, malah menertawakannya. Abi jarang sekali tertawa ketika mengobrol dengan Arash, jika tidak ada hal yang menurutnya harus ditertawakan.
"Enak ditampar atasan?" Sindir Abi. "Makanya kamu kalau mau ajak bercanda orang lain itu, lihat-lihat dulu gimana orangnya. Apalagi kata-katamu itu, seakan merendahkannya. Ya, wajar sih kalau dia eneg lihat kamu, dan pingin kamu langsung enyah dari anggota timnya," ucap Abi panjang lebar.
"Tapi orang-orang di sana nggak ada yang welcome sama aku, Pa. Apa mereka memang sombong-sombong dan kaku seperti Papa?"
"Apa kamu bilang?! Papa kaku?"
"Ya… aku bicara fakta, kan, Pa? Kata mama aja, papa waktu masih jadi dosennya mama, galaknya minta ampun–"
"Itu kan, dulu."
"Sama aja," balas Arash.
"Jadi, gimana surat rekomendasi kamu, papa terima, atau papa pertahankan kamu?"
"Aku masih mau, Pa. Kasih aku kesempatan untuk belajar, terutama mengenal lingkungan dulu, supaya aku bisa membaca situasi."
"Yakin, kamu nggak akan melakukan kesalahan, lagi?"
"Aku janji, Pa."
"Oke."
*
Arsyila bisa bernapas lega, karena surat yang dia terbitkan perihal rekomendasi pemberhentian karyawan magang di divisinya sudah diproses dan lebih cepat dari yang dia duga. Arsyila tersenyum licik penuh kemenangan. Bukan, bukan Arsyila licik ataupun iri dengki terhadap orang lain. Dia hanya perlu menjaga dirinya dan waspada dari bibit-bibit playboy berbahaya seperti Arash, begitulah kiranya.
Wanita itu melirik ke arah kursi di mana Arash duduk seharian kemarin, dia tersenyum. "Nggak bakalan lagi kamu bisa kembali duduk di sana," gumam Arsyila. Dia begitu ilfeel dengan lelaki penuh modus seperti Arash. Apalagi, tidak segan-segan membawanya ke hotel dengan kata bersenang-senang pula. Sungguh kurang ajar! Batin Arsyila.
Tok tok tok
Pintu ruangan Arsyila diketuk.
"Masuk!"
"Tuh anak baru kemana?" Rayna, baru muncul malah mengajukan pertanyaan yang membuat moodnya makin berantakan.
"Dia nggak bakalan masuk lagi. Nggak ada tempat untuk orang kayak dia di perusahaan apalagi di divisi ini. Aku udah ajukan rekomendasi pemberhentian ke Arash. Dia berlaku kurang ajar ke aku tadi malam–"
"Eh, eh gimana? Maksudnya?" Rayna memotong kalimat Arsyila lantaran penasaran.
Awalnya Arsyila ingin merahasiakan hal ini, tapi dia rasa Rayna butuh tahu, agar tidak mudah terkecoh dengan penampilan Arash yang sok manis dan sok ramah, nyatanya berbahaya. Terpaksa Arsyila menceritakan semuanya, mulai dari dia terjebak hujan deras di kantor bersama Arash, sampai berakhir dengan terjebak bersama lelaki itu dibawa ke parkiran hotel bintang lima.
"Gitu, katanya? Mau bersenang-senang? Ckck gawat. Padahal penampilan kamu udah sesopan ini, lho. Dia anggap kamu ini gimana, ya?" Rayna berkomentar, teman dekat Arsyila itu juga tidak menyangka perlakuan Arash seperti itu.
"Ya, makanya, gila, kan? Lain halnya kalau misalnya aku pakai rok mini, kemeja yang menampakkan belahan d**a. Ya mungkin wajar aja Arash berani menggoda. Tapi ini, kan–"
"Udah, udah nggak usah dipikirin. Keputusan kamu itu udah benar, aku dukung. Dan aku juga yakin, Pak Abi bakalan setuju dan basmi manusia-manusia sejenis Arash di perusahaan ini. Apalagi, Pak Abi bukan tipe om-om yang playboy dan genit ke karyawannya. Beliau itu coolnya kebangetan, udah tua, tapi masih mempesona." Rayna memberi dukungan penuh pada keputusan Arsyila.
"Aku setuju kalau itu. Semoga aja Pak Abi bisa mempertimbangkan dan nggak memelihara karyawan kayak Arash. Ngomong-ngomong soal Pak Abi, kalau duda yang mau dijodohin ke aku dulu itu kayak beliau, aku juga nggak bakal nolak!" Arsyila membahas masa lalu, bermaksud bercanda dengan Rayna. Awal-awal kejadian Arsyila bertengkat hebat dengan ayahnya sampai harus minggat ke Jakarta, memang menyakitkan dan menyedihkan. Tapi semakin hari, dia semakin menerima dan mencoba melupakan bahkan tak jarang menjadikan hal itu bahan candaan diantara teman-temannya.
Rayna dan Arsyila tertawa bersama, tanpa mereka sadari, ada seseorang yang berdiri di depan pintu ruangan Arsyila, apalagi saat itu pintu tidak tertutup rapat hingga obrolan terdengar jelas.
"Selamat siang, maaf saya terlambat." Arash muncul dan sontak merusak suasana. Arsyila dan Rayna saling tatap, dengan kening berkerut. Oh mungkin, masih belum diproses, batin Arsyila. Bisa aja Pak Abi belum terima suratnya.
"Siang," balas Arsyila ketus.
Arash melenggang santai, masuk ke ruangan itu, dan duduk di tempatnya dengan penuh percaya diri bahwa dia takkan bisa disingkirkan dari perusahaan ini. Sekilas dia melirik ke arah Arsyila yang kebetulan juga sedang meliriknya. Arash berpura-pura tidak tahu saja atas apa yang Arsyila coba lakukan padanya.
"Oh ya, ngomong-ngomong soal Pak Abi, maaf saya nggak sengaja mendengar obrolan Bu Arsyila dan Bu Rayna," ucap Arash menimbrung.
Rayna yang awalnya hendak berdiri meninggalkan ruangan, tapi dia urungkan seketika karena mendengar kalimat Arash. "Kamu nguping, ya?" Tanya Rayna. Sementara Arsyila hanya diam, enggan meladeni.
"Saya nggak sengaja," sahut Arash. "Hati-hati loh Bu, kalau ngomongin Pak Abi, apalagi muji-muji beliau kayak tadi, kalau saya nggak salah dengar, istrinya galak!" Arash mencoba menakut-nakuti dua wanita itu.
Tapi Rayna dan Arsyila malah menertawakannya. "Sok tau kamu! Bu Laura itu baik, ramah selalu senyum. Kamu belum pernah ketemu orangnya, jadi nggak usah sok tau, ya…" jawab Rayna.
Arash hanya tersenyum tipis. Oke dia dianggap tidak mengenal nyonya pemilik perusahaan, tidak apa-apa. Bukannya memang ini tujuannya?
"Oh ya? Begitu kah? Oke saya salah kalau begitu," balas Arash. "Bu Arsyila, pantas saja ibu anti sekali dengan saya, ternyata selera ibu orang tua seperti Pak Abi, ya? ingat Bu, beliau udah beristri.” Sindir Arash. Jujur saja, dia kesal dengan Arsyila yang terlalu serius hingga merekomendasinya untuk dipecat, untung saja papanya tidak ngamuk dan masih memaafkan, bagaimana jika tidak? Arash pasti akan membuat perhitungan pada Arsyila.
“Kamu bisa nggak, sebelum bicara itu, pikir-pikir dulu? kira-kira, ucapan kamu itu bakalan nyakitin hati orang, atau enggak?” Arsyila sudah muak sekali rasanya, matanya berkaca-kaca. Entah mengapa, tiap kali melihat Arash, emosi seperti tersulut begitu saja. Andai punya pilihan, dia ingin pindah divisi saja. Jadi karyawan biasa seperti awal-awal juga tidak apa-apa.
“Arsyila, kamu nangis?” tanya Rayna yang masih berada di sana. Arsyila mengusap sudut matanya dengan jari, menahan air mata agar jangan sampai keluar, tapi nyatanya… dia tidak bisa.
“Bu Arsyila, maafkan saya.” Arash yang sudah duduk, kembali berdiri mendekati Arsyila. Dia tak menyangka Arsyila akan menangis hanya karena kata-katanya.
“Saya nggak akan pernah memaafkan kamu!” sentak Arsyila, lalu dia keluar meninggalkan ruangan.