"KAK ARVIN?!!" pekik Qila terkejut ketika mendapati seseorang yang menolongnya tadi ternyata adalah Arvin. Pacar dari Gladis.
Arvin yang mendengar pekikan suara Qila yang memekakkan telinga hanya terdiam dengan wajah datar. Cowok itu, belum bereaksi apapun.
Melihat ekspresi Arvin yang nampak sangat datar membuat Qila takut sendiri di tempatnya. Gadis itu terdiam sejenak sebelum akhirnya dia membuka suara.
"Mmm Kak Arvin. Makasih untuk pertolongan ketiganya dalam tragedi jatuh," ujar Qila tulus dengan suara pelan.
Terdengar deheman singkat Arvin yang menyahuti. "Iya," balasnya.
Sedangkan Gladis, gadis itu saat ini sedang menatap ekspresi datar Arvin dengan senyum yang tak pernah luntur dari raut wajahnya. Gladis nampak sangat senang berseri melihat kehadiran Arvin.
"Dis, lo kenapa gak bilang sih kalo yang nolongin Kak Arvin. Gue jadi gak enak nih," ujar Qila berbisik pada Gladis. Pasalnya, tadi mereka mengobrol dalam jangka waktu yang cukup lama. Dan ya, tentu saja Arvin sepertinya bisa mendengar semua pembicaraan mereka. Dan itu artinya....
Oh god! Qila jadi malu sendiri sekarang.
Sadar dengan posisinya saat ini, Qila berniat untuk berpamitan kepada Qila dan Arvin karena dia juga tidak mau dijadikan nyamuk oleh dia sejoli itu. Hidup Qila sudah menyedihkan dan akan tambah menyedihkan lagi ketika gadis itu menjadi nyamuk dari pasangan uwu yang ada di kanan dan kirinya ini.
"Mmm yaudah deh ya. Aku mau ke kantin duluan aja. Kayanya kalian butuh waktu berdua deh. Gue gak mau ganggu," ujar Qila di tengah keheningan antara dia, Gladis dan Arvin.
Gladis yang mendengar perkataan Qila itu nampak tak terima. "Apaan sih Qil. Gak ya! Gue gak mau lo ke kantin sendirian," tolak Gladis mentah-mentah. "Nanggung. Udah setengah jalan kenapa malah lo pergi sendirian? Bareng gue aja!" titah Gladis kemudian.
Qila nampak memutar bola matanya malas mendengar perkataan Gladis. "Ya lo pikir? Gue sudi gitu jadi nyamuk lo sama Kak Arvin? Dih, ogah! Gue gak sudi ya!" tolak Qila menyeru. Gladis jadi merasa aneh sendiri di tempatnya.
"Yang mau jadiin lo nyamuk itu siapa Aqilla Quensaa, gue gak ada niatan mau ke kantin bareng dia. Gue maunya ke kantin sama lo aja," ujar Gladis yakin. Qila nampak mengangkat alisnya heran. Namun sedetik kemudian Qila menghendikkan bahunya acuh. Tak peduli dengan masalah orang lain. Itu terlalu privasi. Dan Qila tak mau mengganggu privasi orang. Sekalipun itu Gladis, sahabat gadis itu sendiri. Qila masih cukup tahu dengan batasan-batasan mana yang tidak berhak gadis itu langgar.
"Yaudah deh. Terserah lo aja," pasrah Qila.
Gladis mengangguk setelah itu. "Tapi lo tunggu gue bentaran ya. Gue mau ngobrol bentar dulu sama dia. Ada yang mau gue omongin," ujar Gladis yang langsung di angguki Qila tanpa berpikir terlebih dahulu. Gladis tersenyum kearah Qila begitu mendapatkan respon cepat gadis itu.
Gladis pun akhirnya berjalan menghampiri Arvin yang sedari tadi hanya diam dengan raut ekspresi wajah yang juga selalu datar. Cowok itu sedari tadi menjadi pendengar dan menyimak pembicaraan dua bersahabat itu.
"Mmm, lo ikut gue bentaran yuk. Ada yang mau gue omongin," ujar Gladis seraya menarik lengan tangan Arvin dan membawa cowok itu sedikit menjauh dari Qila.
Untuk Qila, gadis itu hanya diam tak bereaksi apa-apa. Wajar-wajar saja seperti itu menurut Qila. Namanya juga orang kasmaran. Dulu, ketika Qila menyukai Fikri, gadis itu juga sana persis seperti apa yang dilakukan Gladis saat ini. Jadi ya, maklum aja sih.
Beberapa menit berlalu, akhirnya Gladis dan Arvin kembali ke tempat mereka semula. Mereka kembali menghampiri Qila.
"Gue pamit. Mau balik ke kelas," ujar Arvin ketika cowok itu baru saja kembali mendekat kearah Qila. Arvin, cowok itu mengatakan kalimat itu sembari menatap Qila.
Qila yang di tatap Arvin seperti itu menjadi bingung sendiri. Ini, Arvin sedang berbicara dan berpamitan dengannya? Atau....
Ah, mana mungkin. Mungkin saja Arvin berpamitan dengan Gladis namun memang yang ada di depannya itu Qila, jadi, Arvin menatap gadis itu.
Tak ada yang bersuara sama sekali untuk merespon perkataan Arvin. Gladis yang geram dengan tingkah Qila pun akhirnya membuka suara.
"Qil! Lo sombong banget sih diem doang gak ngejawab dari tadi. Ini dia lagi pamitan sama lo anjir. Dia lagi ngomong sama lo," ujar Gladis memprotes tingkah Qila. Qila yang mendengar itu malah terkejut. Ha? Jadi, Memang Qila yang diajak bicara? Memang Qila yang di pamiti?
"Ha? O-Oh iya. Maaf, gue gak tau kalo Kak Arvin pamit sama gue," ujar Qila terbata karena baru bisa mencerna keadaan. "I-iya Kak Arvin. Silahkan," ujar Qila dengan sopan kemudian.
Gladis yang melihat tingkah sahabatnya itu malah dibuat menjadi aneh sendiri. Qila ini.
"Lagian lo aneh banget. Udah jelas-jelas dia ngelihatin lo waktu ngomong. Masa lo gak ngerasa sih," ujar Gladis lagi, komplain.
Qila langsung menatap Gladis dengan pelototan kecilnya. "Bisa diem aja gak ya Gladisya yang cantik?" geram Qila. Gladis malah tertawa melihat itu. Menurutnya, Qila ekspresi Qila sangat lucu ketika melotot kecil seperti itu. "Diem Gladisya!" seru Qila kemudian ketika mendapati Gladis malah tertawa. Tawa Gladis malah semakin menjadi ketika Qila berbicara.
Saat Qila hendak kembali protes, terdengar deheman seseorang yang membuat Qila membatalkan niatnya. Gadis itu menoleh menatap sang pelaku yang membuat suara itu
"Ehem," dehem Arvin membuyarkan pembicaraan antara Qila dan Gladis. "Gue pamit duluan kalo gitu," pamit Arvin lagi.
Qila menatap Arvin segan. "Iya Kak," ujar Qila menjawab.
"Sip. Ati-ati di jalan," balas Gladis santai.
Arvin hanya mengangguk menanggapi perkataan Qila dan Gladis. Ketika cowok itu akan berjalan satu langkah, mendadak cowok itu kembali berhenti dan menoleh lagi menatap Qila.
"Kalo jalan hati-hati. Jangan keseringan meleng. Lo kayanya hobi jatuh banget," ujar Arvin menatap Qila lekat. Jujur saja, Qila rasanya sangat malu saat ini. Bagaimana tidak? Di sepanjang tragedi jatuhnya gadis itu, pasti selalu aja ada Arvin yang menjadi saksinya.
"Ah iya Kak. Pasti kedepannya bakalan lebih hati-hati kok," balas Qila pelan dan ragu-ragu karena malu. Arvin mengangguk kemudian untuk menanggapinya.
Cowok itu lalu beralih menatap Gladis yang nampak diem dengan ekspresinya yang teramat sangat santai.
"Lo juga. Kalo jalan lagi bawa temen itu yang ati-ati. Gak usah lari. Lo bisa buat orang lain celaka," ujar Arvin dengan nada seperti mengingatkan atau memperingati Gladis. Entahlah, Qila tak tahu. "Itu luka memar yang ada dahi temen lo obatin. Tanggung jawab!" titahnya memerintah kemudian.
"Iya-iya. Pasti gue obatin kok. Gue anaknya tanggung jawab banget asal lo tau," balas Gladis bangga. Arvin tak banyak berkomentar untuk menanggapi perkataan Gladis itu.
"Ya bagus deh," ujar Arvin seraya beranjak berlalu dari tempatnya. Mendapatkan respon seperti itu dari Arvin membuat Gladis menjadi kesal sendiri. Gadis itu mencak-memcak di tempatnya.
"Untung aja gue udah kebal," ujar Gladis berusaha sabar sembari mengelus dadanya sabar. "Rasanya pengen gue tuker tambah aja manusia kaya itu anak," ujar Gladis lagi. Gadis itu masih terus menggerutu setelah itu. Membicarakan betapa sabarnya dia menghadapi tingkah laku Arvin selama ini.
Qila tak berkomentar. Gadis itu hanya diam saja. Mendengarkan segala ocehan, gerutuan dan keluhan Gladis mengenai Arvin.
Ketika Gladis sudah terdiam, barulah Qila mulai membuka suaranya. "Udah ngomelnya?" tanya Qila dengan raut wajah polosnya. Rasanya, Gladis juga ingin mengomel lagi mendengar pertanyaan Qila itu. Namun Gladis memutuskan untuk mengurungkan niatnya begitu dia sadar. Jam istirahat tinggal tersisa sedikit lagi.
"Udah," balas Gladis kesal.
"Yaudah kalo gitu. Ayo ke kantin. Gue laper," ajak Qila kemudian.
Gladis langsung menoleh menatap Qila. "Dengan keadaan luka memar lo belum di obatin kaya gitu? Lo yakin?" tanya Gladis.
Qila mengangguk dengan santai. "Santai aja kali Dis. Soal memar gini doang bisa nanti-nanti obatinnya. Tapi kalo laper, harus sekarang," ujar Qila lagi.
Gladis langsung menggeleng cepat menolak setuju dengan perkataan Qila. "Gue gak setuju. Kita harus obatin luka lo dulu. Arvin bisa ngamuk ke gue kalo dia tahu gue malah biarin luka memar lo gitu aja. Atau nunda-nunda buat di obatin," ujar Gladis. "Udah ayo ke uks dulu aja. Gue obatin sekarang," ajak Gladis kemudian.
"Itu bisa nanti Dis. Kalo laper gak bisa nanti. Keburu bel masuk, jadi gak bisa ke kantin," ujar Qila. "Jadi, mendingan ke kantin dulu aja deh," saran Qila lagi.
"Udah lah Qil. Soal makan lo tenang aja. Tinggal bilang sama gue lo mau pesen apa. Biar gue titipin ke orang aja," ujar Gladis menjawab, memberi solusi. Qila nampaknya setuju dengan solusi dari Gladis. Terbukti gadis itu langsung menyampaikan pesanannya.
"Gue mau Bakso aja sama Es jeruk. Kaya biasa," ujar Qila memesan. Gladis terlihat meraih ponselnya dan mengirim pesan kepada seseorang. Gadis itu seperti sedang memesankan pesanan Qila melewati orang itu.
Beberapa saat setelahnya, Gladis telah selesai memesan. Gadis itu kemudian beralih menatap Qila. "Udah gue pesenin. Ayo ke uks dulu," ajak Gladis kemudian yang langsung diikuti Qila tanpa bantahan.
"Padahal gak di obatin juga gak apa-apa," ujar Qila pelan.