Kring!
Setelah beberapa jam bergelut dengan beberapa mata pelajaran, akhirnya suara bel yang sudah di tunggu-tunggu oleh seluruh warga sekolah berbunyi. Bel yang menandakan bahwa saat ini adalah saat untuk istirahat.
"Akhirnya istirahat jugaaa," ujar Gladis menghembuskan napas lega begitu mendengar suara bel istirahat berbunyi. Gadis itu terlihat sedikit memundurkan kursinya kemudian dia meregangkan badannya yang terasa kaku. "Capek banget gue. Padahal duduk doang dari tadi," keluhnya kemudian.
Berbanding terbalik dengan Gladis yang sudah mulai mengistirahatkan badannya, yang sudah mulai santai. Qila, gadis itu malah terlihat sedang menulis. Ya, lebih tepatnya gadis itu masih melanjutkan mencatat sesuatu yang tertulis di papan.
Gladis yang tak merasa mendapatkan jawaban dari Qila segera menoleh menatap kearah gadis itu. "Lah? Lo masih ngecatat Qil?" tanya Gladis heran. "Yaelah Qil, udahan kali nyatatnya. Udah jam istirahat nih. Rajin bener sih," lanjutnya kemudian.
Qila yang tadinya sedang sibuk menulis sembari beberapa kali menengok ke papan itu menjadi memberhentikan kegiatannya sejenak. Gadis itu menaruh bolpoinnya di atas meja kemudian menoleh menatap Gladis. "Gladisya yang cantik, nunda-nunda kerjaan itu gak baik tau," ujar Qila memberitahu. "Tapi, lebih gak baik lagi itu kalo ngehasut temen untuk nunda-nunda kerjaan ya sayang," lanjut Qila disertai senyuman geramnya. Gladis yang melihat dan mendengar itu menjadi cengengesan tak jelas.
"Ya maap Qil, canda," balas Gladis masih dengan cengengesan tak jelasnya. Qila tak lagi menyahut, gadis itu kembali membawa bolpoinnya dan kemudian melanjutkan pekerjaannya tadi yang sempat tertunda. Dari pada meladeni omongan Gladis yang mungkin tak akan ada habisnya, mendingan Qila lanjut mencatat saja. Supaya, pekerjaan gadis itu bisa selesai dengan cepat dan itu berarti, Qila bisa segera beristirahat dan menuju ke kantin.
Melihat Qila kembali fokus dalam mencatat, karena tak mau bosan dalam menunggu gadis itu, Gladis akhirnya memutuskan untuk memainkan ponselnya. Memang disaat seperti inilah ponsel sangat berguna untuk mengusir kebosanan.
Gladis membuka beberapa akun sosial medianya secara bergantian. Sebenarnya, yang Gladis lakukan hanyalah scroll-scroll tak jelas. Menyukai beberapa foto atau video yang lewat di beranda akun sosial medianya. Hanya seperti itu. Namun anehnya, beberapa orang sangat betah bertahan dengan kondisi seperti itu dalam waktu yang cukup lama. Termasuk Gladis sendiri juga seperti itu.
Gladis bahkan bisa menghabiskan seharian penuh hanya untuk scroll akun sosial medianya atau sekedar menonton tv, drama, film, youtube atau bahkan web series. Tentu saja itu semua di barengi dengan rebahan.
Beberapa menit berlalu, tak lama dari situ Qila terlihat sudah mulai merapikan alat tulisnya. Tanda bahwa gadis itu sudah menyelesaikan pekerjaannya. Gladis yang menyadari itu segera mematikan ponselnya dan memasukkannya kedalam saku rok seragamnya. Gadis itu berdiri kemudian.
"Udah selesai Qil?" tanya Gladis sembari menoleh menatap Qila yang baru selesai merapikan alat tulisnya.
"Iya, udah," jawab Qila seraya ikut berdiri. Gadis itu terlihat sedikit merapikan seragamnya yang memang nampak sedikit ada bekas kusut. Mungkin akibat terlalu lama duduk (?)
"Yaudah, ayo ke kantin. Waktunya gak lama lagi nih," ajak Gladis kemudian segera menarik lengan tangan Qila dan membawa gadis yang ada di gandengannya itu untuk berjalan cepat menuju kantin. Qila sendiri, gadis itu yang di gandeng namun serasa di tarik oleh Gladis itu nampak pasrah tanpa protes sedikitpun. Qila hanya mengikuti kemanapun langkah Gladis membawanya.
Karena Gladis yang membawa Qila berjalan terlalu cepat, itu menyebabkan suatu insiden di belokan terjadi. Mungkin ketika Gladis berbelok semuanya terjadi secara aman dan terkendali. Namun, ketika Qila yang berbelok, entah kenapa, mungkin karena langkah Qila sedikit tertinggal dari Gladis atau mungkin karena Qila belum siap berbelok menyebabkan Qila menabrak pojok dinding belokan.
Dan insiden Qila menabrak pojok dinding belokan itu menyebabkan gandengan tangan Qila dan Gladis secara otomatis terputus tanpa sengaja. Qila sedikit terhuyung kebelakang nyaris terjatuh ketika menabrak dinding itu. Bersyukurnya, ketika Qila nyaris terjatuh, ada sepasang tangan yang menahan punggung gadis itu.
Dapat Qila rasakan, tangan yang menahan punggungnya itu sangat besar dan kekar. Persis tangan seorang laki-laki. Dan ya, tentu saja itu laki-laki. Tak mungkin ada gadis yang mampu menahan berat tubuhnya. Itulah yang ada di pikiran Qila saat itu.
Untuk Gladis sendiri, gadis itu sedikit terkejut ketika gandengan tangannya dan Qila terlepas begitu saja seperti ada yang menarik tangan Qila menjauh. Gladis menoleh kebelakang dan keterkejutan itu semakin menjadi ketika Gladis mendengar ada suara tubrukan yang sangat keras dan itu berasal dari area sekitar Gladis.
Atau lebih tepatnya...., di belakang Gladis! Tempat dimana seharusnya disitu terdapat Qila.
"Qila!" pekik Gladis terkejut ketika mendapati tubuh Qila yang hendak terjatuh kebelakang. Tangan Gladis sudah terayun hendak menolong Qila. Namun gadis itu mengurungkan niatnya untuk menolong Qila ketika mata Gladis menemukan sosok laki-laki yang sangat familiar di matanya.
Gladis sungguh bersyukur ketika laki-laki itu berhasil menyelamatkan Qila tepat waktu. Kalau saja terlambat sebentar, sudah bisa dipastikan, Qila pasti saat ini sudah terjatuh dengan posisi duduk di lantai secara mengenaskan.
Namun, untung seribu untung. Saat tragedi belokan ini terjadi, koridor yang dilewati Gladis dan Qila sedang sepi. Gladi tebak, mereka sudah pasti sedang menghabiskan jam istirahatnya untuk berada di kantin. Dan memang itulah yang seharusnya.
Sadar dengan posisinya yang tak mengenakkan, Qila segera bangkit. Tak enak hati kepada seseorang yang sudah menolongnya. Setelah Qila berdiri dengan tegap, gadis itu masih membelakangi sosok laki-laki yang sudah menolongnya. Gadis itu malah berhadapan dengan Gladis.
"Qila! Lo gak apa-apa kan?" tanya Gladis panik. Gadis itu segera mendekat kearah Qila dan mengecek keadaan gadis itu. Semua yang ada pada diri Qila nampak baik-baik saja kecuali dahi gadis itu yang terlihat sedikit ada bekas memar di sana. Gladis menyentuh memar itu pelan. "Sakit gak Qil?" lanjut Gladis kembali bertanya saking khawatirnya.
"Aws," Qila sedikit meringis kecil ketika luka memar yang ada di dahi gadis itu di sentuh oleh Gladis.
"Eh, sakit ya?" ujar Gladis terkejut mendengar ringisan Qila. Bahkan saking terkejutnya, Gladis secara refleks langsung menjauhkan tangannya dari dahi Qila secara cepat. "Maaf ya Qil, gara-gara gue, lo jadi luka kaya gini," lanjutnya merasa bersalah.
Andai saja Gladis tak menarik lengan Qila dan memaksa gadis itu untuk mengikuti langkahnya yang sedang berjalan cepat itu, pasti kejadian ini tak akan pernah terjadi. Dan Qila, gadis itu pasti tak akan pernah mendapatkan luka memar di dahinya seperti yang saat ini Qila dapatkan.
"Apaan sih Dis. Bukan salah lo lagi," ujar Qila menyangkal perkataan Gladis yang terkesan menyalahkan diri Gladis sendiri. "Guenya aja tadi yang meleng. Gak fokus. Jadi bisa nabrak gitu deh," lanjut Qila lagi.
"Tapi kan Qil, gue yang narik tangan lo tadi. Andai aja gue gak narik tangan lo, pasti kejadian ini gak akan terjadi," ujar Gladis panjang lebar menyampaikan segala keluh kesahnya tentang dia yang merasa bersalah kepada Qila.
Qila terlihat menggeleng kecil menanggapi semua perkataan Gladis. "Bukan salah lo Gladis," ujar Qila mantap. "Udah ah. Gak usah salahin diri sendiri. Orang lo gak salah kok," Qila menatap Gladis tak suka karena gadis itu terus menatap Qila dengan tatapan merasa sangat bersalah.
"Tapi kan Qil--," belum sempat Gladis melanjutkan perkataannya, Qila dengan cepat langsung menyela.
"Udah diem aja Dis. Nurut sama gue kenapa sih?! Gak usah ngerasa bersalah karena lo emang gak salah. Paham gak sih?!" ujar Qila tegas. Gadis itu benar-benar tak suka ditatap Gladis dengan tatapan penuh rasa bersalah itu. Padahal, Qila sebenarnya sama sekali tidak mempermasalahkan perihal tadi.
Gladis langsung menunduk takut ketika Qila sudah mulai berbicara dengan nada suara tegas. Suara tegas Qila, seperti memancarkan aura kepemimpinan yang kuat. "Iya, maaf," cicit Gladis takut-takut.
Melihat sahabatnya ketakutan karena ulahnya, Qila segera berusaha menenangkan gadis itu. Qila tersenyum kecil lalu mendekat kearah Gladis.
Tangan Qila terulur menyentuh lengan tangan Gladis. "Udah Dis, lo gak usah ngerasa bersalah sama gue, lo juga gak usah ketakutan gitu sama gue. Gue gak salahin lo sama sekali kok," jelas Qila memberi pengertian.
Gladis yang mendengar alunan lembut suara Qila yang berusaha menenangkannya itu langsung mendongak. Terlihat senyum kecil terukir di wajah Gladis.
"Benaran kan Qil?" tanya Qila memastikan.
Qila dengan santai mengangguk ringan. "Iya Dis," balas Qila singkat.
Terlalu lama larut dalam obrolan mereka sendiri. Mereka bahkan sampai lupa bahwa ada satu kehadiran laki-laki di sekitar mereka yang sedari tadi melihat drama dua sahabat ini dari awal hingga akhir.
Tentu saja laki-laki itu adalah laki-laki yang sama seperti laki-laki yang menolong Qila tadi.
"Eh Qil, lupa. Belakang lo ada cowok yang tadi nolongin lo tuh," ujar Gladis ketika teringat dan melihat cowok itu. Qila yang tadinya tak ingat sama sekali tentang keberadaan cowok itu mendadak teringat. Gadis itu bahkan sampai menggeplak kepalanya sendiri saking kesalnya karena lupa.
"Oh iya!" ujar Qila. Gadis itu kemudian berbalik menghadap ke sosok cowok yang tadi menolongnya. "Eh hai, makasih ya udah nolongin a--," belum sempat Qila selesai berbicara, gadis itu mendadak terdiam ketika matanya bersitubruk dengan sosok cowok itu.
Qila terkejut. Sangat. Bagaimana bisa cowok itu adalah.....
"KAK ARVIN?!" pekik Qila terkejut.