Saat ini keadaan berbalik. Arvin bukannya mengantarkan Qila pulang terlebih dahulu, cowok itu malah mengantarkan Gladis pulang terlebih dahulu. Karena Arvin dan Qila sudah janji akan keluar bersama untuk menghabiskan waktu mereka bersama hari ini. Sepertinya, mereka akan banyak pergi ke beberapa tempat nanti. Mereka akan banyak berencana untuk bersenang-senang.
Saat ini, mobil Arvin sudah ada di depan pagar rumah Gladis. Bukan hanya Galdis yang keluar, namun Qila dan Arvin juga keluar dari dalam mobil, mengantarkan Gladis. Gladis padahal tak mintanya. Lagipula, ini sudah di depan rumahnya. Kenapa mereka segala repot-repot untuk turun? Bukannya itu tak berguna sama sekali?
"Udah Qil, Vin. Gue gak usah dianter sampe keluar segala kali. Gue udah di depan rumah gue juga. Kenapa perlu kalian repot-repot ikut turun," ujar Gladis dengan senyum terpaksa nya. Itu bukan karena Gladis tak rela atau tak ikhlas Arvin jalan-jalan dengan Qila, hanya saja, gadis itu saat ini sedang mengkhawatirkan satu hal. "Udah gih, kalian balik mobil aja. Have fun ya. Mainnya jangan malem-malem. Ntar lo dimarahin Mama Qil. Ntar Arvin lagi yang kena," tambah Gladis dengan nada bercanda gadis itu kemudian tertawa canggung.
Qila tentu saja melihat keanehan dari sahabatnya itu. Kenapa setiap yang dilakukan Gladis nampaknya sangat amat seperti dipaksakan? Apa gadis itu tak rela Arvin jalan bersama dengannya? Itulah yang saat ini Qila pikirkan.
Daripada hanya menebak-nebak dan berakhir membuat sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Qila pada akhirnya memilih untuk menanyakannya langsung pada Gladis. Qila tak mau mengambil resiko yamg bisa berpotensi untuk menghancurkan persahabatannya dengan Gladis.
"Dis, kenapa? Lo kayanya lagi khawatir tentang sesuatu? Lo berubah pikiran? Lo gak mau izinin gue pergi sama Kak Arvin? Gak apa-apa kok Dis. Lo jujur aja," ujar Qila dengan suara tulus. Gladis dapat mendengar nada tulus itu. Jangankan Gladis, Arvin yang sebelumnya belum terlalu kenal dekat dengan Qila saja dapat mendengarnya. Qila tulus mengatakan itu. Arvin tau soal itu. Dia juga bisa merasakannya. Begitupula dengan Gladis.
"Lo ngomong apa sih Qil. Kok lo ngomong gitu? Gue gak ada kepikiran kaya gitu Qila," ujar Gladis menyangkal dengan jujur. karena gadis itu memang gak pernah berpikiran seperti itu sama sekali. "Lo ngaco Qila. Gue gak apa-apa," ujar Gladis kemudian.
Arvin yang sedari tadi hanya diam memerhatikan Qila dan Galdis itu tentu paham dengan apa yang dikatakan Qila. Arvin paham kenapa Qila berpikir seperti itu karena raut wajah Gladis jelas menjelaskan semuanya.
Arvin menjadi tak tega dengan Qila. Gadis itu pasti merasa serba salah. Gadis itu merasa bersalah. Baru beberapa hari saja Arvin sudah tak tahan dengan semua drama yang Gladis buat. Lihat saja, Arvin akan membongkarnya hari ini juga. Masa bodo dengan rencana apapun itu. Arvin tak tega dengan Qila.
"Udah-udah, lo gak usah makin ngaco deh Qil. Gih, mending lo sama Arvin berangkat sekarang biar waktunya lebih lama lagi. Kalian berdua have fun ya! Pulang-pulang harus udah deket pokoknya. Gue gak mau tau loh ini," ujar Gladis. Kali ini bukan hanya raut wajah khawatir yang terlihat. Namun juga raut wajah seperti orang yang sedang takut ketahuan menyembunyikan sesuatu. Gladis semakin curiga melihat itu. Melihat Gladis keringat dingin membuat Qila semakin yakin ada yamg disembunyikan Gladis.
"Lo kenapa sih Qil? Kenapa lihat gue gitu banget? Takut gue Qil. He he," ujar Gladis dengan suara tawa canggungnya di akhir. Qila memicingkan matanya curiga. Benar. Ini benar-benar ada yang tidak beres dengan Gladis.
"Lo yang kenapa Dis? Ayo jujur sama gue," ujar Qila memaksa. "Gue tahu lo gimana Dis. Jelas gue tahu lo lagi bohong. Ayo jujur sama gue," ujarnya lagi.
Gladis menggeleng pelan. "Kenapa sih? Gak ada apa-apa astaga. Kenapa lo maksa gue buat jujur atau ngaku kalo emang gak ada yang lagi gue sembuyiin dari lo Qil? Gak ada yang lagi gue bohongin ke lo. Kenapa sih gak percayaan banget," ujar Gladis tetap kekeuh tak mau mengatakan apa-apa. "Udah Qila, gue gak apa-apa. Beneran," ujar Gladis mulai lelah berdebat dengan Qila karena gadis itu tahu, Qila sangat pandai dalam hal berdebat. Yang Gladis takutkan, nanti malah Qila berhasil membuat Gladis buka mulut. Gladis tak mau hal itu terjadi.
Ini sudah setengah jalan. Akan sangat nanggung kalau semuanya terbongkar begitu saja.
Sementara Arvin, cowok itu masih tenang di tempatnya. Tampak tak berminat bergabung dalam obrolan yang menurutnya akan sangat dengan mudah Arvin selesaikan begitu saja. Arvin hanya ingin melihat, seberapa lama Gladis tahan menutupi semuanya disaat Qila sudah mulai curiga. Qila sudah mulai merasakan suatu keanehan.
Arvin bahkan menonton pertunjukan di depannya itu dengan tangan yang bersedekap d**a. Arvin tampak sangat menikmati raut wajah panik Gladis. Biar tahu rasa gadis itu. Salah sendiri membohongi sahabatnya sendiri.
Qila yang juga sudah mulai kesal itupun akhirnya beralih menatap Arvin yang nampak masih tenang di tempatnya.
"Kak Arvin," panggil Qila pada Arvin dengan nada merengek. Ini kali pertama Qila bersikap seperti itu pada Qila. Dan itu membuat Arvin mendadak gemas bukan main dengan tingkah Qila yang menggemaskan itu. Rengekan Qila dan raut wajah gadis itu ketika memelas pada Arvin, jelas sangat terpampang nyata di depan Arvin. Arvin berjanji akan mengingat hari ini. Ini adalah hari yang cukup bersejarah untuk Arvin.
"Kenapa?" tanya Arvin setelah berusaha mengatur raut wajahnya kembali seperti semula setelah keterpesonaan nya dari Qila.
"Gladis gak mau jujur Kak. Masa Kak Arvin diem doang," ujar Qila mengadu. "Kak Arvin bujuk Gladis buat ngaku dong. Ini dia ngeselin banget Kak Ar. Dia gak mau jujur sama Qila masa," ujar Qila kembali mengadu.
Gladis yang melihat semua itu terkekeh sejenak. Melihat Qila merengek denga wajah menggemaskan kepada Arvin, melihat Arvin sempat terpesona dengan Qila, melihat Qila mengadu. Semuanya membuat Gladis terkekeh.
Sangat menggemaskan melihat Qila bertingkah seperti itu kepada Arvin.
Namun disaat terkekeh, gadis itu disisi lain juga menatap Arvin dengan tatapan seperti mengancam. Arvin yang melihat Gladis menampilkan ekspresi itu kepadanya hanya membuat Arvin menaikkan sebelah alisnya santai. Bukan karena bingung atau apa. Karena Arvin juga tersenyum miring sembari melakukan itu.
"Biarin aja Qil. Gladis gak usah dianggap," ujar Arvin santai. Membalas perkataan Qila. Gladis sempat bernapas lega karena itu. Ingat, ini hanya sesaat karena setelahnya, apa yang Arvin katakan dan lakukan membuat Gladis rasanya ingin lenyap dari bumi saat ini juga. Gadis itu juga sangat ingin menendang Arvin jauh-jauh sekarang.
"Ya udah, lo tunggu disini aja ya Qil. Gue sama Gladis masuk dulu. Gue mau ganti baju," ujar Arvin dengan senyuman miringnya.