CHAPTER 15

1551 Words
Bel pulang sekolah di SMA Rajawali sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu. Saat ini, Qila, Arvin dan Gladis sedang berada di parkiran sekolah SMA Rajawali. Ketiganya baru saja keluar dari UKS karena memang Qila dan Arvin menunggu Gladis kembali. Qila sendiri, gadis itu sudah mengirimi Fikri pesan. Mengatakan bahwa dia tak jadi pulang bersama cowok itu karena Qila akan pulang menumpang bersama Arvin dan Gladis di mobil Arvin. Awalnya sebenarnya Qila sama sekali tak memiliki niat untuk menebeng di mobil yang sama dengan Arvin dan Gladis. Namun tadi, Arvin dan Gladis menawari gadis itu untuk pulang bersama. Katanya, daripada aku pulang bareng Fikri kan? Ya, karena alasan itulah Qila akhirnya menuruti ajakan Arvin dan Gladis. Lagipula, tak ada salahnya kan dia pulang bersama mereka? Apalagi, saat ini Qila sedang memulai pertemanan dengan Arvin. Pasti rasanya akan lebih menyenangkan. Dan perihal rencana Arvin dan Qila, keduanya nanti berniat akan izin dengan Gladis saat berada di mobil. Sebenarnya Qila cukup takut untuk izin kepada Gladis. Qila tak cukup yakin apakah Gladis akan memperbolehkannya atau tidak. Namun, Qila nampaknya harus mencoba daripada menebak-nebak. Untuk keputusan dari Gladis, Qila tetap akan menerimanya dengan senang hati meskipun gadis itu mungkin saja tak mengizinkannya. "Ayo Qila masuk, gak usah malu gak usah sungkan. Anggap aja mobil sendiri," ujar Gladis seraya membukakan pintu untuk Qila. Qila yang mendengar celotehan gadis itu nampak terkekeh kecil seraya menggelengkan kepalanya. Mau heran, tapi ini Gladis. "Ngadi-ngadi lo Dis," ujar Qila menjawab seraya gadis itu mulai memasuki mobil Arvin. Untuk Arvin sendiri, cowok itu sudah berada di dalam mobil terlebih dahulu. "Kan biar ala-ala majikan sama pembantu Qil," ujar Gladis lagi menjawab. Benar-benar aneh gadis ini. Disaat orang lain melakukan simulasi menjadi orang kaya. Dia malah melakukan simulasi menjadi seorang pembantu. "Iya deh iya, serah lo aja Dis. Suka-suka lo aja," kata Qila tak lagi mau melanjutkan berdebat dengan Gladis yang sudah dapat ditebak tak bisa selesai itu. Apalagi, pembahasan mereka sangat tidak penting. Jadi, kenapa harus Qila balas? Setelah menyelesaikan debat singkatnya dengan Qila, Gladis pun juga segera memasuki mobil. Gadis itu duduk di samping Qila yaitu di kursi penumpang. Sekarang, Arvin sudah benar-benar nampak seperti sopir yang sedang mengantar dua majikannya. "Dis? Lo kenapa ikut duduk sini?" tanya Qila bingung kenapa Gladis malah duduk dengannya di jok penumpang? Bukannya harusnya Gladis duduk di jok penumpang yang ada di sebelah jok kemudi? Di sebelah Arvin? "Lah? Emangnya ngapa kalo gue disini?" tanya Gladis balik. Gadis itu menatap Qila dengan satu aslinya yang terangkat naik. Bingung kenapa sahabatnya itu mempermasalahkan perkara tempat duduk. "Ya gak apa-apa sih. Tapi harusnya kan lo duduk di sampingnya Kak Arvin Dis. Kalo kaya gini mah, Kak Arvin udah kaya jadi sopir aja. Gak baik ah kaya gitu," ujar Qila menyampaikan pemikirannya. "Lo pindah ke depan Dis. Temeni Kak Arvin," ujar Qila lagi. Bukannya Qila bermaksud untuk memerintah Gladis atau gimana. Hanya saja, Qila benar-benar merasa tak enak kepada Arvin. Masa cowok itu dijadikan layaknya sopir oleh Qila dan Gladis. Rasanya, itu sangat tak sopan. "Ogah ah, gue mau disini aja. Temenin lo. Kenapa harus temenin Arvin sih," balas Gladis santai. Ah, rasanya Qila ingin menguyel-uyel Gladis dengan tangannya. Qila gemas dengan kelakuan Gladis yang gak ada akhlak itu. "Gladisya Aurora. Pindah ke depan," ujar Qila melotot kecil menatap Gladis. "Ogah Qil astagaaa," tolak Gladis lagi. "Kenapa gak lo aja sih yang pindah ke depan? Kenapa harus gue?" tanya gadis itu kemudian. Qila nampak memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan Gladis. Kenapa hal seperti itu perlu dipertanyakan lagi? Sudah jelas jawabannya karena Gladis adalah pacar dari Arvin. Benar-benar sesimple itu jawabannya. "Karena lo pacarnya dia Gladis, kenapa hal kaya gitu perlu lo tanyain sih? Udah jelas banget jawabannya," ujar Qila dengan nada suaranya yang terdengar sangat gregetan dengan pertanyaan yang dilontarkan Gladis. "Gak ngaruh ah Qil," ujar Gladis menjawab dengan santai. "Mendingan lo aja yang maju, gak usah gue. Lo juga lagi mulai temenan sama Arvin? Itu awal yang bagus. Jadi, lo aja gih yang pindah depan," lanjutnya lagi. Kesabaran Qila benar-benar di uji Gladis disini. Bisa-bisanya Gladis menjawabnya dengan sangat santai seperti itu. Tak menghiraukan perkataan Gladis, justru Qila malah mengatakan izinnya kepada Gladis saat ini. Karena menurut Qila ini adalah waktu yang tepat. Kebetulan sekali Gladis baru saja membahas soal itu kan? "Ngomong-ngomong soal mulai temenan sama Kak Arvin, gue mau sekalian izin sama lo deh. Gue ntar sore mau main bareng sama pacar lo ke cafe. Boleh gak?" tanya Qila izin. Meminta persetujuan Gladis. Gadis itu mengatakannya dengan sangat lugas. Tanpa menunggu waktu lama, Gladis langsung mengangguk. "Sok lah, gas wae atuh," ujar Gladis dengan santai. "Tapi setelah pulang dari cafe, lo sama Arvin, kalian berdua harus udah akrab ya. Harus udah temenan. Awas aja kalo belum. Sia-sia banget izin dari gue," ujarnya kemudian. "Dan satu lagi. Kalo perlu lo berdua main kemana gitu biar makin akrab. Gak usah nanggung. Sekalian aja kemana gitu loh," tambah Gladis kemudian. "Eh, tapi sebenernya lo gak perlu izin sama gue sih. Gue gak mungkin ngelarang juga Qil. Lo tahu gue," ujarnya lagi. Qila mengangguk membenarkan perkataan Gladis. Memang benar, Gladis pasti akan mengizinkannya. Gadis itu terlewat santai. Qila sebenarnya cukup khawatir dengan sikap Gladis yang seperti itu. Bisa saja Gladis kehilangan seseorang karena sikapnya yang terlewat santai itu. "Iya, gue tau," ujar Qila menjawab. "Tapi rasanya kurang afdol kalo nggak sekalian minta persetujuan lo. Lo tau sendiri juga kan Dis. Gue kaya gimana," lanjut gadis itu. Gladis juga mengangguk. Dia tahu bagaimana Qila. Jika Gladis merupakan seorang yang sangat santai, maka beda lagi dengan Qila yang sangat serius. Gadis itu sering merasa tak enakan. Tadi saja saat akan membatalkan pulang bersama dengan Fikri, Qila harus dipaksa dulu oleh Gladis dan Arvin sampai gadis itu berani mengatakannya. "Ya ya ya. Gue jelas tahu gimana lo," jawab Gladis singkat. Qila mengangguk-anggukan kepalanya. "Dan ya, syarat dari lo tadi gue terima," ujar Qila kemudian. "Gue jamin setelah balik ntar sore, gue sama pacar lo bakalan lebih akrab," lanjut gadis itu yakin. "Dan thanks juga lo udah bolehin gue temenan sama pacar lo," tambah Qila lagi. Sebelumnya, Qila memang sudah meminta izin kepada Gladis untuk bisa berteman dengan Arvin. Saat diperjalanan keluar dari UKS lah saat itu Qila meminta izin. Gladis yang memang sudah tahu Qila adalah tipe gadis yang suka bersosialisasi dan suka memiliki banyak teman pun langsung menyetujuinya tanpa pikir panjang. Lagipula, Gladis merasa dia tak memiliki hak untuk melarang Arvin ataupun Qila jika keduanya ingin berteman. Dan satu lagi, Gladis justru senang ketika Arvin mau berteman dengan Qila. Dengan berteman nya Arvin dengan Qila, Gladis rasa, Arvin akan lebih bisa bersosialisasi mengingat Qila adalah gadis yang sangat pandai dalam bidang itu. Siapa tahu menurun ke Arvin kan? Karena mereka berteman dan lebih sering bersama? "Dan jangan lupa juga, lo sekarang pindah ke depan Qila," ujar Gladis lagi, mengingat pembicaraan mereka sebelumnya yang membicarakan perihal tempat duduk. Padahal tadi Qila sudah mulai lupa dengan pembahasan itu. Namun, Gladis malah kembali mengingatkannya. Dan satu lagi, Qila baru sadar kalau sedari tadi Arvin belum mengendarai mobilnya sama sekali. Mobilnya masih berhenti rapi di parkiran SMA Rajawali. Sampai saat ini parkiran sudah sangat sepi pun mobil yang mereka tumpangi belum berpindah sedikitpun. "Lah? Gue baru nyadar kalo mobilnya belum jalan," ujar Qila membuat Gladis langsung menoleh ke kaca mobil sebelahnya. "Iya juga ya," dan ternyata, Gladis juga baru menyadarinya. "Vin, kenapa nggak jalan-jalan sih?" tanya Gladis kemudian yang ditujuan kepada Arvin yang sedari tadi hanya diam. "Gue bukan sopir," ujar Arvin datar setelah sekian lama terdiam. "Gue gak akan jalan kalo gak ada yang duduk di samping gue," tambah cowok itu. Gladis menatap Arvin aneh. Tak biasanya cowok itu mempermasalahkan perihal tempat duduk. Apa, ini semua karena omongan Qila? Jadi, Arvin terprovokasi? Wah, Qila ini benar-benar ya. Arvin jadi lebay sekarang. "Yaelah Vin. Biasa juga gak pernah masalahin soal tempat duduk," cibir Gladis yang tak mendapat jawaban dari Arvin. "Udah Qil, buru lo pindah ke depan," ujar Gladis lagi. Qila baru membuka mulutnya hendak memprotes. Namun suara Arvin lebih dulu menyahut. "Qila aja pindah ke depan. Gak usah peduliin Gladis," ujar Arvin membuat Qila terdiam. "Biarin dia di belakang sendiri. Anak keras kepala gak tahu sopan santun dia," tambah Arvin dengan nada datarnya. Cowok itu mengatakan itu dengan sangat tajam menurut Qila. Qila pun hanya mengangguk menurut. Gadis itu segera membuka pintu yang ada di sebelahnya. Sebelum keluar, Qila sempat melotot kecil kearah Gladis dan dibalas dengan hendikan bahu acuh dari gadis itu. Setelah keluar dari situ, Qila pindah duduk di jok penumpang di samping Arvin. Gadis itu duduk dengan rapi di sana. Sedangkan Qila yang ada di belakang hanya tersenyum miring melihatnya. "Nah gitu kek dari tadi," ujar Gladis tersenyum puas karena pada akhirnya Qila yang pindah tempat duduk. Arvin maupun Qila tak ada yang menyahuti perkataan Gladis. Qila yang sibuk memainkan ponselnya dan Arvin yang sibuk mulai menancapkan gas dan membawa mobilnya keluar dari area SMA Rajawali. Sedangkan Gladis yang tak mendapatkan balasan dari Arvin maupun Qila itu hanya mencebikkan bibirnya kesal. Dia jadi tak dianggap gara-gara itu. "Bagus Qila, dia gak usah dianggap ada," ujar Arvin pelan pada Qila. Namun tetap saja Gladis bisa mendengarnya. Gladis semakin dibuat kesal mendengar itu. Qila mengangguk-anggukkan kepalanya setuju. Keduanya kemudian terkekeh bersama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD