CHAPTER 14

1236 Words
Seperti yang diharapkan Gladis sebelumnya, Qila dan Arvin benar-benar masih berada di dalam uks berdua. Kedua siswa siswi berbeda gender itu benar-benar tak kembali ke kelas mereka masing-masing. Lagipula, sekarang bahkan sudah waktunya mata pelajaran terakhir. Mereka sebentar lagi juga akan pulang. "Kak Ar," panggil Qila pada Arvin di tengah keheningan. "Mendingan gue ceritanya sekarang aja atau gimana ya? Habisnya sekarang lagi free. Kita gak tau mau ngomongin apa. Daripada cuma diem-diem an doang juga kan," lanjutnya lagi kemudian. Sejenak Arvin terdiam tak langsung menjawab. Cowok itu mengangguk kemudian. "Boleh. Lo kalau mau cerita silahkan, gue bakalan dengerin kok," jawabnya. Qila tersenyum senang mendengar itu. Lalu kemudian, Qila akhirnya memutuskan untuk bercerita mengenai perihal Fikri kepada Arvin. Gadis itu bercerita tentang titik besar cerita yang selalu mengganggu pikirannya sedari kemarin malam. "Gue bingung mau mulai dari mana," ujar Qila nampak sedikit kebingungan. Namun tak lama setelahnya, gadis itu terlihat sedang mengangguk. "Oke-oke, jadi gue akan mulai untuk perkenalan soal Fikri dulu," ujarnya lagi sedikit diberi jeda. "Jadi Kak, Fikri itu adalah sahabat gue. Gue sama Fikri udah saling kenal sejak duduk di bangku SMP. Gue sama dia banyak menghabiskan waktu bersama saat itu karena kita emang sahabatan. Sampai tanpa sadar, gue rasa, gue mulai suka sama dia," ujar Qila memulai sedikit cerita awal mula Qila dan Fikri bertemu dan sampai pada akhirnya gadis itu menyukai cowok itu. "Gue gak tau karena apa gue suka sama Fikri. Yang jelas, gue selalu suka ada di deket Fikri, gue suka lihat dia tersenyum tulus buat gue. Dulu Fikri itu, orangnya pengertian banget sama gue. Entah mungkin karena itu atau bukan. Tapi gue rasa, alasan kenapa gue beneran bisa suka sama dia adalah itu. Fikri, dia selalu ada buat gue," tambah Qila lagi. "Dulu, Fikri itu gak pernah sama sekali kecewain gue Kak. Dia selalu ngebuat gue seneng entah itu karena tingkahnya atau omongannya. Sampai rasanya gue kaya beneran udah jatuh cinta another level sama sikap-sikapnya dia," tambah Qila lagi mengungkapkan segala perasaannya. "Saat baru awal-awal masuk SMA pun, Fikri gak berubah sama sekali. Sikapnya masih sama pengertian dan perhatian ke gue. Dan For your Information aja Kak, gue sebenernya bisa sekolah di sini itu karena Fikri. Karena jujur aja, gue dulu bener-bener gak pernah kepikiran buat sekolah disini. Dulu, gue pengen banget sekolah di SMA sebelah. Tapi, karena gue tahu Fikri sekolah disini. Jadinya gue putusin buat pindah haluan untuk sekolah disini aja," jujur Qila lagi panjang lebar. Gadis itu tersenyum kecil sejenak. "Pada awalnya, gue gak ngerasa nyesel sekolah disini karena alasan 'ikut Fikri' karena saat awal-awal masuk SMA, Fikri emang beneran gak berubah sama sekali. Cowok itu, masih tetep Fikri yang gue kenal dulu, Fikri sahabat kesayangan gue," ujar Qila. "Tapi itu gak bertahan lama karena kemarin, apa yang gue pikirkan itu tiba-tiba dipatahkan oleh pengakuan Fikri yang ternyata cowok itu akan segera di jodohkan sama Mamanya," jelas Qila pelan. Arvin yang mendengar itu nampak sama sekali tak merespon apa-apa. Cowok itu hanya diam menjadi pendengar. Padahal jujur saja, Arvin benar-benar terkejut mendengar titik cerita Qila yang membahas perihal perjodohan Fikri. Ah, Arvin sekarang tahu. Pasti ini sangat berat untuk Qila. "Rasanya gue selama ini cuma ngelakuin sesuatu yang sia-sia. Gue juga sempet nyesek sekolah disini karena ngikut sama Fikri. Harusnya dari awal gue sekolah disini karena keinginan gue aja. Bukan karena cowok itu," ujar Qila. "Tapi ya, gue tetep berterima kasih sama Fikri karena udah ngebuat gue ikut dia ke sekolah ini. Kalau aja saat itu gue gak ngikutin Fikri, mungkin aja gue gak akan pernah sekolah disini dan mungkin aja gue gak akan pernah bisa ketemu Ghea dan Gladis dan gue gak bisa berteman sama mereka," ujarnya. "Gue sebenernya gak marah soal Fikri dijodohin atau nerima perjodohan dari Mamanya itu karena gue tahu, gue gak berhak untuk itu. Dan lagipula, gue sebenernya udah cukup memprediksi semua ini bakalan kejadian di jauh-jauh hari. Dan gue, emang udah proses buat move on dari dia," kata Qila jujur. Memang itu kan aslinya? Qila memang sedang dalam proses move on dari Fikri sebelum cowok itu dikabarkan akan segera menunaikan perjodohan yang dilakukan Mamanya. "Kak Arvin tahu apa yang gue rasain sekarang? Rasanya aneh Kak. Di satu sisi, gue sedih karena Fikri sebentar lagi akan dijodohin dan itu berarti waktu gue untuk bisa main sama Fikri bakalan berkurang karena tentu aja gue tahu, setelah tunangan dengan calonnya yang sekarang, Fikri tentu aja pasti bakalan lebih memprioritaskan tunangannya di atas apapun," ujar Qila mulai menyampaikan titik keresahannya. "Tapi disisi lain gue juga seneng, karena gue sekarang bener-bener udah lumayan ikhlasin dia untuk milih calon masa depannya sendiri. Sakit itu ada, pasti. Gue gak mau munafik dengan bilang gue seratus persen baik-baik aja," tambah Qila lagi. "Jadi sebenernya, titik keresahan terbesar gue itu bukan karena gue takut Fikri dijodohin karena gue masih suka sama dia. Tapi justru, titik keresahan terbesar gue itu adalah gue takut Fikri dijodohin karena gue takut udah gak bisa berteman dekat sama Fikri. Gue takut tunangan Fikri bakalan marah kalau dia tahu tunangannya itu punya sahabat cewek kaya gue," tambahnya. "Karena gue tahu, gak semua cewek bisa nerima pacar atau tunangannya punya sahabat dekat cewek. Kebanyakan dari mereka pasti akan merasa cemburu dan takut tersaingi. Makanya, cewek itu biasanya suka ngelarang pacar atau jodohnya deket-deket sama cewek sekalipun itu temen atau sahabatnya," jelas Qila. "Dan itu yang gue takutin. Gue takut tunangannya Fikri bakalan nolak gue dan nyuruh Fikri buat jauhin gue. Gue gak kebayang gimana hari gue yang biasanya selalu dihiasi Fikri nanti mendadak berubah karena Fikri yang gak lagi ada di deket gue. Bahkan sebagai teman ataupun sahabat." "Gue bukannya gak bahagia sahabat gue udah ketemu jodohnya, gue juga bukannya gak bahagia disaat sahabat gue bahagia. Hanya aja, gue beneran capek kalo harus pura-pura terus-terusan," ujar Qila melirih. "Banyak hal yang gak bisa gue ungkapin lewat kata. Dan sebagai penutup dari cerita gue ini, gue cuma mau bilang kalo Fikri, cowok itu ternyata memang tidak berubah sedari awal gue kenal dia. Hanya aja, sebenernya dia gak sebaik yang gue kira dari awal," tutup Qila mengakhiri cerita panjangnya. Mendengar Qila selesai bercerita, Arvin yang sedari tadi hanya diam menjadi pendengar yang baik untuk Qila itu mulai mengulurkan tangannya untuk mengusap bahu Qila pelan. Cowok itu berusaha menguatkan Qila melalui usapan di bahu gadis itu. Qila yang merasakan usapan dibahunya langsung menoleh menatap sang pelaku. Qila dapat melihat wajah Arvin yang sangat dekat dengannya. Gadis itu juga dapat melihat Arvin yang menatapnya dengan tatapan tulus, bukan tatapan kasihan atau iba. Cowok itu juga nampak sedikit tersenyum tipis. Qila ikut tersenyum tipis melihatnya. Gadis itu sungguh sangat berterima kasih karena dengan adanya Arvin, semua yang selama ini dia pendam sendiri akhirnya menguar keluar. Qila sedikit lebih plong sekarang. "Thanks ya Kak Ar. Thanks udah dengerin cerita gue padahal gue tahu cerita gue ngebosenin banget. Tapi gue beneran makasih banget karena lo bersedia jadi pendengar gue yang baik," ujar Qila berterima kasih kepada Arvin yang nampak santai di tempatnya. "Iya," jawab Arvin singkat. "Kalau lo ada apa-apa yang mengganjal di hati lo dan lo bingung mau cerita ke siapa. Lo, bisa datang ke gue. Lo bisa cerita ke gue kapanpun. Gue akan selalu bersedia jadi pendengar lo. Dan gue akan berusaha jadi pendengar yang baik buat lo," ujar Arvin mengakhiri. Keduanya saling bertatapan dengan senyuman yang terukir di wajah mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD