CHAPTER 43

1315 Words
Setelah jam istirahat pertama selesai, Qila dan Gladis sekarang ini duduk dengan tenang di bangkunya. Baik Qila, Gladis, atau bahkan juga teman-teman sekelasnya nampak dengan rapi dan tenang menunggu guru yang akan mengajar mereka. Guru yang sedang dipanggil oleh ketua kelas mereka. Lama menunggu, hingga beberapa saat kemudian, si ketua kelas datang, dia hanya sendirian, tak bersama guru yang niatnya akan dipanggil tadi. Kalau seperti ini, ada dua kemungkinan yang terjadi. Satu, gurunya yang masih ada kerjaan atau masih melakukan sesuatu, dan kedua adalah gurunya yang memang tidak ada ataupun tidak hadir. Anak-anak dikelas Qila dan Gladis nampak sangat menunggu kabar yang akan diberikan ketua kelas mereka. "Gurunya hari ini nggak masuk karena sakit. Kita disuruh belajar sendiri, gak ada tugas," ujar ketua mengumumkan dengan tegas di depan kelas. Mendengar pengumuman itu, jelas saja yang dilakukan mereka bukannya belajar sendiri seperti apa yang dipesankan oleh guru tersebut kepada ketua kelas. Namun mereka malah banyak yang beramai-ramai keluar kelas, sepertinya mereka akan pergi ke kantin. Atau ada juga yang pergi ke bagian belakang kelas untuk bermain, dan ada juga yang seperti Gladis dan Qila yang mengobrol ria. Bahkan ketua kelasnya pun sama ramainya. Tapi tetap ada juga anak ambis yang memilih untuk belajar dan mengerjakan soal-soal. Kalau seperti ini ceritanya sih, Qila tetap saja sama seperti yang lainnya. Dia akan lebih memilih untuk mengobrol atau melakukan sesuatu selain belajar. Namun untuk keluar kelas, Qila sebenarnya sedikit takut untuk hal ini. Hanya saja, karena si guru sudah bilang kalau dia tidak bisa datang. Berarti, itu bukan masalah yang besar kan? "Eh, menurut lo kenapa tadi si Ghea sama sepupunya gak dateng di kantin ya Qil?" tanya Gladis penasaran, meminta pendapat Qila dari kejadian tadi. Kejadian dimana Ghea dan sepupunya yang tak muncul di kantin padahal sepupunya yang anak baru itu sangat ditunggu-tunggu kedatangannya oleh anak-anak SMA Rajawali. Qila menaikkan sebelah alisnya menatap sembari Gladis. "Ya, mungkin aja dia sama sepupunya ada ke kantin tadi Dis, cuma bukan kantin yang kita datengi tadi," ujar Qila mengatakan pendapatnya. "Lo tahu sendiri kan kalo kantin disini gak cuma ada satu. Ada 6 kantin bahkan, cuma ya emang kantin yang sering kita datengi kantin tadi doang," lanjut gadis itu dengan santai. "Ya tapi kan Ghea juga biasanya pergi ke kantin yang sama kaya kita. Kantin tadi, dia mana pernah ke kantin lain sih Qil," ujar Gladis mencoba menyangkal, dia nampaknya tak setuju dengan apa yang dikatakan Qila. "Mungkin dia mau ajak sepupunya ke kantin lain kali," jawab Qila dengan santai. "Lagian lo kenapa jadi ribet mikirin dia kenapa nggak ke kantin, dia ke kantin atau enggak, dia di kantin yang mana. Juga sih Dis? Kan gak penting juga buat lo sama gue," lanjut Qila menatap Gladis heran. "Atau jangan-jangan, lo kangen ya sama Ghea?" goda Qila kemudian dengan senyum jahilnya. "Gak ya!" sentak Gladis dengan refleks menyangkal dengan keras. Selanjutnya, gadis itu nampak mengerucutkan bibirnya sebal. "Gue tuh sebel sama dia Qil. Gue pengen lihat gimana muka si sepupu bangsatnya tuh anak. Secantik apa sih sebenernya. Pasti aja gak lebih cantik dari monyet yang gue lihat di taman safari waktu SD dulu," cibir gadis itu dengan gregetan. Qila tertawa puas mendengarnya. Lucu melihat ekspresi Gladis yang nampak sangat emosi, kesal dan gregetan di saat yang bersamaan. "Jangan gitu ah Dis. Masa manusia dibanding-bandingin sama monyet sih. Gak baik woi," ujar Qila menegur dengan sisa-sisa tawanya. "Bodo amat Qil. Gue sih gak peduli," ujar Gladis acuh tak acuh. "Nih ya, kalaupun mukanya emang lebih better daripada si monyet itu, tapi gue yakin nih pasti kelakuannya gak lebih baik daripada babi!" judgenya dengan tega. "Jujur aja, gue sebenernya pengen bilang dia kelakuannya mirip anjing. Tapi anjing itu punya respect yang akan tinggi banget. Dia juga setia banget lagi. Jadi, mau dia gue bilang mirip anjing itu kayanya terlalu bagus deh buat dia," lanjut Gladis lagi menjelaskan dengan panjang lebar. Qila menggelengkan kepalanya mendengar celotehan Gladis. Dari apa yang Qila dengan, Gladis memang sebenarnya nampak sangat kesal dengan Ghea dan sepupunya. Gladis seperti sudah sangat tidak menyukai dua gadis itu. Entah apa yang membuat Gladis sangat membenci mereka, tapi yang jelas, untuk Qila pribadi, gadis itu hanya sedikit merasa kesal dengan Ghea dan sepupunya. Untuk Qila pribadi, Ghea dan sepupunya itu tak terlalu membuatnya merasa terganggu. Ya, setidaknya untuk saat ini. Karena menurut Qila, wajar juga kalau dipikir-pikir alasan Ghea lebih memilih sepupunya karen mereka adalah saudara dan Ghea yang sangat mengidolakan sosok sepupunya itu. Tapi, apa perlu berlebihan seperti itu? Ya itu sih sebenarnya juga terserah Ghea. Dan kalau soal Fikri, wajar juga kalau Fikri lebih memilih calon tunangannya daripada Qila yang hanya sahabatnya, atau bahkan mungkin hanya temannya. Jadi, setidaknya jika hanya mereka berdua yang meninggalkan dirinya, Qila tak masalah. Memang benar kata Arvin, dia masih punya Arvin dan Ghea yang masih setia di sampingnya. Itu sudah lebih dari cukup. Tapi, Qila akan sangat kecewa jika salah satu atau bahkan dua duanya diantara mereka memilih untuk meninggalkan dirinya demi si sepupu Ghea itu. Meskipun itu hak mereka, tapi rasa kecewa itu juga pasti tetap ada. "Dis, lo gak perlu sampe segitunya. Mungkin aja si sepupunya Ghea itu juga gak tahu apa-apa. Mungkin memang Gheanya sendiri yang lebih seneng sama sepupunya daripada sama kita sampe akhirnya dia lebih milih ninggalin kita. Tahu sendiri kan kalo Ghea juga cerita kalau role modelnya dia itu ya si sepupunya kesayangannya itu," jelas Qila berusaha membuat Gladis mengerti. Gladis menggelengkan kepalanya tak setuju dengan perkataan Qila. "Gak ada kaya gitu Qil. Gue udah cerita belum sih soal Ghea yang memang jadi lebih antagonis disaat dia lagi sama sepupunya? Dan kenyataannya emang kaya gitu, sepupunya itu yang emang ngebuat Ghea selalu tiba-tiba jadi tokoh antagonis. Asal lo tahu Qil, itu udah pernah kejadian waktu kita jaman SMP. Gue bener-bener rasain sendiri perbedaannya. Lo tahu kan gue temenan sama dia udah dari jaman SMP?" ujar Gladis menolak perkataan Qila yang terus berpikir positif. "Qil, kalau dia gak kaya gitu dari SMP, mana mungkin sih gue tinggalin Ghea gitu aja cuma gara-gara perkara ini? Mana mungkin sih gue nampar dia di depan umum kaya gitu waktu dia jelek-jelekin lo?" "Enggak mungkin! Itu jawabannya. Waktu dia jelekin lo gue jelas marah. Tapi bahkan lo sendiri nampak masih tenang kan? Karena dia yang emang hanya terkesan ngebela sepupunya aja? Tapi enggak buat gue Qil. Di telinga gue, yang gue denger bukan hanya sekedar jelekin lo yang benar-benar sesimpel itu. Gue bisa tahu jelas maksud dia itu lo dituduh kalau kedepannya lo bakalan nikung sepupunya dengan ngerebut Fikri," lanjut Gladis dengan menggebu-gebu. "b*****t gak tuh anak? Dan yang paling buat gue emosi adalah kalau sampai di kedepannya lo punya pacar dan sepupunya dia yang toxic itu suka sama pacar lo, percaya sama gue Qil, Ghea pasti akan tuduh lo ngerebut orang yang disukai sepupunya. Padahal faktanya jelas-jelas lo dulu yang suka dan bahkan lo yang udah jadi pacarnya," katanya lagi. "Dan lo tahu apa yang akan dilakukan Ghea setelah itu? Dia jelas-jelas akan menghasut lo buat lepasin pacar lo dan agar si pacar lo itu bisa buat sepupunya Ghea," lanjut Gladis lagi. "Qil, itu yang gue khawatirin dari kebaikan lo. Gue tahu lo selalu berusaha buat orang seneng, tapi tolong. Untuk perkara apapun kedepannya, lo harus jadi lebih tega lagi. Lo harus lebih bisa pertahanin apa yang udah jadi milik lo dan apa yang lo suka," ujarnya. "Semua yang gue ceritain itu udah pernah kejadian Qil waktu SMP, karena itu juga gue wanti-wanti lo dari awal," Gladis tersenyum tipis. "Gue akan selalu ada di pihak lo Qil. Gue salah waktu gue kira gue berhasil buat Ghea jadi pribadi yang lebih baik daripada waktu Ghea sama sepupunya. Ya, tapi kenyataannya Ghea tetaplah Ghea yang terlalu buta sama sepupunya itu. Dan sekarang, sepupu dia itu udah kembali. Kepribadian dia yang dulu juga secara otomatis kembali juga," katanya. Qila ikut tersenyum tipis. "Kita lewati bareng-bareng ya Dis?" ujarnya tulus. Gladis mengangguk dengan yakin. "Iya, pasti," katanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD