CHAPTER 44

1107 Words
Bel istirahat kedua akan berbunyi dalam 5 menit lagi. Namun karena kondisinya jam kelas Qila dan Gladis sedang kosong, maka dari itu, kedua gadis itu lebih memilih untuk pergi ke kantin lebih awal daripada jam biasanya. Di perjalanan menuju kantin, ternyata area sekitar koridor yang Qila dan Gladis lewati tak terlalu sepi. Mereka baru tahu bahwa ada beberapa kelas juga yang sedang jam kosong seperti kelasnya, atau lebih tepatnya lagi, kelasnya. "Tahu rame gini tadi kita keluar kelas aja kali Qil, daripada bosen di kelas mulu kan," ujar Gladis menyeletuk. Qila mengangguk mengiyakan tanpa pikir panjang. "Iya juga ya, kalo rame kaya gini mah resiko ditanya sama guru kan jadi kecil," kata gadis itu. Setelahnya, tak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Mereka berdua sama-sama diam sampai pada akhirnya mereka sampai di kantin yang mereka tuju. Lebih tepatnya kantin yang tadi mereka datangi. Begitu sampai, mereka langsung dapat melihat ada Arvin, Putra dan Doni disana. Ah, ternyata kelas mereka juga jam kosong, sama seperti kelas Gladis dan Qila. Gladis dan Qila saling melirik satu sama lain. "Ada kakak gue sama dua temen gada akhlaknya tuh," ujar Gladis pada Qila. "Samperin sabi kali ya," ajaknya kemudian yang diangguki setuju oleh Qila. Mereka berjalan dengan santai sepwrti biasanya mendekati meja yang dipakai Arvin, Doni dan Putra. Setelahnya begitu sampai, Qila segera mendudukkan dirinya di space kosong sebelah Arvin seperti posisinya di jam istirahat pertama tadi. Karena Gladis, gadis itu sudah lebih dulu mengambil posisi duduk tepat di sebelah Doni. "Hai guys, gimana kabar?" sapa Gladis dengan sok asik. Tengilnya saat ini sudah mirip seperti Putra biasanya. Memang, dua manusia itu sepertinya mempunyai kepribadian yang mirip atau bahkan sama. "Kabar baik nih guys," sahut Putra menimpali dengan sok asik pula. Meja yang ditempati mereka kembali diam karena Gladis yang tak membalas perkataan Putra. Sementara itu, Arvin menoleh kearah Qila yang baru saja duduk di sebelahnya. "Kelas lo lagi jam kosong?" tanya Arvin dengan suara pelan. Qila mengangguk mengiyakan. "Kelas lo sendiri juga lagi jam kosong ya Kak?" tanya Qila balik kemudian. Arvin mengangguk, seperti yang Qila lakukan tadi. Sejenak kembali hening. Posisinya sekarang Gladis sudah kembali mengobrol dengan Putra dan Doni. Dan Qila yang sedang berbicara dengan Arvin. "Gimana tadi Qil, gak ada apa-apa kan?" tanya Arvin tiba-tiba yang tidak dimengerti oleh Qila. "Gak ada apa-apanya apa Kak Ar?" tanya Qila bingung. "Soal anak baru," jawab Arvin singkat. "Ohh," Qila berseloroh dengan tenang. "Gue sih sebenarnya gak terlalu merasa terganggu juga sih Kak Ar, tapi kadang juga suka kesel kalo yang diomongin sama anak-anak yang gue lewatin selalu aja dia mulu dia mulu. Kan jadi bosen Kak, kaya gak ada bahasan lain aja," ujar Qila mengungkapkan keluh kesahnya. "Kalo secara pribadi sama si anak baru itu sih, gue gak ada masalah sama sekali. Seenggaknya sampai sejauh ini ya, gak tau deh nanti," ujarnya lagi menambahkan. Arvin mengangguk paham. "Tapi lo tadi sama Gladis juga belum ketemu sama anak baru itu ya?" tanya Arvin lagi. Anggukan kembali Qila berikan untuk pertanyaan Arvin. "Iya Kak, belum ketemu sih," ujar Qila. "Lagipula kalo anak baru yang satu itu, gue juga gak pengen ketemu jujur aja. Nih ya Kak, sebenernya gue itu palinh welcome banget sama anak baru, siapa tahu kan belum punya temen, terus lagi butuh temen, makanya gue pengen temenin. Tapi kalo anak baru yang satu ini, gak dulu deh kayanya. Selain dia udah ada sepupu sama calon tunangannya, gue juga gak mau kalo sampe nanti kena tuduh sama sepupunya itu. Ntar gue dikira apa-apain dia lagi, ogah lah," jelas Qila dengan sangat jelas menyindir perihal Ghea. Arvin terkekeh singkat, ekspresi Qila saat menceritakan itu nampak sangat lucu. Gadis itu nampak kesal, tapi juga biasa saja di saat bersamaan. "Gak apa-apa Qil, lo biarin aja dia. Gak usah lo aja kenalan juga, jatuhnya ntar lo dipandang rendah sama mereka," nasihat Arvin yang tidak sepenuhnya bijak. Tapi, tak mengajak kenalan anak baru lebih dulu juga bukan suatu kesalahan menurut Qila. Dia hanya sedang berusaha menghindari hal-hal yang berpotensi membuat dirinya terkena tuduhan atau justru lebih dari itu, suatu masalah. "Iya enggak, dan emang dari awal Ghea ngomong kaya waktu itu juga gue udah emang gak ada niatan sama sekali sih Kak," jawab Qila. "Tadi di kelas Gladis udah cerita banyak soal Ghea dan sepupunya. Ternyata kata Gladis, Ghea dari jaman SMP dulu emang suka gitu kalo ada sepupunya. Jadinya dia wanti-wanti gue dari awal supaya enggak terlalu baik sama sepupunya Ghea itu. Takutnya gue dimanfaatin doang," jelasnya mendapat anggukan setuju dari Arvin. "Emang bagusnya kaya gitu Qil. Lo diam-diam aja, gak usah banyak nawarin bantuan juga," ujar Arvin. "Gladis pernah cerita katanya lo suka nawarin bantuan ke anak baru SMA Nusa Bangsa, kata Gladis, lo kasihan sama mereka kalo sampe mereka ada kesulitan, makanya lo berniat buat tawarin bantuan," ujar Arvin lagi. Memang benar, Arvin mendapatkan informasi itu dari cerita Gladis. Ini bukan sebuah modus atau apapun itu. "Kalo anak baru yang satu ini, saran gue lo mendingan malah jangan deket-deket Qil. Udah ada sepupunya juga kan disini, udah ada calon tunangannya juga. Jadi, lo gak perlu repot-repot nawarin bantuan buat dia," nasihat Arvin lagi. Sebenarnya, untuk yang kali ini cukup sesat. Hanya saja, semua ini memang perlu diajarkan kepada Qila yang memang anaknya terlalu polos itu. Lagipula juga, si anak baru itu cukup berbahaya untuk Qila. Jadi, untuk melakukan ini pun Arvin sebenarnya tak ada salahnya sama sekali. Tapi memang rasanya juga sedikit cukup aneh saat Arvin yang biasanya atau dulunya sangat pendiam, sekarang menjadi sangat cerewet dengan Qila. Bahkan, cowok itu tak segan-segan untuk menggosip dengan Qila seperti apa yang dilakukan mereka beberapa saat lalu. Entahlah, tapi sepertinya, jika Arvin melakukan semua itu dengan Qila, semuanya nampak sangat menyenangkan. Berbeda jika dengan Gladis atau kedua temannya itu. Atau bahkan, kepada orang-orang lainnya. Gadis ramah seperti Qila memang spesial. Dia berhasil mendekati Arvin dengan begitu mudahnya. Arvin bahkan juga sampai menerima Qila dengan tangan yang terbuka lebar. Arvin nampak sangat menyambut kedatangan Qila dengan begitu baik. Dan untuk Gladis, meski dia tahu Kakaknya jauh lebih dekat dengan Qila yang notabennya sahabatnya itu daripada dia yang notabennya adalah adik kandungnya, sejujurnya di awal Gladis sedikit merasa cemburu. Tapi sekarang, itu semua sudah tidak berlaku lagi. Gladis ikut senang untuk Kakaknya dan sahabatnya. Dari yang Gladis lihat, mereka sungguh sangat cocok jika benar-benar disandingkan. "Sst," bisik Gladis pada Putra dan Doni yang membuat kedua cowok itu langsung menatap kearah Gladis. Gladis kemudian mengisyaratkan keduanya untuk melihat kearah Arvin dan Qila dengan gerakan mata. Setelah Doni dan Putra melihat Qila dan Arvin, Gladis tersenyum lebar. "Mereka cocok banget kan?" tanya Gladis yang langsung mendapatkan anggukan dari Doni dan Putra. "Banget," jawab Doni dan Putra serempak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD