CHAPTER 4

1599 Words
"Kaga! Apaan banget sih lo Dis, kalo gue bareng Kak Arvin lo mau pulang bareng siapa?" cerocos Qila menatap Gladis heran. Gladis ini harusnya waspada dengan Qila, jangan mudah percaya. "Lo gak takut gue nikung lo? Gue bisa aja lo godain pacar lo," lanjut Qila menakut-nakuti Gladis. Gladis yanh mendengar itu malah terkekeh geli. Ada-ada saja Qila. "Gue percaya sama lo Qil," ujarnya. "Maka dari itu gue izinin lo dianterin sama Arvin. Lagian juga gue masih ada urusan," jelasnya kemudian. Qila menggeleng cepat. "Gak usah Dis, gue bisa naik angkot. Tanggung juga udah nunggu lama gini," tolak Qila lagi. "Justru itu, lo bareng Arvin aja. Daripada nunggunya makin lama. Udah mulai gelap nih," ujar Gladis membuat Qila menatap kearah langit. Memang sih sudah mulai gelap. Mendung lagi. Qila kemudian melirik Arvin yang masih setia duduk diatas motornya. Lalu gadis itu beralih melihat Gladis yang berdiri di depannya. "Kalo gue bareng kak Arvin, lo nanti naik apa?" tanya Qila mulai mempertimbangkan tawaran Gladis. Gladis berdecak malas. "Ck. Lo kira gue berhenti disini mau ngapain?" ujar Gladis dan Qila menggelengkan kepalanya tanda tak tahu. "Gue itu udah janjian sama orang disini Qil. Dan orangnya itu mau jemput gue," jelas Gladis membuat dahi Qila bergelombang. Menatap Gladis dengan tatapan mengintrogasi. "Cewek apa cowok?" tanya Qila memastikan dengan raut wajah seriusnya. "Cowok," santai Gladis. Gadis itu bahkan memasang wajah tak berdosa miliknya. Qila menjadi geram sendiri melihat itu. "Gladis! Jangan selingkuh ada drama selingkuh-selingkuhan ya lo. Walaupun emang nih Kak Arvin jarang senyum, tapi gue tau kalo Kak Arvin itu sayang banget sama lo. Bahkan waktu malem-malem lo minta anterin ke rumah gue aja dia mau. Lo cuekin dia juga dia oke-oke aja," ceramah Qila panjang lebar dan bahkan sedikit keras. Arvin yang memang berada hanya satu meter dari mereka bisa mendengar itu. Arvin menaikkan dua alisnya bingung. Cowpk itu terkekeh kecil mendengarnya. "Lo sahabat gue Dis. Jangan pernah gue denger berita lo selingkuh ya! Awas aja kalo sampe lo bener-bener selingkuh dari Kak Arvin. Gue buang lo ke rawa-rawa! Kalo perlu gue lempar ke kandang singa terus gue asingkan lo hutan sss!" ancam Qila menatap Gladsi serius. Gladis menutup telinganya kemudian tertawa nyaring. "Hahaha, kaga elah. Cowok yang nanti jemput gue itu sepupu gue lagi. Takut amat lo kalo gue selingkuh," ujarnya masih dengan tawanya yang cukup nyaring. "Kenapa sih lo setakut itu gue selingkuh?" tanyanya kemudian. "Gimana gak takut Dis, lo itu sahabat gue dan yang paling penting, gue gak bisa bayangin dan gue pasti gak akan tega lihat wajah datar Kak Arvin waktu nangisin lo," jeda Qila, menggelengkan kepalanya cepat begitu bayangan Arvin menangisi Gladis terputar di kepalanya. "Beuh, amit-amit, jangan sampe ya!" ujarnya histeris sendiri. "Iya Qil iya, gak akan selingkuh deh," ujar Gladis ogaj-ogahan. Lagiam, menurut Gladis, Qila itu terlalu lebay. "By the way, cepetan sono. Udah ditungguin sama Arvin. Kasihan kesayangan gue. Ntar jamuran lagi," Gladis terkikik geli setalah itu. Demi apapun, Gladis tak pernah sealay itu kepada Arvin. "Beneran nih Dis, lo gapapa emang?" tanya Qila tak yakin meninggalkan Galdis sendiri dan dia pergi bersama Arvin. "Beneran Qilaaa," ujar Gladis meyakinkan. "Udah cepet gih," Qila mengangguk kemudian menghampiri Arvin. Qila merasa canggung karena Arvin hanya diam, gadis itu menoleh melihat Gladis seolah meminta bantuan. Gladis yang mengerti pun segera menghampiri kedua remaja itu. "Jangan kaku gitu dong. Sahabat gue nih, anterin gih," ujar Gladis membuat Arvin menoleh tajam. "Anterin aja gih. Jangan protes, ntar gue chat," Arvin menghela napas pelan kemudian melirik Qila yang terdiam kaku. "Naik," singkatnya mengintrupsi Qila untuk segera naik. "Hah?! Singkat banget anjir. Tadi aja dia asik banget. Ini kenapa balik datar lagi? Jangan-jangan dia tadi kesambet kali ya? Gilaa!!" batin Qila menjerit. Setelah itu Qila segera naik keboncengan Arvin. Setelah memastikan Qila benar-benar nyaman dengan posisinya, Gladis memberikan helm untuk Qila dan gadis itu segera memasangnya. "Duluan ya Dis," pamit Qila. Gladis hanya menjawabnya dengan senyuman kecil. Kemudian gadis itu mengangguk. Setelah dirasa Qila sudah siap, Arvin kemudian melajukan motornya menuju kediaman Qila yang sudah dia ketahui. Tentu saja, itu karena dia pernah mengantarkan Gladis ke kediaman Qila. Gladis menatap punggung kedua remaja yang sangat dia sayangi itu dengan senyuman tulus. Arvin dan Qila. "Gue yakin, kalian berdua itu orang yang tulus dan gak akan pernah mengkhianati," batin Gladis. *** Qila turun dari motor Arvin kemudian menyerahkan helm yang dia pakai kepada cowok itu. "Makasih kak udah nganterin," ujar Qila dan dibalas Arvin dengan anggukan singkat. Mereka berdua kini sedang berada di pekarangan rumah Qila. Dan tepat di sebelah motor Arvin, terdapat satu motor yang terparkir. Motor itu terlihat sangat familiar di mata Qila. Karena motor itu adalah motor milik Fikri. Sang pemilik motor keluar dari dalam rumah Qila. Sepertinya, Fikri menunggu Qila. "Qil, darimana aja? Gue telpon gak diangkat. Perasaan, pulang sekolah udah dari satu jam yang lalu," omel Fikri begitu sampai di hadapan Qila. "Lo jalan-jalan dulu ya?" tuding Fikri menuduh. "Gak gitu Fik, tadi gue nungguin angkotnya lama banget. Sampe akhirnya ada Kak Arvin yang nganterin gue pulang," jelas Qila. Fikri menoleh kepada cowok yang ada di belakang Qila. Oh tuhan, bahkan Fikri tidak menyadari keberadaan Arvin. "Eh Kak Arvin," Fikri cengengesan tak enak. "Maaf kak, gak lihat tadi," Fikri menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Dia semakin tidak enak hati. Lagi-lagi Arvin hanya membalasnya dengan anggukan. Heran, apa jangan-jangan selain robot. Arvin juga merangkap sebagai pemain hardbass? Atau mungkin jangan-jangan, Arvin adalah robot hardbass? Astaga, Arvin banyak sekali menyandang panggilan khusus dari Qila. Disaat Arvin ingin memasang helmnya kembali. Suara seorang wanita paruh baya yang keluar dari rumah Qila membuat Arvin mengurungkan niatnya. "Kok lama nak? Ada tamu?" ujar Ratna. Mama Qila. Dengan otomatis, tanpa diminta, Arvin turun dari motornya dan berjalan menghampiri wanita paruh baya yang merupakan mama dari Qila itu untuk menyaliminya. "Eh, ini tamunya Qila? Ganteng banget, namanya siapa nak?" tanya Ratna tersenyum manis kepada Arvin. "Arvin tante," balas Arvin sopan. "Wah, kayanya sekarang Fikri udah ada saingannya nih," celetuk Ratna membuat Qila tidak enak kepada Fikri dan Arvin. Sedangkan Fikri dan Arvin saat ini sedang saling melirik. Saingan? Apa-apaa?! "Ma! Kak Arvin ini senior aku, dia juga pacarnya sahabat aku," jelas Qila. "Pacarnya Gladis ma." Ratna terlihat membulatkan mulutnya. Batu tahu kalau Arvin pacar dari Gladis. "Oh, maaf ya nak. Tante gak tau," balasnya tak enak kepada Arvin. "Gak apa apa kok tante," balas Arvin asal. Sedangkan Fikri, cowok itu baru saja memiliki kesempatan untuk berbicara sekarang. "Lagian, tante apaan sih. Orang Fikri sama Qila cuma sahabatan," pernyataan Fikri membuat hati Qila mencelos. Memang benar adanya, Qila dan Fikri hanyalah sepasang sahabat bukan kekasih. Dan mungkin selamanya akan seperti itu. "Tapi nih ya Tan, kalo Qila jadian sama Kak Arvin juga Fikri setuju lahir batin," ujar Fikri mendapatkan lirikan tajam dari Qila. "Sekali lagi maaf kak," ujar Qila tak enak hati. Arvin mengangguk lagi. Apaan dah, giliran mamanya yang ngomong aja, dibalas pakai suara, sedangkan dia? Cuma dibalas sama anggukan-anggukan singkat doang. Qila jadi kesel sendiri rasanya. Jangan bilang, kalau Arvin menyukai mamanya. Amit-amit Qila punya papa muda yang seumuran dengannya. "Udah-udah, sekarang masuk dulu gih. Udah mau maghrib nih," ujar Ratna mengakhiri. "Nak Arvin, mampir dulu ya, gak baik kalo maghrib-maghrib begini naik motor. Kamu muslim kan? Nanti sholat disini aja," Qila yang tadinya ingin menyela perkataan mamanya menjadi mengurungkan niat karena mendengar pernyataan setuju dari Arvin. "Iya tante," Arvin mengangguk sopan kemudian mengikuti langkah kaki Ratna yang memasuki rumahnya. Qila terdiam cengo. Fikri yang masih berada di samping Qila segera menyadarkan gadis itu dengan menggoyangkan bahunya sedikit keras. "Qila!" tegur Fikri. Qila akhirnya kembali tersadar. Gadis itu menggelengkan kepalanya cepat. Menghalau segala kebingungan di otaknya. "Oh iya Fik, by the way lo ngapain kesini? Katanya, ada urusan keluarga," tanya Qila kemudian. "Justru karena itu," ujar Fikri membuat dahi Qila berkerut. "Gue mau cerita nih sama lo," lanjut cowok itu antusias. Qila semakin dibuat bingung ketika dia melihat Fikri seperti orang yang sangat amat bahagia. Ada apa dengan cowok ini? Qila semakin lama semakin dibuat bingung. Di sela-sela kebingungannya tentang ada apa dengan Fikri, Qila juga sedang memikirkan tentang Arvin. Gadis itu juga bingung ada apa pula dengan cowok itu. Kenapa Arvin kembali dingin dengannya? Padahal kemarin dia dengan Arvin sudah cukup akrab dan dekat. Apa karena Arvin takut menyakiti hati Gladis kalau Arvin bersamanya? Kalau memang benar seperti itu, Qila sangat menghargai tindakan dan sikap Arvin terhadapnya yang kembali dingin seperti tadi. Mau bagaimanapun juga, Qila akan ikut bahagia kalau pacar dari sahabatnya itu memiliki cinta yang begitu besar untuk sahabatnya. Qila tak akan sedih perihal gadis itu mungkin tak akan bisa lagi mengobrol santai dan akrab dengan Arvin yang menurut Qila sebenarnya cowok itu cukup asik. Qila mungkin juga tak akan sedih karena gadis itu tau alasan tentang Arvin menjauhinya itu mungkin saja karena Arvin takut membuat Gladis cemburu, sakit hati ataupun salah paham. Kenapa Qila tak sedih? Karena gadis itu sendiri juga pasti akan melakukan hal yang sama jika benar Gladis cemburu, sakit hati ataupun salah paham mengenai kedekatannya dengan Arvin. Karena Qila juga tak mau Gladis cemburu dengannya, Qila tak mau Gladis sakit hati karenanya, Qila juga tak mau Gladis salah paham dengannya. Qila menyayangi Gladis. Sangat. Sama seperti Qila menyayangi Ghea. Mereka adalah sahabat yang sudah pasti sangat Qila sayangi. Jadi, tak mungkin Qila tega membuat sahabat yang sangat dia sayangi merasa sedih karenanya. Bahkan Qila rela mengorbankan senyumnya kalau itu bisa membuat dua sahabatnya itu tersenyum. Qila juga rela mengorbankan hati dan perasaannya jika dengan itu bisa membuat mereka bahagia. Sesayang itu Qila dengan mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD