CHAPTER 5

1345 Words
"Jadi..., apa yang mau lo ceritain Fik?" tanya Qila. Saat ini, Qila dan Fikri tengah berada di teras rumah Qila masih di malam yang sama. Soal Arvin, cowok itu sudah pulang beberapa menit yang lalu setelah selesai sholat dan juga makan bersama di rumah Qila. "Mmm, gue mau cerita nih Qil. Jadi, gue tadi tuh sebenernya di jodohin sama Mama gue," jelas Fikri langsung. Raut wajah cowok itu nampak sangat sulit di tebak antara antusias karena senang atau nampak ragu, khawatir dan bingung. Qila terkejut mendengar apa yang dikatakan Fikri. Pasalnya, ini terlalu mendadak. Qila yang memang menyukai Fikri tentu saja merasa sedih mendengar itu. Namun, Qila tak ambil pusing. Semakin kesini, Qila semakin pasrah tentang perasaannya kepada Fikri yang mungkin memang tak akan pernah bisa tersampaikan dan terbalaskan. "Serius lo?! Demi apa Fik?!" tanya Qila terkejut. Bahkan saking terkejutnya, bola mata gadis itu tampak sangat terbelalak seperti ingin keluar dari tempatnya. "Bacot lo kecilin Qil!" kesal Fikri karena Qila berbicara terlalu keras sampai rasanya suara Qila akan memecahkan gendang telinga Fikri. "Yaelah Fik, gue kan kaget. Lagian, mendadak banget," ujar Qila disertai cengengesannya yang tak jelas. "Jadi gimana? Itu beneran lo di jodohin? Wah mana mungkin. Lo pasti bohong kan Fik? Ayo ngaku!" paksa Qila kemudian. Gadis itu benar-benar seperi tak terima dengan kenyataan. "Gue serius anjir. Ini tadi gue gak masuk sekolah karena Mama ngajak gue ketemu sama keluarga calon gue," jelas Fikri kemudian. "Wah Qil, kata Mama gue, calon gue itu cantik banget, mukanya bule-bule gitu," lanjut Fikri mendadak antusias. "Terus nih ya, kata Mama gue, calon gue itu tipe gue banget deh. Jadi, Mama gue nyuruh gue buat gak khawatir," lanjutnya lagi. "Lah, gue mah kalo udah denger jodoh gue sesuai tipe ya ayo aja lah pasti. Gas aja lah ya," akhirnya diakhiri kekehan singkat. "Lo udah pernah lihat fotonya belum Fik?" tanya Qila mengabaikan apa yang di katakan Fikri sebelumnya. "Belum pernah. Mama gue bilang, katanya rahasia. Biar surprise," ujar Fikri menjawab pertanyaan Qila. "Udah, gue mah percaya Mama gue gak mungkin salah pilih. Mama gue tahu banget tipe gue kaya gimana, pasti Mama gue udah pilihan yang terbaik deh itu," lanjut Fikri percaya diri. Qila nampak menghembuskan napasnya pelan. "Iya deh iya serah lo," pasrah Qila. "Gue sebagai temen mah ngedukung lo aja. Semoga gak salah pilih." "Udah pasti enggak Qil!" yakin Fikri. "Ini Mama gue langsung yang turun tangan soalnya. Lo tahu sendiri kan Mama gue standar nya kaya gimana. Tingginya minta ampun." Memang. Mama Fikri memang memiliki standar yang sangat tinggi. Sampai-sampai apapun yang menyangkut soal Fikri harus diperhatikan oleh Mamanya dengan baik. Contohnya seperti siapa-siapa saja yang bisa dan boleh berteman dengan Fikri. Mungkin itulah sebabnya kenapa hanya Qila yang berhasil menjadi teman tetap satu-satunya Fikri. Karena, Mama cowok itu terlalu banyak menilai. Dulu, sewaktu pertama kali Qila berkunjung dan bertemu langsung dengan Mama Fikri pun Qila merasa seperti sedang diintimidasi karena tatapan Mama Fikri tak beralih sedetikpun darinya. Mama Fikri seperti menilai penampilan Qila. Dan untungnya, Qila lulus dari standar tes teman yang bisa dan cocok berteman dengan Fikri. Di pertemuan pertama Qila dengan Mama Fikri pun, Mama Fikri sudah banyak memuji fisik Qila. Katanya, Qila adalah gadis yang sangat cantik dengan penampilan menarik. Style nya minimalis, namun elegan. Mama Fikri suka dengan itu. Ah, syukurlah. "Iya deh, kalo udah Mama lo yang turun tangan, wah udah deh. Gak kebayang gue se perfect apa calon lo," ujar Qila mengakui. Memang seperti itulah Mama Fikri. Namun, yang dimaksud perfect disini hanya soal penampilan fisik luar. Bukan dalam. Karena Mama Fikri, memang ahli dalam menilai fisik luar seseorang. Namun tidak untuk dalam. "By the way, gue mau tanya nih," ujar Fikri mendadak serius. "Kok lo bisa pulang bareng sama Kak Arvin sih? Setahu gue, dia gak pernah tuh sudi boncengin cewek lain di motornya kecuali si Gladis," tanya Fikri dengan wajah yang tampak sangat penasaran. Qila mendadak diam mendengar pertanyaan yang dilontarkan Fikri. Entah kenapa, pikiran Qila mendadak berputar kembali saat dia dan Fikri masih di dalam perjalanan pulang. Beberapa saat menunggu namun tak kunjung mendapat balasan dari Qila, Fikri akhirnya kembali membuka suara. "Woi Qil!" panggil Fikri seraya menggoyangkan lengan Qila. Dan berhasil, Qila tersadar dan kembali ke dunia nyata. "Ha? Iya? Apa?" tanya Qila latah karena terlalu terkejut. "Lo kenapa sih Qil? Gue cuma tanya gitu doang sampe segitunya," mata Fikri memicing menatap Qila curiga. Qila nampak gugup ditatap Fikri seperti itu. Qila merasa terintimidasi. "A-apaan sih lo Fik! Mata lo biasa aja dong natapnya. Kenapa kaya gitu? Minta di colok mata lo?" tanya Qila dengan nada menantang marah. "Halah, udah deh Qil lo ngaku aja. Jangan alihin pembicaraan," ujar Fikri kekeuh. "Ih, lo apaan sih? Alihin pembicaraan apa?" tanya Qila dengan raut wajah sok polosnya. "Wajah lo minta di slepet kayanya Qil. Sok-sok an polos lagi," ujar Fikri geram dengan tingkah Qila. "Udahlah ngaku aja Qil. Lo ada main kan sama Kak Arvin? Lo pasti ada apa-apa kan sama dia?" tuduh Fikri bertubi-tubi. Entah kenapa, keringat deras mulai membanjiri dahi Qila. Qila seperti maling yang tertangkap basah. Qila sekarang sudah seperti pelaku yang melakukan kesalahan padahal Qila tak melakukan apa-apa. "Noh lihat lo keringetan. Pasti lo gugup kan karena ketahuan? Hayolo Qila," Fikri terus mendesak Qila agar berbicara. Sedangkan Qila sendiri seperti tak bisa membuka mulutnya. "Ngomong Qil!" Fikri terus mendesak. Setelah sekian lama terdiam, Qila mulai menenangkan dirinya. Dan berhasil, Qila sudah mulai rileks. "Lo bisa diem gak Fik?!" ujar Qila dengan raut wajah kesalnya. "Gue gak ada apa-apa sama Kak Arvin, waktu itu cuma murni Kak Arvin nganterin gue pulang karena gue gak ada yang jemput. Lagipula, Galdis sendiri kok yang nyuruh Kak Arvin buat anterin gue pulang," jelas Qila pada akhirnya. Fikri terlihat menyimak dengan seksama penjelasan Qila. Masuk akal dan langsung masuk di otak Fikri. "Ooh gituu," ujar Fikri ber-oh ria. "Kan gue kirain lo ada apa-apa sama Kak Arvin. Abisan, lo berdua kemarin gue lihat-lihat cocok banget. Udah kaya orang pacaran aja. Beneran deh!" Fikri mengangkat tangannya dan membuat jarinya membentuk simbol peace. "Gak ada kaya gitu Fik. Beneran deh," ujar Qila jujur. "Iya-iya tahu. Lo kan udah jelasin ke gue tadi." "Lain kalo gak usah nuduh gitu kali Fik. Gue sampe bingung harus ngomong apa tadi," Qila mengusap dadanya pelan. "Ha ha ha," Fikri tertawa. "Tapi beneran juga nih. Komuk lo tadi kocak parah sih. Gue gak paham lagi," ujarnya masih disertai tawa-tawa tipis. "Emang temen gak ada akhlak lo! Biadab!" Qila semakin kesal dibuat Fikri. "Ha ha ha," Fikri tertawa semakin nyaring. Beberapa menit berlalu, Fikri sudah mulai berhenti tertawa, melihat itu Qila mulai kembali membuka suara. "Udah puas ketawanya?" tanya Qila sabar. Fikri hanya menjawabnya dengan cengengesan tak jelas dan juga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Udah gih sono lo pulang. Udah malem banget ini, meskipun di teras tetep gak enak kalo dilihat tetangga. Masa ada cowok malem-malem bertamu di rumah cewek," ujar Qila kemudian. "Wah, lo ternyata masih cewek ya Qil? Gue kirain udah ganti ke cowok," canda Fikri disertai tawa di akhir. "Bacot lo lemes amat Fik," umpat Qila. "Udah deh lo sana pergi. Gedeg juga gue kalo lo lama-lama disini," lanjutnya seraya berdiri dan menarik paksa tangan Fikri untuk berdiri. Fikri yang ditarik paksa oleh Qila itu hanya mampu menurut saja. Qila kemudian mendorong punggung Fikri menuju motor cowok itu. "Udah sana pulang," ujar Qila seraya menjauhkan tubuhnya dari Fikri. Fikri pun mulai menaiki motornya sendiri. "Gue bilangin Mama lo nanti. Qila gak sopan, ngusir tamunya pulang," ancam Fikri bercanda. "Ceilahhh cepu amat lo," cibir Qila. "Biarin wleee," ejek Fikri seraya menjulurkan lidahnya kearah Qila. Melihat itu, Qila rasanya ingin mengamuk detik itu juga. Namun, sebelum mendapatkan amukan dari Qila, Fikri dengan cepat meloloskan diri dengan cara menancapkan gas motornya untuk meninggalkan pekarangan rumah Qila. "Babay Qila jelekkkk," ejek Fikri berteriak seraya menjauh dengan menaiki motornya. "Fikri setan gak ada adab!!!" teriak Qila marah. Qila mencoba mengatur napasnya setelah berteriak keras seperti tadi. Setelah dirasa mulai tenang, Qila kemudian segera memasuki rumahnya dan kemudian menguncinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD