Qila terdiam merenung memikirkan perkataan Fikri beberapa menit yang lalu. Meskipun Qila sudah mulai pasrah tentang perasaannya kepada Fikri, namun tak dapat dipungkiri hati Qila masih sedikit merasakan sakit. Rasanya, dia masih sedikit tak rela.
Qila sekarang mulai berpikir kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi apabila Fikri benar-benar akan bertunangan dengan gadis berwajah 'bule' itu. Bukannya apa-apa, Qila hanya takut Fikri tak ada waktu lagi untuk bertemu dengannya. Qila takut Fikri berubah.
Namun, ketakutan Qila itu tak berlangsung lama karena Qila berhasil meyakinkan dirinya bahwa Fikri tak akan berubah. Terbukti dari sikap cowok itu yang masih tetap sama meskipun mereka sudah menginjak bangku SMA. Fikri masih terus menemani Qila sampai saat ini. Fikri bahkan juga selalu meluangkan waktunya untuk menjemput, menemani atau mengantar Qila kemanapun Qila mau.
Fikri selalu ada disaat Qila membutuhkan bantuan. Qila rasa, dengan itu sudah cukup membuktikan bahwa Fikri memang akan terus seperti itu. Fikri tak akan berubah.
Ya, Qila yakin dengan itu.
Tak mau terlalu larut dalam pikirannya, Qila yang tadinya sedang bersandar di sandaran kasurnya pun mulai merubah posisinya menjadi berbaring.
"Ya, bener! Gue gak boleh negative thinking sama Fikri. Dia pasti gak akan berubah. Fikri pasti akan terus seperti itu," ujar Qila berusaha meyakinkan dirinya. "Iya! Itu pasti," lanjutnya kemudian.
Qila perlahan menutup matanya dan mulai memasuki alam bawah sadarnya. Qila tertidur.
***
Semalam berlalu dengan semestinya. Meskipun pagi ini ada sedikit yang berbeda untuk Qila. Mmm, tepatnya untuk hati Qila. Dulu, hati Qila yang awalnya Qila biarkan terus mencintai Fikri meskipun tak terbalaskan, kini mulai Qila rubah.
Qila mulai merubah hatinya untuk tak terus mencintai Fikri. Qila mulai membuat hatinya untuk melepaskan Fikri. Qila tahu, mau sekuat apapun cinta Qila untuk Fikri, kalau Fikri benar-benar memang sudah menempatkan nama Qila di daftar teman, pasti semuanya akan sia-sia.
Karena biasanya, ketika hati sudah melabeli seseorang dengan suatu status, maka semuanya akan sulit untuk dirubah. Atau bahkan, tidak mungkin bisa untuk dirubah.
Masih seperti pagi biasanya, hari ini Qila kembali dijemput oleh sahabatnya, Fikri. Cowok itu sudah duduk manis di kursi teras rumah Qila sembari memainkan ponselnya.
"Selamat pagi calon jodoh orang," sapa Qila mengagetkan Fikri yang terlihat benar-benar fokus dalam memainkan ponselnya.
"Anjir!" latah Fikri terkejut. Cowok itu lalu menoleh kearah Qila dengan tatapan kesal miliknya. "Sialan lo Qil! Kaget gue woi! Bisa gak kalo nyapa orang itu yang santai aja? Anggun gitu, biar manis dilihat," omel Fikri panjang lebar kemudian.
Qila malah cengengesan dibuatnya. "He he he. Yaelah Fik, ketimbang gitu doang lo ngomelnya banyak bener, lama lagi," cibir Qila kemudian. "Santai ngapa Fik," lanjutnya.
"Santai-santai pala lu. Untung aja gue kaga ada riwayat sakit jantung Qil. Coba kalo ada, udah meninggal gue pasti sekarang," ujar Fikri.
"Ceilah meninggal," Qila berujar santai. "Lebay amat lo Fik. Udahlah."
Fikri memutar bola matanya malas mendengar perkataan Qila. "Iya deh Qil. Suka-suka lo aja. Gue ngikut," pasrahnya.
Qila tersenyum puas mendengar jawaban Fikri yang terdengar sangat pasrah itu. Qila sudah tahu, dia yang pasti akan memenangkan debat ini.
"Udah ayo Fik berangkat. Ntar telat lagi," ajak Qila mendahului Fikri untuk berjalan menuju motor cowok itu dan segera mengambil helm yang ada di atas jok motor kemudian memakainya.
Fikri yang melihat kelakuan semena-mena Qila hanya menggelengkan kepalanya pasrah. Sudah biasa melihat kelakuan Qila seperti itu. Jadi ya, Fikri sudah maklum saja. Dia sudah tidak terkejut sama sekali melihat itu.
"Bentar dulu Qil, gue belum pamitan sama Mama lo," ujar Fikri karena biasanya cowok itu memang selalu berpamitan dengan Mama Qila sebelum berangkat ke sekolah.
"Mama gak ada di rumah, dia lagi di pasar Fik," jawab Qila memberitahu. "Udah ayo, kita berangkat sekarang aja," ajak Qila lagi.
Beberapa detik Fikri masih terdiam duduk di kursinya tak beranjak sama sekali. Qila yang melihat itupun dibuat geram.
"Ayo Fik! Cepetan! Lama lo!" kesal Qila yang sudah duduk di jok motor Fikri padahal motor tersebut masih di standart. Memang ya, anak ini ada saja ulahnya.
"Iye-iye, sabar napa lo," balas Fikri seraya bangkit dari duduknya. Fikri memasukkan ponselnya di saku celana seragam miliknya sembari berjalan menghampiri Qila yang sudah duduk manis di atas jok motor menunggu Fikri.
Fikri lalu mengambil helm dan memasangkannya di kepalanya. Setelah itu, cowok itu segera naik di ruang kosong jok motor yang ada di hadapan Qila.
Fikri mulai men-starter motornya kemudian menancapkan gas membawa motornya meninggalkan pekarangan rumah Qila menuju sekolahnya.
Diperjalanan menuju sekolah, Qila dan Fikri diselimuti rasa hening. Hanya suara riuh ramai jalan raya saja yang terdengar. Situasi seperti ini sedikit berbeda dari biasanya. Karena biasanya, diantara mereka selalu saja ramai. Tak pernah sehening ini.
Biasanya, selalu ada saja yang Qila bahas dengan Fikri. Qila selalu pandai mencari topik obrolan yang seru. Meskipun random dan tak bermanfaat, namun setidaknya itu bisa membuat suasana diantara mereka sedikit lebih hangat.
Namun hari ini, Qila rasanya seperti tak memiliki topik obrolan sama sekali kepada Fikri. Entahlah, hanya dengan mengingat bahwa Fikri akan segera bertunangan membuat Qila sedikit canggung berada di dekat Fikri. Padahal, Fikrinya saja biasa saja. Cowok itu terlihat tak ada masalah sama sekali.
Fikri yang ternyata merasakan keanehan karena keheningan diantara dia dan Qila pun mulai membuka suara.
"Qil," panggil Fikri sedikit berteriak agar Qila bisa mendengarnya karena suara sekitar sangat berisik.
"Iya? Kenapa?" tanya Qila begitu mendengar suara Fikri yang memanggilnya. Tubuh kQila yang tadinya berada di sisi pojok jok perlahan mulai maju. Qila mendekatkan telinganya kearah Fikri agar bisa mendengar suara Fikri dengan jelas.
"Lo kenapa diem aja Qil? Gak biasanya lo gini?" tanya Fikri to the point. Fikri memang tipe cowok yang tak suka basa-basi, jadi dia langsung mengatakan apa yang memang ingin dia tanyakan. "Gue ada salah ya sana lo?" tanyanya kemudian.
Qila yang mendengar itu mendadak dibuat kelabakan dalam menjawabnya. "Ha? Enggak gitu kok," jawab Qila cepat namun sedikit panik. "Iya enggak. Kenapa lo mikir gitu sih Fik?" Qila balik bertanya.
"Lo gak lagi bohong kan?" tuding Fikri masih kurang percaya dengan apa yang dikatakan Qila. Fikri masih menaruh curiga pada gadis itu. "Abisnya lo diem doang dari tadi. Padahal biasanya lo yang paling semangat ngoceh. Kenapa lo?" lanjut Fikri membuat Qila terdiam bingung harus menjawab apa.
"Ah, gapapa kok gue," elak Qila menutupi. "Lo salah kira kali. Gue gak ngerasa gimana-gimana tuh. Gue kaya biasanya kok," lanjutnya.
"Kaga. Lo beneran beda banget dari biasanya Qil," ujar Fikri ngotot tak mau kalah.
"Ah lo suka ngada-ngada Fik," ujar Qila. "Udah deh, gak usah dibahas," putus Qila.
Fikri hendak menyela tak terima dengan apa yang dikatakan Qila, namun apa yang dikatakan Qila selanjutnya membuat Fikri terdiam karena ada benarnya juga apa yang dikatakan gadis itu.
"Ini bisa gak selesai acaranya kalo lo masih mau lanjutin debat gak guna itu," ujar Qila membuat Fikri bungkam. "Udah diem, baik-baik nyetirnya, yang fokus. Biar cepet sampe sekolah dengan selamat," tutup Qila.
Setelah apa yang dikatakan Qila itu, diantara Fikri dan Qila kembali hening.