"Seperti biasa, thanks ya Fik," ujar Qila seraya turun dari jok motor Fikri. Gadis itu lalu berdiri di sebelah kiri Fikri dengan tangan yang sibuk melepaskan helmnya. Setelah helmnya benar-benar lepas, Qila langsung menyerahkannya kepada Fikri dan di terima dengan baik oleh cowok itu.
"Yoii Qil. Santai," balas Fikri dengan tersenyum kecil kearah Qila dan dibalas pula dengan senyuman manis dari gadis itu.
"Kalo gitu gue ke kelas duluan deh ya Fik," pamit Qila kemudian yang dibalas dengan anggukan dari Fikri.
"Iya, ati-ati kalo jalan, jangan meleng, ntar nabrak Kak Arvin lagi," ingat Fikri yang dibalas Qila dengan cengengesan tak jelas seraya tangan gadis itu menggaruk belakang kepalanya yang Fikri yakini itu tidak gatal sama sekali.
"Iya-iya Fik," balasnya.
"Ntar pulang sekolah jangan lupa lo bareng gue lagi. Gue tunggu di motor seperti biasa," ujar Fikri lagi, mengingatkan.
"Iya Fikri iyaaa," balas Qila mulai geram. "Udah ah, gue cabut duluan. Lama kalo ngeladeni lo dulu mah. Bye," lanjutnya lalu gadis itu benar-benar berlalu pergi dari hadapan Fikri.
Fikri yang melihat tingkah Qila itu hanya terkekeh geli. Lucu rasanya melihat Qila geram seperti itu.
***
Disisi lain, di depam kelas Qila. Gladis saat ini terlihat sedang duduk bersama dengan Ghea. Kedua sepasang sahabat itu sedang menunggu sahabatnya yang lain. Tentu saja yang dimaksud itu adalah Qila.
"Qila mana sih, kebiasaan banget, lama," ujar Ghea mulai lelah menunggu gadis bernama lengkap Aqilla Queensa itu.
"Sabar Ghe. Kaya gak tau tabiat Qila aja lo," balas Gladis santai. Gadis itu berucap sembari memainkan ponselnya.
Ghea tak lagi menjawab perkataan Gladis. Gadis itu memilih diam.
"By the way, kenapa sih lo kekeuh banget mau nungguin Qila? Biasanya juga kaga pernah kaya gini," ujar Gladis lagi pada akhirnya. Gadis itu sebenarnya sedari tadi sangat heran dengan sikap Ghea saat ini yang terkesan seperti tiba-tiba. Bagaimana tidak, sedari pagi tadi, Ghea tiba-tiba datang di kelas Gladis dan langsung menanyakan dimana keberadaan Qila, apakah gadis itu sudah datang?
Biasanya, kalau Ghea main ke kelas Gladis dan Qila, gadis itu pasti hanya ingin mengajak menggosip atau ke kantin. Tapi kali ini tidak karena sedari tadi Gladis dan Ghea berada di depan kelas, mereka hanya diam-diam saja. Ghea tak kunjung membuka suara, wajah gadis itu bahkan terlihat sangat serius di mata Gladis.
"Bentar lagi lo tau Dis. Tungguin Qila dulu, gue gak mau ulang cerita dua kali," balas Ghea dengan wajah seriusnya. Gladis yang sebenarnya sudah sangat penasaran ingin sekali memaksa Ghea untuk bercerita. Namun seperti, untuk kali ini Gladis tidak bisa melakukannya. Gladis cukup tahu arti dari raut wajah serius Ghea. Pasti ada sesuatu serius yang terjadi.
"Oh, oke," pasrah Gladis.
Hening kembali menyelimuti mereka. Beberapa menit berlalu, Gladis sudah memasukkan ponselnya di saku rok seragam miliknya. Ghea pun masih tak berhenti menengok ke kanan dan ke kiri menanti kehadiran Qila.
Sampai saat itu tiba, saat dimana Qila sudah terlihat di pandangan Ghea. Ghea yang melihat keberadaan Qila pun dengan cepat bangkit dari duduknya dan mendekati Qila.
Gladis yang melihat pergerakan Ghea pun secara refleks langsung mengikutinya.
"Qila!" panggil Ghea. Kali ini, Gladis dapat melihat senyum kecil di wajah sahabatnya yang sedari tadi terus memasang raut wajah serius itu. Namun, Gladis juga dapat menangkap pancaran tatapan khawatir di bola mata Ghea ketika Ghea menatap Qila.
"Ada apa sebenarnya?" batin Gladis bingung.
Qila menatap Ghea dengan pandangan bingungnya. "Ha? Kenapa?" tanya Qila cengo.
"Mmm, duduk dulu deh Qil, duduk dulu," ajak Ghea sembari membawa Qila untuk duduk di tempat Ghea dan Gladis duduk tadi. Di depan kelas.
Setelah Qila mendudukkan tubuhnya diikuti dengan Ghea dan Gladis, Ghea terlihat mulai membuka mulutnya lagi.
"Mmm Qila," panggil Ghea pelan.
"Ya?" jawab Qila sembari menatap Ghea aneh. Sedangkan Gladis, gadis itu saat ini juga ikut kebingungan sendiri di tempatnya.
"Gue ada kabar nih buat lo," ujar Ghea lagi, sepotong. "Tentang Fikri," lanjutnya.
Qila terdiam sejenak tak merespon.
"Terus?" tanya Qila pada akhirnya.
"Tapi, ini bukan kabar yang baik buat lo Qil," tambah Ghea lagi, masih sepotong. "Ini kabar buruk yang mungkin bisa ngebuat lo sakit hati," lanjutnya lagi.
Qila kembali terdiam sejenak. Kali ini untuk mencerna apa yang dikatakan Ghea. Perlahan, Qila mulai paham arah pembicaraan Ghea.
Baru saja Qila ingin membuka suara, terdengar suara Gladis yang menyela.
"Ghe, kalo lo mau ngomong jangan sepotong-sepotong dong. Lo kira kue ulang tahun," sela Ghea sebelum Qila membuka suara. Gadis itu terlampau kesal dengan Ghea. Ghea tidak tahu apa kalau ucapan sepotongnya itu memancing emosi seseorang yang mendengar ceritanya.
"Gue tungguin dari tadi tapi ngomong cuma sepotong-sepotong doang," cibir Gladis. "Lo mau gue mati penasaran gara-gara lo ngomong sepotong-sepotong?" kesalnya lagi.
Ghea yang mendengar protesan Gladis sebenarnya ingin marah, namun dia tau situasi saat ini tidak memungkinkan. Ada yang lebih penting dari itu yang tidak bisa Gladis abaikan.
"Qila," ujar Ghea kembali memanggil Qila. Gadis itu sama sekali tak menghiraukan ucapan-ucapan Gladis.
Qila menengok menatap Ghea tepat di manik mata gadis itu. "Ghe," ujarnya. "Gue udah tau kok apa yang mau lo omongin," lanjut Qila kemudian.
Ghea terdiam terkejut. Qila dengan jelas dapat melihat keterkejutan itu di raut wajah Ghea.
"Lo...?" ujar Ghea menggantung.
"Iya, gue udah tau kok kalo Fikri mau dijodohin," potong Qila tak hanya membuat Ghea terkejut, namun juga Gladis. Bahkan gadis itu yang paling terkejut. Tentu saja itu karena Gladis tak tahu sama sekali mengenai berita itu.
Gladis jadi tahu alasan kenapa Ghea sedari tadi sangat serius. Dia juga jadi tahu alasan kenapa Ghea menatap Qila dengan tatapan penuh kekhawatiran. Ternyata itu semua karena berita ini.
Andai saja Gladis juga tahu berita itu, pasti dia juga akan melakukan hal yang sama seperti apa yang Ghea lakukan tadi.
Sekarang, Gladis jadi ikut khawatir dengan Qila, sama seperti Ghea.
"Qil...," Gladis hendak berbicara, namun terhenti ketika Qila kembali memotong.
Qila tersenyum kecil menatap Gladis dan Ghea bergantian. "Kalian gak perlu khawatir sama gue. Gue gak apa-apa kok," potong Qila sebelum Gladis menyelesaikan perkataannya. "Gue udah tau kalo Fikri mau dijodohin, bahkan gue tahu langsung dari Fikrinya," lanjut Qila membuat Ghea dan Gladis kembali terkejut.
Ghea dan Gladis tak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi Qila ketika seseorang yang disukai, ternyata di jodohkan dengan orang lain. Bahkan, Qila mengetahui itu langsung dari mulut yang bersangkutan. Pasti itu sangat menyakitkan.
"Fikri kemarin dateng ke rumah gue, dia cerita tentang perjodohan yang akan dia lakuin sama cewek yang katanya Fikri punya muka ke bule-bulean," tambah Qila lagi. "Kata Fikri, cewek itu tipenya dia banget, dia juga percaya sama selera Mamanya yang gak main-main, jadi Fikri terima perjodohannya meskipun Fikri sendiri belum tahu gimana orangnya," jelas Qila mulai bercerita.
"Fikri kemarin juga bilang, katanya beberapa bulan lagi mereka akan langsung mengadakan tunangan, dan dia bilang dia bahagia dengan itu," Qila semakin melebarkan senyumnya menatap kearah Ghea dan Gladis yang menatap Qila khawatir. "Ghe, Dis. Dengan ngelihat Fikri bahagia sama pilihannya, itu udah cukup ngebuat gue ikut bahagia kok. Jadi, jangan khawatir kalo gue bakalan sedih, sakit hati, atau apalah itu. Karena gue enggak akan kaya gitu. Jauh sebelum ini kejadian, gue emang udah memprediksi kalo semuanya akan berakhir sia-sia ketika gue terus mencintai Fikri."
Qila menghela napas pelan sebelum melanjutkan perkataannya. "Maka dari itu, jauh sebelum ini juga, gue udah mulai belajar untuk berhenti mencintai Fikri. Dan yaa, itu berbuah manis sekarang. Bersyukurnya, gue gak terlalu merasakan sakit ketika denger kabar Fikri mau di jodohin," lanjut Qila lagi. "Mmm sakit pasti ada Ghe, Dis. Gue gak mau munafik. Tapi sakitnya dikit banget kok, suer," tambah Qila seraya mengangkat jarinya membentuk peace disertai dengan cengirannya.
Ghea dan Gladis yang sedari tadi menyimak dengan baik kata perkata yang dikatakan Qila hanya mampu terkekeh kecil mendengar apa yang dikatakan Qila di akhir.
Ghea dan Gladis tahu kalau Qila saat ini sedang menutupi kekhawatirannya sendiri. Ghea dan Gladis tahu kalau Qila tak mau membuat orang-orang di sekitarnya khawatir dengan keadaan gadis itu.
"Qil, kalo ada sesuatu lo bisa cerita ke kita," ujar Ghea seraya memegang bahu sebelah kiri Qila.
Qila menoleh menatap Ghea dengan senyum kecilnya.