CHAPTER 24

1204 Words
Pagi harinya, sekitar pukul 05.15 WIB. Qila nampak terbangun dari tidurnya. Gadis itu mengucek matanya sejenak sebelum pada akhirnya dia memutuskan untuk duduk. Sembari meregangkan badannya, Qila melihat sekeliling kamar yang saat ini dia tempati. Qila baru ingat bahwa dia kemarin menginap di rumah Arvin dan Gladis. Tidurnya kemarin cukup nyenyak padahal biasanya Qila selalu sulit ketika harus tidur di lingkungan baru. Namun sepertinya, hari kemarin cukup menyenangkan untuk Qila. Pergi ke pasar malam hingga larut baru pertama kali gadis itu lakukan. Biasanya, setidaknya sekitar jam 9 malam pasti gadis itu sudah berada di rumah. Dulu, itu yang Qila lakukan bersama dengan sahabatnya. Ya, Fikri. Dulu Qila dan Fikri sangat sering pergi ke pasar malam bersama. Namun pulangnya tak sampai selarut Qila bersama Arvin kemarin. Biasanya, Fikri selalu mengantarkan Qila pulang ke rumah tak sampai pukul 9 malam. Kemarin, bagi Qila adalah pengalaman ke pasar malam paling berkesan di hidup Qila. Rasanya sangat lepas, dia bisa menghabiskan waktu dengan sangat bahagia bersama Arvin yang senantiasa menemani gadis itu. Tak peduli waktu sudah selarut apa, Qila kemarin benar-benar memuaskan dirinya sendiri. Mengingat kemarin, Qil menjadi senyum-senyum sendiri. Ah, itu sangat indah. Qila rasanya tak bisa untuk tak tersenyum saat mengingat kenangan kemarin itu. Tak mau terlalu larut dalam bayangannya, Qila akhirnya beranjak berdiri dan memasuki kamar mandi yang memang ada di dalam kamar tamu yang dia tempati ini. Hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh lima menit, Qila sudah menyelesaikan ritual mandinya. Namun, gadis itu saat ini keluar tidak menggunakan seragam melainkan masih menggunakan baju yang semalam dia kenakan itu. Qila lupa, dia tak membawa seragam ke rumah Gladis. Jadi, daripada bingung harus berbuat apa, Qila akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar Gladis. Bertanya kepada gadis itu mengenai nasibnya. Saat Qila sudah sampai di depan pintu kamar Gladis yang letaknya tepat di depan kamar Arvin, Qila segera mengetuk pintu kamar sahabatnya itu. Tok tok tok. "Gladis..," panggil Qila dengan suara yang tak terlalu keras namun juga tak terlalu pelan. Ya, standar lah. Sejenak Qila terdiam mendengarkan apakah sudah ada sahutan atau belum. Karena beberapa saat menunggu namun tak kunjung mendapatkan sahutan apa-apa dari Gladis, akhirnya Qila kembali mengetuk pintu kamar sahabatnya itu. Tok tok tok "Gladisya Aurora," panggil Qila sekali lagi. Namun nihil, pintu di depannya itu tak kunjung juga terbuka. Tapi itu tak berselang lama karena beberapa saat setelah itu, Qila mendengar suara pintu terbuka. Ceklek. Qila yang tadinya menunduk bingung harus berbuat apa mendadak mendongak melihat pintu kamar Gladis setelah mendengar suara yang terdengar seperti pintu terbuka. Namun anehnya, pintu kamar Gladis itu sama sekali tak terbuka. Masih diam dan tertutup. Lalu suara pintu itu...? "Kenapa di depan kamar Gladis Qila? Lagi apa?" suara Arvin itu membuat Qila tersentak kaget. Gadis itu bahkan mundur selangkah sembari tangannya memegangi dadanya. " "Hufh," Qila menghabiskan napas lega begitu melihat Arvin yang ternyata menjadi pelaku itu. "Kak Arvin, ngagetin banget," ujar Qila lalu berbalik menghadap Arvin. Arvin menatap Qila bingung, kenapa gadis itu nampak sangat terkejut karena kehadirannya? Dan soal tadi, pertanyaannya belum juga dijawab. "Kenapa Qil? Pertanyaan gue belum lo jawab loh," ujar Arvin mengulang pertanyaannya tadi. "Ini juga, lo kenapa masih pake baju biasa? Kenapa belum pake seragam?" tanya Arvin lagi begitu cowok itu sadar dengan pakaian yang Qila kenakan masih merupakan baju kemarin malam. "Lo udah mandi kan Qil?" tambahnya lagi-lagi bertanya membuat Qila melotot kecil ketika mendengar pertanyaan terakhir yang terlontar dari bibir Arvin. "Heh Kak! Sembarang kali ngomong," ujar Qila protes pada Arvin dengan mata yang melotot kecil. Enak saja tanya seperti itu pada Qila yang sudah jelas-jelas sangat wangi ini. "Gue udah mandi ya Kak. Jangan ngadi-ngadi pertanyaannya," tambahnya lagi. Arvin yang mendengar protesan Qila dan melihat pelototan kecil di mata gadis itu mendadak terkekeh kecil. Namun itu tak berlangsung lama karena setelahnya Arvin kembali bersuara. "Pertanyaan pertamaku belum dijawab loh Qil. Masa harus di ulang-ulang terus sih," ujarnya lagi, kembali menagih jawaban. Qila terkekeh kecil. "He he. Iya Kak iya. Kelupaan," ujar Qila sembari menyengir. "Itu, gue kan lupa gak bawa seragam Kak. Jadi niatnya mau tanya ke Gladis, siapa tahu dia punya baku cadangan. Gue mau pinjem dulu," ujarnya lagi, kali ini menjawab pertanyaan pertama Arvin. Dia menyampaikan maksudnya kenapa dia bisa berdiri di depan kamar Gladis. Arvin nampak manggut-manggut paham mendengar jawaban dari Qila. Iya juga ya, Qila kan menginap di rumahnya secara dadakan. Jadi, dia tak memiliki persiapan apa-apa. Termasuk seragam. "Gladis gimana sih. Temennya nginep gak ada di siapin baju," gumam Arvin tak habis pikir dengan kelakuan adiknya itu. Pasti adiknya itu kelupaan. Memang kebiasaan Gladis. "Ya udah lo minggir dulu. Biar gue aja yang ketuk. Kalo cara ngetuk lo kaya guti Gladis gak akan denger. Dia budeg soalnya," lanjut Arvin asal. Qila hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Arvin yang asal ceplos ini. Qila baru tahu, cowok yang dia kira sangat kaku dan irit ngomong ternyata asal ceplos juga ya di rumah. Dia juga akhir-akhir ini baru tahu kalau Arvin ternyata sangat asik anaknya. Namun heran saja, ketika di sekolah Qila hampir tak pernah melihat Arvin bersama dengan temannya. Gadis itu hampir selalu melihat Arvin sendirian. Ah, mungkin memang Arvin orangnya introvert banget kali ya. Dia memang sangat tertutup. Qila tahu itu. Tok tok tok Lamunan Qila tentang Arvin tiba-tiba menggedor pintu kamar Gladis dengan keras. "Keluar Gladis. Ini temen lo belum lo kasih seragam bege," ujar Arvin setengah berteriak. Tok tok tok "Gladisya Aurora!!" lagi, kali ini suaranya lebih keras daripada tadi. "APA SIH KAK?" terdengar sahutan dari dalam kamar Gladis pada akhirnya. Gadis itu berteriak kencang dari dalam kamarnya. "SERAGAM QILA MANA GLADISYA!" Arvin balas berteriak kencang. Mendengar teriakan Arvin itu, Gladis langsung berjalan cepat membuka kamarnya. Hal pertama yang dapat Gladis lihat adalah keberadaan kakaknya dan Qila yang sedang berdiri di depan kamarnya. Gladis menampilkan cengirannya. "Ah iya, gue lupa siapin seragam Qila he he," ujarnya dengan cengiran tanpa dosa yang senantiasa menghiasi wajahnya. "Sini sini masuk Qil. Lo pake seragam yang kemarin lo pinjemin ke gue aja ya. Gue lupa balikin ke lo soalnya," ujarnya lagi seraya meraih tangan Qila dan membawanya masuk ke dalam kamar. Sebelum menutup pintu kamarnya, Gladis bersuara. "Lo turun duluan gih," ujarnya lalu tanpa menunggu jawaban dari Arvin, gadis itu langsung menutup pintu kamarnya. Memang, dasar adik gak ada akhlak! Mungkin itu yang dipikirkan Arvin. Namun, tak mau ambil pusing dengan kelakuan adiknya yang memang seperti tak memiliki sopan santun itu, Arvin segera melangkah ke bawah. Cowok itu pergi ke ruang makan dan dia langsung mendapati Mama dan Papanya yamg sudah duduk di sana. Arvin pun ikut mendudukkan badannya di salah datu kursi yang memang sudah biasa dia tempati. "Pagi Arvin," sapa Mamanya lembut, disertai dengan senyumannya. Arvin balas tersenyum pada Mamanya. "Pagi juga Ma," jawabnya. "Oh iya Vin, Gladis mana? Kok belum turun? Temen adik kamu itu juga mana?" tanya Mamanya kemudian karena tak mendapati keberadaan Qila dan Gladis. "Masih di atas Ma. Qila baru aja ganti seragam, Gladis lupa kasih seragam buat Qila soalnya," jawab Arvin lagi dengan tenang. Mamanya itu nampak mengangguk. "Oh namanya Qila ya? Mama lupa. Padahal kemarin Gladis udah kasih tahu Mama," ujar Mamanya lagi. Arvin hanya tersenyum kecil menanggapinya. Dia sendiri bingung harus bereaksi seperti apa. Papanya sendiri, pria paruh baya itu hanya diam saja, menyimak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD