Arvin dan Qila pada akhirnya memutuskan untuk pulang setelah obrolan singkat di pasar malam itu. Tepatnya pada pukul 22.04 WIB.
Sepulangnya mereka dari pasar malam, Arvin benar-benar membawa Qila ke rumahnya. Sebenarnya Qila semakin merasa tak enak mengingat dia ini menumpang tinggal sementara, ditambah gadis itu malah pulang larut malam bersama dengan Arvin. Qila takut dianggap tak sopan atau membawa pengaruh buruh kepada Arvin. Namun Arvin, cowok itu berulang kali meyakinkan Qila untuk tidak terpikirkan yang macam-macam. Arvin bilang, orang tuanya tak akan menganggap Qila seperti itu karena sudah ada Gladis yang menjelaskan semuanya.
Yah, semoga saja.
Saat ini, motor yang dikendarai Qila dan Arvin baru saja tiba di kediaman Arvin. Karena sudah larut malam, Arvin tak lagi hanya memarkirkan motornya di pekarangan rumah. Melainkan masuk kedalam garasi.
"Kak, ini beneran gak apa-apa?" tanya Qila yang nampak sangat khawatir.
"Iya Qila. Emang kenapa sih?" jawab Arvin lalu kembali bertanya. Qila nampak menggelengkan kepalanya cepat.
"Aku beneran ngerasa gak enak Kak," ujar Qila menjawab pertanyaan Arvin. Arvin hanya menanggapi itu dengan kekehan kecil. Ini sudah kesekian kalinya Qila mengucapkan kalimat itu. Entah ada apa dengan gadis ini. Kenapa dia merasa sangat takut. Padahal, Mama dan Papanya tak mungkin memarahi gadis sebaik Qila. Arvin jelas tahu soal itu.
"Udah ah ayo masuk. Kalo disini lama-lama malah dimarahi nanti. Dikira gue ngapa-ngapain lo lagi," ujar Arvin dengan sedikit candaan. Qila mengerucutkan bibirnya kesal ketika tahu Arvin mengatakan ktu sebagai candaan.
Tolong jangan berpikir Qila kesal karena dia ingin Arvin benar-benar melakukannya. Tapi gadis itu kesal karena Arvin malah nampak santai-santai saja disaat dia benar-benar merasa tak tenang, dia tertekan.
"Bisa gak sih Kak? Kak Ar jangan bercanda mulu dari tadi. Aku lagi panik beneran loh ini," ungkap Qila akhirnya protes. Arvin hanya mengangguk-angguk kecil karena itu.
"Iya-iya. Makanya ayo," ujar Arvin kemudian langsung mengamit tangan Qila dan membawa gadis itu untuk masuk kedalam rumahnya.
Suasana dalam rumah Arvin nampak sepi karena memang saat ini sudah larut malam. Namun Arvin jelas tahu, tak mungkin jam segini Papanya sudah tidur, biasanya pria paruh baya ini masih menonton televisi atau hanya sekedar ngeteh di ruang tengah.
Kenapa ngeteh? Karena jelas kalau ngopi pria paruh baya itu tidak akan bisa tidur sampai besok pagi. Biasanya, rutinitas ngopi itu dilakukan Papanya saat di pagi hari dan malam harinya rutinitas Papanya yaitu ngeteh.
"Sepi ya Kak? Yah, aku makin ngerasa gak enak malah kalo kaya gini. Kesannya kaya aku gak sopan banget gak sih? Udah numpang, bawa anaknya pulang larut, eh sampe-sampe dirumahnya malah langsung tidur, gak pamitan dulu," ujar Qila sembari matanya menyusuri sekitar. Arvin nampak sedikit mendengus kecil. Menyebalkan juga Qila lama-lama. Gadis ini maunya apa, tadi bilang takut ketemu orang tuanya, takut dimarahi. Sekarang, udah berhasil sampai dengan selamat tanpa diketahui orang tuanya, dia malah merasa gak enak.
Ya, Arvin jelas tahu sih, Qila seperti itu karena dia merasa tak enak dan kurang sopan jika masuk dan keluar rumah Arvin dengan seenaknya, tanpa izin atau pamit terlebih dahulu kepada orang tua cowok itu. Arvin tahu, Qila sebenarnya ingin bertemu orang tuanya langsung untuk meminta maaf atau berterima kasih karena sudah menerima Qila sementara waktu untuk tinggal disini. Gadis itu juga sekalian menunjukkan sikap sopannya yang menghargai tuan rumah untuk itu.
Qila, gadis itu mungkin saja juga berniat berkenalan langsung dengan kedua orang tuanya. Entah sebagai apa, bisa jadi sebagai orang tua dari sahabatnya, atau malah calon mertua. Arvin ini, diam-diam dia juga banyak menaruh harapan pada Qila.
"Ya udah sekarang maunya gimana? Ketemu Mama Papa atau langsung naik terus tidur aja?" tanya Arvin kemudian.
"Mungkin ketemu Mama Papa Kak Arvin sama Gladis aja deh. Qila ngerasa gak sopan banget kalo langsung masuk kamar padahal posisi Qila disini lagi numpang. Masa Qila bisa keluar masuk sesuka Qila," ujar Qila pada akhirnya. "Eh tapi, ini udah larut banget ya Kak. Kira-kira, Mama Papa Kak Ar udah tidur belum ya?" tanya Qila kemudian.
"Biasanya jam segini Papa gue belum tidur," jawab Arvin. "Beneran mau samperin sekarang?" tanya cowok itu kemudian, kembali memastikan. Qila kali ini dengan yakin mengangguk mantap.
"Iya," jawab Qila singkat. Arvin mengangguk paham. Cowok itu lalu menggandeng tangan Qila membawa gadis itu ke ruang tengah, tempat dimana Papanya bisanya ada. "Ikut gue," ujarnya kemudian. Qila tak menjawab, gadis itu hanya terus langsung mengikutinya langkah Arvin. Ya, bagaimana tidak diikuti kalau tangan Qila saja terus digandeng oleh cowok itu. Arvin aneh.
"Pa," ujar Arvin tiba-tiba. Qila yang tadinya tak terlalu memperhatikan sekitar itu tiba-tiba menoleh menatap Arvin yang secara tiba-tiba pula cowok itu berhenti berjalan. Nampaknya, Arvin sudah menemukan keberadaan Papanya dan cowok itu saat ini memanggil Papanya itu.
"Iya Arvin, ada apa?" sahut seseorang dengan suara yang terdengar memiliki karakter suara yang tegas. Suara ini, Qila yakin ini adalah suara dari Papa Arvin.
"Temen Gladis yang mau tinggal disini beberapa hari, dia mau ketemu sama Papa katanya," ujar Arvin pada Papanya. Cowok itu lalu membawa Qila yang masih digenggamnya dan sedang bersembunyi di belakang tubuhnya itu untuk maju ke depan. "Ini Pa anaknya. Namanya Qila," ujar Arvin memperkenalkan Qila kemudian.
Qila yang saat ini sudah berada di depan Arvin dapat melihat jelas keberadaan Papa cowok iti yang sedang duduk santai di sofa dengan menatap kearahnya dan Arvin. Merasa harus memperkenalkan diri, akhirnya Qila buka suara.
"Ehem. Halo Om, Assalamualaikum," ujar Qila mulai menyapa. "Saya Qila temannya Gladis sekaligus adik kelasnya Kak Arvin," ujar Qila lagi kemudian gadis itu maju dan mengulurkan tangannya di depan Papa Arvin itu.
Papa dari Arvin dan Gladis itu nampak membalas uluran tangan Qila. Namun mereka tak hanya berjabat tangan, tapi Qila lebih tepatnya membawa tangan Papa Arvin itu ke pipinya. Salim.
Qila kembali sedikit mundur setelah selesai salim dengan Papa Arvin itu. "Qila kesini mau ketemu sama Om karena Qila mau izin secara langsung untuk tinggal disini selama beberapa waktu walaupun Qila tahu, Gladis memang sudah mengizinkan Qila. Sekaligus disini Qila juga mau berterima kasih kepada Om sevara langsung karena sudah mengizinkan Qila untuk tinggal disini. Dan nanti, Qila juga akan berterima kasih kepada Tante juga secara langsung," ujar Qila panjang lebar. Papa Arvin itu belum bereaksi apa-apa. Pria paruh baya itu masih diam memperhatikan Qila. Sementara Arvin, cowok itu masih anteng santai di belakang Qila.
"Dan satu lagi Om. Qila kesini juga mau minta maaf karena Qila hari ini pulang larut dan membawa Kak Arvin juga," tambah gadis itu kemudian menunduk. Merasa bersalah sekaligus tak enak hati.
Hening sejenak sampai suara dari Papa Arvin terdengar memenuhi ruangan yang memang sedang sepi ini.
"Soal ucapan terima kasih, itu semua tidak perlu sebenarnya. Tapi, ucapan terima kasihmu tetap saya terima. Dan soal ucapan maaf, itu benar-benar tidak perlu, dan saya tidak menerimanya karena kamu memang tak memiliki salah apa-apa," ujar Papa Arvin dengan yakin. Pria paruh baya itu kemudian tersenyum. "Nak Qila, kalau kamu butuh sesuatu atau sedang ada masalah. Kamu bisa datang kesini. Gladis banyak bercerita soal kamu. Kamu anak yang baik," lanjutnya lagi. Ucapan itu membuat Qila yang tadinya menunduk seketika mendongak.
"Gak apa-apa nak Qila, gak usah sungkan," tambah pria paruh baya itu lagi.
Qila nampak mengangguk dengan ragu. "Te-terimakasih Om," ujarnya.
Papa Arvin itu masih tersenyum. "Jangan sungkan dan jangan kaku. Besok pagi, ketemu di meja makan ya Qila? Sekalian kamu kenalan sama Mamanya Arvin dan Gladis," ujarnya membuat Qila kembali mengangguk. "Sekarang kamu naik ke atas, masuk kamar cuci kaki, gosok gigi, ganti baju terus tidur," tambahnya lagi membuat Qila benar-benar melebarkan senyumnya. Seumur-umur, Qila tak pernah diperlakukan se-perhatian ini oleh seorang ayah. Setidaknya, Qila tak pernah merasa seperti itu.
Dengan antusias Qila mengangguk. "Kalau begitu, saya permisi ya Om. Qila pamit dulu, selamat malam," ujar Qila pamit dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
"Selamat malam," balas Papa Arvin. Qila menunduk sejenak menghormati kemudian gadis itu berlalu berbalik pergi dengan berjalan dengan langkah perlahan.
"Kalo gitu Arvin juga pamit ya Pa," ujar Arvin setelah Qila berlalu pergi. Papanya itu nampak mengangguk.
"Iya. Istirahat dam tidur yang nyenyak Arvin," pesan Papanya yang hanya dibalas Arvin dengan anggukan kemudian cowok itu ikut berlalu pergi. Dari langkahnya, Papa Arvin itu dapat melihat bahwa saat ini Arvin sedang mengikuti Qila. Menyusul gadis itu.
Entahlah, apapun itu, Papa Arvin itu percaya dengan anaknya dan dia juga percaya bahwa Qila adalah gadis baik-baik. Karena Gladis, anak perempuannya itu memang sering kali bercerita tentang kebaikan Qila. Hanya dengan modal cerita dari anaknya itu, Papa Arvin bisa langsung tahu. Qila adalah gadis yang baik dan tulus. Papa Arvin senang dengan itu. Dan dia sendiri, hari ini sudah memastikan tentang ketulusan yang dimaksud dan itu benar.
"Cocok," komentar Papa Arvin begitu melihat Arvin yang menaiki tangga bersebelehan dengan Qila.