Setelah Gladis, Putra dan Doni benar-benar sudah keluar dari rooftop, Arvin yang tadinya masih menoleh kebelakang itu akhirnya kembali menatap depan. Lebih tepatnya menatap Qila. Sedangkan Qila, gadis yang ditatap oleh Arvin itu mendadak langsung maju mendekati Arvin untuk memeluk cowok itu erat. Arvin yang sebelumnya tak menduga kalau Qila akan memeluknya utu sedikit oleng ke belakang karena Qila yang benar-benar langsung menubrukkan badannya di d**a bidang Arvin.
Keterkejutan Arvin itu tak berlangsung lama karena setelahnya, cowok itu bahkan langsung balas memeluk Qila. Namun tak seerat Qila yang memeluknya. Arvin hanya memeluk Qila ringan, dengan tangan cowok itu yang mengelus punggung Qila lembut.
Punggung Qila terasa bergetar saat Arvin mengelusnya. Tentu saja, itu semua dikarenakan saat ini Qila sedang menangis. Isakan Qila mungkin tak terdengar sama sekali di telinga Arvin karena Qila saat ini benar-benar sedang menangis dalam diam. Namun, saat Arvin merasakan bahwa seragamnya basah, dari situlah Arvin tahu, Qila sedang menangis.
Arvin sama sekali tak melakukan apa-apa selain mengelus punggung Qila dengan lembut, berharap apa yang saat ini cowok itu lakukan bisa sedikit mengurangi beban Qila. Berharap, Qila visa sedikit lebih tenang. Arvin juga tak memiliki sedikitpun niat untuk bertanya kepada Qila saat ini. Karena menurut Arvin, untuk sekarang-sekarang ini Qila sedang butuh sandaran untuk menangis. Qilla hanya butuh itu.
Nanti, saat waktunya sudah tiba, pasti akan ada saatnya Qila mulai bercerita. Itu nanti, saat Qila sudah benar-benar tenang dan sanggup untuk bercerita. Sekarang waktunya adalah untuk menunggu tangis Qila mereda terlebih dahulu. Karena nanti jika tangis Qila sudah mereda, Arvin yakin kalau Qila bisa menceritakan semuanya dengan lebih jelas. Biarkan sekarang Qila memuaskan dirinya untuk menangis. Biarkan sekarang Qila menjadikan Arvin sandaran untuk gadis itu menangis. Dan Arvin akan membiarkan Qila menangis sampai gadis itu merasa lega.
Sebenarnya, banyak sekali orang di luar sana yang berkata kalau dia tak suka pasangannya menangis. Benar. Itu memang benar. Arvin setuju soal itu. Tak ada satupun orang yang suka kalau pasangannya menangis, pasangannya bersedih. Hanya saja, kalau memang sudah tidak tahan lagi, memang seharusnya semuanya ditumpahkan menjadi sebuah tangisan. Karena biasanya, tangisan itu bisa membuat seseorang sedikit merasa lega.
Tangisan bisa membuat seseorang merasa sedikit bebannya terangkat. Selain dengan menangis, seseorang bisa bercerita kepada orang lain agar tak merasa tertekan sendiri. Setidaknya dengan bercerita kepada orang lain bisa membuat bebannya ikut juga sedikit terangkat. Tak perlu diberikan solusi jika tidak bisa, seseorang bercerita itu terkadang karena seseorang itu hanya sedang membutuhkan orang lain untuk mendengarkan ceritanya.
Benar-benar murni hanya untuk mendengarkan ceritanya.
Jadi, pada intinya, jangan pernah melarang seseorang untuk menangis karena terkadang hanya dengan menangis itu bisa membuat orang itu merasa lega. Kamu tak selalu tahu apa yang dirasakan orang itu hingga membuat orang itu menangis, jadi jangan menghakimi. Jangan pernah mengatakan bahwa menangis itu tidak akan menyelesaikan masalah.
Memang benar, namun dengan menangis setidaknya masalah berat tak lagi menjadi beban yang terlalu memberatkan untuk orang itu.
Tangan Arvin tak pernah berhenti mengelus lembut punggung Qila. Bahkan tangannya itu sesekali berganti mengelus surai hitam panjang milik Qila. Dengan penuh kasih sayang Arvin melakukan itu untuk Qila.
"Gue sebenarnya gak suka lo nangis Qila, tapi mungkin kalo dengan nangis semua beban lo bisa lebih terasa ringan, gue gak akan ngelarang. Nangis aja, gue akan selalu ada buat lo," ujar Arvin dengan pelan. Cowok itu berbisik tepat ditelinga Qila. "Gue akan selalu ada buat lo kalo lo butuh gue untuk bersandar. Gue akan selalu ada buat lo kalo butuh gue untuk bantu lo halus air mata lo. Dan gue juga akan selalu ada buat lo kalo lo lagi butuh gue untuk dengerin semua cerita lo, semua keluh kesah lo," lanjutnya masih berbisik lembut, tepat ditelinga Qila.
"Qila, tolong jangan anggap gue sebagai Kakaknya Gladis yang khawatir sama sahabat Gladis. Tapi tolong anggap gue sebagai Arvin yang khawatir sama Qila. Karena memang itulah kenyataannya," ujar Arvin dengan lirih. "Gue khawatir sama lo Qila," lanjutnya dengan suara lemah.
Qila masih diam, gadis itu masih menangis. Tak ada perubahan pada Qila. Yang dapat Arvin rasakan perubahan dari gadis itu hanyalah sebuah pelukan dari Qila yang semakin mengerat. Qila seperti tak mau melepaskan Arvin saat itu.
Tapi ternyata tidak, bahkan beberapa saat setelah pelukan Qila yang mengerat, Qila tiba-tiba mengendurkan pelukannya dari Arvin kemudian gadis itu melepaskannya.
Saat pelukan mereka benar-benar terlepas, Qila memundurkan tubuhnya menjauhi Arvin satu langkah. Gadis itu lalu menunduk dalam. Air matanya tak lagi menetes. Namun bahunya masih sedikit bergetar karena sisa-sisa isakan tangan gadis itu tadi.
Arvin masih diam di tepatnya, cowok itu berdiri tegap di depan Qila dengan matanya yang terus fokus menatap gadis yang ada di depannya itu. Arvin menatap Qila dengan tatapan seriusnya. Tatapan cowok itu tak terlepas dari Qila barang sedetik pun. Cowok itu benar-benar terus memperhatikan Qila. Seperti, cowok itu takut Qila akan menghilang ketika dia mengalihkan pandangannya dari gadis itu.
"Kak Ar," panggil Qila dengan suara pelan pada akhirnya setelah sekian lama gadis itu hanya terdiam saja.
"Hm?" jawab Arvin berdehem lembut. Deheman yang mampu membuat hati Qila terasa menghangat seketika. Entahlah, hal sesimpel deheman kalau Arvin yang melakukannya akan terasa menjadi sangat spesial.
Tolong jangan bilang Qila lebay. Karena pada kenyataannya memang itu yang terjadi, memang itu yang Qila rasakan.
Coba saja deh, kalian memanggil seorang pria tampan, yang setampan dan sekelas seperti Arvin, lalu cowok itu menyahuti panggilan kalian dengan suara deheman lembut seperti Arvin menanggapi Qila tadi. Aku yakin, kalian juga akan sama seperti Qila. Atau mungkin kalian bisa saja jauh lebih lebay daripada Qila.
Kalian bisa saja pingsan hanya karena itu. Damage nya memang menembus jantung. Bisa merenggut kesadaran dan efeknya bisa membuat melayang lupa daratan.
Kupu-kupu serasa berterbangan di perut Qila ketika mendengar jawaban Arvin yang berdehem itu, seketika senyum manis di bibir Qila terbit. Sangat tipis. Gadis itu nampak malu-malu menunjukkan senyumnya.
Arvin yang sedari tadi memang mengawasi Qila, tak mengalihkan tatapannya dari gadis itu sama sekali, jelas saja bisa melihat senyum malu-malu Qila itu. Meskipun tipis, tapi Arvin bisa melihatnya dengan sangat jelas. Pada awalnya, cowok itu bingung kenapa Qila bisa tersenyum tipis secara tiba-tiba, padahal gadis itu tadinya masih menangis. Wajah gadis itu juga sedikit lebih cerah dari tadi.
Namun beberapa saat setelah Arvin berpikir keras, cowok itu baru sadar, mungkin saja Qila seperti itu karena mendengar dehemannya tadi. Bagaimana Arvin tahu mengenai itu? Jadi jujur saja, Arvin pernah diajari Gladis mengenai bagaimana cara agar bisa membuat seorang gadis merasa salah tingkah. Dan saat itu, Gladis pernah berkata padanya kalau seorang gadis, tak pernah bisa tahan kalau ada seorang laki-laki apalagi tampan, yang berbicara menggunakan 'hm' di akhirnya. Atau ketika ada seorang gadis yang memanggil nama Arvin, Gladis bilang Arvin harus menyahutinya dengan deheman lembut seperti itu jika Arvin ingin mencoba menarik perhatian si gadis itu.
Jujur saja lagi nih, Arvin sebenarnya malas-malasan saat mendengarkan soal itu dari Gladis. Karena saat itu, Arvin sama sekali tak berminat mengenai hal-hal berbau seperti itu. Tapi, Gladis saat itu memaksa Arvin untuk mendengarkan perkataan adiknya itu karena kata Gladis, suatu saat Arvin pasti akan membutuhkan itu untuk menarik perhatian seseorang.
Sebenarnya, pada waktu Gladis memberikan pelajaran tentang itu kepada Arvin, Gladis sudah tahu mengenai Kakaknya yang diam-diam suka mengawasi Qila dari jauh. Gladis tahu Arvin sebenarnya sedari awal memang mengagumi sosok Qila. Hanya saja, kakaknya itu terlalu pemula untuk berani dan mau mengakui serta mengawali. Jadi, Arvin itu perlu sedikit dorongan agar cowok itu menyadari perasaannya sendiri dan agar cowok itu mau maju untuk berjuang. Mendekati Qila, sahabatnya.
Namun siapa sangka, kalau apa yang dikatakan Gladis saat itu benar-benar membantunya saat ini. Apa yang dikatakan Gladis waktu benar-benar manjur. Qila, bisa baper dengan Arvin hanya karena sebuah deheman. Dalam hatinya, Arvin bersorak senang sendiri. Padahal sebenarnya, Arvin tadi sama sekali tak berniat untuk mengambil perhatian dari Qila. Dia berdehem tanpa sengaja, namun dia malah mendapatkan apa yang dia tak sangka-sangka. Sangat menguntungkan.
Sepertinya, nanti Arvin akan memberikan adiknya itu uang saku lebih. Sebagai tanda terima kasihnya. Gladis pantas mendapatkan uang saku lebih darinya, sebagai apresiasi.
"I-itu, ma-makasih ya Kak Ar, udah mau pinjemin Qila tubuh Kak Arvin buat Qila peluk dan jadi tempat Qila bersandar waktu Qila lagi sedih," ujar Qila terbata-bata. Gadis itu gugup sekaligus malu pada Arvin saat mengatakan itu. Ditambah lagi dengan deheman Arvin yang terngiang-ngiang di kepala Qila. Rasanya, Qila tak sanggup lagi menopang badannya sendiri. Gadis itu mleyot tak berdaya di buat Arvin.
Arvin dengan mudahnya malah terkekeh singkat menanggapi itu. Iya benar, Arvin terkekeh disaat Qila bahkan untuk bernapas saja kesulitan saking mleyot dan tak tahannya Qila dengan tingkah Arvin.
Arvin lama-lama semakin membuat Qila baper!
"Santai aja Qila, gue akan terus seperti itu buat lo. Lo harus percaya soal itu, oke?" ujar Arvin menyatakan sekaligus bertanya. Tanpa pikir panjang lagi, Qila segera mengangguk cepat. Tak mau berlama-lama dalam pembahasan ini. Qila merasa tak nyaman dan tak enak. Canggung rasanya membicarakan perihal itu.
"Mmm dan Qila juga minta maaf karena udah bikin seragam Kak Arvin basah kena air mata Qila," ujar Qila lagi setelah melirik seragam Arvin yang nampak basah yang Qila yakini itu basah karena air matanya. Qila sebenarnya memang sudah tak mau membahas perihal ini lagi, namun ketika melihat seragam Arvin basah karena air matanya, rasanya Qila jadi tak tenang sekaligus tak enak jika gadis itu mengabaikan saja. Jadi, Qila memilih untuk meminta maaf saja.
Lagi, Arvin terkekeh kecil, lalu mata cowok itu melirik dan menunjuk kearah seragamnya yang memang basah karena air mata Qila. "Ini?" tanyanya sembari menunjuk seragamnya yang terlihat sedikit basah itu. "Gak apa-apa Qila, lo santai aja sama gue. Ini bukan masalah yang besar. Bahkan ini memang bener-bener bukan suatu masalah," lanjut cowok itu dengan santai.
Arvin saat ini terlihat sangat beda dari biasanya. Cowok yang ada di depan Qila ini nampak sangat asik sekarang. Tak kaku dan serius disaat cowok itu dengan bersama dengan Qila dan Gladis. Namun Arvin yang saat ini nampak sama persis seperti Arvin yang saat itu pertama kali berkenalan berdua secara langsung bersama Qila di kantin sekolah.
Arvin nampak lebih santai ketika itu, dan saat ini. Entah apa yang membuat cowok itu berbeda dan gampang berubah-ubah, Qila tak tahu.
"Oh iya, sekarang lo udah sanggup buat cerita ke gue? Tentang apa yang udah ngebuat lo jadi kaya gini?" tanya Arvin beruntun kemudian. Saat ini pembahasan kembali serius. Arvin menagih cerita dari Qila. Ingin mengetahui alsan dibalik gadis itu menangis. Qila juga sekarang terlihat sangat serius. Mengingat cerita dari Ghea saat di kantin tadi membuat perasaan Qila menjadi campur aduk.
Qila pada akhirnya mengangguk pelan, gadis itu menatap kata Arvin lekat, lalu menghembuskan napasnya pelan.
"Gue rasa, kita perlu duduk dulu Qila? Kayanya cerita lo bakalan panjang. Gue bener?" ujar Arvin membuat Qila kembali mengangguk pelan.
Lalu keduanya pada akhirnya memutuskan untuk duduk di kursi usang yang tadi memang sudah digunakan Arvin untuk duduk itu.
Setelah dirasa mereka duduk dengan nyaman dengan posisi yang sama-sama menghadap depan, Qila mulai menarik napasnya panjang sebelum pada akhirnya menghembuskan napasnya perlahan. Mengatur napas sebelum gadis itu memulai bercerita.
"Kak Ar, jujur aja gue sebenernya bingung mau mulai cerita dari mana. Karena akhir-akhir ini, memang udah banyak yang ngebuat gue ngerasa gak nyaman. Dan lo tahu soal itu," ujar Qila mengawali semua ceritanya. "Kalo saat itu semuanya perihal Fikri, soal perjodohan cowok itu. Tapi untuk kali ini enggak lagi soal dia. Apapun pembahasan soal perjodohan dia dan kehidupan dia selanjutnya gue udah gak peduli Kak. Karena terakhir kali gue ketemu sama dia, kita udah sepakat untuk berteman biasa. Maksudnya dalam artian gue sama dia, udah bukan lagi jadi sahabat. Dia bilang terus terang ke gue kalo kedepannya dia bakalan lebih fokus ke calon tunangannya," ujar Qila lagi.
"Oke, gue udah gak masalahin soal itu karena menurut gue apa yang dilakukan Fikri emang udah bener. Dia cuma mau jaga jarak sama gue supaya calon tunangannya itu gak salah paham sama hubungan gue dan Fikri," lanjutnya. "Tapi disini, Ghea yang lagi gue pikirin kak. Gue jelas gak terima waktu dia bilang dia takut gue ngerusak hubungan si sepupunya dia itu sama Fikri. Kak, gue emang pernah suka sama Fikri, tapi gue baru sadar kalo rasa suka gue sama Fikri selama ini itu emang murni sebagai sahabat yang takut kehilangan sahabatnya. Jadi, saat itu gue cuma takut Fikri ninggalin gue dan gak mau gue jadi sahabatnya lagi, sama persis kaya yang saat ini sedang gue jalani. Nyatanya, gue sama Fikri emang udah putus hubungan persahabatan kan?"
"Gue awalnya gak mau ditinggalin Fikri kaya sekarang. Gue bener-bener butuh Fikri sebagai sahabat gue yang selalu ada buat gue. Tapi sekarang gue udah sadar, Fikri emang gak selamanya bisa terus-terusan sama gue. Emang ada saatnya dimana Fikri udah bukan lagi jadiin gue sebagai prioritas dia, tapi akan ada orang lain yang bener-bener jadi prioritas dia sendiri," tambah Qila lagi, gadis itu berkata masih dengan tatapan yang menatap depan, kearah pembatas rooftop. Sedangkan Arvin, cowok itu menoleh menatap kearah Qila. "Okelah kita lupain masalah Fikri itu. Kita kembali ke omongan Ghea tadi. Kakak tau rasanya dituduh kaya gitu sama seseorang? Sakit kan pasti rasanya? Apalagi yang nuduh gue tadi adalah sahabat gue sendiri, jelas sakit itu rasanya dobel. Gue mau marah, gue juga mau nampar dia kaya apa yang dilakuin Gladis tadi. Tapi gue gak bisa, menurut gue dia wajar mikir kaya gitu. Dia wajar aja kalo dia takut gue ngerusak hubungan sepupunya,"
"Tapi tetep aja Kak, meskipun menurut gue itu memang wajar, tapi rasa sakit itu jelas pasti ada. Gue gak mau munafik dengan bilang gue baik-baik aja sekarang karena nyatanya gue sedang gak baik-baik aja. Gue kecewa sama Ghea, gue kecewa sama Ghea yang mikir kalo gue bakalan sepicik itu buat ngerusak hubungan sepupunya sama Fikri. Lagipula, kalo emang gue bener-bener suka sama Fikri, gue bisa bersumpah kalo gue gak akan pernah berusaha buat rusak kebahagiaan mereka. Justru gue malah akan dukung mereka walaupun sakit. Gue akan dukung kebahagiaan orang yang gue sayang, meskipun kebahagiaan orang itu bukan sama gue," Qila menoleh kearah Arvin setelah mengatakan itu. Dan disaat Qila menoleh itulah, tatapan mereka bertemu dan terkunci sejenak. Sebelum pada akhirnya Qila mengalihkan pandangannya kembali untuk menatap ke depan.
"Gue sedih karena gue kehilangan sahabat gue Kak Ar. Bukan hanya satu aja. Tapi gue kehilangan dua sahabat sekaligus," ujar Qila. "Yang pertama Fikri, anak tengil itu udah jadi sahabat gue dari jaman SMP, dari jaman-jamannya dia masih jadi jamet," Qila terkekeh sejenak ketika mengingat kenangan semasa SMP nya bersama Fikri. Gadis itu terkekeh ketika mengingat awal mula pertama kali gadis itu mengenal sosok Fikri. Anak cupu yang rawan menjadi korban bully-an.
"Dulu gue sama dia deket banget. Kemana-mana selalu aja bareng, dia juga selalu antar-jemput gue ke sekolah dan pulang sekolah. Dia selalu temenin gue waktu Mama gue lagi gak di rumah, dia selalu ajak gue main keluar disaat gue lagi ngerasa bosen. Dia juga sering banget ajak gue ke pasar malem walaupun cuma sebentar karena waktu itu gue sama dia belum umur legal," Qila kembali terkekeh ketika mengingatnya. Entah kenapa, melihat itu ada perasaan sedikit tak rela di dalam hati Arvin ketika melihat Qila nampak sangat bahagia saat mengingat kenangannya dengan Fikri. Arvin juga merasa tak senang saat Qila menceritakan masa lalunya bersama dengan Fikri. "Jujur aja Kak, gue sangat gak setuju waktu Gladis dan Ghea dulu selalu bilang ke gue kalo Fikri itu gak baik buat gue. Mereka suruh gue jauhin Fikri karena alasan yang saat itu menurut gue gak jelas. Tapi sekarang gue tau kenapa mereka bilang itu ke gue. Semua itu jelas cuma karena mereka tau Fikri gak pernah suka sama gue. Tapi kenyataanya, untuk keseluruhan, Fikri itu sangat baik Kak Ar, dia gak seperti yang Gladis dan Ghea pikirin. Gue gak buta dan bodoh buat gak tau kalo Gladis dan Ghea sebenernya emang bener-bener gak suka sama Fikri, gue jelas tau itu, tapi gue milih buat diem doang," lanjutnya. Dalam diri Arvin yang paling dalam, dia jujur kalau dia tak suka Qila memuji diri Fikri.
"Fikri itu sangat baik sebagai seorang sahabat Kak Ar, dia selalu lindungi gue dan kasih apapun yang sedang gue butuhin. Dia selalu kasih yang terbaik buat gue. Walaupun gue tau itu semua cuma dulu. Dulu disaat gue sama dia masih duduk di bangku SMP. Gue gak bisa bohong kalo gue sebenernya udah ngerasa kalau Fikri sedikit berubah sejak masuk SMA. Dia bukan lagi Fikri yang dulu meskipun dia masih sering antar-jemput gue. Tapi dari awal masuk SMA, gue udah mulai ngerasa kalo selama ini itu, Fikri cuma manfaatin gue doang, dia jadiin gue temen dia karena dia emang gak punya temen tetap lain selain gue," ujar Qila menatap lurus ke depan. "Dan selanjutnya Ghea, gue juga kehilangan sahabat gue yang satu itu hanya karena masalah ini. Gue gak nyangka persahabatan gue sama Ghea akan berlangsung sangat singkat kaya gini. Ghea yang kemarin masih ada di samping gue buat tenangin gue, sekarang dia udah gak ada lagi. Ghea yang kemarin ternyata cuma pura-pura buat tenangin gue, buat semangatin gue. Karena pada kenyataannya, Ghea yang asli itu justru matahin semua asa gue. Nasib gue sial banget ya Kak Ar?" sekarang bukan lagi kekehan senang kecil seperti dari, melainkan kekehan miris. Miris dengan nasibnya sendiri.
Arvin terdiam beberapa saat, lalu cowok itu menarik kepala Qila untuk bersandar di bahunya. Arvin mengelus lembut rambut Qila setelah itu.
"Banyak orang di dunia ini yang sayang sama lo Qila. Lo tau kan anak SMA sini itu semuanya suka sama lo. Dalam artian, semuanya disini itu udah nganggep lo sebagai teman mereka. Lo itu gadis yang hebat, ramah. Banyak yang suka dan mau temenan sama lo disini. Semua anak SMA sini juga pada kenal sama lo semua kan? Mereka semua juga pada peduli sama lo kan? Jadi, lo gak usah terlalu sedih soal itu Qila, lo gak perlu sedih soal ditinggal dua sahabat lo itu. Karena apa? Karena masih ada banyak temen lain yang siap gantiin posisi Fikri ataupun Ghea untuk jadi sahabat lo," ujar Arvin panjang lebar. Cowok itu mengatakan semuanya tanpa jeda sedikitpun.
Qila terdiam mendengarkan semua perkataan Arvin. Semua yang dikatakan cowok itu seratus persen benar. Qila tak seharusnya terlarut salam kesedihan seperti itu. Banyak kok anak yang ingin menjadi sahabatnya, dia juga memiliki banyak teman yang menyayangi nya. Yang peduli dengan dia.
Lagipula, tak ada Ghea bukan masalah besar untuk dia. Ghea itu tak terlalu banyak berperan di hidupnya. Karena yang paling berperan itu adalah Gladis. Dan gadis itu, tak meninggalkannya. Gadis itu masih bersama dengan dia. Dan akan selalu bersama dengan dia.
Lalu Fikri? Qila rasa, Fikri memang seseorang yang sangat berpengaruh untuk kehidupannya selama masa SMP nya dulu. Tapi tidak untuk sekarang. Qila bisa mandiri. Qila bisa sendiri tanpa Fikri. Qila hanya perlu membiasakan dirinya karena tak akan ada lagi sosok Fikri yang mengisi harinya.
Lagipula, hadirnya sosok Arvin di hidup Qila sudah lebih dari cukup untuk menutupi sosok Fikri. Ah tidak, Arvin bukan lebih dari cukup. Namun cowok itu benar-benar sangat lebih lebih lebih dan lebih dari Fikri.
Banyak hal yang tidak bisa Fikri lakukan namun Arvin bisa lakukan untuknya. Arvin dan Qila juga hanya butuh waktu yang singkat untuk keduanya saling memahami. Pemikiran Arvin yang luas dan dewasa, membuat Qila merasa nyaman saat berada di sisi cowok itu.
Arvin bisa jadi tempat Qila bercerita dengan nyaman. Tak seperti Fikri yang sama sekali tak pernah bisa menjadi tempat Qila bercerita.
Pemikiran Arvin yang dewasa membuat cowok itu selalu memiliki saran-saran yang baik untuk cowok itu berikan kepada Qila. Apapun saran dari Arvin, rasanya sangat nyambung dengan Qila. Qila dan Arvin memiliki pemikiran yang sama.
"Qil, gak semua hal di hidup lo harus tentang Fikri. Gak semua hal yang lo lakuin harus sama Fikri dan gak semua hal yang hari-hari lo lalui harus ada Fikri," ujar Arvin lagi, cowok itu nampak sangat serius sekarang. "Lo gak perlu Fikri untuk semua itu Qila, ada gue yang bisa dampingi lo buat lewatin hari-hari lo kedepannya. Gue sekarang ada buat lo bukan untuk ngegantiin posisi Fikri di hidup lo. Tapi gue ada buat lo untuk menempati posisi yang memang seharusnya jadi posisi gue. Itu udah garis takdir," lanjutnya lagi membuat Qila terkekeh sejenak.
"Lo tau Qil? Bukan lo yang mestinya sedih karena Fikri sama Ghea bukan lagi jadi sahabat lo. Tapi harusnya itu mereka yang sedih karena mereka udah gak punya lagi sahabat sebaik dan setulus lo," ujar Arvin melirik Qila yang masuk bersandar di bahunya. "Gue yakin, mereka sekarang ini itu sedang memilih orang yang salah. Mereka salah udah milih orang itu sampai mereka berdua kompak sepakat buat ninggalin lo demi orang itu. Nanti Qil, saat itu tiba, percaya sama gue, mereka berdua akan balik lagi dan ngemis mohon-mohon sama lo supaya lo mau maafin mereka dan jadiin mereka sebagai sahabat lo lagi. Atau mungkin yang lebih parahnya, bahkan si Fikri itu bisa jadi malah minta lo untuk jadi pacarnya dia. Itu semua bisa aja terjadi kan?" Qila hanya diam tak menyahuti karena gadis itu tau, Arvin akan kembali berbicara.
"Kalo hari itu udah tiba, gue mohon dengan sangat sama lo ya Qil. Tolong jangan pernah terima Ghea lagi untuk jadi sahabat lo. Terlepas dari dia yang pernah baik sama lo, itu semua palsu Qila. Lo layak dan berhak untuk dapat teman atau sahabat yang lebih baik dari anak itu. Yang harus lo ingat Qil sekali berkhianat, dia akan terus seperti itu. Kesalahan dia udah fatal," tambah Arvin lagi. "Dan itu juga berlaku untuk Fikri. Tolong banget, lo jangan gampang luluh sama dia. Lo sahabatnya dia Qil. Lo pasti jauh lebih paham dia gimana. Tapi gue bener-bener pesen ke lo. Tolong ya jangan terima Fikri? Apalagi kalo cowok itu menawari lo untuk jadi pacarnya dia. Lo gak mau kan jadi korbannya dia lagi? Dia udah pernah ninggalin lo Qila, lo gak mungkin kan mau terima dia? Mau terima cintanya dia? Tawarannya dia?" ujar Arvin lagi, cowok itu juga bertanya beruntun pada Qila.
Mendengar pertanyaan dari Arvin itu, Qila terkekeh lagi, lucu rasanya melihat dan mendengar Arvin berkata dan bertanya seperti itu. Arvin terdengar seperti tak rela jika Qila mau menyetujui permintaan Fikri apabila cowok itu kembali lagi nanti.
Astaga, bahkan kalaupun itu benar-benar terjadi, meskipun Arvin tak melarangnya pun, Qila akan menolak dengan sendirinya. Tak perlu diberitahu terlebih dahulu.
"Jangan ketawa Qila, gue sekarang serius ini," ujar Arvin merasa kesal karena Qila malah terkekeh ketika Arvin sedang merasakan was-was. Takut-takut Qila mau kembali lagi bersama Fikri dan memulai hubungan yang baru dengan cowok itu.
"Ha ha ha," Qila tertawa pada akhirnya. "Astaga Kak Ar, gue mana mungkin sih mau nerima Fikri kalo gue sendiripun gak suka sama itu anak. Bahkan, untuk nerima dia kembali aja gue harus pikir seribu satu kali lagi mau setuju aja enggak," lanjutnya.
"Kak Ar, si Fikri itu udah ninggalin gue demi sepupunya Ghea. Dia rela mutusin hubungan persahabatan gue sama dia yang udah berjalan bertahun-tahun hanya karena itu. Jadi, apa yang ngebuat gue bisa mau nerima dia lagi kalo ceritanya kaya gitu? Rasanya gue bakalan jadi orang terbodoh kalo gue sampe mau nerima dia buat balik lagi ke gue. Iya gak?" ujar Qila menjelaskan kepada Arvin sekaligus gadis itu meminta persetujuan dari Arvin di akhir katanya.
Arvin dengan semangat dan cepat langsung mengangguk setuju. Kalau tidak begitu, Arvin takut Qila berubah pikiran. Lagipula, apa yang dikatakan Qila itu sama persis seperti apa yang Arvin pikirkan. Untung saja Qila adalah gadis yang pandai. Dan untung saja, pemikiran Qila dengan Arvin itu sama. Jadi, mudah tak sulit untuk membuat Qila memahami apa yang dikatakannya. Begitu juga sebaliknya.
Tak sulit untuk membuat Arvin paham dengan apa yang dikatakan Qila.
"Nih ya Kak Ar. Sebaik-baiknya gue sama orang, gue jelas gak akan sebaik itu untuk ngebiarin orang yang udah bikin hidup gue hancur kembali memasuki hidup gue lagi. Gue mungkin bisa maafin dia, tapi semuanya gak akan lagi sama. Dia jelas gak akan bisa ada di posisinya yang sebelumnya. Dia jelas gak akan bisa untuk itu," ujar Qila lagi, gadis itu saat ini mulai menegakkan tubuhnya. Kepalanya tak lagu bersandar di bahu Arvin. Melainkan gadis itu sekarang menoleh, menatap kearah Arvin dengan raut wajah seriusnya. "Mungkin dia bisa balik lagi, tapi mereka akan di posisi sebatas sebagai teman gue. Atau mungkin, malah hanya sebatas orang yang saling kenal aja? Who knows?" tambahnya dengan kedua alisnya yang terangkat naik.
Arvin menampilkan senyumnya. Sangat menyenangkan rasanya bisa berbicara dengan topik seluas ini dengan Qila. Mereka benar-benar sangat nyambung. Rasanya, Arvin bahkan seperti tak mau berhenti berbicara dan menceritakan banyak hal dengan Qila. Mereka yang sangat nyambung dan memiliki pemikiran yang sama membuat mereka terasa nyaman saat membahas beberapa hal bersama.
Yakinlah kalau sudah seperti ini, pasti jika mereka mendapatkan misi bersama, mereka bisa mengerjakan misi tersebut dengan begitu baik.
"Lo tahu gak Qil? Selama gue hidup di dunia ini, selama delapan belas tahun gue hidup, gue gak pernah sekalipun ngerasa senyaman ini waktu cerita dan ngobrolin banyak hal sama seseorang," ungkap Arvin dengan jujur. "Gue gak pernah se-seneng ini untuk ngomongin soal orang lain yang jelas-jelas gak ada hubungannya sama gue," ujarnya lagi.
"Selama ini, gue gak pernah tuh ngobrol santai kaya gini. Sama siapapun gue gak pernah kecuali sama lo," tutur Arvin sembari matanya menatap kearah Qila. "Entah itu sama Mama Papa gue, Gladis, ataupun sama dua temen gue yang tadi. Gue gak pernah kaya gini," tambahnya.
"Lo tau Qil kenapa gue cuma bisa begini sama lo doang?" tanya Arvin pada Qila. Lalu Qila nampak menggelengkan kepalanya tanda tak tau. Gadis itu nampak menunggu jawaban dari Arvin setelahnya. "Jawabannya itu sesimpel karena gue, ngerasa nyaman saat ngobrol sama lo. Karena kita punya pemikiran yang sama dan gue ngerasa suka aja gitu bisa ngobrol banyak sama lo. Entah itu mengenai hal-hal random atau bahkan juga sampe yang serius banget," ujarnya.
"Rasanya gue gak pernah ngomong sebanyak ini dalam hidup gue. Rasanya gue gak pernah ngomong sebanyak ini di satu hari atau bahkan di waktu beberapa jam doang ini," Arvin menatap Qila lekat. "Lo banyak ngerubah gue Aqilla," lanjutnya serius.
Qila tak banyak menanggapi perkataan Arvin. Gadis itu hanya menatap Arvin dengan senyum tipisnya.
"Gue bukan ngerubah lo Kak, tapi diri lo sendiri yang memang bereaksi kaya gitu sama gue," ujar Qila lalu terkekeh kecil. "Lucu ya Kak Ar. Gue yang dulu ngelihat lo sebagai pacar Gladis yang sangat amat nyebelin karena lo jarang bereskpresi dan terus masang muka datar malah sekarang kita jadi temenan Kak. Temenan deket banget malah, sampe sering tukar cerita gini," ujar Qila.
"Ah enggak tukar cerita, tapi gue nya aja ya g terlalu sering curhat sama lo Kak. Habisnya rasanya beneran nyaman banget waktu gue ceritain semua yang mengganjal di hati gue ke lo. Rasanya kaya beban gue langsung terangkat gitu aja," jujur Qila. "Apalagi nih ya Kak, waktu Kak Arvin kasih saran-saran ke gue. Pikiran gue jadi ngerasa makin terbuka aja gitu," tambahnya lagi.
Arvin terkekeh sejenak. "Ternyata, bukan cuma gue aja ngerasa nyaman waktu ngobrol sama lo. Tapi lo juga ngerasa nyaman cerita sama gue," ujar Arvin lalu tersenyum. "Gue seneng dengernya," tambahnya lagi.
Qila tersenyum tipis.
"Ah iya, ada satu lagi masalah yang mungkin akan gue hadapi ke depannya dan mungkin ini akan terasa sangat berat buat gue," ujar Qila tiba-tiba kembali, terlepas dari apa yang Arvin katakan itu. Gadis itu saat ini menatap Arvin tepat di bola mata cowok itu. Dari tatapannya, Qila seperti berniat menyampaikan sesuatu kepada Arvin.
Arvin nampak menaikkan sebelah alisnya bingung. Kenapa, Qila mendadak kembali serius? Padahal pembahasan mereka tadi Arvin kira sudah selesai. Tapi ternyata belum. Ada hal lain yang sepetinya sangat penting ingin Qila katakan sekarang. Arvin jadi ketar-ketir di tempatnya, menanti apa yang akan Qila sampaikan.
"Kenapa Qila? Ada apa?" tanya Arvin, sedikit panik sekaligus penasaran.
Qila tersenyum tipis sebelum berkata. "Gadis yang ngebuat gue ditinggal dua sahabat gue itu. Dia, sepupu Ghea. Besok dia bakalan pindah sekolah ke sini, SMA Rajawali," penutup dari Qila membuat tubuh Arvin mematung diam.
Apalagi ini? Kenapa cobaan Qila datang secara bertubi-tubi seperti ini? Kenapa harus Qila?