Setelah mendengar Qila mengatakan itu, jantung Arvin rasanya berdetak dua kali lebih cepat. Jujur, Arvin takut. Arvin takut mengenai kedatangan si gadis yang memicu permasalahan ini dapat membuat hari-hari Qila kedepannya akan semakin buruk.
Tak hanya karena Fikri, tapi juga karena Ghea yang berbalik arah untuk membela si gadis itu. Arvin sebenarnya hanya mengkhawatirkan satu hal saja. Yaitu mengenai hati Qila. Apa gadis itu akan baik-baik saja kalau di setiap harinya, ada kemungkinan dia akan selalu melihat pemandangan yang kurang mengenakkan di depannya. Meskipun dia tak satu kelas dengan Ghea ataupun Fikri, tapi tetap saja pemandangan yang mungkin kurang mengenakkan untuk Qila itu bisa terlihat dimana saja. Yang jelas ada di area sekolah.
Sepertinya, setelah ini Arvin akan langsung membicarakan ini dengan Gladis. Arvin akan meminta adiknya itu untuk selalu ada di dekat Qila selama di area sekolah. Hanya sekedar untuk jaga-jaga. Takutnya ada hal yang tidak diinginkan terjadi menimpa Qila.
"Kak Ar, gue sebenarnya gak masalah dengan kehadirannya dia. Mau bagaimanapun itu, ini emang sekolah umum yang bisa dimasuki siapa aja. Tapi pertanyaannya cuma satu, gimana soal Ghea? Apa dia akan bener-bener putus persahabatan sama gue dan Gladis?" ujar Qila setelah sekian lama terdiam. Posisinya saat ini Qila dan Arvin masih sama. Di rooftop sekolah dan tetap hanya berdua. "Gue gak masalah Kak Ar, kalo ternyata emang Ghea gak mau sahabatan sama gue lagi. Tapi gimana sama Gladis? Dia udah lama temenan sama Ghea. Dia jauh lebih lama berteman sama Ghea daripada sama gue. Rasanya gak enak kalo Gladis sekarang malah ada di samping gue daripada Ghea. Gue bukan perebut Kak Ar, gue sama sekali gak pernah berniat ngerebut Gladis dari Ghea," cetus Qila membuat tangan Arvin kembali terangkat untuk mengelus bahu Qila sejenak.
Arvin tahu Qila merasa bersalah kepada Ghea karena Gladis yang lebih membelanya, karena Gladis yang lebih memilih untuk tetap di sampingnya daripada pergi bersama Ghea. Tapi Arvin rasa, apa yang Gladis lakukan sudah benar. Bukan perihal apa-apa. Hanya saja, Gladis memang hanya memihak kepada seseorang yang memang benar dan tidak bersalah dalam masalah kali ini. Gladis lebih memilih memihak Qila daripada Ghea karena Gladis merasa apa yang dilakukan Ghea adalah sesuatu yang kurang benar.
Gladis tak mengatakan itu salah karena apa yang Ghea lakukan dan katakan itu hanya untuk membela sepupunya yang sangat dia sayangi. Tapi, apa yang Ghea lakukan juga tidak bisa dibenarkan. Boleh saja sebenarnya kalau memang ingin membela sepupunya, tapi tidak dengan menjatuhkan Qila. Rasanya itu terlihat egois.
Arvin menarik tangannya yang tadi mengelus bahu Qila lembut, cowok itu menatap Qila dengan serius. "Demi apapun Qila, apa yang lo lakuin itu gak salah sama sekali. Lo sama sekali gak ngerebut Gladis dari Ghea karena nyatanya Gladis sendiri yang memilih buat untuk stay di samping lo. Jelas Gladis ngelakuin itu karena Gladis rasa, lo adalah orang yang lebih cocok untuk terus menjadi teman sekaligus sahabat Gladis untuk ke depannya," jelas Arvin panjang lebar. "Qil, Ghea memilih pergi dan Gladis yang memilih bertahan di sebelah lo, semuanya itu bukan salah lo. Ghea pergi itu karena dia terlalu buta dengan sepupunya dan perkara Gladis, dia memilih bertahan itu memang murni karena pilihannya. Tanpa ada campur tangannya lo," tukasnya menyatakan kemudian.
"Lo sama sekali gak pernah maksa Gladis untuk tetap bertahan di sebelah lo. Semuanya benar-benar keinginan Gladis sendiri, jadi berhenti merasa bersalah dan berhenti untuk menyalahkan diri lo sendiri ya Qil?" pinta Arvin memohon dengan sangat.
Qila terdiam sejenak. Keraguan yang tadinya dia rasakan tentang semuanya mendadak memudar mendengar perkataan Arvin. Apa yang Arvin katakan memang benar. Qila tak seharusnya merasa bersalah. Semuanya terjadi karena pilihan mereka sendiri.
Perkara Ghea yang pergi karena sepupunya dan Gladis yang bertahan karena merasa Qila tak bersalah apapun dalam masalah ini.
Lagipula, apa lagi yang perlu Qila sedihkan di masalah kali ini? Fikri yang menjauh atau Ghea yang meninggalkannya?
Kalau perkara Fikri, maaf, Qila sekarang punya Arvin yang jauh lebih baik di atas Fikri. Kalaupun soal Ghea, sekali lagi maaf, Ghea selama ini tak terlalu berkontribusi di hidup Qila, jadi kepergiannya tak akan terlalu berpengaruh.
Lagipula, selama ini yang sangat berperan baik adalah Gladis bukan Ghea. Dan Gladis, masih stay di sebelahnya. Gladis tak meninggalkannya seperti apa yang Ghea lakukan.
"Kak Arvin bener. Gak ada satu hal pun yang harus gue sedihkan sekarang, Fikri dan Ghea gak sepenting itu di hidup gue sampai gue harus sedih mereka memilih gak lagi bertahan jadi sahabat gue," ujar Qila pelan. "Justru sekarang yang seharusnya gue lakuin adalah bersyukur karena dua orang penting di hidup gue masih tetap memilih bertahan di samping gue daripada meninggalkan gue kaya apa yang Fikri dan Ghea lakuin ke gue," lanjutnya lagi membuat Arvin bingung. Cowok itu mengangkat sebelah alisnya kebingungan.
"Maksudnya?" kata Arvin.
Qila terlihat tersenyum manis menatap kearah Arvin. Tatapan mereka bertemu. "Buat Kak Arvin, makasih untuk mau terus ada di samping gue dan dengerin semua cerita keluh kesah gue. Gue gak tau kenapa Kakak baik sama gue, tapi gue rasa, semuanya emang karena Kakak orang baik aja," ujar Qila ringan namun sungguh-sungguh. "Gue gak tau gimana caranya Kak Arvin bisa datang di dekat gue disaat masalah-masalah gue sedang bermunculan. Kak Arvin seakan kaya orang yang memang dikirim tuhan buat ngebantu gue menyelesaikan semua masalah yang ada di hidup gue saat ini. Gue bener-bener berterimakasih juga soal itu," tambah Qila lagi dengan tulus.
Hati Arvin menghangat mendengar perkataan Qila. Sesimpel itu tapi sangat berpengaruh untuk Arvin.
Sebenarnya, Arvin merasa apa yang dia lakukan saat ini tak memiliki arti apapun karena dia hanya sebatas memberi nasihat dan mendengarkan Qila bercerita saja. Tapi, dia tak menyangka bahwa apa yang dia lakukan ini ternyata sangat berarti untuk Qila.
Ternyata hal kecil seperti ini memang akan terasa sangat berharga di orang yang tepat. Dan Arvin, saat ini memang melakukannya di orang yang tepat dan memang benar-benar sedang membutuhkannya.
"Gak masalah. Terus minta bantuan gue kalo lo sedang dalam kesulitan ya Qil. Sebisa gue, gue akan tetap berusaha buat bantu lo," papar Arvin menimbulkan senyum terbit di bibir Qila.
"Kak Arvin baik, Gladis juga baik. Mama Papa Kakak juga baik, mereka gak pernah gagal mendidik anak mereka, mereka hebat," ujar Qila mengangkat kedua jempolnya di depan Arvin.
Dan apa yang Qila lakukan itu menimbulkan kekehan ringan terdengar dari mulut Arvin.
Sesimpel itu juga bisa membuat Arvin senang. Fakta terbarunya adalah tingkah Qila juga tak pernah gagal menyenangkan hati Arvin.
Arvin bahkan sebenarnya tak pernah seperti ini sebelumnya. Hanya setelah cowok itu mengenal Qila saja Arvin menjadi lebih mudah terbawa perasaan. Bisa dikatakan Arvin ini tipe cowok yang gampang baper alias bawa perasaan jika bersama dengan Qila. Entahlah, Arvin benar-benar lemah iman saat bersama dengan Qila. Bawaannya bahagia terus, kata-kata manis yang keluar dari mulut Qila entah se-simpel apapun saja mampu membuat Arvin kesem-sem sendiri.
Jujur ini sebenarnya cukup memalukan juga untuk Arvin, tapi karena Arvin yang baru pertama kali merasakan bahagia yang tercipta hanya karena alasan se-sepele itu, jadi Arvin menghiraukan rasa malunya. Arvin saat ini hanya berperan untuk menikmatinya saja.
"Mama lo juga gak gagal untuk mendidik lo Qil. Lo hebat, lo juga baik," ujar Arvin dengan tulus menatap Qila dengan tatapan teduhnya. Tatapan Arvin yang seperti ini tak pernah gagal membuat Qila melayang. Qila bahagia, Qila merasa sangat dihargai saat bersama dengan Arvin.
"Bahkan kalo bisa dibilang lagi, lo jauh lebih baik dari gue dan Gladis Qil. Lo terlalu baik jadi orang, beda sama gue dan Gladis yang masih pake logika dan masih ada rasa egois," ujar Arvin mengatakan sejujurnya. Mengatakan apa yang sedari tadi dia pikirkan. "Qil, lo selalu sanggup jika dimintai bantuan orang, lo selalu berusaha untuk bantu orang dengan sebaik mungkin. Lo juga gak pernah tega buat tolak membantu orang lain padahal posisinya di situ lo lagi ada hal lain yang harus lo urus. Tapi lo malah utamain untuk bantuin orang dulu," ujar Arvin mengungkapkan sikap Qila yang sudah sering diceritakan oleh Gladis kepada cowok itu.
Gladis yang memang sering menceritakan hal-hal tentang Qila kepada Arvin bahkan jauh hari sebelum Arvin dan Qila dekat membuat Arvin tahu dengan jelas bagaimana sikap dan sifat gadis itu dengan baik.
Meskipun Arvin tahu bahwa adiknya itu bebal dan cukup bandel, jahil serta cerewet, namun adiknya itu tak akan pernah berbohong apabila menyangkut perihal Qila. Arvin tahu bahwa Gladis sangat menyayangi Qila seperti saudaranya sendiri.
Arvin juga bisa merasakan bahwa aura Qila jauh lebih baik jika berteman dengan Gladis daripada Ghea. Sudah lama sejak Arvin perhatikan dengan sesekali, Ghea memiliki satu aura buruk yang tak bagus untuk adiknya. Jadi, disaat Ghea Arvin tahu Gladis tak akan menjadi sahabat Ghea lagi, haruskah Arvin bersorak merayakan? Ditambah Qila juga tak akan lagi memiliki potensi untuk terpengaruh dengan Ghea.
"Qil, sesekali lo harus ngaca deh kayanya. Lo selalu menganggap orang-orang baik. Lo selalu menatap kagum seseorang yang bahkan baru berbuat sedikit hal baik," ujar Arvin lagi menatap Qila dengan serius. "Coba lo ngaca, bahkan lo lebih baik dari itu Qil. Lo lebih baik dari mereka. Dan gue rasa, lo lebih berhak menatap kagum ke diri lo sendiri, daripada ke orang lain. Love yourself Qil, setidaknya dengan begitu lo akan merasa lebih baik lagi ke depannya," ujarnya lagi.
Qila terdiam sejenak memperhatikan Arvin yang terus saja mengoceh menasihati Qila. Tolong jangan katakan Qila tak mendengar dan paham apa yang Arvin katakan. Nyatanya, Qila sebenarnya paham, hanya saja gadis itu merasa kagum dengan kepribadian Arvin yang ada di depannya sekarang.
Pernahkah Qila bilang bahwa Arvin jauh lebih tampan saat cowok itu mengoceh seperti ini. Selain tampan, Arvin juga nampak sangat menggemaskan.
Ah, bagaimana ini, kenapa Qila rasanya semakin jatuh ke dalam pesona seorang Arvin yang notabennya adalah Kakak kandung sahabatnya ini?
Hati Qila mendadak menjadi berbunga. Secepat itu ternyata mengubah suasana hati Qila. Hanya dengan Arvin kuncinya. Cowok itu sangat pandai mengubah suasana hati seseorang. Atau, memang hanya Qila saja yang lemah dengan pesona Arvin?
"Qila, dengerin gue nggak?!" tanya Arvin dengan serius saat melihat Qila yang sedari tadi menatapnya tanpa berkedip sama sekali. Tatapan Qila nampak terpaku pada Arvin. Nampak sangat jelas bahwa Qila sedang terpukau dengan Arvin.
Qila mengangguk samar dengan gerakan slow motion mendengar pertanyaan dari Arvin. Memangnya harus menjawab apa lagi Qila?
Mendapatkan anggukan samar dari Qila rasanya tak cukup memuaskan untuk Arvin pribadi. "Kenapa sampe segitunya natap gue? Terpesona?" tanya Arvin dengan nada menggoda jahil, cowok itu juga tersenyum menggoda kearah Qila. Percayalah, Arvin hanya bercanda saat menanyakan hal itu.
Namun, jawaban dari Qila sungguh tidak pernah dapat Arvin duga. Anggukan yang kembali Qila berikan membuat senyum menggoda Arvin tadi luntur.
"Lo lucu Kak kalo ngomel kaya gitu, gue udah pernah bilang kaya gitu ke lo belum sih Kak?" ujar Qila dengan lugas tanpa ragu.
Arvin terdiam di tempatnya, Qila berhasil membuat jantung Arvin berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Ada apa dengan jantungnya?" Arvin memikirkan itu sembari memegang dadanya yang terasa berdetak sangat cepat. Kerja bagus Qila.