CHAPTER 31

1150 Words
Selepasnya Arvin dan Qila dari rooftop, mereka tak lagi kembali ke dalam kelas mereka masing-masing. Melainkan, mereka memilih untuk langsung menuju ke parkiran sekolah. Untuk masalah izin, Qila sudah diizinkan oleh Gladis dan Arvin sudah diizinkan oleh Putra dan Doni. Lagipula, rasanya sangat tidak memungkinkan untuk Qila kembali ke kelasnya dalam keadaan yang masih cukup berantakan. Mata gadis itu bahkan membengkak sembab akibat terlalu lama atau terlalu banyak menangis. Maklum saja, rasa sedih kehilangan dua sahabat sekaligus pasti masih ada. Meskipun Qila bilang dia baik-baik saja karena masih ada Arvin dan Gladis yang tetap setia di sebelahnya dan tak memilih pergi meninggalkannya seperti apa yang Ghea dan Fikri lakukan, tapi sejujurnya rasa tak rela ditinggalkan itu masih ada. Walaupun hanya sedikit. Dan memang aku rasa itu adalah hal yang wajar. Arvin sebenarnya juga tahu soal itu. Arvin tahu Qila masih merasa sedih kehilangan dua sahabat sekaligus. Tapi cowok itu bersikap seolah dia tidak mengetahuinya. Ketahuilah, Qila adalah pembohong yang buruk. Dia tak bisa menyembunyikan hal apapun karena ekspresinya yang selalu nampak jelas. Arvin sendiri sengaja berpura-pura bahwa dia tak mengetahui perasaan Qila yang sebenarnya karena dia tak ingin Qila bertambah beban di pikirannya. Yang akan cowok itu lakukan kedepannya adalah membuat Qila menjadi seratus persen rela dengan ikhlas melepaskan dua sahabatnya itu. Sosok Ghea dan Fikri yang dulunya bersahabat baik dengan Qila itu bisa saja menjadi musuh menakutkan untuk diri Qila sendiri di masa depan. Arvin hanya ingin mengantisipasi saja. "Kak Arvin emangnya gak apa-apa kalo bolos gara-gara temenin Qila kaya gini?" tanya Qila yang sedang duduk lesehan di dekat mobil Arvin terparkir. Posisinya saat ini memang Arvin dan Qila sedang duduk lesehan, mereka menunggu jam pulang berbunyi. Meskipun tak masuk kelas, bukan berarti mereka memutuskan untuk langsung pulang. Lebih tepatnya Qila yang tak mau langsung pulang. Dia tak enak dengan Papa dan Mama Arvin kalau harus pulang lebih awal dengan membawa Arvin sekalian. Lagipula Qila pikir, dia dan Arvin tadi datang ke sekolah bersama dengan Gladis juga. Qila juga tak enak hati kalau harus meninggalkan Gladis sendirian dan mungkin saja sahabatnya itu harus naik angkutan umum kalau memang itu benar-benar terjadi. Padahal disini yang menumpang adalah Qila, tapi kenapa rasanya malah Qila yang selalu di dahulukan. Qila merasa seperti tak tahu diri kalau begini ceritanya. "Lo udah tanya itu berulang kali Qila," jawab Arvin jengah. Pasalnya memang benar bahwa Qila sudah mengatakan itu sedari tadi, pertanyaan itu terus saja terulang padahal Arvin sudah menjawabnya dengan lugas. "Ini terkahir kalinya gue jawab ya. Intinya, gue gak apa-apa bolos, gak masalah. Mama Papa juga gak akan marah karena gue bolos kelas untuk temani lo Qil kalo lo khawatir soal itu. Tenang aja, tanpa menemani lo kaya gini aja gue udah biasa bolos, jadi gak akan ngaruh juga," jelas Arvin panjang lebar. Berharap Qila tak bertanya lagi. Dan lagipula, kalau setelah penjelasanya kali ini Qila masih menanyakan hal yang sama, Arvin berjanji pada dirinya sendiri kalau cowok itu tak akan berniat menjawabnya. Oh ya, faktanya soal Arvin sering membolos, itu tak benar sama sekali. Arvin memang sering keluar kelas akhir-akhir ini. Tapi bukan untuk membolos, melainkan untuk mengurusi beberapa hal mengenai ekstranya. Cowok itu sendiri juga merupakan siswa berprestasi, jadi tak heran saja kalau dia berulang kali dipanggil oleh guru-guru untuk dimintai bantuan atau terkadang juga dia harus ikut pelatihan untuk lombanya. Entah lomba di bidang akademik ataupun non akademik. Terkadang dia juga ikut mewakili lomba untuk ekstranya. "Gue gak tahu harus gimana lagi caranya berterimakasih sama Kak Arvin, Gladis dan Mama Papa kalian. Keluarga kalian banyak bantu gue Kak Ar," ujar Qila dengan menatap lurus kedepan. Arvin juga sudah banyak mendengar kata ini. Dia tak tahu kenapa Qila sebegini merasa berterimakasih dengannya dan keluarganya. Padahal dia merasa bahwa apa yang dia dan keluarganya lakukan kepada Qila itu hanya masalah sepele. Qila tak perlu sampai sebegininya sebenarnya. "Gue sama keluarga gue cuma sedikit ngebantu lo Qila, kenapa lo berterimakasih ke kita sampai kaya gini." tanya Arvin dengan serius menatap Qila dari samping. Qila nampak tersenyum kecil mendengarnya, gadis itu menoleh menatap Arvin sejenak. "Sedikit yang Kak Arvin maksud itu sangat berarti buat orang kaya gue Kak," ujar Qila pelan. "Kak Ar, Mama gue sangat sibuk sekarang. Bahkan untuk mengabari gue aja Mama gue mungkin gak ada waktu. Gue kemarin pasti bakalan sendirian di rumah kalo gak ada Kak Arvin dan keluarga Kakak yang dengan baik hatinya mau nampung gue," ujarnya lagi. Qila terdengar menghela napasnya pelan. "Kak, hidup hanya dengan Mama itu sulit. Apalagi Mama gue jarang ada waktu buat gue. Dia sibuk kerja, gue tahu dia memang cari uang buat gue. Tapi dia sampai saat ini pun gak pernah sadar kalo sebenernya yang gue butuhin itu bukan uang, tapi perhatian Mama juga. Gue juga mau waktu Mama kak," kembali Qila mengeluarkan keluh kesahnya. "Okelah, gue udah coba maklum dengan Mama yang sibuk kerja demi gue. Tapi, apa Mama gak ada sedikitpun waktu luang untuk bisa ngabarin gue? Sebegitu sibuknya Mama dengan kerjaannya? Bahkan hanya dengan mengabari gue lewat pesan aja dia gak ada waktu. Gue kangen Mama Kak Ar, seenggaknya kalo gue gak bisa ketemu Mama secara langsung, gue masih pengen denger suara Mama, atau kalau masih gak bisa, minimal gue pengen denger kabar dari Mama," lanjutnya lagi. Kali ini Qila kembali terisak pelan. Arvin secara spontan langsung merangkul bahu Qila dan membawa kepala Qila untuk bersandar di bahunya. "Kak Ar, Kakak perlu tahu gimana rasa bahagianya gue kemarin waktu Papa Kak Arvin bilang ke gue untuk cuci kaki, cuci tangan, cuci muka sebelum tidur. Memang mungkin itu terdengar sangat simpel bagi orang-orang yang masih punya Papa disampingnya, masih ditemani orang tua disisinya. Tapi enggak untuk gue," ujarnya lirih. "Gue udah lama gak ngerasain kehadiran Papa Kak, gue bahkan juga udah cukup lama merindukan waktu Mama. Dan dengan kemarin mendapatkan perhatian kaya gitu dari Papa Kak Arvin, rasanya hati gue sejuk Kak, beban gue sedikit terangkat, rindu gue ke sosok Papa juga perlahan terobati. Perlakuan Papa Kak Arvin sangat berarti untuk orang yang bernasib sama kaya gue," katanya semakin terisak Arvin semakin mengeratkan rangkulannya pada Qila. Pertanyaannya sudah terjawab sekarang. Ternyata ini yang membuat Qila merasa berterimakasih dengan sebegitunya. Rasa rindu Qila pada figur sosok Papa membuatnya merasa sangat bahagia saat kemarin Papanya memberikan sedikit perhatian kepada gadis itu. Arvin baru tahu sekarang, perhatian dari Papanya yang menurutnya sangat sederhana dan tak terlalu berharga itu ternyata sangat berharga untuk orang-orang tertentu seperti Qila. Dari sini Arvin mulai belajar untuk lebih menghargai perhatian kecil dari orang tuanya. Karena perhatian yang menurut kamu tidak penting, akan menjadi sangat penting di orang yang tepat. Dan ya, mungkin nanti Arvin juga akan meminta kepada Papanya untuk terus memberikan Qila perhatian seperti sosok Papa pada anaknya. Dia juga akan meminta Mamanya untuk melakukan hal demikian, memberikan Qila perhatian seperti sosok Mama pada anaknya. Agar Qila tak lagi merasa kosong. Agar rasa rindu Qila pada figur sosok Papa dan Mama bisa terobati dengan adanya Papa dan Mamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD