Sudah setengah jam berlalu, namun Qila belum juga membuka matanya. Sedari tadi, gadis itu belum sadar dari pingsannya. Dan sedari tadi pula, semenjak Qila pingsan, Arvin tak sekalipun meninggalkan Qila. Ya, mungkin hanya untuk pergi ke dapur mengambil kotak P3K, membuatkan Qila s**u dan juga bubur.
Memang, bubur gang saat ini ada di nakas kamar Arvin itu adalah buatan cowok itu sendiri. Bahkan buburnya sudah tak lagi hangat saking lamanya gadis itu pingsan. Padahal, Gladis tadi sudah mengoleskan minyak angin di kepala Qila dan juga bawah hidung hadis itu. Arvin juga sudah menambahkan minyak anginnya tadi.
Namun sepertinya itu tak manjur untuk Qila.
Untuk yang bertanya dimana Gladis, gadis itu saat ini sedang berada di rumah salah satu saudaranya. Gadis itu tadi tiba-tiba mendapatkan telpon dari mamanya yang intinya menyuruh Gladis untuk datang ke rumah saudaranya itu.
Arvin tidak peduli. Lagipula, itu hanya ada acara kecil-kecilan. Arvin tak perlu kesana karena merasa acara itu tak cukup penting. Memang sih, disana sedang ada acara. Jadi tak heran Mamanya itu saat ini sedang tidak ada di rumah padahal biasanya Mamanya selalu stay di rumah. Mama Arvin dan Gladis bukanlah seorang wanita karir. Mama mereka adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Biarkan saja hanya Papa mereka yang bekerja.
Dan dari yang Arvin dengar dari Gladis, katanya Mama Qila adalah seorang wanita karir. Kata Gladis, Qila katanya juga hanya hidup berdua dengan Mamanya. Hal itu yang membuat Mama Qila harus bekerja banting tulang untuk memenuhi kebutuhan Qila.
Mama Qila dulu katanya juga sangat jarang pulang. Sampai pada akhirnya, sekarang-sekarang ini, Mama Qila berusaha untuk lebih meluangkan waktunya untuk Qila. Walaupun tetap saja sulit, namun setidaknya Mama Qila sudah berusaha.
Arvin menatap Qila dengan lembut. Tangan Arvin terulur untuk mengelus surai hitam panjang milik Qila. "Hidup lo kayanya berat banget," ujar Arvin masih dengan tatapan yang tak beralih dari Qila barang sedetik pun. "Tapi lo kuat Qil. Lo bahkan bisa menjalani hari-hari lo dengan senyuman, dengan ceria. Walaupun gue tahu, itu sangat menyakitkan buat lo," ujarnya lagi.
Arvin menarik napasnya lalu menghembuskan nya perlahan. "Jangan pura-pura bahagia Qila. Kalo lo lagi gak baik-baik aja, ada baiknya lo bilang. Lo bisa cerita ke gue tentang semuanya," tambah Arvin lagi, tangan cowok itu juga tak berhenti mengelus rambut Qila. "Lo tau Qila, gue akan selalu ada di samping lo. Gue akan selalu temani lo. Gue akan selalu jadi pendengar yang baik buat lo," lanjutnya lagi.
"Entah kenapa, dari awal gue lihat lo. Gue ngerasa ada sesuatu dari diri lo yang terus menarik gue untuk mendekat ke lo. Di tambah adek gue yang bandel itu berusaha buat gue sama lo deket," kata Arvin. Posisinya saat ini, Arvin memang duduk di pinggiran ranjang. "Dan gue harus jujur kalo gue seneng sama usaha adek gue buat bisa deketin lo sama gue. Tapi jujur aja, gue sering kesel waktu lo terus ngomong gak enak sama Gladis, takut anak itu marah karena gue sebagai pacarnya Gladis malah sering sama lo," ujar Arvin menirukan perkataan yang selalu Qila katakan ketika gadis itu akan melakukan sesuatu bersama dengannya.
Arvin lagi-lagi menarik napas pelan. "Dan itu yang jadi alasan kenapa gue bongkar kedok Gladis. Gue gak suka lo terus ngerasa bersalah sama anak itu," ujar Arvin. "Lo gak pernah salah Qila, karena Gladis bukan pacar gue. Dan satu lagi, itu juga karena gue suka sama lo," ujar Arvin lagi. Mungkin saja, jika saat ini Qila sedang dalam keadaan sadar, Arvin tak akan berani mengatakan itu pada Qila.
Katakan saja Arvin mental tempe. Padahal bukan seperti itu kenyataannya. Arvin hanya takut Qila tak nyaman dengan perasaannya. Arvin juga tak mau tiba-tiba menyatakan perasaannya ditengah-tengah keadaan Qila yang baru saja patah hati ini.
Arvin ada untuk Qila bukan untuk memaksa gadis itu menerima cintanya. Arvin ada disaat Qila patah hati bukan untuk memanfaatkan kesempatan agar Qila mau menerimanya.
Namun Arvin ada untuk Qila untuk menemani gadis itu. Arvin ada untuk Qila untuk menjadi pendengar yang baik dan sebisa mungkin memberikan saran yang baik pula.
Arvin tulus. Cowok itu tak akan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kalaupun Qila suatu saat masih juga tak bisa membalas perasaannya, Arvin tak apa. Mungkin saja itu memang takdir. Arvin akan menerimanya. Arvin percaya, akan ada orang yang lebih tepat untuknya daripada Qila. Dan begitu juga sebaliknya. Ada orang yang lebih tepat untuk Qila.
Hidup sesimple itu. Terima apapun sudah menjadi takdir tuhan. Percayalah bahwa itu memang yang terbaik.
Namun, jika ada kesempatan Qila balik menyukai Arvin, tentu saja Arvin tak akan menyia-nyiakannya. Sebisa mungkin, sekuat tenaga, Arvin akan membuat Qila menjadi gadis yang paling beruntung di dunia. Arvin akan membuat Qila bahagia karena bisa dengannya.
Arvin tahu, banyak hal dalam hidup yang akan dia lalui ke depannya. Arvin tahu akan banyak rintangan yang akan dilewati Qila kedepannya. Dan Arvin bersedia menemani gadis itu untuk melewati rintangannya.
Disaat Arvin sibuk dengan pikirannya sendiri. Meskipun dengan mata yang terus menatap Qila dam juga masih dengan tangan yang mengelus surai panjang Savana, cowok itu bahkan nyaris tak sadar saat Qila mulai membuka matanya dan melenguh pelan.
"Eungh," lenguh Qila menyadarkan lamunan Arvin.
Secara refleks Arvin menjauhkan tangannya dari surai hitam Qila. Namun terlambat, Qila sudah mengetahui bahwa sedari tadi Arvin terus mengusap rambutnya pelan. Qila bahkan terkekeh kecil melihat tingkah Arvin yang sudah seperti kepergok melakukan kesalahan besar. Arvin ini sebenarnya malu. Qila tahu itu. Padahal, Qila tak masalah sama sekali.
"E-eh maaf," ujar Arvin terbata-bata. Kenapa Arvin mendadak menjadi gagap seperti ini. Arvin merutuki mulutnya sendiri yang memalukan ini. Arvin menepuk mulutnya pelan. Qila yang masih melihat itu kembali terkekeh sembari menggelengkan kepalanya kecil. Ada saja tingkah Arvin ini. Sangat menggemaskan.
Arvin mengalihkan pandangannya kembali kepada Qila ketika mendengar kekehan gadis itu. Arvin malu tentu saja, namun saat ini kebahagiaan lebih mendominasi nya karena melihat Qila yang nampak terkekeh karenanya. Tak apalah malu juga, yang penting Qila senang.
"Udah-udah ketawanya," ujar Arvin pada akhirnya. Cowok itu baru ingat Qila belum sempat minum. Cowok itu lalu mengambil segelas air putih yang memang juga tersedia di sebelah segelas s**u. Lalu cowok itu memberikannya pada Qila. "Gih, lo minum dulu," ujar Arvin sembari memberikan segelas air putih itu kepada Qila.
Qila yang melihat itu berusaha untuk duduk, dan Arvin langsung membantu Qila ketika melihat Qila kesulitan untuk duduk. "Lain kali kalo butuh bantuan bilang Qila," ujar Arvin seraya membantu Qila untuk duduk.
Qila hanya menjawabnya dengan anggukan dan senyuman kecilnya. Lalu gadis itu langsung menerima segelas air yang diberikan Arvin dan kemudian meminumnya. Dibantu dengan Arvin yang memegangi gelasnya.
Setelah Qila selesai meminum air putih, Arvin meletakkan kembali gelas itu ke nakas. Lalu tangannya beralih mengambil semangkuk bubur. "Nih, lo ganti makan," ujar Arvin yang langsung dibalas dengan gelengan Qila.
"Gue kenyang Kak," tolak Qila.
Arvin yang tak mau Qila menolak itu memiliki satu ide yang terlintas dipikirannya. Arvin tahu Qila tak akan mampu menolak untuk memakan buburnya ketika mengetahui fakta ini. Mengingat Qila adalah gadis yang sangat sopan. Gadis itu sangat menghormati Arvin sebagai kakak kelasnya.
"Kok lo gak mau makan? Padahal gue susah-susah biat buburnya lo," ujar Arvin dengan wajah yang dibuat sedih. Qila yang mendengar itu mendadak langsung menoleh menatap Arvin.
"Ini buburnya Kak Arvin yang buat sendiri?" tanya Qila memastikan. Arvin hanya mengangguk singkat menjawabnya.
"Iya, gue yang buat sendiri. Tapi lo malah gak mau makan, yaudah deh," ujar Arvin seraya tangannya hendak meletakkan kembali semangkuk bubur itu keatas nakas. Namun Qila dengan cepat mencegahnya.
"Eh eh eh, jangan," cegah Qila cepat. "Qila mendadak laper nih Kak. Pengen makan," ujar gadis itu kemudian disertai dengan cengiran khasnya.
Arvin mengembangkan senyum senangnya mendengar itu. "Bagus," ujarnya seraya mulai menyendokkan bubur itu kemudian menyodorkannya di depan mulut Qila. "Buka mulut, biar gue yang suapin," ujar Arvin lagi yang dibalas senyuman oleh Qila. Lalu gadis itu membuka mulutnya, mengikuti intruksi dari Arvin.
"Thanks Kak," ujar Qila setelah menerima suapan pertama. Arvin hanya tersenyum sembari mengangguk menanggapinya.