CHAPTER 19

1153 Words
Tak ada yang lebih menyenangkan dari disambut dengan begitu baik oleh keluarga orang yang saat ini sangat kita sukai. Mungkin itulah yang saat ini ada dipikiran Qila. Gadis itu saat ini masih berada di rumah Gladis, tepatnya kasih di dalam kamar Arvin. Qila senangnya tadi sudah meminta untuk bisa pulang, namun Arvin benar-benar menolaknya dengan keras. Apalagi setelah Arvin tahu, Qila untuk beberapa hari kedepan akan tinggal sendiri di rumah. Jelas saja Arvin melarangnya cowok itu pasti mengkhawatirkan keadaan Qila. Tak hanya Arvin, karena Gladis pun begitu. Alhasil, kedua kakak dan adik itu memaksa Qila untuk tetap tinggal di rumah mereka untuk setidaknya beberapa saat kedepan. Qila mau tak mau hanya bisa menuruti permintaan mereka. Memangnya siapa yang bisa membantah sepasang kakak adik yang sangat kekeuh dengan pendiriannya itu? Saat ini, di kamar Arvin sedang ada Arvin sendiri dan juga Gladis yang menemani Qila. Arvin, cowok itu duduk di sofa kamarnya. Sementara Gladis, gadis itu duduk di tepi ranjang Arvin yang saat ini ditempati Qila. Gladis tadi memang pergi ke rumah saudaranya untuk menemui Mamanya, namun gadis itu kembali pulang sejenak untuk mengecek keadaan Qila. Dan untuk memastikan bahwa Arvin tak macam-macam dengan sahabatnya itu. Memang adik gak ada akhlak. Kakaknya sendiri di curigai. Padahal kakaknya itu begitu alim. Dan sangat tenang. Bukannya Arvin memang begitu? Cowok itu bahkan menjaga Qila dengan begitu baik. "Dis gue gak enak Dis. Beneran deh, gue pulang aja ya," ini sudah kesekian kalinya Qila mengatakan itu. Gadis itu benar-benar merasa tak enak hati dengan Gladis, Arvin dan keluarga mereka. Qila tak mau merepotkan mereka. "Lo denger gak gak sih Qil? Lo chill aja gitu lo. Gak usah ngerasa gak enak gitu kenapa sih. Gue sama keluarga gue aja fine-fine aja kok kalo Lo mau tinggal disini. Selamanya buat dijadiin keluarga juga boleh," ujar Gladis menjawab serius diawal namun ngelantur diakhir. "Qilaku cintaku, lo itu sahabat gue. Mana bisa gue biarin lo sendirian dirumah dalam keadaan galau kaya gini. Gue gak mau ambil resiko lo bunuh diri ya Qil," tambah gadis itu membuat Arvin yang tadinya diam menunduk sembari memainkan ponselnya mendadak langsung mendongak. "Kalo ngomong dijaga Gladisya Aurora!" tegas Arvin merasa apa yang dikatakan Gladis itu sangat tidak cocok untuk dikatakan. Entah kenapa, Arvin langsung merasa khawatir hanya dengan mendengar apa yang Gladis katakan. Dia khawatir apa yang adiknya itu katakan akan menjadi kenyataan. Arvin tentu tak mau Qila melakukan hal bodoh itu. Meskipun Arvin tahu Qila tak mungkin melakukannya, meskipun Arvin percaya Qila tak akan berpikir pendek seperti itu. Namun tetap saja, ketakutan itu pasti ada. Dan itu mengganggu pikirannya. Tak mau Gladis lebih banyak bersuara dan mengatakan hal-hal yang bisa mengganggu pikirannya atau bahkan mungkin memprovokasi pikiran Qila, Arvin dengan cepat mengambil langkah. "Gladis, lo balik ke Mama sana. Jangan disini," ujar Arvin berdiri dari duduknya lalu menghampiri Gladis dan Qila. Gladis merengut tak suka dan tak setuju dengan perkataan kakaknya itu. Ini sih kesannya Gladis diusir ya. Dia tentu saja tak terima dengan itu. "Kak Arvin apa-apaan sih ngusir Galdis kaya gitu. Ah pasti lo mau macem-macemin sahabat gue kan Kak? Gak boleh! Enak aja sahabat gue dimacem-macemin," ujar Gladis dengan galak. Gadis itu berdiri dari duduknya lalu langsung merentangkan tangannya menghadap Arvin dan membelakangi Qila. Gadis itu seakan membuat benteng untuk melindungi Qila.Qila malah terkekeh melihat itu. Menurutnya, Gladis sangat menggemaskan ketika sedang melindunginya dari Arvin. Ah, Gladis juga begitu so sweet. Dia melindungi Qila dengan sangat baik.. "Gladis lo jangan gitu dong. Gak baik ah. Itu kakak lo loh yang ngomong," ujar Qila tak mau Gladis dan Arvin berdebat lebih panjang lagi. Arvin lalu dengan cepat langsung meriah tangan Gladis. "Lo ikut gue aja, ada yang mau gue omongin sama lo," ujar Arvin seraya menarik paksa Gladis untuk keluar dari kamar. Qila yang melihat itu hanya terkekeh kecil. Sementara Gladis sendiri meronta-ronta minta dilepaskan. "Kak Arvin apa-apaan sih. Lepasin Gladis! Gladis mau temenin Qila Kak," Gladis terus meronta minta dilepaskan. Namun bukan Arvin namanya kalau Gladis bisa lolos dari tarikan tangannya. Arvin dan Gladis keluar dari kamar Arvin lalu Arvin kembali.mejutup pintu kamarnya agar Qila tak dapat mendengar apa yang akan Arvin bicarakan. "Dengerin Kakak Dis," ujar Arvin menatap Gladis dengan tatapan seriusnya. Arvin saat ini sudah melepaskan tarikan tangannya dari Gladis. Gladis sendiri juga mulai tenang, tak lagi meronta. Gadis itu tahu apa yang akan kakaknya bicarakan itu sangat serius. Maka dari itu, Gladis saat ini juga menatap kakaknya dengan serius pula. "Dis, Kakak minta sama lo untuk balik temui Mama. Izinin ke Mama kalo Qila mau tinggal disini beberapa hari aja. Lo pasti juga mau Qila tinggal lebih lama disini kan?" ujar Arvin yang diangguki oleh Gladis. "Nah satu lagi. Lo jangan ada ngomong macem-macem ke Qila kaya tadi Gladisya Aurora. Dengan lo ngomong gitu, justru lo tanpa sadar bisa aja buat Qila mikir untuk ngelakuin apa yang lo omongin tadi, kesannya lo kaya ngasih ide dia biat ngelakuin itu," ujar Arvin lagi membuat Gladis merenung diam. Benar apa yang dikatakan Kakaknya, ucapan Gladis bisa saja malam memberikan ide kepada Qila untuk melakukan apa yang Gladis katakan tadi. Kenapa Gladis tidak pikir dulu sebelum dia berkata? Galdis takut Qila akan kenapa-kenapa karena ucapannya. Melihat Gladis yang terdiam itu tentu saja membuat Arvin sebagai kakak merasa tak tega. Namun cowok itu benar-benar harus mengatakan resikonya agar Gladis tak lagi mengatakan hal-hal seperti itu kepada Qila. Saat ini mungkin Qila memang sedang terpuruk dalam cintanya. Ditambah lagi gadis itu sedang ditinggal Mamanya untuk bekerja. Pasti gadis itu saat ini merasa snagat tertekan karena tak memiliki tempat cerita dan bahu untuk bersandar. Meskipun Qila memiliki Arvin untuk tempat cerita, namun tetap saja Arvin tahu bahwa Qila masih sedikit-sedikit menahan rasa sakitnya sendiri. Dia tak mau terlalu banyak membebani orang lain atas cerita masalahnya. Seperti apa yang Qila katakan kepada Arvin, gadis itu juga merasa tak enak jika terus-terusan bercerita mengenai masalahnya kepada Gladis maupun Ghea. Qila takut kedua temannya itu khawatir dengan keadaannya. Hari Qil memang berat dan rasanya itu memang sangat tak enak. Oleh karena itu, Qila tak mau teman-temannya merasakan hal yang sama seperti Qila. Ah, Arvin bahkan sangat salut dengan pemikiran dewasa gadis itu. "Udah, lo jangan ngerasa bersalah terus-terusan. Gih cepet lo samperin Mama aja sana," ujar Arvin menepuk puncak kepala adiknya singkat. "Masalah Qila biar gue yang jaga dia. Dan gue gak akan macem-macem sama temen lo. Gue gak akan ngelakuin hal di luar batas Dis. Lo tahu gue dan lo tahu juga teman lo," ujar Arvin lagi agar Gladis tak lagi curiga dan was-was untuk meninggalkan Arvin dan Qila sendiri di rumah. Gladis mengangguk singkat. Gadis itu sebenarnya percaya dengan kakaknya. Namun gadis itu tadi hanya waspada saja. "Iya. Kalo gitu gue pergi dulu," ujar Gladis pamit. "Lo jagain temen gue baik-baik ya Kak," lanjutnya sebelum Gladis berlalu pergi. Arvin menghela napas lega melihat Gladis sudah pergi. Sekarang yang harus Arvin lakukan hanyalah menjaga Qila dan membuat mood gadis itu naik. Dia akan menghibur Qila dengan caranya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD