CHAPTER 20

1239 Words
Saat ini, Arvin dan Qila benar-benar berada di salah satu pasar malam yang ada di kota mereka. Pasar malam ini baru dibuka dan sudah sangat ramai. Tadi, sehabis maghrib, Qila tiba-tiba menagih janjinya kepada Arvin yang mengatakan akan mengajak Qila hari ini jalan-jalan. Pada awalnya Arvin menolak dengan mengatakan bahwa Qila masih sakit. Namun dengan cepat Qila mengelak, gadis itu mengatakan dia sedang tidak sakit. Dia tadi pingsan hanya karena terlampau syok dengan berita yang baru saja dia terima. Bagaimana tak terkejut kalau sahabatnya itu ternyata membohongi dia perihal Arvin. Gladis itu, tidak tahu kah dia kalau selama ini Qila merasa bersalah saat gadis itu sedang berdua bersama Arvin. Qila selalu merasa bersalah karena dia pikir, jika dia sedang berdua dengan Arvin. Mungkin saja itu membuat Gladis sakit hati. Namun ternyata, semuanya hanya tipuan belaka. Entah apa motif Gladis melakukan itu kepada Qila, Qila tak pernah tahu. Namun yang jelas, Qila kesal dengan sahabatnya itu. Tapi, apa yang dikatakan Gladis tadi cukup benar. Memang sepertinya Qila terlalu cepat menyimpulkan sendiri tanpa bertanya mengenai kebenarannya terlebih dahulu. Flashback on "Dis, lo tega ya sama gue. Masa lo bohongin soal Kak Arvin sih. Kenapa coba lo pura-pura jadi pacarnya dia? Lo tahu kaga sih Dis selama ini gue ngerasa bersalah mulu sama lo. Semua yang gue lakuin bareng Kak Arvin, itu ngeganjal di hati gue karena gue takut lo kecewa saat lo tahu gue deket sama pacar lo," ujar Qila terus menyerocos. Gladis malah tertawa dengan apa yang dikatakan Qila. Entah apa yang membuat sahabatnya itu tertawa, namun yang harus di ketahui adalah Qila benar-benar kesal dengan Gladis. "Lo kenapa ketawa? Ada gitu yang lucu?" ujar Qila pada Gladis bertanya. Qila nampak menatap Gladis dengan memicing curiga. Gadis itu mengintimidasi Gladis melalui tatapannya. Gladis di buat kicep melihat tatapan Qila itu. "O-oke oke Qil, santai," Gladis bahkan sampai terbata karena takut dengan tatapan yang diberikan Qila. Ah entahlah, Qila ini. "Gue bukannya niat bohong Qila, tapi kan lo sendiri yang nyimpulin kalo Kak Arvin ini pacar gue," ujar Gladis mengelak. "Gue gak ada tuh ya Qil, bilang kalo Kak Arvin pacar gue. Cuma, gue emang gak ngelak waktu lo bilang kalo dia pacar gue. Itu sebenarnya sengaja juga sih. Tapi point pentingnya tetep aja, gue gak pernah sekalipun vilang kalo Kak Arvin itu pacar gue. Udah itu doang," tambah Galdis lagi. Benar juga apa yang dikatakan Gladis, bukannya Gladis tak pernah mengiyakan perihal Arvin itu adalah pacarnya. Namun memang Qila saja yang terlalu bersemangat sampai gadis itu menyimpulkan sendiri padahal dia tak tahu yang sebenarnya seperti apa. "Ya tapi kan lo bisa bilang ke gue Qil, lo bisa klarifikasi ke gue. Mana lo pake segala manggil dia Arvin doang lagi. Kan gue mikirnya itu hal wajar buat orang pacaran. Lo ngapain sih kaya gitu," ujar Qila protes. Tentu saja dia tetap protes, bisa-bisanya dia di bohongi walaupun memang bukan sepenuhnya salah Gladis, tapi tetap saja. Ini tidak bisa dibiarkan. Harusnya kan Qila tetap diberitahu. "Ya seperti yang gue bilang di awal Qil, gue sengaja gak kasih tau lo sekalian. Salah lo sendiri main ngambil kesimpulan seenak jidat. Tahu sendiri kan sekarang," ujar Gladis menjawab dengan santai. Qila nampak menggeram kesal. "Ya lo motifnya apa kaya gitu Gladisya Aurora," geramnya kesal. Gladis terdiam kemudian berkata. "Gak ada, iseng aja kok," ujarnya menjawab. Qila memutar bola matanya malas mendengar perkataan Gladis. "Huft, terserah," ujarnya pasrah. Flashback off. Sampai saat ini Qila masih terbilang cukup kesal dengan apa yang dilakukan Gladis itu. Ah bisa-bisanya dia membiarkan Qila salah penafsiran selama ini. Apa sebenarnya salah dia. Arvin yang saat ini sedang berada di sebelah Qila itu melihat tingkah aneh gadis yang ada di sampingnya. Kenapa gadis ini? Apa itu karena perdebatan kecilnya tadi? Arvin dengan cepat menepuk bahu Qila pelan, membawa gadis itu kembali ke alam sadarnya. "Mikiran apa sih? Sampe ngelamun kaya gitu," ujar Arvin bertanya. "Masih mikirin soal Gladis tadi?" tebak Arvin lagi. Namun tak mendapatkan respon apa-apa dari Qila Nampaknya, apa yang menjadi tebakan Arvin itu benar. Arvin tersenyum kecil setelahnya. "Beneran mau tau apa yang jadi alasan Galdis kaya gitu?" tanya Arvin lagi. Kali ini apa yang Arvin katakan mendapatkan respon dari Qila. gadis itu langsung menoleh cepat menatap Arvin dengan tatapan penuh penasarannya. Arvin terkekeh melihat itu. "Qila, Galdis itu mau buat lo sama gue deket," ujar Arvin mulai menjelaskan. Arvin memang sengaja mengatakan semua di awal agar tak terjadi kesalahpahaman di akhir. Banyak kasus terjadi kesalahpahaman hanya karena masalah seperti yang dialaminya dengan Qila ini. Jadi, Arvin berusaha menghindarinya dengan cara jujur di awal. Qila sendiri, gadis itu nampak sangat bingung dengan apa yang dikatakan Arvin, dekat dengan Arvin? Maksudnya? Meskipun Qila hanya menatapnya dengan penuh kebingungan, namun Arvin tau arti dari tatapan yang Qila berikan padanya itu. Qila jelas terlihat seperti meminta penjelasan lebih tentang apa yang baru saja dia katakan. Danar Arvin, dia akan dengan senang hati menjelaskannya. "Jadi, Gladis itu pengen lo sama gue deket Qila. Dia pikir, lo sama gue itu cocok," ujar Arvin mengawali. "Jujur aja, Gladis itu gak suka lo Deket sama Fikri. Dari awal Gladis tahu soal lo yang suka Fikri, dia itu udah gak suka banget. Tapi saat itu dia masih nahan karena dia pikir, mungkin apa yamg dia pikirkan tentang Fikri salah. Disisi lain, Gladis lihat lo nyaman banget sama Fikri. Ya, meskipun menurut Gladis, nyaman dan deketnya lo sama Fikri itu terlihat murni karena teman. Dia rasa, lo sebenernya gak bener-bener punya rasa sama Fikri Qila," ujar Arvin lagi, menjelaskan dengan lebih detail. "Gladis itu bukan tipe adek yang suka cerita ke kakaknya tentang sesuatu yang dia lewati di setiap harinya. Tapi dia, selalu aja cerita soal lo ke gue Qil. Dia selalu cerita tentang lo mulai dari keseharian lo di kelas bareng Gladis, tentang lo yang suka Fikri, tentang lo yang ceria dan banyak lagi tentang lo lainnya. Dari situ gue sadar, Gladis itu sayang banget sama lo. Dan dari cerita Gladis juga gue sadar, lo juga sama sayangnya kaya Gladis," tambah Arvin. "Lalu suatu saat, Gladis bilang ke gue. Dia tiba-tiba bilang, kalo kata dia, gue sama lo itu cocok. Dia bahkan terus terang sama gue kalo dia itu pengen deketin gue sama lo," lanjutnya. Arvin menatap ke depan. Dimana pasar malam itu ada. Qila dan Arvin saat ini memang masih berdiri di depan gapura pasar malam, keduanya belum masuk ke dalam. "Lo mau masuk ke dalam dulu Qil?" tanya Arvin kemudian kepada Qila, takut si gadis ceria ini lelah berdiri. Qila menggeleng cepat. "Lanjutin apa yang mau lo ceritain tadi Kak," ujar Qila menjawab. Arvin pun mengangguk. "Saat itu, gue bener-bener gak ngerespon apa yang dibilang sama Gladis karena gue pikir, itu gak berguna juga. Jujur aja, gue bukannya mau nolak atau nerima. Gue emang bingung aja mau bereaksi kaya gimana," Arvin kembali menambahi. "Dan Sampai pada akhirnya, gue sendiri yang mutusin buat deketin lo," jujurnya. Mata Qila melotot kecil mendengar apa yang dikatakan Arvin. Benarkah? "Lo inget waktu ada pertandingan di sekolah kita waktu itu? Saat dimana gue tiba-tiba duduk di deket lo sama Fikri. Saat dimana gue tiba-tiba samperin dan ngajak lo ngobrol di kantin. Itu semua murni karena gue pengen deketin lo Qil," tambah Arvin lagi mengatakan kejujuran. "Dan lo tahu kenapa gue kaya gitu? Bukan karena Gladis atau siapapun, tapi itu karena diri lo sendiri Qil," Arvin menatap Qila dengan sangat serius. "Gue suka sama lo Aqilla Queensa...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD