Tak pernah Arvin bayangkan bahwa dia akan menyatakan perasaannya kepada Qila secepat ini. Dia pikir, masih ada banyak waktu untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, rasanya malam ini adalah waktu yang paling tepat menurut Arvin. Di depan gapura pasar malam. Di tengah-tengah keramaian orang-orang yang berlalu lalang disekitarnya.
Arvin tak menyesal sudah mengatakan perasaannya pada Qila detik ini dan malam ini. Meskipun dia tahu kemungkinan mendapatkan respon yang baik dari Qila itu cukup kecil, nun Arvin rasa itu lebih baik. Maksudnya, bukannya memang lebih baik Arvin tahu sendiri bahwa dia di tolak oleh seseorang yamg dia sukai? Daripada, dia terus-menerus berusaha, berjuang dan menunggu seseorang yang sama sekali tak bisa diharapkan. Itulah yang saat ini sedang dipikirkan oleh Arvin.
Cowok itu memang cukup berpikir luas dan dewasa. Lagipula, Arvin percaya jika Qila jodohnya, pasti dia akan kembali di dekatkan oleh gadis itu meskipun saat ini dia di tolak. Jadi, Arvin sih santai saja. Tak masalah.
Apalagi, mengingat Qila baru saja patah hati mengenai Fikri. Arvin jadi semakin yakin kesempatannya untuk kali ini semakin sempit.
"Qila, lo gak perlu jawab apa yang gue omongin barusan. Lo juga gak perlu pikirin apa yang baru aja gue bilang barusan tadi. Gue gak mau lo jadiin apa yang gue omongin tadi itu sebagai beban pikiran buat lo. Jadi lo santai aja, jangan buat itu ngebebani otak lo karena itu. Ya?" ujar Arvin lagi karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Qila. Memangnya apa yang Arvin harapkan? Jawaban dari gadis di depannya yang sedari tadi diam ini?
Qila masih juga diam dengan mata yang terus menatap Arvin. Arvin juga balas menatap gadis itu. Keduanya saling tatap-menatap dalam kurun waktu yang lumayan lama sampai pada akhirnya Qila tersadar dan kembali ke kenyataan.
"Eh maaf," ujar Qila meminta maaf. "Maksud gue bukan gitu Kak. Gue diem bukan berarti gue nolak atau gimana. Tapi gue bingung harus bereaksi kaya gimana," jujur gadis itu kemudian sembari kepalanya sekarang menunduk.
Arvin terkekeh kecil melihat itu. "Lo gak perlu nunduk Qil. Di bawah lo gak akan nemu contekan tentang perasaan lo ke gue," ujar Arvin berniat sedikit bercanda agar tak terlalu serius. Qila yang tahu maksud dari jokes itu tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya. "Yang perlu lo lakuin sat ini adalah mastiin apakah lo juga ada rasa sama gue atau ternyata cuma gue aja yang ada," ujarnya lagi, kali ini sedikit lebih serius. Namun, masih dengan senyuman kecilnya.
Qila juga nampak mengembangkan senyum kecilnya. "Thanks Kak Ar udah gak maksa gue buat jawab. Jujur aja, gue bener-bener bingung harus kaya gimana jawabnya. Gue sendiri bahkan gak tahu saat ini perasaan gue yang sebenernya buat siapa," ujar Qila jujur. "Kak Arvin, bantu aku untuk pastiin perasaan aku ya? Aku gak pernah bisa sendiri," tambahnya lagi.
Arvin dengan mantap mengangguk yakin. Tentu saja, dia akan membantu Qila untuk memastikan perasaan gadis itu. Kalau bisa, Arvin juga akan memastikan Qila menerima cintanya dengan sangat baik. Arvin janji dia akan melakukan apapun untuk Qila, untuk melindungi gadis itu.
Kedepannya, akan banyak yang mengancam Qila. Gadis manis dan ramah itu akan memiliki banyak masalah yang silih berganti berdatangan.
"Gak perlu minta juga pasti bakalan aku bantu Qila," ujar Arvin dengan tulus. Tangan cowok itu terangkat untuk mengusap rambut Qila dengan lembut. "Lo jangan khawatir soal itu. Ada gue Qila, gue ada untuk ngebantu lo. Gue ada untuk menemani lo sampai waktu yang ditentukan. Lo harus inget soal itu Qil. Okay?"
Anggukan semangat dari Qila sudah seperti menjadi titik pacu Arvin untuk terus maju dan memperjuangkan gadis ini.
Sahabat dari adiknya ini benar-benar memiliki pesona yang tak mampu Arvin tolak. Gila saja di tolak, Qila ini paket komplit dan Arvin rasa apa yang ada di dalam diri Qila ini sangat unik.
Arvin pikir, apa yang tidak ada dalam dirinya itu semua ada di dalam diri Qila. Jadi bisa dibilang, Arvin berpikir bahwa dia dengan Qila itu saling melengkapi. Arvin benar-benar berpikir bahwa dia sangat cocok dengan Qila. Bahkan kepribadian mereka yang bertolak belakang itu justru akan membuat persatuan yang sangat kuat dan hebat.
Arvin berharap, dia benar-benar bisa bersama dengan Qila disepanjang hidupnya.
"Ayo Qil masuk. Kita kesini kan mau main-main, gue ajak lo kesini kan supaya lo bisa senen-seneng. Anggap aja soal apa yang gue ucapin tadi itu adalah iklan penyambut," ujar Arvin mengajak Qila untuk segera masuk ke dalam. Suasananya sangat ramai dan Arvin benci dengan keramaian seperti ini.
Namun berbeda dengan Qila yang nampak sangat tertarik dengan suasana keramaian di depannya. Bukankan Arvin sudah bilang, dia dan Qila itu kebalikannya. Saat Arvin tak suka keramaian, Qila suka. Begitupula sebaliknya.
Rasanya sebenarnya cukup aneh untuk Qila. Setelah pernyataan cinta dari Arvin, Qila jadi sedikit merasa sungkan kepada cowok itu. Takut-takut dia dikira memanfaatkan Arvin.
"Ayo Kak Ar," ujar Qila menyetujui. Arvin dan Qila berjalan beriringan kemudian. Saat masuk ke dalam, ternyata suasana pasar malam jauh lebih ramai dari yamg Qila dan Arvin perkirakan. Bahkan untuk berjalan pun mereka bemar-benar berdesakan. Macet.
Banyak sekali bahu-bahu orang yang menabrak Qila hingga gadis itu sampai terhuyung kesana kesini. Karena Qila terlalu sering tertabrak bahu orang, cowok itu menjadi khawatir tentang keselamatan Qila. Bisa saja nanti Qila benar-benar terhuyung sampai terjatuh atau lebih parahnya gadis itu bisa saja hilang karena nyasar.
Arvin tak mau kalau sampai itu terjadi pada Qila. Dan untuk mengantisipasi itu agar tidak terjadi, Arvin dengan cepat langsung mengamit tangan Qila untuk digandengnya.
Qila tentu saja terkejut dengan tindakan Arvin yang terkesan sangat tiba-tiba. Namun gadis itu tak menolak sedikit pun, dia tak berusaha melepaskan genggaman tangannya dari Arvin karena dia sendiri merasa nyaman di genggam oleh Arvin. Qila merasa sangat aman ketika gadis itu bersama dengan Arvin. Qila tak bisa bohong tentang fakta itu.
Fakta bahwa dia merasa mulai nyaman dengan Arvin. Bahkan diawal Qila bertemu dengan Arvin pun jukir saja Qila sudah merasakan hal aneh terjadi pada dirinya. Namun diri gadis itu terus mengelaknya.
"Gue minta izin buat gandeng tangan lo ya Qil. Gue takut lo hilang, gue juga takut lo tersesat," ujar Arvin pelan. "Lo tenang aja, gue beneran gak modus kok. Ini murni," lanjutnya lagi.
Qila nampak terkekeh kecil menanggapinya. "Iya Kak Ar, santai aja. Qila percaya kok," jawabnya.