Bel istirahat berbunyi, disaat itu pula banyak siswa-siswi yang berhamburan keluar dari kelas mereka masing-masing. Begitupula dengan Qila dan Gladis. Gladis yang dengan semangatnya terus menyeret Qila agar cepat-cepat pergi ke kantin bersamanya. Di koridor sekolah, seperti biasa, Qila banyak mendapatkan sapaan ramah yang juga dijawab Qila dengan tak kalah ramah.
Namun ada suatu hal yang nampak sedikit mengganggu ditelinga Qila dan Gladis. Tentu soal murid baru itu. Banyak yang membicarakannya. Dari apa yang Qila dan Gladis dengan samar-samar dari anak-anak yang lewat disekitar mereka, mereka mengatakan bahwa si anak baru itu masuk di kelas Fikri dan Ghea. Kata mereka juga, si anak baru itu adalah seorang sultan, terlihat dari barang yang dipakainya semuanya glamor. Meskipun Qila belum melihatnya, tapi Qila yakin apa yang mereka katakan itu memang sepenuhnya benar.
Maksudnya, benar dalam hal barang-barang glamor itu. Karena Qila jelas tahu betul tabiat Fikri yang sangat menyukai gadis-gadis dengan gaya glamornya. Ditambah dengan body yang katanya seperti 'gitar spanyol'. Soal itu, Qila tak yakin betul, apa itu benar?
Meski begitu, Qila sama sekali tak iri kalaupun memang benar gadis itu adalah seorang yang kaya. Gadis itu memiliki paras yang cantik dan gadis itu juga memiliki body bak gitar spanyol itu. Qila pikir, apa bagusnya semua itu kalau akhlaknya minus? Hatinya busuk dan ekspresi wajahnya yang penuh manipulatif? Apalagi jika ditambah sifatnya yang munafik. Qila kelebihan itu semua tak akan ternilai lagi.
Gladis yang sedari tadi tak berhenti mendengar obrolan soal anak baru itu melirik Qila khawatir. Takut Qila tak nyaman, karena dirinya sendiri juga tak nyaman jujur saja. Apalagi Qila.
Mengetahui itu, Gladis sedikit mencondongkan tubuhnya kearah Qila, kemudian gadis itu membisikkan sesuatu tepat di telinga Qila. "Jangan dengerin apa yang mereka bilang Qil, obrolan basi itu terlalu gak berguna buat lo dengerin. Ngobrol sama gue aja yok, kita bahas cogan-cogan tak tergapai kita," bisik gadis itu berusaha mengalihkan pikiran Qila dari si anak baru.
Sementara Qila, gadis itu terkekeh sejenak mendengar perkataan Gladis. Lagipula, sekalipun dia terganggu, Qila tak masalah. Sekarang ini posisinya sedang berada di tempat umum. Jadi mendengar riuh ramai orang-orang membicarakan orang lain bukankah memang sudah sangat wajar?
Lagipula, bahkan diantara anak-anak yang berlalu lalang disekitarnya ini tak ada yang memuji si anak baru itu. Mereka hanya membicarakannya saja. Jadi, tak ada yang membuat Qila terganggu lebih lanjut. Dia hanya kurang nyaman mendengarnya karena mengingat dua sahabatnya yang pergi meninggalkan dirinya demi gadis itu.
Ya tapi, kalaupun ada yang memuji anak baru itupun bukan masalah besar untuk Qila. Selagi mereka tak membandingkan dirinya atau Gladis dengan gadis itu, Qila rasa semuanya cukup baik. Jujur saja, Qila sempat negative thinking mengingat si anak baru itu pasti akan menjadi dekat dengan Ghea.
Lalu Qila pikir, anak-anak di sekolahnya akan banyak membicarakan soal itu juga. Mereka akan membandingkan bagaimana persahabatan mereka. Mereka juga akan membicarakan kenapa Ghea tak lagi dekat dengan mereka semenjak si anak baru itu datang.
Ah, Qila hampir saja melupakan satu fakta bahwa pertengkaran antara dirinya, Ghea dan Gladis di kantin tempo hari lalu banyak di lihat anak-anak sekolah mereka. Cukup banyak juga yang membicarakannya. Tapi bersyukurnya Qila, dia tak mendapat kritikan sama sekali. Mereka malah menebak-nebak alasan kenapa Gladis sampai menampar Ghea di depan Qila.
Dan banyak dari mereka yang menebak bahwa Ghea mendapatkan tamparan dari Gladis itu karena gadis itu mengatakan hal buruk tentang Qila. Terbukti dari Gladis yang pergi bersama Qila sementara Ghea ditinggalkan sendirian.
Sebenarnya dari sini saja sudah tertebak bahwa Qila lebih unggul segalanya dari segi dukungan. Semua anak SMA Rajawali membela Qila. Tak terkecuali. Mulai dari yang asli antagonis sampai yang paling pendiam. Qila mendapatkan dukungan sebanyak itu.
Jelas semuanya karena mereka sering kali mendapatkan bantuan dari Qila. Ataupun untuk mereka yang pendiam dan tak memiliki teman, mereka menjadi mendapatkan teman karena bantuan dari Qila. Qila seperti penyambung pertemanan di sana.
Entahlah, Qila sering kali tak ada kerjaan soalnya. Jadi dia dengan senang hati iseng-iseng membantu mereka. Jelas gadis itu melakukan itu disaat dirinya sedang tak bersama Gladis dan Ghea. Yang jelas, semuanya berawal dari awal masuk SMA ini. Qila sudah banyak menolong orang-orang.
Lalu setelah itu, barulah Qila menjadi sangat dekat dengan Gladis karena mereka merupakan teman satu kelas. Setelah itu, Gladis mengenalkan Qila kepada Ghea.
Dan itulah awal mereka berteman.
"Gak apa-apa Dis, ini kan tempat umum. Jadi wajar aja kalo mereka ngobrol beberapa hal," ujar Qila dengan tenang. "Kita kan gak bisa atur orang mau ngomongin soal apa. Jadi gak peduli apapun yang mereka omongin meskipun kita gak nyaman selagi ini tempat umum, bukan hak kita untuk ngelarang mereka. Lagipula, hak mereka juga mau ngomong apa. Kita mana bisa ngelarang kan," lanjutnya lagi panjang lebar.
Gladis mengangguk paham. "Lo juga kenapa sabar banget sih Qil jadi orang? Gue baru nemu lo doang nih yang kaya gini. Selama ini, gue kaya cuma banyak ketemu orang yang sumbunya pendek deh," celetuknya.
Qila terkekeh kecil mendengarnya. "Itu Kak Arvin orangnya juga sabar banget kali Dis. Kenapa jauh-jauh banget mikir lo," ujar Qila membuat Gladis mengerucutkan bibirnya kesal.
"Itu dia sabarnya cuma sama lo doang Qil, kalo sama gue mah boro-boro sabar, gue ngomong dikit aja pasti langsung di semprot, atau kalo gak langsung ditinggalin," adunya membuat Qila tertawa renyah mendengarnya.
"Kualat lo ngomongin Kakak sendiri kaya gitu," kata Qila.
"Itu kenyataan!" tukasnya dengan kesal.
Qila semakin dibuat tertawa melihatnya. Lucu sekali Gladis seperti itu. Ah, sahabatnya ini ternyata sangat cemburu dengannya karena dirinya yang lebih dekat dengan Arvin daripada Gladis yang sebenarnya gadis itu adalah adik kandungnya.
Qila juga sebenarnya tak habis pikir dengan Arvin. Kenapa juga laki-laki itu nampak tak terlalu dekat dengan Gladis yang padahal status gadis itu adalah adik kandungnya.
Tapi percaya tidak percaya, Qila sebenarnya tahu kalau Arvin begitu menyayangi Gladis. Tapi karena pemikiran Arvin yang terlampau logis membuat Gladis menjadi merasa tak disayangi oleh kakaknya sendiri.
Padahal untuk pemikiran Arvin, cowok itu memang menyayangi adiknya, tapi dia jelas akan lebih memberi perhatian lebih kepada seseorang yang disayanginya. Karena untuk Arvin, dengan menunjukkan perhatian lebih ke seseorang yang disayanginya, cowok itu jadi bisa membuat si gadis yang dia sukai itu mengerti mengenai perasaannya.
Lagipula, orang yang dia sukai itu berpotensi untuk menemaninya seumur hidup. Berbeda dengan Gladis yang hanya akan menemaninya sampai mereka menikah masing-masing. Karena setelah menikah, mereka akan memiliki kehidupan sendiri.
Arvin juga akan lebih membutuhkan istrinya kelak daripada Gladis. Yang akan menemani Arvin sampai hari tua jugalah istrinya, bukan adiknya.
Pemikiran itu ada di otak Arvin. Meski begitu, rasa menyayangi adik kandungnya sendiri itu pasti ada. Hanya saja, Arvin enggan untuk menunjukkannya.
Bisa disimpulkan bahwa baik Qila maupun Gladis, keduanya punya posisi sendiri untuk Arvin. Dan Arvin memang lebih menunjukkan perhatiannya kepada Qila daripada Gladis. Apalagi, Gladis adalah tipe gadis yang susah diatur. Arvin terkadang juga menjadi kesal sendiri dengan adiknya. Dia mendadak bisa menjadi emosian saat bersama Gladis. Dan itulah yang membuat Arvin lebih banyak diam saat bersama Gladis. Malas mencari masalah dan malas berdebat. Itu alasan utamanya.
Lagipula, saat mengobrol dengan Gladis pun Arvin merasa bahwa dirinya sama sekali tak memiliki selera obrolan yang sama. Gladis lebih senang bercanda, namun sayangnya candaan Gladis tak masuk dalam selera humor Arvin. Jadi jatuhnya, saat Gladis mencoba melawak di depan Arvin, Arvin malah hanya diam saja seolah lawakan Gladis sama sekali tidak lucu alias garing.
Padahal yang menjadi alasan utamanya bukan itu, melainkan lebih ke Arvin yang selera humornya tinggi. Sebenarnya lawakan Gladis cukup lucu untuk orang-orang yang memiliki selera humor rendah.
Dan lagi-lagi sangat berbeda saat Arvin dengan bersama dengan Qila, Arvin pasti akan lebih sering bertukar cerita dengan gadis itu meski lebih banyak Qila yang bercerita, namun setidaknya itu lebih baik daripada mendengarkan lawakan Gladis yang menurut Arvin sangat garing itu.