Salah satu di antara orang itu seperti ada yang familiar di mata Natasya. Orang yang Natasya lihat, menoleh ke arah Natasya. Ah! Sial—batin Natasya. Kenapa dia semakin ke sini semakin banyak menemukan orang-orang ya? Mungkin kalau saja dia gemuk, mata cowok-cowok itu tidak akan ada yang mau melirik Natasya.
Bodoamat. Pikir Natasya, orang itu melemparkan bola kepada Natasya, Natasya dengan sigap menangkap bola tersebut. Natasya melemparnya dengan jarak yang cukup jauh masuk ke dalam ring basket. 1 poin, Natasya berhasil memasukkan bola ke dalam ring.
"Hebat ya," ujar salah satu di antara mereka.
Rama datang dengan kaki yang masih dibalut oleh perban. Dia menarik tangan Natasya. "Kamu aku cari-cari di sini ternyata, kenapa enggak bilang kalau mau pergi?" tanya Rama.
"Eh ada cowoknya? Eh kakinya kenapa tuh?"
"Yah kasian cantik-cantik harus dapat cowok pincang kayak gitu!"
"Hahahah!!"
"Bener, mending cari yang sempurna seperti ceweknya. Cantik, body girl lagi."
Ejekan demi ejekan terdengar jelas di dalam telinga Rama. Natasya menoleh ke arah Rama, dia tau apa yang dirasakan Rama sekarang, seperti dia diejek-ejek mempunyai tubuh seperti gajah. "Eh jaga omongan kalian ya! Dia di mata gue tetap sempurna, setidaknya dia bisa menjaga ucapannya dari pada kalian!"
"Eh ceweknya ngebela, kalau gue jadi ceweknya gue udah jauhin si cowok yang enggak ada gunanya itu. Cuman nyusahin orang doang kerjanya."
Natasya memapah Rama meninggalkan orang-orang itu. Sangat membuang waktu jika harus mendengarkan ocehan mereka semua. Di perjalanan Rama melepas tangannya dari leher Natasya. "Bener ya. Aku cuman nyusahin orang? Semenjak kaki aku kayak gini, enggak ada harapan lagi seperti apa yang aku harapkan dulu," ujar Rama.
Natasya menyuruh Rama duduk. Dia langsung menggeleng dan memegang tangan Rama. "Apa pun yang dikatakan orang, mending jangan dipikirin entar jadi beban dan bawaannya jadi stress. Aku sendiri udah ngalamin hal tersebut," ujar Natasya.
Rama melepas pegangan tangan Natasya. "Enggak usah sok ngehibur, gue tau lo juga kalau dihibur pas kayak gini itu belum bisa lo terima keadaan yang sebenarnya," ujar Rama.
Natasya terdiam. Memang benar, seberapa banyak orang bilang kalau dirinya enggak jelek waktu itu semuanya rasanya bullshit! Tapi ada saatnya di mana kita harus merubah pemikiran tersebut menjadi hal yang lebih dewasa. Menerima keadaan yang sebenarnya jauh lebih baik, daripada harus terus meratapi kelemahan dan menghindari apa yang terjadi.
"Aku emang kayak gitu, cuman sekarang aku enggak mau sampai pemikiran tersebut ngulang ke kamu. Aku berubah demi diriku sendiri, dan kamu juga harus berubah demi diri kamu sendiri," ujar Natasya menepuk-nepuk pundak Rama.
"Kaki itu enggak selamanya akan seperti itu kalau kita punya tekad buat sembuh, kita punya Allah yang selalu bisa membantu kita dalam keadaan susah dan sedih."
"Jika kamu berdiam diri, dan meratapi semuanya itu enggak akan merubah semua keadaan yang ada. So, belajar untuk bersyukur," ujar Natasya.
"Lo nasehatin gue?" tanya Rama dingin.
Natasya menggeleng. "Rama, aku cuman ma—"
"Cuman apa? Kalian semua enggak akan pernah tau gimana rasanya berjalan seperti ini. Gimana rasanya saat hobi dan cita-cita terhalang dengan adanya kecelakaan seperti ini!" ujar Rama tegas lalu dia berdiri meninggalkan Natasya.
Natasya berjalan mengekori Rama.
"Jangan ngikutin gue!" pinta Rama.
Natasya berhenti. Namun saat Rama kembali berjalan, Natasya tetap mengikuti Rama. "Gue bilang jangan ikutin gue, lo ngerti bahasa Indonesia enggak sih?" Natasya heran kenapa dengan Rama.
Tapi jujur, Rama butuh waktu untuk menerima semuanya. Natasya menghela napasnya pelan dia hanya bisa menatap kepergian Rama yang berjalan dengan kaki yang tidak seimbang. "Gue salah apa lagi ya Robb," ujar Natasya lalu menggeleng.
Natasya mengambil handphonenya, dia kembali menelpon Fatah. Namun, kegiatannya terhenti saat Bryan datang dan langsung mengambil handphone Natasya. "Eh balikin!" ujar Natasya.
Bryan menukar nomor telepon mereka berdua. "Gue cuman mau nomor lo doang kok," ujar Bryan lalu mengembalikan handphone Natasya.
Bryan duduk di samping Natasya yang terlihat cemberut. "Lo kenapa?"
"Bukan urusan lo!"
"Kok jadi ketus gitu? Ada masalah? Gue salah apa emang sama lo?" tanya Bryan.
"Lo salah tadi main ambil handphone gue aja!" kesal Natasya.
"Jadi karena itu lo ngambek kayak gini?" tanya Bryan.
"Enggaklah! Ngapain, kayak anak-anak banget," ujar Natasya lalu bersandar di kursi.
"Terus lo kenapa?" tanya Bryan. Natasya menatap ke arah Bryan, matanya sangat mirip dengan Rama. Sama-sama memiliki mata elang.
"Kayaknya gue suka deh sama lo," ujar Natasya.
"Hah?" Bryan bingung.
"Gue suka sama mata lo! Boleh gue ambil enggak buat jual? Lumayan kan uangnya bisa beli handphone baru," ujar Natasya.
"Boleh yang penting lo mau jadi pacar gue," ujarnya spontan membuat Natasya melotot.
"Enggak akan! Najis gue," ujar Natasya bergidik ngeri.
Bryan tertawa lalu mencuil hidung Natasya sampai membuat Natasya meringis kesakitan. "Aduh! Sakit b**o!" kesal Natasya sambil mengelus-elus hidungnya.
"Lo tinggal di mana?" tanya Bryan.
"Di rumah, gue tinggal di atas tanah di bawah langit." Natasya menatap ke arah sekitar.
"Oh sama dong, berarti kita serumah. Karena gue juga tinggal di rumah, di atas tanah dan di bawah langit. Yaudah ayo pulang," ujar Bryan lalu menarik tangan Natasya.
"Lah-lah enggak mau! Lo mau culik gue ya?" tanya Natasya panik.
"To—"
Bryan menutup mulut Natasya dengan tangannya. "Hmph!!"
"Gue enggak mau nyulik lo! Ih tenang aja kali, gue cuman mau anter lo pulang," ujar Bryan.
Natasya berusaha melepas tangan Bryan dari mulutnya. "Hmph! Hmphn!!!"
Bryan melepas tangganya.
Natasya memukul-mukul Bryan. "Lo mau bunuh gue ya? Lo psikopat ya? Bahaya nih, gue harus aduin lo ke bokap gue karena mau nyulik putrinya dan mau bunuh gue!" Natasya mengambil handphonenya.
Namun demi dulu, Bryan merampas handphone tersebut. "Ih! Siniin lo mau apa sih dari gue?" tanya Natasya.
"Gue mau jadi pacar lo." Natasya menggeleng orang di depannya ini pasti sudah tidak waras.
"Siniin enggak!" ujar Natasya.
Bryan berlari, Natasya menghela napasnya pelan lalu berlari mengikuti arah Bryan berlari. "Buset itu anak! Larinya cepat banget, dia atlet lari kali ya?" pikir Natasya.
"Woy! Bryan lo di mana?" teriak Natasya.
Natasya kembali berlari. Dan dia melihat Bryan yang duduk, saat melihat Natasya, Bryan kembali berlari. Natasya mengatur napasnya yang ngos-ngosan habis berlari. Mereka seperti tom and Jerry saja. "Ih itu anak, gue dapat lo baru tau rasa!"
"Ah masa? Emang lo bisa dapat gue? Gue ini pelari terhebat loh," ujarnya tepat di belakang Natasya.
Natasya menoleh. Jarak antara mereka sangat dekat hanya 10 CM saja. Natasya menahan napasnya. Dia menutup matanya. "Eh ngapain lo nutup mata? Berharap gitu gue cium?" Mendengar itu Natasya langsung mendorong tubuh Bryan.
***
Bryan tertawa. "Ngapain lo ketawa hah? Puas lari-lariannya?" tanya Natasya kesal.
"Gue capek tau! Sebagai gantinya lo harus traktir gue minum," ujar Natasya.
Bryan mengangguk. "Oke-oke, gue traktir ayo!" ujarnya lalu menarik tangan Natasya.
Mereka berdua berjalan menuju Indomaret, yang tak jauh dari tempat mereka berada setelah membeli minuman. Mereka kembali keluar. Natasya melirik jam tangannya. "Eh gue pulang ya, ini udah sore banget," ujar Natasya.
Bryan mengangguk. "Lo enggak mau gue anter?" tanyanya.
"Enggak usah. Gue bisa sendiri, btw thanks minumnya," ujar Natasya lalu berlari menjauh dari Bryan. Bryan hanya bisa tersenyum melihat Natasya itu.
Sepertinya dia tertarik dengan cewek itu. Bryan lalu membuang botol yang sudah habis dia teguk isinya. Dia berjalan menuju rumahnya. "Gue pulang!" ujarnya lalu duduk di salah satu sofa.
"Kamu abis dari mana?" tanya perempuan paruh baya di depannya.
"Dari lari sore, Mah." Bryan menyuguh sakunya dia mendapati dua handphone. Baru sadar, handphone Natasya belum dia kembalikan.
"Oh yaudah kamu mandi gih, Papa kamu udah siapin sekolah baru buat kamu," ujar Renita—sebagai Mama dari Bryan.
"Iya, Mah." Bryan mengambil handphone Natasya dan handphonenya dan naik ke atas tangga berjalan menuju kamarnya.
Bryan menyimpan kedua handphone tersebut namun sebelum itu, Bryan mematikan dan memilih men-charge keduanya dan setelah itu dia langsung masuk ke dalam kamar mandi.
***
Natasya masuk ke dalam rumahnya, namun di sana tidak ada Rama. Natasya mencarinya si segala tempat, di rumah yang mewah dan berukuran minimalis ini Natasya terus mencari Rama namun dia tak menemukan Rama. "Bi!" panggil Natasya.
"Iya, Non? Ada apa?" tanya Bibi yang baru saja dari dapur.
"Liat Rama enggak? Kok aku cari enggak ada sih?" tanya Asya.
"Loh tadi bukannya dia pergi nyariin Non Aca?" tanya Bibi.
"Iya, Bi. Cuman dia pergi lagi, aku kira dia pulang eh ternyata enggak. Jadi gimana dong? Gimana kalau terjadi apa-apa sama dia? Kaki dia kan belum sembuh, ini semua salah aku yang biarin dia pergi gitu aja," ujar Asya lalu duduk di salah satu kursi dia mengusap wajahnya gusar.
Bibi mengelus pundak Asya. "Tenang non, jangan mikirin macam-macam mungkin dia lagi ke rumah temannya? Dan bosan di rumah sendiri kalau enggak Non Aca?" tanya Bibi.
Natasya menoleh, dia berpikir sejenak. "Oh iya bi! Aku telfon temannya dulu deh," ujar Asya.
Natasya mencari-cari telfonnya namun dia tidak mendapatkannya. "Bibi enggak liat telfon Asya?" tanya Asya panik.
"Lah Non Aca kan tadi baru sampai, coba Bibi telfon ya," ujar Bibi.
Bibi Ina langsung mengambil telfonnya itu dan langsung menelfon nomor Natasya. "Enggak aktif, Non."
Natasya berpikir. "AH IYA!! SI BRYAN ITU!" teriak Natasya.
"Bryan siapa, Non?" tanya Bi Ina.
"Ihs! Dia tadi orang ngeselin yang ambil handphone aku, Bi! Huaaa mana aku enggak tau alamat dia di mana, gimana dong?" tanya Natasya.
"Beli baru aja," ujar Bibi Ina.
"Bukan masalah baru apa gimana, Bi. Itu handphone pemberian Ayah pas aku ulang tahun. Dan di sana udah banyak banget nomor-nomor penting. Dan pasti Bibi enggak punya nomor Rama kan? Makin sulit nyari dia deh," ujar Natasya memelas.
"Astaga, Non. Yaudah non mandi dulu, terus makan, kalau udah makan langsung sholat kalau udah Non pergi cari den Rama di rumah teman-temannya," ujar Bibi Ina.
Natasya mengangguk dan memasang muka lelah. Sungguh dia seperti dipermainkan oleh takdir, Natasya begitu bodoh sampai dia tidak mengingat handphonenya ternyata masih ada di Bryan, Natasya belum ikhlas dengan handphonenya itu. Natasya melakukan aktivitas yang tadi Bibi Ina sebutkan.
Setelah selesai, jam sudah menunjukkan pukul 18.30, waktunya Natasya pergi mencari Rama. Rama seperti anak kecil yang lari-larian karena ngambek, untung saja dia tidak membawa baju-bajunya, sesakit hati itu yang dirasakan Rama. Natasya yakin, perasaan mereka berbeda mungkin Natasya bisa dibujuk dengan makanan? Seperti Es krim. Tapi sepertinya Rama orangnya tidak seperti itu.
"Haduh, harus sabar!" Natasya bangkit dan mengambil tas kecilnya dan memakai sepatu kets putih yang beberapa Minggu ini dia beli karena semua sepatunya yang dulu sudah sangat kebesaran, secara dia sudah diet. Berat badannya turun sangat drastis.
Sekarang berat badannya hanya 45 KG, dan tinggi badannya 155 CM, ideal bukan? Jelas Ideal. Natasya melakukan banyak hal selama dia diet, dia tidak boleh makan makanan yang mengandung lemak. Hanya sayur-sayuran dan buah saja yang dimakan setiap hari. Dengan air mineral secukupnya untuk menghilangkan lemak, dan beberapa vitamin penurun berat badan.
"Huft." Natasya menghela napasnya pelan lalu beranjak keluar memakai sepedanya.
Natasya berniat untuk mencari Rama di rumah Atha. Sesampainya di sana, Najwa keluar dan menyuruh Natasya masuk. "Eh enggak, gue cuman mau nanya. Di sini ada Rama enggak?" tanya Asya.
"Rama? Enggak tuh, dari siang gue di rumah dan sampai malam ini enggak ada tuh Kak Rama, emang dia kemana?" tanya Najwa.
"Astaga, kalau gue tau dia di mana gue enggak bakal nyari dia rela-rela naik sepeda malam-malam gini," ujar Natasya.
Najwa hanya cengengesan, tak lama Atha datang dan menatap ke arah Natasya. "Loh, lo datang sama siapa? Sama Rama?" tanya Atha.
Natasya menggeleng. "Hiks, gue kira dia di sini. Dia pergi! Gimana dong? Gue datang ke sini buat nyari dia, gue kira dia ada di sini. Karena Rama suka cerita banyak soal Kak Atha, katanya Atha yang paling sering ngebantu dia di saat senang dan susah," ujar Asya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Najwa yang melihat itu langsung memeluk Natasya. "Lo tenang," gumam Najwa.
Atha terdiam mendengarkan penuturan Natasya, memang mereka sangat dekat. Namun karena kebodohannya Rama sudah tak pernah berbicara lagi dengan Atha semenjak dia mengeluarkan banyak kata-k********r yang tidak seharusnya Rama terima. "Yaudah gue bantu cari ya," ujar Atha lalu masuk dan mengambil jaket dan kunci mobilnya.
"Gue ikut ya, Bang?" tanya Najwa membuat Atha mengangguk.
"Lah terus sepeda gue gimana?" tanya Natasya.
"Simpan aja di situ, emang lo mau naik sepeda dan kita berdua naik mobil?" tanya Atha membuat Natasya menggeleng.
"Gila lo ya, Kak!" kesal Natasya.
"Yaudah, kalian naik."
Mereka bertiga berada di dalam mobil. "Kita mau cari di mana?" tanya Natasya.
"Kita cari di tempat dia sering pergi kalau lagi sedih," ujar Rama.
Mereka bertiga berpikir. "Ya, yang gue tau cuman rumah lo, Kak. Selebihnya dia cuman ke gue, secara gue ka—"
"Hm." Atha berdehem membuat Natasya memberhentikan ucapannya.
"Kita jalan aja dulu, kita liat sekeliling siapa tau dia ada di jalan kan, jalan-jalan gitu," ujar Najwa.
"Iya mending gitu aja dulu deh," ujar Natasya.
***
Rama baru saja memenangkan dirinya, dia sudah lelah berjalan. Dia tidak membawa uang. "Gue telfon Natasya dulu deh," ujarnya lalu membuka handphonenya dan mencari nama Natasya di sana.
“Halo, Natasya gue ad—”
'Ini siapa ya? Gue Bryan pacarnya Natasya.'
Rama terdiam. Apa? Pacar katanya? Sejak kapan Natasya memiliki pacar? Setahu Rama Natasya hanya mencintai dirinya, Rama menggeleng.
“Di mana Natasya?”
'Dia ada nih, lagi tidur.'
Bryan tertawa. Dia sesekali nge-prank orang-orang yang menelfon di nomor Natasya, dan kebanyakan yang menelfon adalah cowok. Dia menggeleng, Natasya memang incaran setiap cowok dengan body yang dia punya, wajah yang masuk dalam kriteria 'cantik' memang sudah tidak diragukan jika dia menjadi salah satu orang yang didambakan.
Di sisi lain, Rama mematikan telfonnya. "s**t!" umpatnya. Rama dengan penuh kekesalan berjalan pulang, dia menyebrang jalan dengan hati yang sangat kacau, bahkan rasa sakit di kakinya ini tidak sepadan dengan rasa sakit di dalam hatinya. Bagaimana bisa Natasya? Ah! Terlalu sakit jika Rama mengingat semuanya.
BRAKH!
Rama terhempas lumayan jauh, tubuhnya ditabrak oleh pengendara mobil truk. Rama sudah bersimbah darah, penglihatan Rama mengabur dia hanya melihat orang-orang yang ada di sekitarnya. Rama tak sadarkan diri. "Ayo kita bawa ke rumah sakit!"
Warga setempat mengangkat tubuh Rama dan membawanya ke rumah sakit. Keadaan sekarang macet. "Lah-lah ini kenapa tiba-tiba macet?" tanya Najwa.
"Kayaknya ada kecelakaan di depan," ujar Atha.
Natasya semakin cemas, bahkan tangannya sudah berkeringat. Kenapa semuanya bisa terjadi sih? Kenapa Rama sangat ngeyel? Kenapa dia susah sekali menerima keadaan yang sudah dia hadapi, seharusnya di saat seperti ini. Orang yang mencacinya dijadikan bentuk motivasi agar dia bisa cepat sembuh. Natasya menatap ke arah jendela.
"Lo yang tenang, Ca. Rama pasti baik-baik aja kok," ujar Najwa.
"Gimana gue bisa tenang sih? Gue bahkan enggak tau dia sekarang di mana, keadaan dia gimana, belum lagi kakinya yang belum benar-benar sembuh," ujar Natasya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Lo harus tetap berpikir jernih, jangan berpikir aneh-aneh itu hanya bisa buat lo jadi takut tentang keadaan yang dialami sama Rama," ujar Najwa.
Natasya menahan tangisnya, tatapannya terus dia alihkan ke kaca jendela mobil. "Udah, kita lanjut. Ini udah enggak macet," ujar Atha.
Mereka kembali mencari keberadaan Rama, Atha juga sudah memberitahu semua temannya untuk membantu mencari di mana Rama, agar proses pencarian mereka cepat selesai. Dan semoga Rama dalam keadaan baik-baik saja.
***
Rama langsung dilarikan ke ruang ICU. Pengendara yang tadi langsung kabur, dan warga setempat mencari mobil yang lewat dan untung saja ada yang mau membantu Rama. "Bapak-bapak semuanya tenang ya, semuanya nanti saya yang urus. Saya akan cari tau dia dari keluarga mana," ujar orang yang tadi dipakai mobilnya untuk membawa Rama ke rumah sakit.
"Baik, Pak. Semoga amalnya dibalas oleh Allah ya," ujar salah satu warga setempat.
"Aamiin."
"Oh ya nama bapak siapa?" tanya warga setempat.
"Iya, saya Agam Nicholas Hoult. Kalau kalian mendapatkan informasi tentang anak yang tadi kita bawa, segera hubungi nomor saya ya. Ini kartu nama saya," ujar Nicho.
"Baik."
Nicho berdiri di depan ruangan ICU. Dia baru saja pulang mengurus beberapa berkas karena dia baru saja pindah ke sini, awalnya dia sempat tinggal di sini, namun hanya 2 bulan. Dia kembali ke London saat dia menyelesaikan masalahnya di sini.
Dokter keluar. "Gimana dengan keadaan anak itu?" tanya Nicho.
"Dia kritis, dia memerlukan banyak sekali darah. Dan dia juga mengalami patah kaki yang sangat parah dikarenakan kakinya pernah mengalami benturan," jelas Dokter.
"Jika dalam waktu seharian ini dia tidak memiliki pendonor darah, maka keadaannya akan semakin parah. Kepalanya terbentur keras dengan aspal."
Nicho mengusap wajahnya kasar. "Darah apa yang dia butuhkan?" tanya Nicho.
"Dia membutuhkan darah O+ dan di sini tidak tersedia, karena golongan darah itu lumayan langka, dan sudah banyak pasien yang boking duluan," ujar Dokter.
"Baik, saya akan mencari pendonor. Saya diberikan waktu berapa lama dok?" tanya Nicho.
"Maksimal 7 jam kemudian, tapi saya sarankan lebih cepat lebih baik agar pasien tidak mengalami kelumpuhan total," ujar Dokter.
"Lumpuh?"
"Iya."
Nicho menghubungi istrinya. "Halo, Mah? Kalian berdua ke sini ya, Papa ada di rumah sakit Citra Ayu." Setelah berbincang Nicho mematikan handphonenya dan menatap ke arah ruangan Rama. Nicho bahkan belum mengenal anak itu, namun dilihat dari bentuk wajahnya sepertinya dia pernah melihat anak itu. Namun dia lupa di mana.
***
Natasya berdecak kesal mereka semua turun dan bertanya-tanya apakah warga setempat pernah melihat orang yang ada di foto yang mereka tunjukkan. "Haduh, kita nyari di mana lagi ya?" tanya Najwa.
"Kita coba ke tempat tadi, feeling gue sih dia ada di sana. Soalnya kita pernah ke tempat itu buat beli es krim. Di sana banyak es krim kesukaan Rama," ujar Natasya.
"Yaudah ayo." Atha langsung masuk ke dalam mobil. Natasya dan Najwa pun mengikuti, Atha melajukan mobil menuju jalan yang tadinya sempat macet.
"Nah di sini, coba kita tanya-tanya dulu," ujar Natasya lalu turun.
Natasya memberikan foto itu kepada warga setempat. "Oh ini, tadi dia orang yang baru kami selamatkan. Dia tertabrak mobil truk," tutur salah satu warga setempat.
"Ha? Yakin pak? Coba deh liat baik-baik," ujar Natasya, Najwa dan Atha mendekat ke arah Icha.
"Iya benar mbak, ini orang yang tadi kecelakaan di sini, sekitar 40 menit yang lalu."
Asya menjatuhkan foto milik Rama, dadanya begitu sesak. Dia menggeleng dengan cepat melihat itu Najwa langsung memegang pundak Natasya.
"Yaudah kalau begitu, Pak. Terimakasih atas informasinya, dan kalau boleh tau sekarang dia di mana ya?" tanya Najwa.
"Dia di rumah sakit Citra Ayu."
"Yaudah makasih, Pak."
Najwa membawa Natasya ke dalam pelukannya. "Lo harus tenang."
Atha mengusap wajahnya kasar, bagaimana bisa semuanya terjadi begitu cepat? Bukannya Rama sebelumnya baik-baik saja? Kenapa bisa Rama seceroboh ini? Atha rasanya ingin memukul orang sebagai pelampiasannya. Sahabatnya? Rama, kecelakaan? Kabar yang sangat-sangat membuat Atha ... sulit sekali buat diungkapkan dengan kata-kata.
"Kita harus tenang okey? Mending kita ke rumah sakit aja," ujar Najwa.
Atha melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata, hanya beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah sakit. "Suster, pasien tabrak lari sekitar 50 menit yang lalu atas nama Rama Jagad Raya," ujar Natasya yang sedari tadi tangisnya belum mereda.
"Ada di ruangan ICU. Kalian tinggal lurus saja terus belok kanan, di pojok sana ada ruangan ICU."
"Makasih."
Natasya langsung berlari bersama dengan Najwa dan Atha. Sebelum itu Atha mengabari semua teman-temannya namun dia belum bisa memberitahu bahwa Rama kecelakaan.
***
Natasya menatap ke arah kaca. Nicho berjalan menuju Natasya berdiri. "Kalian? Siapa? Kalian keluarganya pasien?" tanya Nicho.
"Iya, kami temannya Rama," ujar Atha.
Sebenarnya ada sebersit rasa benci Atha kepada Rama. Di sisi lain dia senang saat Rama seperti ini, dia tidak akan pernah lagi menjadi kapten di tim mereka lagi, dan di sisi lain lagi Rama adalah temannya, entah sekarang Atha masih bisa menyebut Rama sebagai temannya apa bukan.
Sedangkan Najwa hanya bisa celingak-celinguk, dia berharap Natasya tidak melihat Fatah di sini. Rumah sakit yang sama di mana Fahmi dan Irdina dirawat. Najwa semakin khawatir, handphonenya lowbat tidak bisa menghubungi Fatah sekarang.
"Saya yang bawa dia ke sini, dia butuh donor darah O+," ujar Nicho.
"O+?" Nicho mengangguk.
"Kami tidak ada yang punya darah golongan itu," ujar Najwa.
Nicho terdiam, bagaimana dia harus mencari pendonor buat Rama. Entah kenapa Nicho sangat memperdulikan keadaan Rama, padahal dia bukan siapa-siapa dari Nicho, keluarga saja bukan. "Makasih ya, Om. Sudah membawa Rama ke sini," ujar Najwa.
"Iya."
Tak lama Istri dan anak dari Nicho datang. Mata Natasya tertuju pada seorang pria yang baru tadi sore dia temui, dan gara-gara pria itu dia tidak bisa menghubungi Rama. Natasya berdiri dan menatap ke arah Bryan. "Kenalin dia anak saya, dan ini istri saya," ujar Nicho.
"Kenalin gue Bryan," ujarnya.
"Saya Renita," ujar Renita tersenyum.
Bryan menatap ke arah Natasya yang juga sekarang menatapinya. Najwa melihat hal itu, namun dia tidak mau mempermasalahkan itu sekarang yang terpenting adalah pendonor darah buat Rama sekarang. Dokter datang. "Gimana? Kalian sudah menemukan orang yang akan mendonorkan darah untuk pasien?" tanya Dokter.
Natasya berjalan menuju Bryan. "Ini semua gara-gara lo!" ujar Natasya sambil menunjuk ke arah Bryan. Sedangkan orang yang ditunjuk hanya cuek dan tidak peduli.
"Gue?"
"Iya! Kalau lo enggak ngambil handphone gue, Rama enggak akan kecelakaan! Gue bisa nelfon dia dan cari tau keberadaan dia ada di mana!" ujar Natasya dengan suara penuh penekanan.
Najwa dan Atha, Nicho, Renita dan dokter hanya terdiam. Bahkan mereka tidak tau sebenarnya permasalahan yang terjadi sekarang. Bryan? Kebetulan sekali. Dia adalah anak dari Nicho, orang yang menyelamatkan Rama.
Bryan malah terdiam, suasana seperti ini tidak boleh berdebat. Apalagi banyak berbicara. Najwa membawa Natasya pergi dari sana untuk membuat keadaan tidak semakin kacau. "Ca, seharusnya lo bisa kontrol emosi lo tadi," ujar Najwa.
Wajah Natasya sudah sembab, dia memang benar seharusnya dia mengontrol semuanya. Ini semua salah Natasya, salah Natasya yang membiarkan Rama pergi, salah Natasya yang lupa handphonenya ternyata ada di Bryan. Bryan datang dan memberikan handphone Natasya.
"Gue mau balikin, cuman gue enggak tau rumah lo di mana," ujar Bryan lalu pergi meninggalkan Natasya dan Najwa.
"Jadi handphone lo ada di dia? Kok bisa?" tanya Najwa.
"Tadi gue ketemu sama dia di taman dekat lapangan. Ceritanya panjang," ujar Natasya.
"Yaudah lo tenangin diri lo dulu," ujar Najwa.
"Lo masih ingat kan? Kalau Rama di sana berjuang antara hidup dan matinya? Seharusnya lo itu berdoa dan beri Rama semangat. Jangan kayak gini, yang ada Rama makin sedih dan enggak ada semangat buat hidup," ujar Najwa.
"Iya."
Mata Fatah menangkap sosok Natasya di sana. Hanya satu kata 'gawat' sangat gawat jika Natasya melihatnya di sini, sangat gawat jika kebohongannya ini terbongkar. Fatah bingung kenapa Natasya bisa di sini, dan Fatah bisa melihat wajah Natasya yang sudah sembab akibat menangis dan di sana juga sudah ada Najwa. Apakah Najwa memberitahu kalau Fahmi dan Irdina kecelakaan?—itulah yang terus Fatah pikirkan.
Bisa-bisanya Najwa senekat itu, dan inikah alasan kenapa Natasya menangis seperti itu? Bahkan hidungnya sudah merah seperti tomat. Fatah ingin melangkah, cuman dia bingung takut dia akan diamuk oleh Natasya karena tidak memberitahunya soal keadaan Fahmi dan Irdina. Fatah mengendap-endap berjalan menuju ruangan Fahmi dan Irdina.
Sesampainya di sana, Fatah menghela napasnya pelan. Akhirnya dia bisa selamat, cuman? Dia lebih bodoh lagi jika masuk ke sini bulan? Nanti Natasya ke sini dan melibat Fatah? Entah nasib Fatah akan seperti apa, cuman Allah yang tahu. Tapi, Fatah tak mau putus asa dia berjalan keluar.
Di sana ada Atha? Dan satu cowok lagi? Siapa itu? Seperti om-om. Fatah berjalan keluar rumah sakit entah dia harus kemana sekarang sepertinya dia harus pulang dulu untuk sementara waktu. Sampai ada kabar lagi. "Najwa, gue ke sana dulu ya," ujar Natasya membuat Najwa mengangguk.
Najwa dengan cepat mencari charger namun tidak ada. "Ish! Sial banget gue, tapi untung deh gue tadi liat Fatah keluar," ujar Najwa.
"Apa? Lo liat Fatah?" tanya Natasya. Najwa menoleh dan terkejut. "Eh? Enggak tadi gue bilang sial banget gue nama tadi kaki gue hampir patah," ujar Najwa.
Natasya hanya mengangguk-angguk. "Ayo gue tadi cuman cuci muka," ujar Natasya.
Natasya tidak mendapati Bryan sekarang yang ada hanya Atha, Nicho, dan Renita saja. Natasya dan Najwa duduk sambil menunggu kabar dan informasi lagi. Natasya menatap ke arah sekitar ada yang mengalihkan pandangannya. Seorang wanita yamg bodynya sangat mirip dengan Mamanya Fatah.
Natasya langsung menggeleng. Enggak mungkin, Irdina kan sekarang ada di luar negeri sama Papanya dan Fatah. Dan wanita yang baru dia liat tadi itu memakai baju pasien dan membawa alat infus. "Ca? Lo kenapa?" tanya Najwa.
"Enggak gue kayaknya rindu Papa gue deh," ujar Natasya membuat Najwa terdiam.
"Emang papa lo kemana?" tanya Najwa pura-pura tidak tau.
"Keluar negeri sama si Fatah, gue enggak diajak," ujar Natasya.
"Lah, emang bener-bener tuh Fatah ya, eh Fatah? Kok sama Fatah?" tanya Najwa.
"Kan Mamanya Fatah sama Papa gue mau nikah, jadi Fatah udah dekat duluan sama Papa gue," ujar Natasya.
"Yang sabar ya," ujar Najwa.
"Kalian enggak mau pulang?" tanya Atha.
"Gue enggak."
"Gue mau temenin Natasya aja dulu," ujar Najwa.
Atha menghela napasnya pelan. "Besok sekolah jangan sampai bolos," ujar Atha.
Dokter keluar. "Alhamdulillah donor darah selesai dilakukan," ujar Dokter.
"Namun pasien masih dalam masa lemahnya dia masih butuh pengawasan ketat."
"Alhamdulillah, siapa yang donorin dok?" tanya Najwa.
"Bryan Saputra Nicholas."
"Di mana anak saya dok?" tanya Renita.
"Dia sekarang butuh istirahat sebentar, karena baru saja selesai transfusi darah. Jadi harap tunggu dan jangan khawatir ya," ujar Dokter lalu pergi meninggalkan mereka.
Entah sekarang apa yang Natasya pikirkan. Sekarang dia jauh lebih merasa bersalah, Bryan menyelamatkan Rama. Tapi ... benar memang semua salah Natasya—pikirnya.