Inilah yang dinanti para siswa SMA se-antero jagad raya, pertandingan basket yang megah dan disaksikan oleh puluhan ribu siswa dari berbagai penjuru sekolah. Seharusnya Rama menginjakkan kakinya di lapangan DBL ini dengan tegap dan membusungkan dadanya membawa nama SMA 5 sebagai kapten. Sayangnya, cidera lututnya belum sembuh total. Rama masih dianggap beruntung karena bisa berjalan meski dengan langkah tertatih.
Matanya tidak lepaa menatap Natasya yang berada di lapangan tribun. Gadis itu nampak gugup, kakinya gemetar, puluhan ribu siswa bersorak sorai. Rama mengambil duduk di tribun paling depan, VVIP. Dalam hatinya dia sangat kecewa, di tahun terakhir dia menjadi siswa SMA 5, malah dia tidak bisa bermain untuk membawa nama sekolah mereka. Rama tersenyum kepada Natasya, hari ini babak pertama pertandingan. Babak awal penyisihan. Rama sangat yakin jika Natasya bisa mencetak score sangat banyak.
Para cheerleaders masuk ke dalam tribun dan mulai menggencarkan aksi dance penuh semangat untuk membuka awal pertandingan, mereka sebagai pemanis sebelum bara api keseruan pertandingan berkobar.
“Lo pasti bisa Nat!” bisik Atha. Natasya tersenyum mengangguk, dia menggerakkan kakinya untuk melemaskan ketegangan. Jantung Natasya berdegup kencang tak karuan, dia sangat gugup dan takut jika gagal hari ini. Natasya melirik lawannya yang ada di seberang, mereka semua tinggi dan sepertinya bukan pemain biasa. Natasya menatap dirinya di pantulan cermin, dia kini berbeda, memilki wajah yang tirus dan tubuh langsing. Berkat dietnya dia berhasil menurunkan berat badannya.
Fatah tiba-tiba berlari dari tribun ke lapangan, menuju mendekati Natasya. Dia dicegah oleh beberapa petugas lapangan, namun Fatah tetap menerobos masuk. Najwa menarik Fatah dan membekap mulutnya agar tidak diketahui oleh Natasya.
“Sssst, jangan bilang dulu sama Aca!” bisik Najwa. Fatah melepaskan tangan Najwa yang membekap mulutnya.
“Kenapa? Ini kan gawat!” ucap Fatah.
“Lo gimana sih? Kalau lo ngomong sekarang, itu bikin Aca down. Dia bisa kalah main nanti, udah kita aja yang ke rumah sakit sekarang.” Najwa menarik Fatah dan menuju rumah sakit.
Bima yang melihat Najwa panik dan terburu-buru keluar mengejar Najwa.
“Ada apaan? Kalian mau kemana?” tanya Bima. Dia sudah mengenakan baju basket dan siap bertanding setelah pertandingan Natasya.
“Bim, ini lagi darurat, gue pamit dulu ya nemenin Fatah.”
Wajah Bima nampak masam dan cemburu melihat Najwa yang menggandeng Fatah sangat erat.
“Hm.” Bima tidak mau berdebat dan juga marah kepada Najwa, lagipula mereka juga bukan sepasang kekasih, Bima menyadari siapa dirinya bagi Najwa lalu kembali masuk ke ruang tunggu pemain.
Suara musik cheerleader telah berhenti, ini saatnya Natasya dan tim putri SMA 5 berlari menuju ke tengah lapangan. Suara riuh penonton makin menjadi-jadi saat Natasya memasuki lapangan. Natasya bagai bintang dan sorotan para siswa SMA 5 hari ini. Dia tampak berbeda saat pertama kali memasuki masa ospek. Natasya jauh lebih cantik dengan tubuh langsingnya dan wajahnya yang tirus. Kepercayaan diri Natasya mulai bangkit. Dia sekilas menatap Rama yang berada di depan tribun dan tersenyum kepadanya.
Pemain lawan mulai melakukan serangan, Natasya dengan lihai menyerang kembali dan melakukan strategi man to man, dia mengambil bola dari lawan tanpa adanya pelanggaran lalu melakukan lay up. Bola mengitari ring dan masuk ke dalamnya, semua penonton SMA 5 bersorak senang, score 0 baru saja dipecahkan oleh Natasya.
Kini giliran tim lawan lagi menyerang, Natasya tidak mau lengah. Dia merenggut kembali bola basket lalu mempassingnya kepada Bella. Lagi-lagi tim Natasya kembali mencetak score dengan gerakan three poin yang dilakukan oleh Bella.
Score putri SMA 5 unggul, keringat membasahi Natasya dan dia sangat lega babak penyisihan pertama berhasil lolos. Natasya dan timnya sangat gembira, mereka sangat senang memiliki kapten seperti Natasya. Dia sangat kompak dan bisa mengatur strategi permainan dengan baik. Natasya juga tidak menggiring bola sendiri saat permainan, dia memberikan kesempatan kepada teman lainnya untuk melakukan shooting.
“Good Job Nat!” ucap coach Arlan dan memberikan semua pemain minum.
“Thanks Coach, semua ini berkat anda,” ucap Natasya sambil menerima air mineral yang coach Arlan berikan.
Rama berjalan tertatih menuju ruangan pemain, setelah ini pertandingan tim putra, dia mencoba memberi tahu Atha mengenai strategi pemain.
“Tha! Jangan pakai man to man, mereka ganas. Mending lo pake three waist.” Rama memberikan saran kepada Atha karena sebelumnya Rama sudah tau karakter kapten pemain lawan, dia tau Damian—kapten lawan adalah pemain yang sangat suka mengambil risiko. Dia yang dulu membuat kaki Rama cidera. Rama tidak mau sampai Atha juga mengalami hal yang sama.
Atha memutar bola matanya kesal, entah kenapa dia benci dengan Rama mengatur segalanya. Dia menganggap Rama sangat pengatur, padahal semenjak Rama cidera dia tidak lagi menjadi kapten, Atha yang menggantikan posisi Rama.
“Haduh, lo banyak bacot, berisik. Gue kapten disini. Lagipula udah ada Coach Arlan yang ngatur kita, mending lo urusin kaki lo ajadeh.” ucap Atha. Dia lalu melewati Rama dan meninggalkannya.
Rama tertegun dengan jawaban Atha yang tidak menerima usulannya, apalagi ucapan Atha bagi Rama yang menyakitkan. Dia tidak menyangka sahabatnya sendiri mengatakan hal seperti itu. Rupanya Rama tau jika Atha masih menyimpan rasa dendam dan amarah terhadap masa lalu.
Rama lalu berjalan menuju ruangan pemain putri, dia melewati cermin dan menatap bayangan dirinya. Sekarang Rama bukanlah Rama yang dulu, dia kecewa terhadap dirinya sendiri. Cidera di kaki Rama membuat dia tidak percaya diri lagi. Rama menatap lututnya, dia tau sekarang dia seperti orang yang cacat yang tidak lagi berguna di tim basket. Rama yakin, kakinya pasti bisa kembali berjalan normal, dia tidak mau diremehkan seperti ini, detik ini juga dia tidak mau lagi berteman dengan Atha.
“Natasya dimana? Oh ya congrats buat tim putri, kalian hebat bisa menang,” ucap Rama kepada Sebti—salah satu pemain putri SMA 5.
“Natasya lagi mandi, tunggu aja Kak disini.”
Rama mengangguk lalu duduk di samping Sebti.
“Kak Rama masih sakit kakinya? Denger-denger gara-gara cidera pas latihan di club?” tanya Sebti. Rama mengangguk.
“Iya, tapi udah enggak papa. Bisa jalan walaupun gak bisa terlalu jauh jalannya. Kadang sakit.”
“Semoga bisa cepet sembuh lagi ya Kak, oh ya Kakak habis ini mau ambil kuliah dimana?” tanya Sebti lagi
“Pasti UI lah, ambil kedokteran. Kalau bisa masuk sih. Kalau enggak ya mungkin ambil ilmu gizi.”
Sebti lalu mengambil handphonenya dan menunjukkan Rama beberapa tempat les untuk bisa lolos SBMPTN kedokteran.
“Ini yakin bisa lolos kalau les disini?” tanya Rama.
“Iya, bisa kak. Sepupu aku lolos SBMPTN kedokteran, dia sekarang kuliah di UI. Kalau kakak mau tanya-tanya sama sepupu aku silahkan, ini nomernya.”
Sebti mengirim kontak kepada Rama.
“Thanks ya,” ucap Rama.
Natasya keluar dari ruang ganti, Sebti bangkit lalu masuk ke dalam kamar mandi.
“Hei, selamat Nat!” ucap Rama mengusap kepala Natasya. Rambut Natasya masih basah karena mandi, gadis ini tersenyum senang karena Rama sangat perhatian kepadanya.
“Iya, makasih Kak. Kak Rama enggak lihat pertandingan putra? Kayanya udah mau mulai tuh,” ucap Natasya.
“Makanya, ini aku jemput kamu buat nonton bareng,” ucap Rama tersenyum sambil mengedipkan matanya.
***
“Aduh, gimana ini?” ucap Fatah bingung. Dia sedari tadi bergerak mondar mandir di depan ruang operasi rumah sakit.
“Tah, duduk kenapa sih, berdoa dulu sini jangan mondar mandir kaya semut gitu.” Najwa menarik tangan Fatah dan menyuruhnya duduk di sampingnya.
Kecelakaan beruntun membuat Fahmi dan Ajeng mengalami kritis, Fahmi mengalami perdarahan hebat dan Ajeng harus dijahit pelipisnya. Mereka mengalami kecelakaan dalam perjalanan dari kantor menuju DBL. Keduanya sangat ingin melihat Natasya bertanding, namun rupanya nasib buruk menimpa mereka.
Fatah tidak tahu apakah dia harus mengatakan kepada Natasya atau hanya diam saja. Najwa berdiri memegang handphonenya dan tersenyum senang. Kabar baik kemenangan tim putri SMA 5 mulai tersebar di sosial media.
“Fatah! Tim putri menang!” ucap Najwa kegirangan.
Fatah ikut tersenyum senang, tapi wajahnya kembali murung. Fatah sangat bingung saat ini apakah dia harus mengatakan kepada Natasya tentang kecelakaan orang tuanya. Pertandingan Natasya tidak hanya berhenti saat ini, masih ada tujuh tahap yang harus dia selesaikan untuk menjadi juara pemenang DBL cup. Fatah takut jika Natasya akan terganggu pikirannya jika tau orang tua mereka kecelakaan.
Ajeng dan Fahmi belum menikah, tapi semakin hari hubungan mereka semakin dekat, rencananya mereka akan menikah setelah Natasya berhasil memenangkan DBL Cup. Setelah berdikusi kembali, Natasya dan Rama berencana menikah saat mereka sudah di bangku kuliah.
“Gue harus bilang ke Natasya?” tanya Fatah.
“Iya, harusnya sih, masa lo mau nyembunyiin ini semua?” balas Najwa.
Fatah duduk kembali dan memejamkan matanya, sekilas ide liar memasuki kepalanya. Dia mengetikkan sesuatu di room chatnya dengan Natasya.
‘Donat, sorry Papa sama Mama enggak bisa ngelihat lo tanding, kata mereka mendadak ada panggilan ke luar negeri dan gue ikut. Btw, congrats ya lo udah menang. Good luck sampai akhir.’
Begitulah isi pesan yang dikirimkan Fatah. Natasya yang sedang asik menyoraki tim putra yang bermain, berhenti sejenak karena bunyi ponselnya. Dia membaca pesan dari Fatah dan membulatkan matanya. Natasya keluar dari kerumunan tribun dan menelpon Fatah.
“LO GILA APA TAH?” teriak Natasya di telepon. Fatah menjauhkan telpon dari telinganya mendengar teriakan Natasya.
“Gila apasih?” balas Fatah.
“Lo keluar negeri dan enggak ngajak gue? Emang kalian kemana? Kok enggak cerita sih? Terus gue gimana? Sama kak Rama di rumah? Bertiga sama bibi? Papa mana? Gue mau ngomong,” ucap Natasya berapi-api. Dia sangat marah saat ini dan ingin menghajar Fatah sesegera mungkin.
“Papa ... e ... Papa ... aduh Nat, apaan? Gue gak denger suara lo, aduh putus-putus, ntar deh ya kalau udah nyampe Swiss gue kabarin lo lagi,” ucap Fatah lalu menutup telponnya. Dia sudah melakukan hal konyol, tapi semua ini Fatah lakukan untuk melindungi mental Natasya. Dia tidak mau Natasya tidak fokus dengan pertandingannya.
“Lo bohong sama Natasya?” tanya Najwa
Fatah mengangguk lalu duduk, dia mengusap wajahnya kasar. Kali ini Fatah tidak tau apa yang harus dia lakukan untuk bisa membuat Natasya tetap bersemangat bermain kecuali membohonginya. Najwa mengusap pundak Fatah dan menepuknya pelan.
“Udah, yaudah kalau gitu lo masuk aja gue balik dulu ke DBL,” ucap Najwa.
“Tolong, jaga rahasia ini ya Na,” pinta Fatah.
“Iya, semoga nyokap sama bokap lo cepet sembuh ya.
Fatah mengangguk dan melambaikan tangannya kepada Najwa, dia lalu kembali masuk ke ruang rawat inap papa dan mamanya. Semenjak Fahmi datang ke kehidupan Fatah, dia merasakan kehangatan Fahmi sebagai seorang ayah, dia juga melihat Ajeng yang sangat bahagia memilki Fahmi. Belum pernah dia melihat Ajeng yang begitu bahagia dekat dengan Fahmi. Saat mengetahui orang yang Fatah cintai harus menjadi adiknya sendiri, dia mencoba ikhlas. Natasya tentu saja masih di hati Fatah, selamanya gadis cantik itu akan ada di dalam relung Fatah.
“Ma, Pa ... cepet bangun ya, Natasya udah nungguin mama sama papa.” Fatah mengusap tangan kedua orang tuanya. Tidak ada harapan lain bagi Fatah selain membuat orang tuanya sadar.
***
Natasya menghentakkan kakinya kesal lalu kembali duduk di samping Rama. Dia menceritakan jika semua meninggalkan ke Swiss. Rama menyerngitkan dahinya atas penjelasan Natasya, tidak mungkin jika tiba-tiba orang tuanya pergi ke Swiss tanpa memberi tahu Natasya. Aneh menurut Rama, tapi dia tidak mengatakan kecurigaannya kepada Natasya.
Mereka kembali antusias melihat pertandingan, tim putra SMA 5 jelas terlihat kalah jauh scorenya dengan tim lawan. Sejak awal Rama sudah tau ini yang akan terjadi, Atha mulai cidera, sikunya berdarah karena jatuh, tapi dia tetap bangkit bertanding. Rama melihat Atha yang sangat emosional, seharusnya pemain basket bersikap tenang namun memilki sejuta akal untuk memenangkan strategi dengan lawan.
“Gila ya kak Atha, udah berdarah gitu tetep aja main,” ucap Natasya.
“Gimana lagi? Dia emang mau menang sendiri.” Rama menjawab cuek dan masih menatap Atha yang menggiring bola tanpa memberikan kesempatan kepada teman lainnya.
Di lapangan, Bima juga terlihat kesal. Atha sama sekali tidak memberi bola kepada satu timnya, dari tadi dia hanya sibuk mengejar three poin, namun selalu meleset.
“WOI Kasih ke gue!” teriak Bima.
Atha berpura-pura tak mendengar, dia tetap menggiring bola sendirian menuju ring lawan, Atha ingin dia tersorot sebagai pemain yang handal. Score SMA 5 dengan tim lawan masih 20 – 0. SMA 5 tertinggal jauh dan waktu sebentar lagi habis.
Bima melihat ke bangku pemain cadangan, seharusnya ada Fatah disana, tapi dia tidak ada, Bima menjadi ingat Fatah yang pergi dengan Najwa.
Bugh.
Bola basket melayang ke wajah Bima, dia melamun sejenak mengingat Najwa, dia seketika cemburu. Kenapa Najwa tidak ada di tribun dan malah pergi dengan Fatah.
“b**o amat sih?” ucap Atha memaki Bima.
Bima hanya meringis kesakitan saat bola yang dilempar oleh Atha tidak dia terima dengan benar, malah mengenai kepalanya.
“Lo yang fokus dong Bim!” ucap Atha kesal.
Wasit meniupkan peluitnya, pertanda waktu istirahat. Para pemain kembali ke duduk dan minum air mineral.
“Aduh parah, liat score kita memalukan,” ucap Rasya—pemain putra SMA 5
“Kalian kenapa bisa kaya gini mainnya?” tanya coach.
“Tha, kalau ada teman kamu yang kosong, passing ke dia! Bukan malah diam saja!” teriak coach kesal.
“Iya coach,” ucap Atha menunduk
“Kamu Bima, FOKUS! Apa yang kamu pikirin hah?” ucap coach membentak Bima.
“Maaf coach.”
Pelatih mereka kembali memberikan arahan demi arahan, tidak mungkin jika membiarkan score SMA 5 masih saja 0. Pelatih mereka akhirnya memberi keputusan yang berbeda. Dia mengganti posisi, menunjuk Rasya sebagai shooter dan Bima sebagai back. Atha kembali menjadi posisi bagian kanan.
“Inget ya, kita tim. Bukan main individu. Teamwork kalian harus bagus!” bentak pelatih mereka.
“Siap coach!” jawab mereka bersamaan.
Mereka dengan semangat kembali masuk ke dalam lapangan, keringat membasahi tubuh mereka, lelah mulai menyergap diri mereka, sayangnya seberapa keras usaha mereka, kemampuan skill tim putra tanpa Rama rupanya tidak ada apa-apanya. Saat wasit meniupkan peluit sebanyak tiga kali pertanda permainan telah habis waktunya, tim putra kalah telak dengan score dua—tiga puluh.
Rama melihat mereka dengan guratan kecewa, tapi bagaimana lagi? Dia tidak bisa membantu teman-temannya di lapangan, bahkan kini dia hanya diremehkan oleh teman sejawatnya karena kakinya yang tidak bisa berjalan dengan baik.
“Kita langsung pulang kak?” tanya Natasya
Rama mengangguk dan memegang tangan Natasya, dalam genggamannya tersirat luka di hati Rama, dia tidak bisa menginjakkan kaki di tempat yang seharusnya dia menjadi leader dan memenangkan perlombaan ini. Tidak ada lagi kesempatan baginya untuk membawa nama tim putra SMA 5 bisa masuk ke babak selanjutnya.
Bagi Rama, permainan hari ini sama saja bunuh diri. Tim putra sama sekali tidak membaca pergerakan lawan, kekalahan yang sempurna. Entah dari hal ini apakah mereka semua akan belajar dari kekalahan dan kembali bangkit atau tim putra tidak akan ada lagi dalam ekstrakulikuler. Seingat Rama, kepala sekolah akan menghentikan ekstrakulikuler jika tidak memiliki prestasi apapun.
***
“Ini dia nih, kapten basket kita yang fotonya terpampang di i********: sekolah, Gaiis lihat deh, dia ternyata pacarnya kak Rama loh, dan asal kalian tau, dia ini tinggal satu rumah lo sama kak Rama, jangan-jangan Natasya udah enggak perawan lagi,” ucap Sisil dengan gayanya yang memelintir ujung rambutnya.
Natasya terkejut saat Sisil mengetahui dia dengan Rama tinggal satu rumah.
“Jangan kurang ajar deh Sil, itu namanya fitnah!” ucap Najwa membela Natasya. Meski Najwa tau jika Natasya tinggal satu rumah dengan Rama, tapi Najwa tetap ingin membela Natasya.
“Fitnah? Gue punya buktinya.”
Sisil mengambil handphone dari sakunya dan menunjukkan ke setiap murid, disana terpampang foto Natasya dengan Rama di depan gerbang rumah Natasya dan Rama ikut masuk ke dalamnya. Natasya menghela napas kasar, mau gendut ataupun kurus tetap saja dia menjadi bahan perbincangan di kelasnya, apalagi Sisil yang selalu mengusik kehidupan tenangnya. Natasya dulu berjuang diet dan berhasil turun menjadi 50 kilo, dia menurunkan badannya bukan karena keinginannya sendiri, tapi karena malu diejek oleh temannya. Tapi sekarang dia melihat, bahwa mencintai diri sendiri terkadang sangat sulit karena hanya berkaca pada orang lain.
“Lo tau gak sih? Kak Rama kemarin emang nemenin Natasya pulang bareng,” jelas Najwa.
“Tapi kan enggak perlu masuk juga kalau cuma nganterin, jangan-janga mereka bobo bareng,” balas Sisil tak mau kalah. Semua murid asik menatap mereka yang sedang bertengkar.
BRAK.
Natasya sudah tidak tahan lagi, dia membanting kursi dan mencengkram kemeja Sisil.
“Sekali lagi lo bikin onar atas nama gue, Mampus lo Sil!” ucap Natasya dengan tatapan garang.
Biasanya Fatah yang akan selalu melindungi Natasya, tapi Fatah membolos sekolah karena merawat Fahmi dan Ajeng. Meski yang diketahui oleh Natasya bahwa Fatah ke luar negeri. Kali ini Natasya tidak bisa hanya mengandalkan Fatah, dia ingin meringkus Sisil dengan tangannya sendiri.
“Lo berani sama gue?” bentak Sisil. Natasya sama sekali tidak takut, dia maju melangkah menginjak sepatu Sisil dan menekannya hingga Sisil merengek kesakitan.
“Ups, sorry.” Natasya lalu menghentakkan kakinya lagi ke atas kaki Sisil lalu duduk kembali ke bangkunya.
Semua murid terpana dengan keberanian Natasya, semenjak Natasya berubah menjadi langsing, dia kembali percaya diri dan berani melakukan apapun yang dia mau, dia tidak mau seumur hidupnya ditindas. Tapi, hingga detik ini Natasya baru menyadari satu hal, kenapa dia harus malu dengan tubuh gemuknya dulu? Dia cantik dan yang terpenting dalam hidup ini adalah mencintai dirinya sendiri.
“Nat, sabar ya. Sisil emang sukanya nyari onar,” ucap Najwa menepuk pundak Sisil.
“Iya, gue tau. Mulut dia itu harus diiket pakai tali tambang.”
Setiap hari saat pulang sekolah, Rama selalu menunggu di depan kelas Natasya. Seperti biasa, Rama selalu menjadi sorotan bagi kaum hawa yang melewatinya. Para siswi menikmati ketampanan Rama yang tidak ada habisnya. Kelas Natasya masih belum usai, guru fisika mereka masih duduk memberikan wejangan yang panjang lebar mengenai nilai mereka yang jauh dari nilai rata-rata.
Rama mengetikkan chat kepada Natasya.
‘Ca, aku udah di depan kelas kamu. Capek diliatin cewek-cewek yang lewat.’
Natasya diam-diam membalas chat Rama di kelas.
‘Bentar ya Kak.’ Natasya mendongak, melirik ke arah jendela dan dia mengedipkan matanya kepada Rama. Melihat Natasya yang sangat dekat dengan Rama membuat Sisil sangat marah, dia rasanya ingin menghancurkan wajah Natasya yang menurutnya masih kalah cantik dengan wajahnya.
Tak terasa hampir tiga puluh menit pak Bambang menjelaskan dari A sampai Z mengenai belajar, sebenarnya Natasya tidak mengingat sepenuhnya apa yang pak Bambang jelaskan, Natasya merasa bukan murid yang pemalas dan nilainya dibawah rata-rata. Meski aktif bermain basket, Natasya selalu rajin membaca bukunya.
Langit sore menemani Natasya dan Rama berjalan bersama, beberapa siswa memperhatikan keduanya. Ada yang iri, ada yang melihat mereka cocok sebagai sepasang kekasih, ada juga yang percaya dengan omongan Sisil tadi di kelas.
“Kak, kayanya kita mulai besok enggak usah berangkat sama pulang bareng deh.” Natasya mengucapkan sambil mengikat rambut panjangnya yang melambai-lambai terkena angin.
“Loh? Kenapa?” tanya Rama menyerngitkan dahinya.
“Tuh liat,” ucap Natasya menunjuk beberapa murid yang berjalan tidak jauh di belakang mereka.
“Kenapa sih?” tanya Rama bingung.
“Mereka itu sengaja ngikutin kita, mereka pengen tau kita serumah apa enggak,” ucap Natasya memberungat bibirnya.
Rama lalu mengusap kepala Natasya dan merangkulnya pelan.
“Kalau kita jalan pelukan kaya gini mereka tambah kesel enggak ya?” ucap Rama menggoda Natasya.
“Ih, apaan sih kak, astaga malu aku.” Natasya melepaskan rangkulan Rama.
Rama tertawa kecil karena Natasya wajahnya memerah malu.
“Biar aja, biar mereka tahu kalau kita emang pasangan sehidup semati.” Rama mengusap pelan kepala Natasya.
Gadis itu menunduk malu dan sedetik kemudian berlari menjauhi Rama karena wajahnya yang memerah. Rama tak tinggal diam, dia ikut mengejar Natasya, semua melihat mereka iri karena sangat serasi.
***
“Gue mau tanya sesuatu sama lo,” ucap Bima menatap Najwa begitu dalam. Perasaannya yang membuncah sudah tidak bisa dia tahan lagi.
“Iya, lo mau tanya apa? Gue mau pulang.” Najwa kembali duduk di bangku kelas.
“Lo sama Fatah ada hubungan apa?” tanya Bima dengan nada serius.
“Maksudnya? Ya cuma temen doang lah, sama kaya gue sama lo. Emangnya kenapa sih?” tanya Najwa
Fatah seketika rautnya berubah menjadi murung, dia kecewa ternyata selama ini Najwa hanya menganggapnya teman. Najwa seperti tidak mengerti perasaan Fatah yang sesungguhnya.
“Gue liat lo sama dia enggak ada waktu pertandingan basket. Lo kemana waktu gue main?” tanya Fatah.
Najwa lalu meremas ujung bajunya, dia bimbang saat ini haruskah mengatakan kepada Bima kejadian sesungguhnya jika orang tua Fatah mengalami kecelakaan. Najwa hanya takut jika kabar ini sampai ke Natasya.
“Kayanya gue ngomong sama lo di chat ajadeh ya, gue takut ada yang denger,” ucap Najwa.
Bima menyerngitkan dahinya, rahasia apa sampai Najwa sangat hati-hati. Setelah bunyi notifikasi handphone Bima berbunyi, lelaki tampan itu membuka hpnya dan membaca seluruh pesan Najwa. Dia terlihat shock atas penjelasan Najwa. Bagaimana bisa Fatah berbohong ke luar negeri padahal dia membolos karena merawat orang tuanya.
“What? Ini serius?” ucap Bima bingung.
“Iya Bim. Makanya gue ga berani ngomong sama Natasya. Mereka kecelakaannya parah.”
“Kita jenguk aja sekarang kalau gitu, gue yakin Fatah pasti kebingungan sekarang.”
Najwa mengangguk setuju, mereka lalu memesan taksi dan berangkat menuju rumah sakit. Keadaan orang tua Fatah memang sangat kritis, tapi dokter mengatakan mereka akan segera sadar dan sembuh. Namun hingga dua hari mereka belum kunjung bangun. Dokter menyatakan keduanya mengalami koma. Fatah di rumah sakit sama sekali belum makan, padahal jam sudah jam 5 sore, tidak ada selera napsu makan sama sekali, Fatah sangat bingung harus bagaimana. Sampai kapan dia harus menyembunyikan kabar kecelakaan orang tuanya sedangkan Natasya dengan Rama sedang bercanda tawa saat ini.
“Tatang!” teriak Bima, dia membawakan Fatah satu paket ayam cepat saji.
“Bima? Lo ngapain disini?” tanya Fatah.
“Sorry, gue yang bilang ke Bima soal ini, tapi gue jamin Natasya enggak bakal tau soal ini kok.”
“Nih, makan dulu Tang,” ucap Bima memberikan makanan untuk Fatah. Meski cemburu kepada Fatah, tetaapi Bima tidak bisa melihat Fatah menderita.
“Thanks. Orang tua gue koma.”
“Hah? Koma?” Dua orang itu membulatkan matanya terkejut menatap Fatah.
“Kalau gitu lo harus ngabarin ke Natasya,” usul Bima.
Fatah menggeleng, saat ini Natasya harus benar-benar fokus dengan latihan dan pertandingannya.
“Gue sekarang kan lagi liburan di Swiss, itu yang Natasya tau.”
***
Keadaan rumah Natasya sangat sepi, tidak ada tanda-tanda kehidupan disana. Rama memutuskan rawat di rumah sakit agar penyembuhan kakinya lebih cepat. Sedangkan Natasya juga tinggal di rumah sakit menunggu Rama. Di rumah hanya ada bibi seorang. Sinar mentari mulai memasuki celah goreden rumah sakit, Natasya mengerjapkan matanya dan bangkit dari tidurnya. Dia berjalan menuju ranjang Rama dan menepuk pipi Rama pelan.
“Kak, bangun Kak udah siang ini,” ucap Natasya melihat jam tangannya. Jam menunjukkan pukul sembilan pagi, sudah waktunya Rama bangun dan mandi pagi.
Rama menggeliat, dia menyipitkan matanya, rasa kantuk masih menyerangnya. Tidur di rumah sakit ruang VVIP membuat Rama merasa sangat nyaman dan enggan membuka mata. Rama hanya mengangguk dan mengerang pelan lalu kembali memeluk gulingnya. Natasya tertawa kecil dengan tingkah Rama yang sangat persis seperti anak kecil yang susah dibangunkan. Biasanya Natasya yang sulit untuk bangun, tapi karena Natasya disini menjaga Rama, dia lebih mudah untuk bangun tidur.
“Kak,” ucap Natasya lagi dan menggoyangkan bahu Rama.
“Iya,” ucap Rama. Tiga detik kemudia Rama bangun, namun masih membungkuk memeluk guling.
Seorang suster mengetuk pintu, membawakan makanan untuk Rama sarapan pagi. Natasya membuka pintunya dan suster itu masuk. Dia menyuruh Rama untuk segera mandi karena jam sepuluh pagi dokter akan datang untuk melakukan terapi pada Rama. Natasya mengangguk mengerti dan berterimakasih kepada suster lalu meletakkan makanan ke atas meja. Rama berjalan pelan menuju kamar mandi, dia menolak bantuan Natasya untuk menggiringnya ke kamar mandi, Rama tidak mau membuat dirinya bergantung kepada Natasya, dia bertekad pasti bisa akan sembuh dan berjalan normal sendiri.
Natasya lalu mengikat rambutnya, dia menyiapkan diri untuk mandi setelah Rama selesai. Natasya sampai detik ini Natasya masih penasaran, apakah benar Fatah itu ke luar negeri. Natasya selalu curiga dan bingung bagaimana dia menelpon Fatah, ponselnya tidak aktif. Sama halnya dengan kedua orang tuanya. Entah kenapa Natasya seperti merasa anak yang dibuang dan ditelantarkan begitu saja. Fahmi dulu memang sering ke luar negeri untuk menghadiri software baru atau urusan bisnis lainnya, tapi Fahmi selalu memberikan pesan dan uang saku untuk Natasya. Kali ini tidak, dia bahkan tidak bisa melihat senyum dan usapan tangan Fahmi di kepalanya sebelum mereka semua ke luar negeri. Terkadang Natasya merasa iri dan tidak adil jika hanya Fatah yang diperhatikan.
Natasya mencoba kembali menghubungi mereka bertiga yang berada di Swiss sepengetahuan Natasya, tidak ada jawaban sama sekali, hanya suara operator yang menjawab. Sebenarnya tanpa mereka sadari, mereka berada di rumah sakit yang sama hanya saja di gedung yang berbeda. Fatah juga tidak mengetahui jika Natasya dan Rama menginap di rumah sakit, sudah sejak lima hari Fahmi dan Ajeng mengalami koma, mereka berdua tidak menunjukkan pergerakan apapun yang terkadang membuat Fatah frustasi. Fatah sama sekali tidak bisa berpikir jernih, selama lima hari ini juga dia tidak sekolah. Terkadang Najwa dan Bima datang mengunjunginya diam-diam dan memberinya makanan, Fatah tidak memperhatikan bagaimana keadaannya dan terkadang lupa mengisi tenaganya. Tiap detik Fatah hanya memperhatikan Fahmi dan Ajeng.
Handphone Fatah sengaja dia matikan, dia tahu Natasya pasti akan mencarinya. Fatah percaya kepada Rama, dia yakin lelaki itu pasti bisa menjaga Natasya.
“Fatah,” panggil Najwa. Dia datang sendiri, tidak ditemani dengan Bima karena harus latihan basket.
“Najwa?” Fatah mengusap air matanya yang jatuh karena miris melihat keadaan orang tuanya.
Najwa mengusap pundak Fatah lalu memberikannya makanan. Fatah menyerngitkan dahinya, heran. Kenapa Najwa tidak memberikan kemangi dan mentimun pada makanan Fatah, padahal Fatah sangat menyukai ayam geprek lengkap dengan lalapan.
“Mana lalapannya?” tanya Fatah memberengut.
“Itu ada di kantong plastiknya,” ucap Najwa. Dia mengambil kembali bungkusan makanan pada Fatah lalu mengambil plastik berisi lalapan dan memberikannya kepada Fatah.
Wajah Fatah langsung bersinar cerah melihat lalapan di depannya, dia membuka dan memakan dengan ayam gepreknya. Dua detik kemudian semangat Fatah mengunyah terhenti, dia melihat kembali orang tuanya yang tidak bergerak sama sekali.
“Gue anak durhaka ya, orang tua gue lagi sakit gue malah makan kaya gini,” ucap Fatah sedih.
“Tah, berapa kali sih gue harus bilang. Kalau lo sakit siapa yang jaga orang tua lo? Lo juga sih pake enggak mau bilang ke Natasya,” ucap Najwa.
“Gue bingung juga Najwa, untung gue tau pin atm Mama, jadi bisa gue pake dulu uangnya buat biaya rumah sakit,” ucap Fatah.
Najwa menepuk bahu Fatah dan menyuruhnya makan kembali, bukan hal yang mudah bagi Fatah untuk tetap tegar dan sabar menunggu orang tuanya. Fatah hanya bisa pasrah dengan yang terjadi, kemungkinan terburuk yang selalu membayangi hidupnya saat ini orang tuanya yang tiada. Meski Fatah secara hukum belum menjadi kakak untuk Natasya, meski orang tua mereka belum menikah, tapi Fatah sudah menganggap mereka orang tuanya sendiri, dan Natasya meski dia sangat mencintainya, dia menganggapnya sebagai adik yang sangat dia sayangi. Fatah memikirkan jika saja orang tuanya tiada, dia akan merawat Natasya sepenuh hatinya, dia akan bekerja untuk Natasya.
“Tah, lo kenapa sih galau gitu mukanya? Ada masalah apa lagi?” tanya Najwa, Fatah terlihat tidak semangat memakan sarapannya.
“Gue takut Naj,” ucap Fatah menangis. Najwa lalu memeluk Fatah dan menepuk pundaknya.
“Tenang, Allah enggak akan membebani umatnya diluar kemampuannya. Lo pasti bisa melewati ini.”
***
Bima menyeka wajahnya dari keringat yang mengucur, pagi hari ini dia baru saja selesai melakukan hukuman karena terlambat datang latihan basket. Lima belas putaran lapangan baru saja dia lakukan. Belum melakukan latihan basket, tubuhnya sudah basah kuyup.
“Good job Bim,” ucap coach lalu menyuruh Bima bergabung dengan yang lain.
“Gue penasaran, kaki Rama bisa enggak ya sembuh?” tanya Arsya.
“Ngapain lo bingung sama kakinya Rama? Kaki lo tuh yang harusnya dipikirin, bisa enggak lari yang bener,” jawab Atha. Secara tidak langsung ucapan Atha membuat Arsya marah. Dengan sengaja Arsya mengenggam pasir dan membuangnya ke wajah Atha.
“Woi! Lo ngapain sih Kak?” ucap Bima menarik Arsya.
Atha yang kesakitan segera dibawa beberapa temannya menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan menghindari adanya luka di mata Atha.
“Jangan karena lo suka sama adiknya Atha trus lo jadi belain dia ya, lo denger kan omongan dia?” ucap Arsya marah.
“Iya, gue tau, tapi jangan kaya gini dong Kak, lo kan bisa cuma bales Atha pakai omongan, kenapa lo harus emosi?” ucap Fatah.
Arsya memukul bahu Fatah dan meninggalkan pulang. Coach mereka hanya melihat dan membiarkan pertikaian mereka, dia sengaja hanya duduk bersantai dan diam. Sejak awal dia tahu tim putra sangat sulit untuk kompak. Dia membiarkan mereka bertengkar, percuma jika latihan basket namun tidak bisa profesional. Mereka semua bocah labil yang tidak bisa menekan emosi dan mengutamakan tim.
“Kemana kamu?” ucap coach mencegah Arsya pulang.
“Saya keluar dari tim coach,” ucap Arsya.
Coach menjewer kuping Arsya dan menggiringnya ke lapangan.
“Push up lima puluh kali, sekarang.” Tatapan coach Ari tidak bisa lagi Arsya lawan, dia melakukan apa yang dia suruh. Meski sebenarnya bagi Arsya tindakan ini tidak adil.