Bab 8

1046 Words
Pagi ini menjadi sangat sunyi untuk Zakiya, dirinya terlalu cepat datang ke sekolah. Wajar saja karena ibunya masih di rumah sakit dan dia buru-buru ke sekolah padahal masih jam 6 pagi, sebuah kegaduhan di samping kelas membuat Zakiya menoleh dengan alis yang bertaut. Dia berjalan ke jendela dan mencoba mengintipnya, bisa dia lihat jelas Agatha yang sedang berkelahi dengan 2 cowok yang entah siapa. Hingga detik terakhir, Agatha menoleh dan melihat Zakiya di sana. Dia tersenyum dan langsung melompat dan masuk melalui celah di jendela, tentunya membuat Zakiya melotot heran saking terkejutnya. "Buset ...." Zakiya masih memasang eksepsi yang sama. Agatha memasang wajah datar dengan alis terangkat seolah bingung dengan Zakiya. "Kenapa? Ada yang salah? Kayaknya enggak deh, cuman lo aja yang ada salahnya. Kenapa penampilan lo kayak gini lagi?" tanya Agatha merasa tidak terima. Zakiya menautkan kedua tangannya, Agatha melihat itu langsung memutar bola matanya. "Ck, lo—" "Sebelum ngoceh, gue boleh nanya sesuatu?" tanya Zakiya. Agatha mengangguk. "Hm." "Lo masih baru kan di sini? Sama kayak gue, kita baru sebulan di sini dan sikap lo tadi ... seolah-olah lo itu kakak kelas, gue kagum sih karena keberanian lo," tuturnya. Agatha berdecak menurutnya kata-kata itu alay dan terkesan seperti apa yang dilakukan dirinya memang benar. "Sering mah gue lewat sini kalau pulang SMP, jadi yaa siapa sih yang ga kenal gue? Ya walaupun ga semuanya di dunia ini. Setidaknya hampir satu sekolah," ujar Agatha. Zakiya melotot. "WUT? SERIUS? TA-TAPI ...." Agatha menutup kupingnya. "Tapi apa anjir? Lo bisa enggak, jangan teriak gitu. Ini kelas masih kosong, kalau lo teriak mantul-mantul tuh suara." "Tapi, kenapa lo enggak malu buat temenan sama gue yang terkenal karena banci?" tanyanya ragu-ragu membuat Agatha terdiam sejenak. Agatha tertawa dan menepuk pelan pundak Zakiya. "Ramdan, siapa pun bisa gue jadiin teman asal dia enggak munafik dan suka manfaatin orang, b******n sekali pun bisa gue jadiin temen kalau emang bisa," ujar Agatha. "Dan satu hal yang perlu lo tau, gue terkenal di sekolah ini juga bukan karena bakat, prestasi atau hal di bidang akademik. Tapi, gue terkenal karena kenalakan dan juga gue bar-bar kadang, bukan kadang bahkan sering mimpin tawuran," ujar Agatha. Zakiya tidak heran jika Agatha memang seperti itu, rasanya seperti aneh saja. "Sadar ga sih?" tanya Zakiya. "Hm?" "Sikap lo itu kayak cowok, sikap gue itu kayak cewek. Kayak berbanding terbalik, dan bertukar," ujar Zakiya. "Mungkin, tapi gue tetap ada jiwa feminim kok tenang aja. Gue kayak gini cuman buat jagain diri sendiri aja, karena sekarang keluarga udah enggak ada. Jadi ya harus bisa pertahanin diri sendiri untuk hidup." "Segala sesuatu enggak harus bergantung pada seseorang, walau emang hakikatnya kita itu butuh seseorang untuk hidup. Dan gue enggak bilang kalau gue hidup sendiri, gue juga hidup butuh seseorang seperti kalian contohnya, teman dan sahabat," ujar Agatha. Zakiya terpaku dengan ucapan Agatha, sebelumnya tidak ada orang yang mengajak dirinya untuk ngobrol bersama seperti ini apalagi menyangkut soal kehidupannya. Zakiya mengangguk paham, padahal tak sepenuhnya dia mengerti akan hal itu. "Karena udah gue jawab pertanyaan gue, lo harus jawab pertanyaan gue juga." Zakiya mengangguk. Agatha memperbaiki posisinya berhadapan dengan Zaki. "Ramdan, gue mau lo dipanggil Ramdan bukan Zakiya atau Zaki. Cuman itu hak orang sih terserah cuman gue mau panggil lo Ramdan. Apakah ga risih kalau gue sebut nama itu? Soalnya pas gue bilang Ramdan, nyokap lo itu kayak ga tau apa-apa ya?" tanya Agatha. "Iya, memang. Dia cuman sering manggil gue; sayang, beby, putriku, Zakiya, Kiya. Selebihnya dia enggak pernah manggil Ramdan atau Zaki, atau pun Ramadan. Dia juga enggak pernah dengar orang panggil gue dengan nama itu," ujar Zakiya. Agatha paham. "Terus ke depannya lo mau gimana? Mau gini terus? Sampai ayam jantan bertelur?" "Gimana lagi ya, gue enggak ada pilihan lain," ujarnya dilanjut dengan helaan napas pasrah. "Lo banyak pilihan, cuman lo berfokus cuman pada satu pilihan doang. Lo enggak mikirin dampak samping kanan dan kiri, atas bawah dan depan maupun belakang." "Hidup itu berjalan b**o, jujur kalau lo kayak gini banyak yang jijik sama lo tau," ujar Agatha. Zakiya menunduk, hening beberapa saat. Agatha menatap Zaki mungkin ucapannya sedikit salah ya? "Maaf kalau lo enggak enak hati, cuman lo harus bisa biasain semua itu. Karena kehidupan enggak hanya soal manis, tapi juga ada pahitnya. Emang tahan buat selama-lamanya dianggap banci?" tanya Agatha. "Capek gue tau," ujarnya tertawa hambar. "Lemah lo, ga bisa jadi temen gue lo. Sana deh," kesal Agatha. "Gue itu blak-blakan dan enggak suka mendem hal yang kayak ginian, bikin kesel!" Pintu terbuka membuat keduanya menoleh. Galang datang dengan tas yang langsung dia lempar di meja miliknya. Tentunya membuat Zakiya mengalihkan pandangannya. Sayangnya, lemparan Galang tak tepat sasaran membuat tasnya terjatuh ke lantai. "Eh anak banci, ambilin tas gue simpan di meja gue," pintanya. Zakiya yang hendak berjalan ke belakang dicekal oleh Agatha. "Belagu lo ya, udah dibabak belurin masih aja songgong. Mau gue patahin tulang lo?" tanya Agatha. "Eh kalem ledies, gue cuman minta tolong sama si banci buat ambilin tas gue, kenapa lo yang panas sih?" tanya Galang. "Minta tolongnya yang baik makanya, enggak diajarin sama orang tuanya buat jaga attitude dan omongan?" tanya Agatha geram sendiri. "Ya sewot dia, ngapa lo sewot soal kehidupan orang tua gue? Dia ngedidik apa enggak, apa urusannya sama lo?" "Eh banci, jangan diam aja ambilin. Lo emang nggak bisa selesain ini sendiri sampai ngajak si cewek cosplay ini?" tanya Galang. Agatha melempar sebuah meja ke arah Galang namun lelaki itu dengan cepat menghindar. "Wah mainnya kekerasan," ujar Galang seolah menantang kembali. Zakiya yang merasa kelas akan gaduh dalam beberapa detik ke depan langsung melerai semuanya, pasalnya ini juga hari piketnya. Berabe jika kelas kembali berantakan saat dirinya sudah merapikan dengan sangat apik. "Wei! Udah, cuman perkara masalah tas, Agatha udah ya gue bisa kok jangan diperpanjang," ujar Zaki langsung berjalan ke belakang untuk mengambil tas Galang. Agatha kembali duduk, Galang tersenyum penuh kemenangan. "Dari tadi kek banci, si cewek kasar itu enggak bakal ngamuk," ujar Galang sambil mencibir. Agatha yang hendak membalas keduluan saat Galang sudah meninggalkan kelas. Zaki menghela napasnya pelan lalu mengambil meja yang dilempar oleh Agatha dan kembali menyusunnya. "Tenang, Agatha. Gue sama dia itu udah satu kelas semasa SMP, jadi untuk segala macam tindakan dan hinaan sudah menjadi hal biasa buat gue. So, lo tetap tenang aja," ujar Zaki dengan percaya dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD