Zakiya tau tentang kehidupan, hanya saja dirinya tak sanggup menghadapi kehidupan tersebut walau seberusaha apa pun dirinya. Karena apa yang dia harapkan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Ibunya. Bayangkan saja, layaknya seperti cita-cita tanpa restu orang tua.
Memang harus berjuang, baik fisik dan mental. Bahkan batin pun harus rela untuk tersiksa, kenapa? Ya banyak jawabannya. Zakiya ingin sekali melihat ibunya tersenyum saat dirinya menjadi pribadi dari dirinya sendiri. Bukan khayalan atau hal-hal lainnya.
"Gue tau ini berat buat lo, dan gue paham sama semua itu." Hiskia menepuk pelan pundak Zakiya.
"Zaki, semua keputusan ada di tangan lo. Jangan sampai lo stress hanya karena memikirkan hal ini," ujarnya lagi.
Zakiya menunduk lalu kembali menatap ke depan, dia tertawa sumbang. "Lo bakal ngerti kalau ada di posisi gue, His. Tapi gue mau makasih karena selalu ada buat dukung gue dari belakang," ujar Zakiya.
"Selalu mendorong saat gue terdiam dan mengulurkan tangan saat gue terjatuh."
Agatha yang merasa ada percakapan serius antara kedua sahabatnya, lebih tepatnya sahabat barunya. Langsung bangun dari tidurnya dan mengumpulkan setengah nyawanya yang masih berada di alam bawah sadar.
"Hei!"
Keduanya menoleh ke arah Agatha. Agatha langsung mengernyit lalu mengucek matanya, mencoba melihat secara jelas wajah Zakiya. Yang tadinya cool sekarang sudah terolesi dengan make up dan juga bando di atas kepalanya, Agatha tidak ilfeel atau jijik.
Cuman ....
"Kenapa, Gata? Baru liat gue kayak gini ya? Pake make up, dan bando. Gue tau lo bakal ilfeel," ujar Zakiya dengan pandangan mata ke bawah.
Agatha menggeleng. "Gak kok, biasa aja. Sering mah gue liat beginian. Takdir jadi anak liar," ujarnya sambil tertawa.
"Kalau berteman sama gue, siap-siap untuk gak baperan. Dan jangan pernah merasa kalau gue nilai orang dari fisiknya," ujarnya.
"Maaf."
Agatha berdecak saat melihat Zakiya menunduk, Agatha berjalan dan memegang dagu Zaki dan mengangkatnya hingga mata mereka bertemu. "Sumpah ya, gue enggak suka cowok yang enggak berani untuk menatap ke depan. Ramdan, gue yakin lo bisa jalanin semuanya tanpa hal ginian."
Zaki menggeleng. "Gak, ini sudah melekat di diri gue. Sulit untuk ngilangin semua itu," jawabnya.
Agatha menoleh ke Hiskia yang juga sedang menatapnya. Seolah sedang telepati bersama dengan mengatakan bahwa 'mungkin Zakiya butuh waktu.' Agatha mengusap wajahnya.
Sepertinya keadaan menjadi sangat canggung setelah ini, Agatha menyerahkan segala keputusan ini kepada Ramdan menurutnya hal itu berhak untuk dia. Agatha saja baru kenal dengan mereka, mungkin butuh waktu lebih lama untuk saling memahami satu sama lain.
Zaki menatap ibunya, yang perlahan sudah membuka matanya. Zaki tersenyum dan langsung memegang tangan ibunya. "Mama," gumam Zaki.
Agatha dan Hiskia hanya bisa melihat, tanpa komen.
Hingga Ratna-ibu Zaki sadar sepenuhnya. "Mama? Mama udah sadar, maafin Zakiya ya, Ma." Zaki dengan nada seperti anak perempuan yang sedih melihat ibunya sakit.
"Zakiya, putri Mama ...." Ratna mengusap pipi Zaki membuat Zaki sedikit terdiam, dadanya sedikit sesak namun kesehatan nyokapnya lebih penting dari apa pun sekarang.
Ratna menoleh ke samping melihat Agatha. "Dia siapa?" tanya Ratna.
"Dia teman kelas Zakiya, Ma. Dia anaknya baik suka nolong orang," ujar Zaki.
Agatha tersenyum. "Saya Agatha Pricilla, Tan." Agatha meraih tangan Ratna dan menciumnya.
Setelah cukup lama saling bertukar cerita, Agatha merasa tidak ada yang aneh sebenarnya dari jiwa ibu dari Ramdan. Sepertinya dia trauma? Mungkin saja, ya. Karena pikiran dia masih jernih apalagi soal tanya jawab, dan mendengar bahwa dia adalah pebisnis yang handal.
Cukup aneh jika dia punya gangguan jiwa kan?
Agatha meraih tasnya, melirik jam dinding. "Yaudah Ramdan, gue pulang dulu ya!" ujar Agatha.
Ratna mengernyit. "Ramdan siapa?" tanyanya merasa tidak ada nama Ramdan di sini.
"Eh, anu ... oh iya itu." Agatha melirik ke Zakiya dan Hiskia.
"Oh itu, Hiskia. Maksudnya tante," jawabnya sambil cengengesan tidak jelas. Ratna hanya manggut-manggut sebagai respon.
"Oh iya, sekalian kita bareng aja." Hiskia berseru dan berdiri sambil menyalami Ratna. Agatha pun melakukan hal yang sama.
Sepeninggalan keduanya, Zakiya sedikit terdiam beberapa saat sampai Ratna mengejutkan dirinya. "Sayang, kenapa?"
Zakiya menggeleng. "Gak apa-apa, Ma. Mama istirahat aja ya, jangan banyak pikiran," ujar Zakiya.
Ratna mengangguk dan menatap anaknya lekat, mata itu ... mata yang sangat dia rindukan. Kakaknya Zakiya, ah untuk mengingat itu kembali seperti membuka bekas jahitan yang sudah dijahit di tubuh.
"Zakiya, Mama enggak mau liat kamu lepas bando pemberian Mama," ujar Ratna.
Zakiya rasanya ingin menangis saat itu juga, namun dirinya adalah seorang cowok! Kata Hiskia cowok harus bisa kuat untuk menghadapi segala cobaan dan harus terus berjuang demi kebahagiaan orang sekitar ataupun yang lainnya.
"Zakiya, kamu janji sama Mama ya? Jangan pernah lepas bando itu apalagi berpikir kalau kamu itu laki-laki," ujar Ratna.
Dulunya, Zakiya terbiasa dengan kata-kata itu. Namun entah kenapa sekarang setiap kata itu seperti tusukan jarum di dadanya. "Iya, Ma." Hampir dengan nada yang bergetar, namun sebisa mungkin Zaki menahan tangisnya agar tidak pecah.
"Zakiya ke kamar mandi dulu, ya Ma." Zakiya langsung bergegas ke kamar mandi dengan lari letoynya.
Sesampainya di dalam kamar mandi, dia melihat wajahnya di kaca. Mengambil tisu dan mulai melap semua make upnya, sepertinya lebih baik tidak pakai make up, cukup bando sama pakaian saja sudah bisa mempengaruhi semuanya.
Zakiya menatap dirinya. Menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan, mencoba untuk bisa tegar saat ini. "Bismillah."
"Gue berjanji untuk bisa membuat Mama bahagia, walau diri gue jadi jaminannya. Tidak masalah, walau nyawa taruhannya bakal tetap gue lakuin, ini janji gue pada diri gue sendiri."
Zakiya mengusap wajahnya.
"Kebahagiaan Mama jauh lebih penting daripada kebahagiaan lo, Zaki! Lo bisa! Lo pasti bisa hadapin semuanya, bukan masalah diri lo lemah. Lo kuat, hanya saja lo belum terlatih untuk jadi yang lebih kuat," ujarnya pada dirinya sendiri.
Saat itu juga dia berjanji untuk tetap menjadi apa yang diinginkan oleh orang tuanya, entah sampai kapan? Bahkan Zaki juga tidak tau itu sampai kapan. Dia hanya meyakini dirinya untuk bisa melakukan semuanya dengan penuh keikhlasan jiwa dan hati.
Zakiya berjalan di sepanjang koridor, bahkan ada seorang anak yang tertawa melihat dirinya yang berjalan layaknya perempuan dengan bando pink kelinci yang dia kenakan. Jujur, dulu dirinya tak pernah merasa malu tapi sekarang sepertinya semuanya sudah berbeda. Iya semuanya sudah berbeda.
Zaki mempercepat langkahnya masuk ke dalam ruangan ibunya, dia berlari dan memeluk ibunya dengan erat seperti tak mau kehilangan sosok ibu yang sekarang sudah berada di dekapannya.