Ramdan

941 Words
Dia tidak takut sama sekali malah maju kedepan, dia tersenyum miring menatap remeh Galang dan Reno. Gadis itu memulai kuda-kudanya dan melambaikan tangannya seolah memanggil mereka berdua. "Sini maju, ayo maju sini." Galang tertawa menatap gadis itu, menurutnya lucu dan percuma, dia pasti kalah. "Cowok sejati enggak akan nyakitin cewek, lo gausah deh sok jadi jagoan. Udah, mending mundur." Gadis itu mulai menyerang Galang dan Reno. Dalam sekejap dia bisa meringkus mereka berdua bersamaan. Galang hanya bisa mengaduh meringis kesakitan, tubuhnya serasa remuk setelah dihajar oleh gadis itu. Keduanya ambruk dan tumbang. Dia lalu membuka ikatan Hiskia dan Zakiya. Sekilas Zakiya melirik name tag di dadanya bernama Agatha Pricillia. "Yok keluar." Agatha menggandeng Hiskia dan Zakiya keluar. Dia membiarkan Reno dan Galang yang tergeletak lemas kesakitan. "Eh tunggu." Zakiya melepaskan genggaman tangannya dari Agatha. Dia lalu kembali ke gudang, membantu Galang berdiri. Hiskia mengikuti Zakiya, dia juga membantu Reno yang babak belur berdiri. "Lo ngapain bantuin gue? Gausah sok akrab, jijik gue banci!!" teriak Galang melepaskan bantuan Zakiya. PLAK. Zakiya memberanikan dirinya menampar Galang.                                         "LO TAU? GUE BENCI SAMA LO YANG SELALU BIKIN GUE ANCUR!! LO KIRA GUE MAU JADI CEWEK?" teriak Zakiya pada Galang. Untuk pertama kali dalam hidupnya Zakiya benar-benar marah dan melawan Galang. Dia lelah untuk selalu ditindas seperti ini. Ada rasa sesak dalam hatinya yang ingin dia luapkan. Galang hanya bisa bungkam, pertama kalinya Zakiya seperti ini. Agatha maju lalu menarik kerah Galang dan Reno. Tangannya sangat kuat sampai bisa membuat keduanya tak berdaya. "Lo berdua, dengerin gue. Sekali lagi lo panggil dia Zakiya, nyawa lo akan melayang. Mulai sekarang panggil dia Ramdan. Nama dia Ramdan. R A M D A N. RAMDAN! PAHAM LO?" ucap Agatha menatap tajam kepada Galang dan Reno. Keduanya sangat lemah dan tidak sanggup lagi melawan, dia hanya bisa mengangguk dan menuruti kemauan Agatha. "Udah, ayo keluar." Agatha mengajak Zakiya keluar, kini Zakiya tersenyum senang, pada akhirnya akan ada orang yang membelanya. Mulai detik ini namanya telah berubah menjadi Ramdan. Dia sangat senang bukan main. Ada seseorang yang berani melindunginya, berani mengatakan kepada dunia bahwa dia laki-laki.   "Thanks ya, nama lo siapa?" tanya Ramdan mengulurkan tangannya. Gayanya memang sejak dulu seperti perempuan, mau bagaimana lagi? Sudah kebiasaan baginya. "Gue? Agatha. Itu tangan lo gausah lembeng begitu. Nih lurus." "Dia udah kebiasaan dari kecil kaya gitu, jadi ya maklum lah," balas Hiskia. "Oh, gitu. Jadi nama lo Ramdan kan? Kenapa lo diam aja sih waktu dianiaya diolokin gitu?" tanya Agatha. Dia paling tidak suka penindasan seperti ini. Kalau saja terjadi pada dirinya pasti Agatha akan membalas dengan berbagai tinju dan tendangan. Dia tidak mau sampai ada lagi korban pembullyan, bahkan di berita sudah banyak siswa remaja yang bunuh diri. Untungnya dia datang tepat waktu bisa menyelamatkan Zakiya. Mereka bertiga menyusuri lorong sekolah sembari menceritakan keluh kesah hidup Zakiya. Saat itu juga Agatha memberikan semangat kepada Zakiya untuk bisa menjadi seorang lelaki. "Udah, lo tuh udah SMA, mental lo harus sekuat baja. Lo jangan cengeng. Apapun yang ganggu lo, harus bisa maju hadapin. Kalau enggak mereka bakal nindas lo. Dengerin gue, nama lo itu Ramdan mulai sekarang, bukan Zakiya. Lo itu laki, harus gagah. Kalau jalan jangan bungkuk jangan lembeng juga. Nih tegak, dadanya dibusungin." Agatha memberikan contoh kepada Ramdan berjalan dengan gagah. "Iya, thanks ya." Ramdan tersenyum membuat ada rasa aneh dalam hati Agatha. Dia laki-laki yang imut, batin Agatha. "Masih siang nih, masih jam satu. Main aja gimana?" tawar Hiskia. "Boleh! Ide bagus!" sahut Agatha dan Ramdan bersamaan. Mereka lalu saling menatap, tertawa bersama. Mereka hanya perlu berjalan sedikit untuk sampai ke mall. Agatha memilih membeli gelato, menikmatinya sembari berkeliling mall. Seragam mereka tertutup oleh jaket. Ketiganya berbincang dan mulai akrab, saling mengenal satu sama lain. Seketika Agatha mendapatkan ide, sesuatu terlintas dalam benaknya. “Ram, ikut gue. His, ayo!” Agatha menarik tangan Ramdan menuju barber shop. Nama Zakiya nampak asing dengan nama Ramdan, pertama kali dalam hidupnya dia dipanggil Ramdan. Biasanya sejak kecil ibunya selalu memanggilnya Zakiya bahkan teman-temannya juga memanggilnya Zakiya. Dia menatap Agatha dengan tersenyum, berkat gadis ini hidupnya bisa berubah, dia bisa menjalani hidup sebagai lelaki. Langkah mereka terhenti pada barber shop. Agatha menarik lengan Ramdan dan masuk ke dalamnya. “Bang, gue minta temen gue ini jadi ganteng. Ganteng, BANGET!” seru Agatha. Salah satu pelayang barber shop itu lalu membawa Ramdan, menggiringnya ke kursi salon lalu merapikan rambutnya. “Eh, Bang jangan deh. Agatha, jangan ya. Ini rambut udah ditata sama nyokap gue.” “Halah, udah sana potong, ntar biar gue yang bilang sama nyokap lo.” Hiskia mencoba membela untuk Ramdan potong rambut agar terlihat seperti lelaki keren. Agatha sempat bingung bagaimana bisa rambut seperti itu yang menata adalah ibunya Ramdan sendiri. “Ki, kok bisa sih Ramdan punya rambut kaya gitu?” tanya Agatha. “Ngomongnya jangan di sini deh, keluar aja yuk.” Mereka lalu keluar dari barber shop lalu mengelilingi mall, mereka memilih membeli camilan di foodcourt. Melihat Hiskia dan Ramdan dia menjadi senang bersahabat dengan mereka berdua. Bagi Agatha aura yang mereka bawa sangat positif. “Jadi, kenapa kok bisa Ramdan gitu?” tanya Agatha, dia sudah sangat penasaran. “Ceritanya sih agak panjang, lo yakin mau dengerin?” jawab Hiskia sembari mengaduk es kopinya. Meminumnya perlahan merasakan segar di tenggorokannya. “Iya, kenapa?” tanya Agatha. Hiskia menarik napas lalu menceritakan semua tentang masa kecil Ramdan, dia menceritakan bagaimana ibunya Ramdan yang selalu menganggap anak itu perempuan. Ibunya mengalami trauma semenjak meninggalnya suami dan anak perempuannya. Sebenarnya ibunya tidak gila, buktinya sampai saat ini ibunya bisa menjalankan bisnis dengan baik bahkan sukses. Mendengar hal itu Agatha menjadi sangat paham jika seseorang akan benar-benar hancur jika kehilangan anggota keluarganya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD