Hiskia menatap Agatha dengan takjub, dia tidak menyangka jika Agatha sangat antusias mendengarkan semua penjelasan tentang Zakiya.
"Gue prihatin dengernya, kasian aja sama Zakiya, dia pasti kena mental health."
"Iya, tapi dia udah berusaha kuat, lo santai aja. Dia juga sebenernya masih normal sih, cuma dia berkelakukan kaya cewek biar bunda dia seneng aja."
Agatha lalu menjetikkan tangannya ke udara, dia tersenyum lebar.
"Gue tau, dan yakin bisa ngerubah Zakiya. Gue yakin sih kalau Zakiya bisa berubah. Yah walaupun gak langsung, kebiasaan bisa dirubah kok, gimanapun juga gak mungkin kan Zakiya bakal gitu terus sampai dewasa? Dia harusnya udah bisa buka mata. Semakin besar dan tua, dia harus bisa jadi pria sejati."
Hiskia terperangah mendengarkan ucapan Agatha, dia tidak menyangka jika menemukan perempuan seperti dia.
"Woah, sip, gue juga mau bantu Zakiya deh."
Agatha mengangguk senang, dia memiliki rencana besar bagaimana membuat Zakiya bisa terlihat lebih cool dan tidak terlihat seperti banci.
"Btw, Zakiya mana?" tanya Agatha melihat sekeliling kelas, sedari tadi Zakiya belum terlihat.
"Loh, mana ya dia? Tadi kan ada di sini."
Seketika mereka panik karena Zakiya tidak ada. Sebelum bel berbunyi, mereka mencari Zakiya di sekeliling sekolah.
"Waduh kemana ya dia?" Hiskia panik dan mencari ke seluruh penjuru sekolah dengan Agatha namun tidak menemukan keberadaannya.