Bab 16

1061 Words
Hari pertama melakukan aksinya, Ramdan menjadi Ramdan di sekolah dan akan menjadi Zakiya di dalam rumah. Sepertinya jauh lebih baik ya? Ramdan juga tidak merasakan adanya kesulitan untuk hari ini. Hanya saja, jarang terjadi masalah sekarang. Galang dan Reno pun sudah tak sering mengganggu, mereka hanya sibuk dengan eskul mereka yaitu basket. Tidak ada yang peduli untuk saat ini bagaimana penampilan Ramdan, dan Ramdan tak perlu keperdulian itu. Dia hanya ingin aman saja, sudah cukup untuk dirinya. Hari ini memang sebuah keberuntungan untuk dirinya, karena beberapa hal di antaranya karena dia mendapatkan nilai A+ di kelas, satu-satunya. Dan itu sebuah pencapaian bagi dirinya. "Keren, gue kedua setelah lo," ujar Hiskia sambil bertos ria dengan Zaki. "Dan lihatlah gue yang tidak peduli dengan nilai. Dan btw, sekarang teman gue pada ganteng ya? Enggak ada yang cupu lagi! Hore!!" ujar Agatha girang. Hiskia dan Zaki saling bertatapan satu sama lain seolah mengibaratkan bahwa ini juga suatu keajaiban buat mereka bisa seberani ini mengubah diri menjadi orang pada umumnya. *** Enggak jauh-jauh selepas dari pada Agatha mengajarkan banyak hal untuk Hiskia dan juga Zaki, Aluna pun turut membantu akan hal ini. Karena kebetulan dirinya dekat dengan sang Abang jadi, Aluna banyak tau soal laki-laki. "Jalan coba deh, gue mau lihat lo jalan." Agatha mendorong tubuh Zaki. Zaki menghela napasnya pelan. Lalu mulai berjalan dengan jalan biasa yang dipakai. "Ih enggak-enggak itu kaku banget sumpah ya, lo kalau enggak letoy pasti kaku," kesal Agatha. Zaki menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sambil menatap Agatha. "Coba lo His," ujar Agatha. Hiskia berdiri dan mulai berjalan layaknya cowok pada umumnya, biasa dan tidak kaku sedikitpun. "Nah ini nih, jangan kaku tapi badan tetap harus tegak tapi jangan KAKU! Ya nikmatin aja jalannya." Aluna menyuruh Zaki untuk memperbaiki posisinya. "Ck, kalau Hiskia mah, dia cuman penampilan aja yang enggak memadai kalau gue mah emang hampir 90% semuanya kayak cewek," ujar Zaki tak terima. "Iya makanya kita bantu nih," ujar Aluna. "Jalan jangan biarin kaki kayak selang seling kayak model gitu, itu khas cewek bukan cowok," ujar Agatha. "Hem benar, kalau cowok itu jalan lurus aja berlaku untuk kalangan pada umumnya dan tak berlaku untuk model hehe," ujar Aluna. Setelah masa istirahat digantikan dengan Zaki yang belajar berjalan seperti cowok, akhirnya cowok itu bisa sempurna dalam melakukan itu. Semuanya bersorak girang kecuali Hiskia yang hanya memasang senyum bangga pada Zaki. ***. Tiga hari berlalu begitu saja, detik demi detik, jam demi jam, dan hari demi hari sudah Zaki lalui. Dan semuanya berhasil sesuai dengan rencana yang dia jalankan, sungguh bahagia bagi dirinya karena mampu melakukan semua ini. Namun, akhirnya Zaki memilih untuk beristirahat sejenak mencoba untuk tetap menjadi Ramdan baik di rumah atau di sekolah. "Guys, gue capek." Ramdan mengeluh. "Capek kenapa?" tanya Aluna. "Hm, capek harus gonta ganti pakaian kalau mau pulang dan ke sekolah. Capek untuk semua itu," ujar Ramdan. Agatha memegang pundak Ramdan. "Ck, ini semua demi kebaikan lo, jangan nyerah ya? Gue tau lo pasti bisa hadapin semua ini. Dan gue yakin lo bisa," ujar Agatha tersenyum. "Iya semangat Ramdan! Kami bangga dengan hasil kamu beberapa hari ini, begitu banyak pujian dan seperti nyinyiran hampir tidak berlaku untuk kamu deh," ujar Aluna. "Tapi bentar deh," ujar Hiskia yang fokus dengan handphonenya. "Kenapa?" tanya mereka serempak. "Enggak jadi." *** Malam itu kebetulan sekali ada party di rumah Hiskia, dan hanya mengajak mereka bertiga saja tidak ada orang lain. Banyak sekali tamu di sana, hanya saja Ramdan tak melihat sosok Agatha. Hanya ada Aluna dan juga Hiskia. Tumben sekali, pikir Ramdan. Langkahnya dipercepat menuju Hiskia dan Aluna. "Hm, Guys? Agatha belum ada?" tanya Ramdan. "Loh katanya dia mau pergi bareng kamu, dia ngechat tadi," ujar Aluna. "Emang iya? Dia enggak ngabarin gue sama sekali," ujar Ramdan mengecek handphonenya kembali. "Gue call ya." Ramdan pergi dari tempat kerumunan dan mencoba menelfon Agatha, hingga panggilan terhubung. "Halo? Lo di mana? Kenapa belum datang?" Terdengar suara angin dari seberang sana. "Oh iya sorry gue lupa, lagian gue ada kerjaan. Titip salam sama Hiskia ya, maaf gue enggak bisa datang. Selamat bersenang-senang." Telfon dimatikan sepihak. Ramdan menghela napasnya pelan, tidak seru jika tidak ada Agatha. Karena tak mau merusak suasana, akhirnya Ramdan masuk ke dalam. Pesta berlangsung dengan seru, kini jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, Ramdan dan Aluna juga sudah mau pulang. Sepulang dari sana, Zaki langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengganti pakaiannya, dan langsung tidur karena tubuhnya sangat lelah. Mencoba masuk ke alam mimpinya. *** Deringan alarm berbunyi nyaring di kamarnya, dengan lesu dan tak bersemangat dia langsung mematikan alarm itu dan bergegas mandi, melakukan rutinitas pagi seperti biasa. Zaki turun ke bawah dan melihat tidak ada ibunya, kemudian dia beralih pada meja makan dan melihat sebuah surat di sana. [ Kamu makan ya, ini Mama. Mama mau ke kantor buru-buru ada proyek yang mau diselesaikan dengan cepat. Kamu sarapan, jangan enggak! Selamat beraktivitas anakku. ] Zaki tersenyum kecil lalu mulai memakan sarapan buatan Mamanya. Selang 20 menit dirinya sampai di sekolah, hanya beberapa anak yang menyapa dirinya. Tasnya dia biarkan digendong di bagian tangan kirinya, ini yang diajarkan oleh Agatha dan Aluna padanya. Ternyata menjadi seperti ini jauh lebih enak dan nikmat ya? Dirinya terlihat memang jauh lebih keren dari biasanya. Satu tangan merangkul dirinya membuat tubuh langsung menunduk karena gadis yang sedan merangkulnya itu pendek. "Hm, sorry gue semalam enggak bisa pergi," ujar Agatha. "Santai aja kali," ujar Zaki. "Btw gue boleh tau rumah lo di mana? Kapan-kapan gue bisa ke sana gitu, sekali aja," ujar Zaki. "Hm, gue ini kerja di suatu tempat. Dan jarang untuk pergi ke rumah, so kalau pun lo mau ke rumah gue itu semua enggak bisa," ujar Agatha tertawa. "Lo kerja?" tanya Zaki. Agatha mengangguk. "Iya iyalah, gue ngapain selama ini bisa hidup dan makan anjir? Lo pikir gue bisa makan tanpa kerja, gue kan tinggal sendiri. Nyokap bokap udah pergi," ujar Agatha. "Sorry." Agatha memukul lengan Zaki. "Apa-apaan sorry, santai aja. Kematian itu pasti akan terjadi." Seperti kata-katanya Aluna ya? Pikir Zaki. Mereka itu memiliki kesamaan dan juga perbedaan menurut Zaki, yang satunya tomboy dan satunya feminim. Namun dalam pemikiran mereka seperti tak ada bedanya. Ah kenapa Zaki malah memikirkan ini sih? "Yaudah kita ke kelas ya." Zaki berjalan lebih dulu. Agatha mencekal tangannya. "Ini, lo bisa pergi ke sini kalau lo butuh gue. Chat gue kalau lo mau ke sana, gue kapan pun bisa di sana tapi enggak pasti."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD