Bab 15

1047 Words
Pagi ini pagi yang sangat bahagia untuk Zaki, entah kenapa karena tidak ada satupun dari orang-orang di sekolah ini yang mengejeknya atau merendahkan dirinya. Mungkin hari ini adalah hari khilaf sedunia? Makanya tidak ada yang berbuat dosa dengan menghina Zaki? Langkah masuk ke dalam kelas, Agatha dan teman-temannya seperti biasa duduk di kelas menunggu guru. Zaki menatap heran orang-orang di kelas, dia mendudukkan tubuhnya di bangku dan membuka bukunya dan membacanya. Pelajaran selesai begitu saja, Agatha memanggil semua temannya untuk berkumpul dan membahas sesuatu. "Gue ada rencana untuk ke depannya, gue harap kalian ikut ya!" ujar Agatha. "Rencana apaan? Jangan aneh-aneh please," ujar Hiskia. "Enggak kok, gue cuman pengen liat lo berdua sepenuhnya bersikap kayak cowok! Jangan ngadi-ngadi untuk terus diejek ya," ujar Agatha tak mau tau. *** Sore itu, Agatha membawa mereka untuk berlatih silat bersama, mulai dari jurus-jurus awal hingga perlawanan dan juga menghindari lawan. Serta pukul-pukulan yang tepat saat sedang berkelahi dengan orang yang sok jagoan, atau ketua genk maupun berandalan dan preman. Aluna terus menerus menatap Zaki dan Hiskia yang sangat serius berlatih, dan melihat Agatha yang 100% mengajar tanpa membedakan keduanya, sama-sama dilatih serius. Aluna bersorak saat mereka berhasil melakukan jurus-jurus yang Agatha perintahkan untuk mereka. "Kalian hebat!" ujar Aluna. "Kalau aku bisa enggak? Diajarin juga kayak gini?" tanya Aluna dengan semangat. Agatha menatap Aluna dari bawah hingga atas. "Kalau mau berlatih ini, harus pakai celana." Agatha mengambil seragam dan memberikannya kepada Aluna. "Wah! Aku pake ini juga?" tanyanya dengan mata berbinar. Agatha tertawa. "Iya lah, emang kenapa?" "Gapapa! Aku ganti dulu." Selang beberapa menit setelah mengganti pakaian, Aluna mulai melakukan aksinya dengan beberapa ajaran dari Agatha. Kini giliran Hiskia dan Zaki untuk beristirahat, melihat Aluna yang sangat bersemangat melakukan latihan ini. Zaki menatap gadis mungil itu yang tingginya sama dengan Agatha, ya walaupun Aluna sedikit lebih pendek. Mungil untuk tubuh anak SMA seperti mereka, apalagi untuk Agatha yang sekarang. Gadis tomboy yang bisa melakukan segala hal dengan mandiri tanpa bantuan orang-orang. Aluna sudah bisa melakukan beberapa jurus, dan itu sudah membuat dirinya lelah. Keringat dingin menghampiri tubuhnya, seketika dia lemas dan wajahnya menjadi pucat pesi. Agatha yang baru saja ingin memberikan air kepada Aluna, gadis itu sudah terkepar di lantai. "ASTAGFIRULLAH! ALUNA!" teriak Agatha menghampiri gadis itu, dan mencoba menyadarkannya. Namun nihil untuk itu. Kemudian Agatha langsung menggendongnya di belakangnya dan membawanya pergi dari sana. "GES CEPET! ALUNA PINGSAN INI!" Agatha berteriak, Zaki dan Hiskia langsung berlari mengikuti Agatha yang sedang berlari dengan Aluna yang berada di punggung cewek itu. Dilihat seperti ini, Agatha terlihat sangat kuat. *** Sampainya di rumah sakit, saat brangkar itu didorong oleh suster. Agatha langsung teringat untuk memberitahukan kepada orang tua Aluna. "Mana handphone Aluna? Kasih kabar ke orang tuanya!" ujar Agatha. Aluna tersadar, dengan lemasnya dia memegang tangan Agatha sambil menggelengkan kepalanya. "Jangan, mereka gaperlu tau," ujarnya. Saat itu juga Agatha berhenti berlari membiarkan brangkar itu dibawa oleh suster masuk ke dalam ruangan. "Nih, gue dapet nih nomor Mamanya," ujar Hiskia. "Katanya jangan." "Maksudnya?" "Jangan ditelfon, enggak perlu tau katanya Aluna. Yaudah kalau emang dia bilangnya gitu, kita harus bisa hargai mungkin ada beberapa hal yang belum kita tahu tentang gadis itu," ujar Agatha. Setelah diperiksa oleh dokter, dokter keluar. "Gimana keadaan teman saya dokter?" tanya Agatha. "Di mana keluarganya?" "Hah? Kami keluarganya kok dok, emang ada apa dengan Aluna?" tanya Agatha. "Dia punya penyakit Asma, dan ini sudah sangat lama. Dan dia jarang sekali cek ke dokter, ini yang membuat tubuhnya sangat lemah dan jika dia capek dia langsung pingsan," ujar Dokter. Agatha dan teman-temannya saling bertatapan. "Terus gimana dok?" tanya Zaki. "Dia harus banyak istirahat, jangan stress, dan sering-sering bikin dia bahagia ya. Dan yang terpenting jangan lupa minum obat dan sering sediakan inhaler untuk dia," ujar Dokter. "Baik dok, terimakasih." Zaki dan temannya masuk ke dalam ruangan, Aluna sudah sadarkan diri sedari tadi sebelum sesaat teman-temannya masuk, gadis itu hanya menatap ke atas dengan tatapan kosong. "Aluna ...." Agatha memegang tangan Aluna. Aluna menatap Agatha, saat setelwah mereka itu tangisnya pecah saat itu juga. "Kenapa? Kok nangis?" tanya Hiskia. "Kalian baik banget, maaf ngerepotin." "Santai aja, Lun. Kita udah anggap lo sebagai sahabat kami kok," ujar Zaki tersenyum. "Maaf ya." "Lun? Gue boleh nanya sesuatu?" Aluna mengangguk. "Kenapa lo enggak mau kasih tau orang tua lo? Atau keluarga lo tentang semua ini? Lo udah tau soal penyakit lo ini?" tanya Agatha. "Belum, mereka enggak perlu tau. Mereka enggak peduli, terakhir aku ngeluh juga mereka enggak ada yang peduli. Semenjak kepergian Abangku, semuanya udah berbeda." "Aku boleh curhat?" tanya Aluna. Semuanya mengangguk. "Aku capek, mereka hanya menginginkan anak laki-laki saja. Seperti abangku yang sudah meninggal, aku diacuhkan setelah dia tiada. Mereka enggak ada peduli, kalau dipikir-pikir kehidupan aku dan Zaki kayaknya sama ya? Bedanya, Zaki masih bisa mendapatkan kasih sayang seorang ibu walau jiwanya seperti itu," ujar Aluna. "Sedangkan aku? Bahkan disentuh saja sepertinya enggak akan bisa lagi deh, jadi ya gitu deh. Hahah, kalian enggak usah kasian atau apa, aku biasa aja kok. Cuman bersyukur mereka masih mau sekolahin aku," ujar Aluna. "Kenapa? Mereka ingin anak laki-laki?" tanya Hiskia. "Biasa, anak laki-laki itu kesannya bisa nerusin bisnis dan lain sebagainya. Aku mah bisa apa? Penyakitan kayak gini juga, bisa hidup mah beruntung banget sumpah," ujar Aluna. Zaki terdiam beberapa saat. "Kalian baiknya tukeran enggak sih, gue enggak kasian ya. Cuman prihatin aja sama kehidupan kalian yang kayak gini, orang tua itu harus bersyukur apa pun jenis anaknya," ujar Agatha. "Heran deh gue, ada ya orang tua yang gitu. Maaf-maaf aja ya, cuman gue enggak munafik untuk bisa memberikan pembelaan untuk orang tau kalian, hilang respect tau enggak." Agatha bersedekap d**a. "Ya begitulah, mau gimana lagi." Zaki pasrah. "Yang sabar ya, kita semua ada buat lo, Lun. Jangan sungkan untuk minta bantuan sama kita, jangan malu ya?" tanya Zaki. Aluna tersenyum. "Iya Lun, anggap kita keluarga lo aja ya. Jadi tempat pelarian kalau ada masalah, tapi tetap orang tua lo harus tau tentang penyakit ini," ujar Hiskia. "Jangan ditutup-tutupin lah, Lun. Mereka berhak tau." "Berhak tau? Buat apa sih, kalau mereka aja enggak bisa perduli sama aku, ngapain gitu? Enggak guna sumpah. Aku sebagai anaknya aja udah capek," ujar Aluna. "Yaudah itu keputusan lo, kita hargai. Yang terpenting lo tetap jaga kesehatan dan jangan stress kata dokter, obatnya rutin dimakan ya!" ujar Agatha.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD