Bab 14

1051 Words
Agatha terus bercerita tentang sekolah ini kepada Aluna, gadis itu hanya memasang senyum seolah paham dengan semua isi cerita Agatha. Agatha menoleh ke Zaki yang sedang sibuk berjalan dengan tatapan tunduk ke bawah seolah tak mau melihat orang-orang di sekitarnya. Aluna yang tadinya menatap Agatha beralih menatap ke Zaki. "Kenapa, Ramdan?" tanya Aluna tepat sebelum Agatha bertanya. Agatha mengernyit, kemudian tersenyum. Akhirnya ada juga menemaninya menyebut nama 'Ramdan' untuk Zakiya. "Hah? Gue?" Zaki melongo. "Iya gue enggak apa-apa, kalian kenapa berhenti?" tanya Zaki. "Ya karena lo, jalannya kayak gitu banget," ujar Agatha disambut anggukan oleh Aluna. *** Karena kesepakatan mereka berempat untuk ke kantin depan sekolah sebelum pulang, Hiskia juga sudah sempat berkenalan dengan Aluna. Karena Agatha sangat percaya bahwa Aluna adalah sosok orang yang bisa dipercaya jadi mereka membawa gadis itu menjadi teman mereka. Walaupun masih banyak privasi yang harus mereka jaga agar tidak terjadi kesalahpahaman akan semua hal. "Jadi gini, sebelum terjadi apa-apa ya. Aluna sebagai teman baru kita harus tau kekurangan dan kelebihan kita masing-masing di sini," ujar Agatha. "Terutama lo harus tau tentang Zakiya Ramadhan." Agatha menatap Zaki yang sedang duduk tenang dengan mata yang memandang luas ke depan. Rooftop ini jarang sekali ditempati oleh orang-orang kecuali anak-anak seperti mereka. Karena anak-anak nakal dan cabe-cabean lebih memilih kantin daripada rooftop. "Iya, terus?" tanya Aluna. "Zaki ini sering di-bully oleh orang-orang di sekitarnya, dianggap banci dan selalu diejek hal-hal lainnya," ujar Agatha. "Kalau emang lo enggak bisa berteman dengan Ramdan, terpaksa lo harus bisa relain kita semua. Karena gue dan Hiskia lebih mengutamakan Ramdan, deal?" tanya Agatha. Aluna menatap Ramdan dan tersenyum. "Deal!" "Bagus." Setelah banyak sekali perbincangan di antara mereka Agatha memiliki banyak sekali ide untuk Ramdan. Namun tak satu pun dari ide tersebut disetujui oleh Ramdan dan terpaksa Agatha memikirkan ide yang jauh lebih baik. Agatha tidak munafik untuk tidak memperdulikan kondisi Zaki yang terus menerus seperti ini, capek rasanya jika Zaki harus terus dibully dan diejek oleh orang-orang padahal dia tak punya salah sedikit pun. "Eh tapi, aku boleh nanya enggak?" tanya Aluna disela-sela mereka berbincang. "Ramdan, dulunya kok bisa kayak gini? Ada penyebabnya atau gimana? Maaf ya kalau pertanyaannya lancang atau kayak gimana, aku serius nanya." Aluna menatap Agatha, Zaki dan Hiskia. "Ibunya." "Kenapa dengan ibunya?" Pertanyaan itu membuat Agatha menoleh ke Zaki, mungkin jauh lebih baik jika lelaki itu yang langsung bilang tanpa Agatha yang berbicara. "Em gini, gue dulu punya saudara perempuan. Dia meninggal karena kecelakaan, kebetulan ibu gue sayang banget sama saudara gue itu makanya dia sedikit gila dan terobsesi dengan anak perempuan. Dan you know lah apa yang terjadi," ujar Zaki. Aluna paham. "Terus, emang harus ya di sekolah juga berpenampilan seperti ini? Padahal ibunya Ramdan kan, tidak ada di sekolah ini." "Minimal sekolah tempat Ramdan jadi diri sendiri." Agatha terdiam sesaat, dia menjentikkan jarinya seperti memiliki sesuatu ide. "Gue punya ide!" "Gimana kalau di sekolah lo itu tampilannya seperti biasa aja, kayak cowok pada umumnya. Kalau mau pulang baru deh lo pake wig," ujar Agatha. "Rumit enggak buat lo?" tanya Hiskia. Zaki menghela napasnya pelan. "Astagfirullah, begitu susah sekali cobaan hambamu ini ya Allah." Zaki mengelus dadanya serasa beristighfar kepada Allah. "Gue coba, yang penting kalian semua bantu dan dukung gue terus menerus ya!" ujar Zaki. "Kalau itu mah pasti." Semuanya menyatukan tangannya dan menyoraki sambil tertawa. Agatha baru kali ini bisa merasakan bagaimana menjalani hidup bersama dengan orang-orang yang bisa menerima sikap dan kasarnya dirinya, toxic dan lain sebagainya. **** Sepulang sekolah dirinya langsung mengganti pakaiannya, dia langsung turun ke bawah. Terlihat ibunya yang sedang menjahit sesuatu entah apa, Zaki menghampirinya. "Eh kamu, udah makan?" tanya Ratna. "Iya mah udah tadi pas di sekolah," ujar Zaki. "Kalau lapar, makan aja dulu ya." "Mama lagi sibuk ya? Ngejahit apa sih?" tanya Zaki. "Ini loh, jaket rajut buat kamu. Warna pink salem gitu cantik enggak?" tanya Ratna dengan senyum yang berbinar. Zaki tersenyum walau dalam hatinya begitu hancur, kapan ibunya bisa menatap ke depan melihat bahwa ZAKI INI LAKI-LAKI. Sering sekali Zaki berdoa untuk kesehatan ibunya, membuka mata hati ibunya, dan semoga saja. Zaki sangat percaya bahwa Allah tak akan menguji hambanya di luar dari batas kemampuannya. Pasti bisa. "Makasih ya Ma, Mama udah ngelakuin banyak hal untuk aku, aku enggak bisa balasnya gimana bingung. Mama the best pokoknya, dan aku mau kasih tau ke Mama kalau jangan terlalu repot untuk semua ini, Ma." "Jaga kesehatan Mama, jangan sampai capek ya, Ma." Zaki mengelus-elus pundak ibunya. "Iya sayang, kamu juga gih istirahat. Masuk ke kamar ya, belajar nanti Mama bawain jaket rajut ini kalau udah selesai," ujar Ratna mengelus kepala Zaki. *** Zaki menghempaskan tubuhnya di kasur. Dia mencoba menenangkan pikirannya, rasanya untuk menikmati kehidupan seperti biasanya itu sulit. Padahal Zaki bisaa menjalani semuanya dengan baik-baik saja, namun sekarang kenapa jadi seperti ini. Zaki melihat fotonya bersama dengan Agatha. Karena gadis itu, dia banyak berubah, Zaki bersyukur kepada Allah dikirimkan teman seperti Agatha, Zaki memang lemah namun dia tetap dikuatkan oleh orang sekitarnya. "Dan buat Papa, aku bangga jadi anak Papa yang bisa menjaga ibu seperti apa yang Papa minta." "Maafin kalau Zaki banyak salah sama Papa dan Saskia," ujar Zaki dengan napas yang tersentak. "Rasanya pengen banget peluk kalian, pengen banget kumpul bareng sama kalian. Kenapa sekarang hampa banget ya?" tanya Zaki dengan air mata yang entah sejak kapan sudah turun membasahi pipinya. "Maafin, karena belum bisa jadi seperti yang Mama inginkan, maafin karena belum bisa jadi seperti apa yang Papa inginkan. Saskia, untuk kamu sekarang aku berjuang." "Demi kamu, Saskia. Mama rindu sama kamu, dengan perantara aku, dia mengobati rindu ini." Zaki menatap foto Saskia. "Lihat, Kak. Ini semua buatan Mama untuk kamu, bukan aku! Aku hanya perantara karena kerinduan seorang ibu, kapan Kak Saski bisa kembali ke sini? Kenapa ninggalin Zaki dengan beban seperti ini, Kak? Kenapa bukan Zaki aja yang pergi dan Kaka tetap di sini. Zaki bingung harus bersikap seperti apa untuk ke depannya menghadapi sikap Mama yang kayak gitu," ujar Zaki tak henti-hentinya berkeluh kesah atas semua yang dia alami. "Berapa tahun Zaki harus kayak gini? Apakah sampai Zaki meninggal?" tanyanya dengan isakan yang terdengar. Ketukan terdengar, Zaki dengan cepat menyekat air matanya. Dengan langsung yang gonta ganti dia membuka pintu. "Selesai! Coba kamu coba deh, ini nyaman dipakai kalau musim hujan, atau mau ke mana gitu," ujar Ratna. Zaki memeluk ibunya. "Makasih, Ma."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD