Hari berlalu begitu cepat, sehari setelah mereka melakukan aktivitas pembelajaran yang cukup membuat otak dangkal dan bermasalah. Zaki kini kembali dihadapkan dengan situasi yang tak memungkinkan untuk dirinya, ibunya kembali kambuh dengan d**a yang sesak.
"Untuk saat ini, ibu kamu hanya perlu ketenangan saja. Dan jangan terlalu membuat ibu kamu stress berlebihan ya," ujar Dokter.
"Oh ya kamu harus selalu bikin dia bahagia, rajin-rajin kamu kontrol bareng ibu kamu ya," jelas Dokter membuat Zaki paham dan berterimakasih.
Zaki berjalan masuk ke dalam ruangan, sampainya di sana dia langsung memeluk ibunya dan mengelus pelan tangan ibunya dan mengecupnya. "Mama jangan terlalu capek ya? Perusahaan masih bisa ditanganin sama asisten Mama," ujar Zaki.
"Zakiya, rambut kamu kenapa begitu sayang?" tanya Ratna sambil mengusap kepala Zaki.
Zaki memegang tangan Ratna. "Ini besok juga bisa kembali lagi, Mama tenang aja ya."
Ratna mengusap pipi Zaki. "Ini lebam kenapa ya?" tanya Ratna.
Zaki menunduk. "Oh ini, cuman kepentok kok, Ma. Enggak sakit juga."
"Jangan bohong, ini bekas pukulan sayang. Siapa yang berani bermain tangan sama kamu, Nak?" tanya Ratna.
"Ma, Mama jangan khawatir dengan ini. Mama fokus sama kesehatan Mama aja," ujar Zaki.
"Zakiya, Mama enggak bisa tenang kalau lihat rahang kamu kayak gitu, Nak. Siapa yang ngelakuin ini sama kamu? Tanya Mama nak ...."
"Kalau kamu enggak mau tanya Mama, Mama enggak bakal mau makan," ujar Ratna.
Zaki menggeleng. "Jangan gitu, Ma. Ini udah lewat juga kok, jangan dibahas ya? Fokus sama kesehatan Mama dulu, Zaki enggak mau Mama kenapa-kenapa."
"Yaudah kalau kamu enggak mau Mama kenapa-kenapa, kamu tanya ke Mama siapa yang lakuin ini sama kamu."
**
Pagi ini dengan semangat baru tentunya, Agatha menggandeng tasnya dan masuk ke dalam kelas. Tibanya di sana, dia langsung mendapatkan sorot tatapan semua orang. Dia menoleh ke Zaki, di sana juga ada Ibunya.
Kenapa? Pikiran Agatha jadi lari kemana-mana, apakah ada permasalahan yang Agatha tidak tahu soal Zaki? Di sana dia lihat jelas ibu Zaki yang sedang mengobrol dengan Hiskia.
Agatha melangkahkan kakinya masuk dan menyimpan tasnya menoleh ke arah Galang dan Reno yang sudah tak ada di tempatnya. Dua menit setelah itu, Ratna keluar dari kelas.
5 menit setelahnya, Zaki langsung dilempari banyak sekali kertas-kertas. "Huh, dasar mainnya sama orang tua! Dih, ngelaporin apa lo?" tanya Reno yang baru tiba di kelas.
"Iya najis anjir, gue sampai dimarah-marahin sama kepsek karena lo, dasar cupu. Tukang ngadu," ujar Galang.
"Emang belum cukup ya? Profesi lo jadi banci, cupu? Mau ditambah lagi, tukang ngadu dan anak Mama?" tanya Galang.
Agatha yang tak tau permasalahan hanya diam saja, jujur dia bukan tipe orang yang ikut campur tanpa tau permasalahan terlebih dahulu.
Setelah guru masuk, pembelajaran dilakukan dengan tenang. Hanya pemberian tugas saja, setelah selesai boleh keluar. Karena Zaki sering melakukan tugas dengan cepat, dia keluar lebih awal. Kakinya melangkah entah kemana, enggak ada yang benar atau salah sekarang.
Di sisi lain, Ibunya hanya ingin yang terbaik dengan Zaki. Namun, di sisi lain juga semuanya tak ada yang baik untuk Zaki, dicampakkan seperti ini rasanya sakit sekali, begitu sakit lebih dari apa pun.
Sebuah tangan terulur membuat Zaki menunduk ke bawah dan menoleh ke samping, gadis dengan rambut pendek. Khas putihnya terlihat sekali, mungkin dia blasteran anak Inggris kali ya? Pikir Zaki.
"Hai? Kenalin aku Aluna," ujarnya sambil tersenyum kecil.
"Hah?" Zaki masih tidak percaya dengan apa yang ada di depannya, seseorang sedang berkenalan dengan dirinya?
"Eh, mending jangan deh. Gimana ya ...." Zaki menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Udah nggak apa-apa kok, aku tau semuanya. Jangan takut kalau aku ini temen yang enggak baik," ujar Aluna.
Tuh kan, Zaki merasa tidak enak jika seperti ini. "Eh bukan gitu, maksudnya aku di sekolah ini itu ...."
"Udah tau semuanya, santai aja. Kita masih tetap bias temenan kan? Walaupun banyak yang ngehujat atau enggak suka sama kamu?" tanya Aluna dengan senyumnya.
Indah sekali, Zaki sampai terpana sendiri dengan senyumannya itu.
"Jadi enggak temenannya?" tanya Aluna.
Zaki mengangguk dan membalas uluran tangan itu. "Iya, aku eh gue Zaki bisa panggil Ramdan atau Zaki terserah," ujarnya.
"Ramdan aja kali ya? Lebih enak aku denger."
"Em, iya boleh." Zaki tersenyum.
Keduanya hanya menatap ke depan, sambil menikmati angin di pagi hari ini. "Eh btw lo anak baru ya? Gue jarang liat soalnya," ujar Zaki.
"Iya aku anak baru, pindahnya seminggu yang lalu kok. Kebetulan pas aku datang banyak yang nyambut, bahkan isu-isu tentang Zakiya?" ujarnya.
"Em, iya itu gue. Zakiya, nama gue itu dari nyokap," ujar Zaki jujur, toh buat apa bersikap jaim untuk orang di sampingnya? Lebih baik dia tahu dari pada nanti, pastinya dia akan sama seperti orang-orang yang dulu mengajak dia berteman setelah tau semuanya mereka malah menjadi musuh dengan menghina Zakiya sebagai banci.
"Eh tapi penampilan kamu kayak biasa aja ya menurut aku? Kayak cowok pada umumnya, siapa yang hilang banci coba."
"Lo belum tau aja hehe, gue sebenarnya enggak gini. Rambutnya itu kayak dora asli, jalannya juga beda dan dulu semua serba pink, buku, pensil, pulpen, tas bahkan kaos kaki," ujar Zaki.
"Segitunya?"
Zaki mengangguk. "Karena nyokap trauma dengan masa lalu, ya gue jalanin aja sih. Enjoy aja, enggak semua orang tau tentang masalah yang gue hadapin. Paling-paling kalau gue kasih tau mereka mana paham dan ngerti, paling dibilang caper atau apalah," ujar Zaki.
"Kamu kuat banget ya? Aku tau kok gimana tertekannya kamu dengan semua ini," ujar Aluna.
"Hem, tau darimana? Orang enggak bakal tau kalau belum rasain, jadi gue."
"Enggak perlu jadi kamu untuk tau rasanya apa yang kamu alami, cukup persis seperti apa yang kamu alami dengan apa yang aku alami sudah cukup," ujar Aluna.
Zaki tak mengerti, dia menoleh dan menatap jelas wajah cantik dan sedikit pucat itu mungkin karena tanpa make up? Dia terlihat sangat fresh seperti itu.
"Cantik," gumam Zaki membuat Aluna menoleh.
"Hah?"
"Iya cantik."
"Apanya?"
"Eh, itu bunga di samping lo. Cantik banget sumpah," ujar Zaki menunjuk pot bunga di samping Aluna.
"Oh haha, iya cantik. Putih bersih gitu, bunga melati." Aluna mengambil satu dan melihat keindahannya.
"Lo suka bunga?"
"Iya suka banget, suka aku bawa ke makam abang aku," ujarnya.
"Oh sorry."
"Santai aja kali. Kematian itu pasti," ujar Aluna.
"Oh ya gue mau nanya boleh?"
"Iya boleh aja."
"HEH! ZAKI!!" teriakan itu membuat keduanya menoleh, Agatha di sana. Jarang sekali teriak, itupun kalau genting atau hal-hal yang membuat dirinya kesal.
"Eh ada cewek cantik, Masha Allah. Jarang gue liat, anak baru ya?" tanya Agatha.
Gadis itu tersenyum. "Iya aku Aluna, dari kelas sebrang, salam kenal."