Sore ini adalah sore tersial bagi Ramdan, tepat saat itu saat setelah dirinya melakukan kekuasaan yang sebelumnya belum dia pikirkan kini berakhir buruk. Jujur, apa yang salah jika melakukan pembelaan terhadap diri sendiri? Jika memang salah maka Ramdan tak mungkin melakukan hal salah tersebut.
Langkahnya kian mundur saat Galang menghampiri dirinya, melayangkan sebuah tinjuan tepat di rahang kiri milik Ramdan membuatnya terhuyung ke belakang. Tangannya menjadi tumpuan memegang pegangan kursi yang ada di sampingnya.
Galang tak berhenti sampai situ, dengan hal yang sama dia melakukannya. Meninju rahang kanan Zaki sampai lelaki itu terhempas di lantai. Dengan cekatan, Galang mengambil dan menarik kerah baju Zaki hingga membuat Zaki berdiri dengan tubuh yang masih oleng.
"Tadi sok jagoan, sekarang mau ngapain lagi?" tanya Galang lalu mendorong keras tubuh Zaki hingga membentur ke tembok.
"Lo itu, cuman berani karena ada Agatha kan? Cupu banget lo sampai segitunya," ujar Galang sambil menggeleng tidak percaya.
"Apa sih salah gue sama lo, sampai-sampai lo lakuin hal kasar ini kepada gue?" tanya Zaki.
"Salah lo? Banyak kayaknya." Galang menoleh ke Reno.
"Lo salah selalu ada di dalam kehidupan kita, lo itu cuman cowok cupu, banci yang berkhayal bisa mendapatkan cewek yang cantik dan baik hati, kan?" tanya Galang.
Zaki menatap Galang.
"Gue miris sih, cuma gue juga enggak tau kenapa sebenci ini sama lo. Mungkin langit dan bumi bakal jadi saksi untuk hal ini," ujar Galang sambil melayangkan tinjuan di bagian perut.
Setelah itu dia menepuk-nepuk pelan pundak Zaki. "Sabar ya, gaya lo yang kayak gini yang gue enggak suka."
*
Zaki masuk ke dalam kamarnya dengan hati-hati bahaya jika ibunya sampai melihat keadaan dirinya yang seperti ini bukan? Zaki melepas baju seragamnya dan menggantinya dengan baju kasual.
"Gila, emang pantes gue diginiin sih." Zaki melihat wajahnya di depan kaca sambil mengusap-usap rahangnya yang terasa sakit, biru warnanya.
Sakit memang, namun tak sesakit dengan hinaan dan cacian yang sudah mereka berikan kepada Zaki. "Miris banget gue anjir, masa iya kehidupan gue harus kayak gini terus. Kapan gue bisa berubah? Ini semuanya? Gue benci ...." Tangisnya terdengar walau kecil.
Dia duduk dengan kepala yang dia tenggelamkan di antara kedua lekuk kakinya. "Bodoh ...."
"Ngelindungin diri aja belum bisa, gimana ngelindungin keluarga? Atau orang yang gue sayang nantinya?"
Ketukan terdengar membuat Zaki langsung menghapus air matanya dan mengambil sebuah sarung dan menutup leher hingga rahangnya dengan itu.
"Zakiya, kamu belum makan? Itu makanan ibu siapin di meja makan kok enggak ada senggol-senggolnya sih?" tanya Ratna heran.
"Ini juga kenapa kamu nutup gini." Ratna hendak memegang namun dicekal oleh Zaki.
"Eh enggak mah, pengen aja soalnya enak kalau diginiin." Zaki langsung bergegas menuju dapur agar ibunya tak terlalu curiga dan memberikan Zaki begitu banyak pertanyaan yang tak bisa Zaki jawab satu persatu.
*
Kembali dengan rute yang sama, hari yang sama. Zaki dengan lemasnya berjalan dengan tas yang dia tenteng. Agatha yang melihat itu mengernyit heran, namun saat ingin menghampiri Zaki langkahnya terhenti saat beberapa cewek datang mengerumuni Zaki.
Zaki yang melihat mereka semua langsung melongo heran tidak mengerti. "Ada apa ya?" tanya Zaki.
"Weh, katanya lo jago ya main basketnya? Gue tau dari video ini. Sumpah ya lo cool banget di sini," puji salah satu di antara mereka.
"Gila sih, andai aja lo kayak gini terus-menerus sumpah gue yakin 100% semuanya enggak bakal ngolok-ngolok lo lagi," ujar gadis berambut blonde itu.
Zaki menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kok diam sih?" tanya mereka.
"MISI-MISI!" Agatha datang dan langsung berdiri di samping Zaki.
"Gimana enggak diam coba, orang risih dengan sikap kalian yang alay super duper alay gini," ujar Agatha.
Mereka langsung pergi saat mendengar itu, sempat lupa bahwa Agatha seperti pawang bagi Zaki dan Hiskia siapa pun yang mengganggu mereka berdua pasti Agatha akan turun tangan. Agatha menarik tangan Zaki.
"Gue sih rela aja lo banyak fans-nya cuman ya jangan yang kayak gitu diladenin, mata gue sakit lihat rok dan riasan di wajah mereka," ujar Agatha tidak suka.
Zaki hanya menurut saja, dan tak peduli dengan cewek-cewek yang baru saja memujinya. Dan jujur saja, Zaki tak memerlukan fans dia hanya ingin dihormati seperti manusia biasa saja tak lebih dan tak kurang.
"Hem btw siapa ya, yang nyebar video basket lo itu?" tanya Agatha.
Zaki mengidikkan bahu tanda tidak tahu.
"Hiskia mana btw?"
"Di perpustakaan katanya, dia tadi ngechat saat gue di parkiran. Disuruh nyusul," jawab Zaki.
Agatha menatap Zaki yang tingginya memang lebih dari Agatha. "Ini kenapa?" Agatha yang memencet bekas lebam itu membuat Zaki menjerit kesakitan.
"Anjir gede amat teriakan lo, mana kayak cewek lagi. Yang gantle dong kalau teriak," ujar Agatha.
"Ya gimana, emang dasarnya gitu." Zaki memanyunkan bibirnya.
"Itu kenapa, lo belum jawab gue!" ujar Agatha.
"Hm enggak apa-apa, cuman kepentok pas nyari barang kena meja," ujar Zaki berbohong.
"Boong, ini bekas pukulan. Gue bukan anak SMP yang bisa lo boongin gitu aja, gue udah SMA ya," ujar Agatha.
"Emang bener kok, ini bukan pukulan lagian siapa yang mau mukulin gue?" tanya Zaki.
"Ramdan, banyak yang bisa pukul lo. Termasuk gue, bisa aja mukul lo kalau lo boong." Agatha mengepalkan tangannya sambil mengangkatnya ke atas memperlihatkan kepada Zaki.
"Yaudah sih iya, lupain aja. Ke perpustakaan aja udah, si His udah nunggu." Zaki berjalan mendahului Agatha.
Agatha menatap punggung cowok itu. Mungkin pribadi kali ya? Siapa juga yang berani memukul Zaki sekarang? Apalagi di sekolah kan? Nggak adalah, semuanya udah tau kalau Agatha adalah pawang Zaki dan Hiskia.
Mendekat untuk dapat tonjokan, itu aja sih.
*
"Rajin amat baca buku kalian ya," ujar Agatha sambil menaikkan satu kakinya ke atas kursi dengan menyemil permen karet di mulutnya.
Mengunyah seolah tak ada dosa.
"Pantes nilai kalian bagus-bagus, gue bangga punya temen kayak kalian. Ada juga prestasi yang kalian punya ya," ujar Agatha tersenyum bangga.
"Kalau enggak ganteng ya harus pinter," ujar Hiskia.
"Eh tapi kalian ganteng loh, apalagi lo Hiskia. Udah ganteng fix no debat no kecok."
"Rambut, softlens hitam lagi aanjir! Sumpah lo ganti softlens coklat?!" tanya Agatha menatap jelas mata Hiskia.
Hiskia yang ditatap seperti itu langsung memundurkan wajahnya dengan napas yang dia tahan. "Iya ... semalem diganti disuruh nyokap katanya bagusan coklat," ujar Hiskia.
Agatha mengebrak meja, membuat pandangan tertuju padanya. Lalu dia membungkuk meminta maaf. "Bagus itu bagus, nyokap dan bokap lo setuju dengan penampilan lo!" ujar Agatha.
"Kurang ini curut nih! Susah banget ya kalau emang udah janji sama nyokap mah gitu."
Yang dikode hanya bisa diam dengan buku yang dia baca dengan seksama.