Awal Menyebalkan

1835 Words
Mula-nya ku pikir ini akan berakhir secepat seperti biasa-nya. Sial-nya, aku malah terjebak. Pada semua pernyataan konyol yang wanita gila itu katakan. -Altair Ataya Davendra Kennedy *** Suara berisik diluar membuat Lea menyadarkan diri-nya. Ia membuka mata perlahan, mencari keberadaan jam diruangan ini, ketika pada pojok kanan, waktu sudah menunjukkan pukul 11.45. Lea kemudian menoleh, mendapati lelaki yang sudah dibuat-nya bertekuk semalam, masih tertidur dengan tangan menyangga kepala-nya, percis disebelah Lea. Tampak-nya, Altair tertidur setelah semalam lelah bolak-balik karena Lea meminta banyak hal. Sesaat Lea tersenyum, sedikit mendongak untuk melihat wajah lelaki itu. Rahang yang tegas, bibir tebal nan bergelombang, juga bulu mata lentik yang berhasil membuat Lea terpana sesaat, bahkan dalam tidur-nya lelaki songong itu bisa terlihat begitu mempesona. Lea semakin menyeringai puas, bagaimana Altair mengabulkan semua keinginan-nya semalam, ada perasaan nyaman yang tiba-tiba menggerogoti hati-nya. Aneh dan juga asing. Namun, lamunan Lea terhenti karena seorang perawat datang menghampiri-nya. Dalam hati Lea bersyukur, karena bagaimana mungkin hanya dengan memandangi si-songong itu, pikiran liar berotasi dikepala-nya. Lea tersenyum kepada perawat wanita itu, sebelum berbisik pelan. "Maaf, biarkan dia tidur sebentar ya. Kasihan dia terlihat lelah." Perawat itu mengangguk, kemudian mulai memeriksa keadaan Lea. Selang beberapa menit barulah dia berujar, "Kau sudah diperbolehkan untuk pulang, mengingat kaki mu tidak terlalu parah." kata-nya ramah. Sebelum melanjutkan, "Tapi, sebelum itu bangunkan kekasihmu. Dia harus mengisi formulir, karena sejak kemarin dia belum melakukan-nya." "Dia bukan kekasihku!" Sahut Lea cepat. Ia membela diri. Namun perawat itu malah terkekeh disana. "Benarkah? Kenapa kau tidak menjadikan dia kekasihmu? Lihat, betapa tampan wajah-nya itu!" Perawat wanita itu malah semakin memuja Altair. Membuat Lea bergidik membayangkan-nya. "Aku tidak ingin memiliki kekasih seperti macan. Kau tidak tahu, betapa garang-nya dia," ujar Lea kemudian. Perawat itu malah semakin lebar memberikan senyum-nya. "Macan bisa menjadi jinak tergantung bagaimana cara-mu memperlakukan-nya!" ujar perawat itu lagi. Yang membuat Lea semakin mengernyitkan dahi-nya heran. "Kenapa jadi membahas dia!" Tunjuk Lea pada lelaki yang masih pulas tertidur disebelah-nya. "Apakah kaki-ku baik-baik saja?" kata Lea mengalihkan pembicaraan. Perawat itu mengangguk, "Jika kau rajin melatih-nya, tidak perlu menunggu dua bulan kau akan baik-baik saja." jelas-nya ramah. Lea tersenyum sebelum mengangguk paham. Seiring dengan perawat itu yang mulai meninggalkan ruangan. Sesaat Lea mengimang, apakah dia harus membangunkan Altair, mengingat betapa brutal semalam Lea meminta banyak hal. Tapi apa boleh buat, Lea ingin secepat-nya beristirahat diapartemen-nya. Sebab bagaimana pun, disana Lea selalu menemukan ketenangan. Lea mulai dengan menyentuh punggung lelaki disebelah-nya itu. "Altair, bangun!" Yang diharapkan hanya mendesah pelan, sebelum melanjutkan tidur-nya. Membuat Lea membuang nafas-nya kasar seraya melakukan kembali aktifitas-nya membangunkan lelaki itu. Meski kini harus dengan upaya yang lebih kuat. "Altair! Bangunlah!" Tegur Lea sedikit lebih nyaring. Tidak dilupakan punggung lelaki itu yang telah ia pukul berkali-kali. Altair tampak berusaha membuka mata-nya. Sedikit menyipit karena pagi-nya kini terusik. Mata-nya membulat seketika, berlonjak bagaimana bisa dia tertidur disebelah wanita gila itu. "Kenapa kau memukulku??!" Kata-nya gusar. Hanya itu yang keluar dari mulut-nya. "Perawat memintaku untuk membangunkan-mu. Isi-lah formulir milik-ku. Aku ingin cepat keluar dari sini." Lea berujar sambil menatap keki lekaki disebelah-nya itu. "Tidak bisakah kau mengisi-nya sendiri. Kenapa harus aku??" Kata-nya tidak terima. Lea menghela nafas kasar. Bagaimana mungkin ia tahan oleh sifat lelaki ini, ketika baru saja dua hari, emosi-nya sudah meledak-ledak. "Kau pikir aku bisa berjalan dan berlari kesana untuk mengisi-nya?" Lea berkata judes. Tidak habis pikir oleh jalan pikiran lelaki disebelah-nya itu. Altair balas menatap gusar wanita merepotkan disebelah-nya ini. Setelah semalam wanita itu membuat-nya bolak balik karena keinginan aneh yang dipinta-nya, Altair sudah berusaha menahan kesabaran-nya sejak semalam. Jadi, malas meladeni wanita gila itu, Altair melangkah menuju kamar mandi. Dia mencuci muka-nya, setelah itu berlalu untuk mengisi formuli wanita sialan itu. Lagi pula, Altair tidak ingin berlama-lama. Cepat mengantar wanita itu pulang, cepat juga urusan dia selesai. Sebelum meraih gagang pintu Altair berujar. "Siapa nama-mu?" "Lea. Lea Gavera Zelina." Ujar Lea kemudian. "Tela? Kau ubi jalar memang-nya?" Altair berkata keki. Entah kenapa dia tiba-tiba memiliki keinginan untuk menggoda wanita itu. Dan lihat lah, wajah-nya sudah langsung masam disana. "Namaku Lea! Jangan berpura-pura tuli!!" Kata Lea kemudian. Keki dan sebal melihat lelaki songong itu. Altair terkekeh. "Lele? A-ah seperti nama ikan amis itu!" kata-nya seraya berlalu meninggalkan Lea seorang diri. "Sialan kau Altair!" teriak Lea kemudian, seiring dengan pintu ruangan yang sudah tertutup rapat. Selepas kepergian Altair, beberapa perawat dan dokter memasuki ruangan Lea kembali. Mereka mulai dengan membuka infus dan juga merapikan gips dan perban yang terpasang dikaki Lea. Tidak lupa memberi tahu apa yang harus Lea lakukan selama penyembuhan kaki-nya, juga mengingatkan untuk memakan banyak sayur dan buah-buahan agar tulang dikaki Lea dapat kembali seperti semula. "Kau sudah selesai mengisi-nya?" tanya Lea, ketika Altair terlihat sudah kembali dan telah memasuki ruangan-nya lagi. Kini, Lea sudah duduk diatas ranjang milik-nya. Setelah mendengar banyak sekali ceramah dari dokter tadi, sambil menunggu Altair mengisi formulir kepulangan-nya, Lea sudah boleh meninggalkan rumah sakit ini. Altair berjalan mendekat. Wajah-nya masih saja sama, tidak ada senyuman, apalagi sorot beramah-tamah. Dia hanya terus menatap keki Lea. Huh! b******n itu! "Terus, apalagi sekarang?" Altair bertanya bingung. "Bawa aku pulang. Memang harus bagaimana lagi. Mengepel rumah sakit ini??" Kata Lea keki. Membuat Altair terkekeh disana. "Of course. Lakukan-lah, kau kan wanita gila!" "Namaku Lea. Berhentilah memanggil-ku dengan sebutan wanita gila. Kau yang gila!!" Ujar Lea tidak terima. "Memang kau gila. Berpikirlah, manusia mana yang malam-malam menangkap pokemon bodoh itu? Di sirkuit balap??" Kata-nya masih tidak habis pikir. Lea malah merutuki diri-nya sendiri. Menyesali perkataan konyol-nya semalam. Lagi pula bisa saja dia mengatakan hendak menonton salah satu teman-nya, tapi tidak masuk akal karena Lea bahkan tidak mengenal satu-pun orang disana. "Berhenti membahas itu. Cepat bawa aku pulang!" Kata-nya kesal sendiri. Altair menghela nafas berat. Sudah tak terhitung seberapa banyak emosi-nya setiap kali berhadapan dengan wanita itu. Kemudian dia melangkah mendekat, meraih tubuh gadis itu dan menggendong-nya dari depan. Satu tangan-nya Altair simpan pada kaki wanita itu, sementara tangan satu-nya dia tahan tubuh Lea. Lea tidak hanya tercekat, ia berlonjak kaget atas perlakuan lelaki songong itu. "Hei! Apa yang kau lakukan!!" teriak Lea panik. Namun dia tidak dapat bergerak bebas, mengingat kaki-nya masih begitu nyeri. "Membawa-mu pulang secepat mungkin. Diam-lah, kau tidak ingin orang-orang mengira aku menculik-mu kan?" Ucap-nya malas. Altair berjalan keluar ruangan, sontak hal tersebut membuat beberapa orang menoleh. Terlebih lagi para perawat yang sedang berjaga, mereka dibuat geli sendiri orang tingkah laku kedua mahasiswa itu. Lea benar-benar meneguk saliva-nya berat. Dia menyembunyikan wajah-nya pada d**a bidang Altair, yang sedang menggendong-nya. Masih tidak habis pikir oleh perlakuan gila lelaki songong tersebut. Sampai akhirnya, ketika Altair sudah membawa-nya memasuki mobil, barulah Lea protes keras. "Kau tidak perlu menggendongku, apa guna-nya kursi roda yang tersedia dirumah sakit ini??" Celoteh-nya tidak terima. Bukan masalah ada atau tidak-nya, namun mendapat perlakuan mendadak dari lelaki songong itu membuat jantung Lea kalang kabut sendiri. "Aku tidak punya waktu untuk mengambil-nya kedepan lagi. Berhentilah mengeluh, kepalaku pusing mendengar ocehan mu!!" Singgung Altair tidak kalah keki-nya. Dia benci sekali dengan wanita itu. Terlalu banyak berkomentar dan mengusik hidup-nya. "Tapi semua orang melihat kita! Aku jadi malu untuk mendatangi rumah sakit ini lagi." kata Lea masih berceloteh. Altair mengerutkan dahi bingung, bukan-nya berterimakasih. Wanita gila itu malah mengomel-nya habis-habisan. "Semua orang bangga dan berterimakasih jika ditolong oleh ku. Hanya wanita gila seperti mu yang mengeluh!" "Kau melakukan hal gila! Orang-orang pasti sibuk menggosipi kita. Kedua remaja gila memamerkan kemesraan mereka didepan publik!" Lea berujar seperti wartawan. Ia yakin, karena berpuluh-puluh mata yang menatap mereka tadi, menampilkan ekpresi yang tidak dapat ditebak-nya. "Hanya kau wanita gila yang sibuk mendengarkan gosip murahan seperti itu!" Altair berujar sarkas. Geram sendiri karena wanita itu tak kunjung mengunci mulut-nya. "Dan jika tahu kau seberat babi. Aku lebih memilih mutar untuk mencari kursi roda!" Membuat wanita itu berhasil membulatkan mata tidak terima. Lea mendesah kasar. Apa katanya? Seberat babi? "Sialan kau Altair! Kau tidak lihat badan ku sekurus ini?" Lea semakin protes keras atas ujaran lelaki itu. Altair tidak ingin ambil pusing, dia menggeleng kepala dan mulai melajukan sedan-nya cepat. Menghiraukan seruan dan gerutuan dari wanita sialan disebelah-nya tersebut. Lea tidak lagi banyak bersuara, mengingat lelaki disebelah-nya ini sudah terdiam. Ia memilih untuk menatap luar jendela, membuka sedikit kaca jendela sedan itu seraya menarik dalam udara yang masuk lewat sana. Lea harus kuat menghadapi hari-hari buruk selanjut-nya, bersama lelaki songong disebelah-nya tersebut. Altair hanya menoleh sebentar, sebelum melajukan kembali sedan-nya, kali ini dengan kecepatan yang tidak biasa. Dia sengaja melakukan itu karena ingin membuat wanita disebelah-nya itu berceloteh lagi. Sial, Altair malah tidak habis pikir rengekan wanita disebelah-nya itu malah membuat-nya lebih bersemangat. Melihat mobil yang semakin melaju kencang, Lea memegang seatbelt-nya kuat, membelalakkan mata tidak percaya karena lelaki songong dan gila disebelah-nya, menderu sedan itu ugal-ugalan. "Altair apa yang kau pikirkan. Kau dendam? Kau ingin membunuhku??" Ujar-nya dengan suara bergetar. Altair terkekeh, sebelum mengatakan sesuatu yang membuat Lea memandang-nya dengan tatapan membunuh. "Aku hanya ingin mengajak-mu bermain-main." Lea menggeleng kuat, tanpa sadar air mata-nya terjatuh. Dan dia menangis didalam sedan itu. Bukan hanya adrenalin-nya yang sedang lelaki itu uji, namun trauma yang membekas dihidup-nya kembali menguak. Hal itu juga yang membuat Altair memandangnya bingung, kemudian dia memelankan kembali kecepatan-nya. "Kau menangis kencang hanya karena aku membawa-mu laju?" tanya-nya tidak percaya. Lea menghapus cepat sisa-sisa air mata-nya. Tidak perlu, lelaki songong itu tidak perlu mengetahui kebenaran-nya, biarkan saja dia berpikir sesuka hati-nya. Lea hanya terlanjur malas memberitahu-nya. "Aku masih ingin mengunjungi Cappadocia! Jika aku mati sekarang, aku tidak akan pernah bisa kesana!" Kata-nya menjelaskan. Dengan Altair yang sudah terkekeh dibangku kemudi. Tidak menyangka bahwa pertemuan-nya dengan wanita gila itu, memberi sedikit perasaan aneh yang menyinggapi-nya. Namun buru-buru Altair menolak perasaan itu. Tidak. Tidak lagi. Altair sudah cukup merasakan kehilangan. "Cappadocia?" Altair mengerutkan kening-nya, penasaran oleh perkataan wanita itu. "Sudahlah, tidak penting untuk kau tahu. Berkemudi saja dengan normal. Jalanan raya ini bukan sirkuit balap mu!" Lea sengaja menyinggung lelaki itu. "Memang-nya bagaimana berkemudi dengan tidak normal? Semua orang berkemudi dengan normal. Dasar kau wanita gila dan aneh!" Altair membela diri-nya. Tentu saja itu harus dia lakukan, mengingat wanita itu selalu saja menjawab semua perkataan-nya. Bahkan berani menantang-nya terang-terangan. Hell! Dia Altair! Semua orang tahu itu! "Melaju dengan kencang dijalan raya bukan menyetir dengan normal! Itu nama-nya tidak normal bodoh!" Lea masih menjelaskan, menatap keki lelaki disebelah-nya yang kini malah terkekeh meremehkan. "Mau kutunjukan bagaimama cara menyetir dengan tidak normal?" Ancam Altair akhir-nya. "Berhentilah bermain-main. Kaki-ku sakit. Aku ingin cepat istirahat!" Akhirnya Lea beralasan. Altair menyunggingkan senyum bodoh-nya. Menarik sebelah alis-nya seraya menatap tajam wanita disebelah-nya itu. "Tapi bagaimana ya menjelaskan-nya, melihat mu menangis lucu juga ternyata!" kata-nya menggoda. Hal tersebut sukses membuat Lea memukul kuat lengan lelaki disebelah-nya itu. Yang ternyata berhasil Altair elakkan. "Sembuhkan saja kaki-mu. Baru pukul aku sepuas-nya. Lagi pula, kaki sialmu itu tidak dapat mengejarku." Ledek-nya lagi. Dengan Lea yang sudah mendidih mendengar perkataan lelaki songong itu. "Awas kau! Jika kaki-ku sembuh, tidak hanya kupukul. Akan aku tendang kau sampai kenegeri Turki sana!" "Baiklah Lea. Ku tunggu semua yang ingin kau lakukan. Lagi pula, sampai saat itu tiba, aku tidak yakin kita masih berurusan." jawab-nya santai. "Kau akan terus berurusan dengan-ku. Hingga kakiku sembuh ataupun tidak, karena semua rahasia mu ada di aku!" ancam Lea balik. Membuat Altair kini memandang-nya gusar. Sementara Lea, ia tersenyum puas. Skakmat! "Belok kekiri dijalan Ouranos Sky. Apartemen ku ada diujung jalan itu." sambung Lea kemudian. Dengan Altair yang tidak lagi melakukan penolakan, dia hanya terus mengikuti jalan yang sudah ditunjuk oleh wanita tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD