APARTEMEN

2830 Words
Seharus-nya tidak seperti ini. Semacam rasa aneh yang tak kunjung berhenti. Berkisar disebagian hati, tak luput untuk dikasihani. Konyol, tiba-tiba terperangkap pada kolom yang runyam. *** Altair menghentikan sedan-nya pada parkiran apartemen yang diberitahukan oleh wanita disebelah-nya ini. Setelah memarkirkan mobil-nya pada parkiran yang tersedia, Altair mulai melepas seatbelt milik-nya. Kemudian menoleh dan menatap pemandangan absurd dihadapan-nya kali ini. "Kenapa menatapku seperti itu?!" tegur Lea kikuk. Heran sendiri kepada lelaki disebelah-nya ini. "Tingkat tidak tahu malu mu memang sangat tinggi." singgung Altair langsung. "Aku sedang menyaksikan dua orang disana! Bukan menatap-mu gila!" Sambung-nya seraya menunjuk kedua orang disana dengan dagu-nya. Sejak memasuki parkiran apartemen ini dia sudah menyaksikan kedua orang itu saling b******u mesra. Membuat Altair menggelengkan kepala tidak habis pikir. Lea langsung meneguk saliva-nya kasar. Benar, ia bahkan sudah kehilangan urat malu-nya sejak menahan lelaki itu untuk tetap tinggal disebelah-nya sejak semalam. Lea menoleh penasaran oleh objek yang diberitahukan Altair. Dan benar saja, dari balik kaca hitam sedan si-songong ini Lea dapat melihat seorang gadis berambut blonde sedang berciuman mesra dengan pacar-nya. Entah-lah, Lea menebak mereka berdua memang memiliki hubungan. Bagaimana tidak, ciuman itu begitu lama, keduanya bahkan tidak menyadari kehadiran sedan milik Altair. Membuat Lea bergidik ngeri membayangkan-nya. "Yasudah ayo naik! Daripada menyaksikan kedua orang bodoh itu, membuang-buang waktuku!" Altair berujar malas. "Terus, bagaimana cara ku berjalan? Tidak ada tongkat?" Lea bertanya sambil menoleh pada tempat penumpang dibelakang. Kali saja lelaki songong ini telah membelikan-nya sebuah tongkat atau sesuatu lain untuk menjadi pegangan-nya. "Apa yang kau lihat. Aku hanya membawa obat-obatan milikmu. Mana ada kursi roda atau tongkat yang kau harapkan itu!" singgung-nya kemudian. "Jadi, bagaimana cara ku menaiki apartemen ini? Kau tau, kamarku terletak dilantai teratas!" Lea menggerutu sebal. "Bagaimana lagi, aku akan menggendong-mu seperti tadi!" Altair akhir-nya berujar pasrah. "Tidak, aku tidak mau!!" tolak Lea kemudian. Altair hanya mengela nafas sebelum membuka pintu kemudi sedan-nya, membawa sebungkus plastik besar dan berjalan menjauh. Lea yang melihat itu spontan berteriak. "Altair, bagaimana denganku??" "Berjalanlah sendiri. Kata-nya kau tidak butuh pertolonganku!" Jawabnya songong. "Tidak, bukan seperti itu! Ish kau ini! Yasudah kemari dan bantu aku!" Lea berujar pasrah. Lagi pula dia tidak punya pilihan, nanti saja setelah ia sampai dan beristirahat, akan disuruh-nya lelaki songong itu untuk membelikan-nya tongkat. Altair tersenyum kecut, kembali berjalan kearah sedan-nya dan menghampiri Lea. Dia mulai menggendong tubuh wanita itu seperti yang dilakukan-nya dirumah sakit. Jika Lea mendapati jantung-nya berdebar, sial-nya Altair juga merasakan perasaan yang sama. Namun kedua-nya memilih untuk tetap bungkam. Ini masih permulaan, mereka hanya terlalu penasaran. "Dimana lantai kamarmu?" tanya Altair ketika mereka berdua sudah sampai didalam lift. Sepanjang koridor apartemen ini, Lea lebih banyak menghela nafas, sibuk mengatur jantung bodoh-nya itu. "Lantai sepuluh!" kata-nya kemudian. "Apakah aku berat?" tanya Lea lagi. Merasa bersalah karena lelaki ini sudah sejak semalam berhasil direpot-kan oleh-nya. Namun, tentu saja itu harus. Lea ingin rencana-nya berjalan sesuai rencana yang sudah tertata rapi. "Sudah kukatakan kau seperti babi. Jangan banyak bertanya lagi!" Jawab-nya ketus. Membuat Lea menatap-nya gusar. "Lagi pula, kau tidak takut dengan ku?" Altair bertanya penasaran. "Takut? Tidak sama sekali. Kenapa memangnya?" tantang Lea disana. Ia masih terus mendongak untuk menatap wajah dihadapan-nya itu. Altair membuat posisi mereka begitu dekat, sehingga Lea dengan mudah-nya mendengar deru nafas lelaki itu. Altair malah tertawa mendengar jawaban wanita tersebut. Terasa tertantang karena gadis ini dinilai begitu pemberani. "Aku laki-laki. Kau tidak tahu apa yang bisa aku perbuat kepada-mu." "Lagi pula kau terlihat seperti lelaki yang baik." ujar Lea tulus. Membuat Altair bungkam mendengar jawaban wanita itu. Well, dia mulai terpengaruh oleh kehadiran wanita gila itu. Tidak lama lift berhenti, Altair keluar dan berjalan menyusuri lorong lantai sepuluh. Berjalan pada kamar paling ujung sebelah kiri sesuai yang wanita itu beritahukan. "654321." ujar Lea tiba-tiba. Altair mengerutkan dahi, bingung. "Kode-nya, bukalah bodoh!" kata Lea lagi. Membuat Altair pasrah dan mulai menekan tombol itu, begitu mereka sampai pada kamar milik Lea. "Dungu, sandi mu begitu mudah diketahui!" Altair berkata sambil menggelengkan kepala. Setelah memasuki apartemen Lea, Altair meletakkan-nya pada sebuah kamar bernuansa putih dan bercorak biru langit. Setelah meletakkan Lea dan membantu-nya dengan posisi nyaman. Altair berdiri tegak dan menepuk tangan-nya. Menandakan bahwa hari ini pertemuan mereka sudah bisa berakhir. Namun sial-nya, wanita itu terlalu banyak mau-nya. "Aku sangat lapar, bolehkan kau memasakkan sesuatu untuk-ku?" kata Lea sambil tersenyum. "Aku bukan pembantu-mu bodoh!! Dimana kedua orang tua mu? Kau tahu, kau sudah sangat merepotkan ku!" jawab-nya gusar. Membuat Lea memutar bola mata-nya jengah. "Yasudah, pergilah kalau begitu. Kau memang lelaki kejam!" ujar Lea kemudian. Setelah mengatakan itu Lea berbaring dan membalikkan badan membelakangi Altair. Altair tidak menghiraukan dan melangkah keluar kamar. Namun perkataan wanita itu berhasil membuat-nya berdiri cukup lama diambang pintu. Sebelum menghela nafas gusar dan berjalan menuju dapur yang tersedia. Tidak tega juga mendengar perkataan wanita itu, walaupun rasa-nya kepala Altair sudah mau pecah berdebat dengan-nya seharian ini. Altair mulai dengan membuka kulkas yang tersedia, ada telor dan juga beberapa mie disana. Hal tersebut sukses membuat Altair berkacak pinggang sebelum melanjutkan untuk membuat martabak mie telor. Sialan, karena kehadiran wanita itu malah membuat Altair membolos waktu kuliah-nya. Tiga puluh menit berlalu, Altair sudah menghidangkan masakan-nya pada piring kaca berwarna putih. Menumpahkan sedikit sambal tomat dan meletakkan pisau serta garpu diatas-nya. Kemudian dia berlalu dan kembali memasuki kamar wanita tersebut. "Ini. Makanlah dulu dan cepat minum obat-mu!" Tegur-nya pertama. Namun Lea tidak memberi respon, membuat Altair jengah dan berjalan kearah posisi wanita itu terbaring. Sialan, Lea malah tengah tertidur pulas disana. Akhir-nya setelah meletakkan makanan tersebut dinakas sebelah ranjang wanita itu, juga menaruh obat pereda nyeri dan antibiotik yang diberi dokter, Altair berpindah lagi, tidak tahu apa yang merasuki-nya, dia mendekat kesisi ranjang menyapu wajah wanita itu pelan, ketika semua perasaan aneh memuncak didada-nya. Buru-buru Altair menyadarkan diri, dia meletakkan juga ponsel wanita gila itu yang telah dipegang-nya sejak semalam. Dia menaruh semua itu sejajar dengan yang lain, kemudian membenarkan posisi selimut milik Lea seraya berlalu. Altair tidak punya alasan untuk tetap tinggal, jadi meletakkan sebuah notes berisikan nomor hape milik-nya, dia benar-benar melangkah meninggalkan apartemen wanita gila tersebut. Sudah cukup drama hari ini, Altair sudah harus menyelesaikan urusan-nya yang sempat tertunda. Tida boleh ada apa-apa selain menyadarkan diri urusan-nya berhenti hingga Lea sembuh nanti. s**t! ??? Lea berlonjak dan menoleh pada langit malam yang tampak dari kaca apartemen milik-nya. Pantas saja badan-nya terasa begitu pegal, rupa-nya ia sudah tidur hampir seharian ini. Buru-buru Lea mendudukkan posisi-nya, meringis karena kaki-nya masih terasa begitu nyeri. Ia lupa, sejak keluar dari rumah sakit tadi, ia belum meminum obat-nya. Akhir-nya Lea menoleh, mendapati semua yang ia ingin-kan sudah terletak dinakas samping ranjang-nya. Secepat kilat Lea bergeser. Tapi bukan-nya mengambil makanan atau meminum obat yang tersedia, Lea malah menarik cepat notes yang tertinggal disana. Tanpa sadar bibir-nya menekuk senyum, Lea paham semua nomor yang sudah tertera disana. Lama dia memandang secarik kertas itu sebelum akhir-nya tersadar dan berujar, 'Ish sialan, kenapa aku tersenyum hanya karena nomor sibodoh itu!!' Kemudian Lea meletakkan notes itu kembali, ia mengambil makanan yang tersedia. Persetan oleh tampilan-nya yang berantakan, yang penting Lea harus mencoba rasa-nya. Cepat Lea memotong dan memasukkan makanan itu kedalam mulut-nya, lama dia berpikir sebelum akhir-nya tertegun. Sungguh, makanan itu begitu enak dilidah-nya. Sehingga tanpa sadar Lea terus melahap-nya tanpa sisa. Sambil memastikan obat-nya Lea minum setelah selesai makan tadi, Lea kembali meraih ponsel-nya. Disana, sudah banyak sekali pesan yang datang dari Pietro dan juga Dryna. Lea kemudian membuka seluruh pesan disana. Namun dari Dryna adalah pesan pertama yang dilihat-nya. Jangan lupakan, sebelum membuka seluruh pesan itu Lea sudah menyimpan kontak Altair dihape-nya. Lea beri nama dengan sebutan Lelaki Songong. Dryna Earlene Bagaimana? Berhasil? Maaf jika aku terlalu merepotkan-mu. Aku hanya masih tidak terima Lea. Hati-ku hancur. Lea meringis, huh seandai-nya sepupu-nya itu tahu usaha apa yang telah Lea lakukan. Bahaya apa yang sudah ia lewati. Namun memastikan kepada Dryna, ia baik-baik saja Lea segera membalas pesan sepupu-nya itu. Lea Caesario Well, aku sudah membuat-nya satu langkah dekat dengan-ku. Jadi bersabarlah Dryna. Hati-ku juga hancur. Kemudian, setelah selesai membalas pesan sepupu-nya itu. Lea kembali membuka pesan yang lain. Ah, sialan Lea bahkan melupakan Pietro selaku sahabat yang sudah membantu-nya itu. Pietro Aydan Lea? Apakah kau baik-baik saja? Kau tidak kehilangan kaki-mu itu kan? Pietro Aydan Aku menyesal cuma menyaksikan kau pingsan kemarin, kau tau bukan-nya langsung membawa-mu kerumah sakit. Altair sialan itu malah berdebat dengan teman-temannya. Membaca bagian itu membuat Lea meringis. 'Dasar Altair b******n!' Rutuk-nya dalam hati.' Pietro Aydan Aku sudah menitip absen-mu dikampus tadi. Pietro Aydan Kau belum sadar? Apa aku harus mendatangi-mu? Pietro Aydan Seharus-nya sejak awal aku menolak ide gila-mu itu. Pietro Aydan Kabari aku secepat-nya!! Lea kemudian langsung menekan panggilan pada nomor sahabat-nya itu, bahkan baru pada deringan pertama panggilan itu sudah diangkat oleh Pietro. Kemudian tidak menunggu lama, Lea sudah menceritakan semua hal yang dilalui-nya bersama lelaki songong bernama Altair tersebut. ??? Altair menghentikan sedan-nya disebuah rumah yang terletak tidak jauh dari sirkuit balapan-nya. Itu adalah rumah minimalis yang disewa Altair dan teman-teman nya sekedar untuk berkumpul atau menghilangkan penat jika banyak masalah yang menghampiri. Rumah itu mereka jadikan sebuah basecamp yang dibayar secara merata oleh mereka. Kevin-lah yang punya ide untuk menyewa itu sejak mereka bertemu waktu semester satu dulu. Memang pertemuan mereka tidak mulus pada awal-nya, tapi entah kenapa kini mereka berlima malah terus bersama. Sejak dunia perkuliahan dimulai, pertemanan mereka juga bermula. Mereka berlima masuk dijurusan yang sama, yang membedakan hanya kelas yang mereka tempati. Setelah memarkir sedan-nya asal, Altair langsung memasuki rumah itu tanpa permisi. Lagi pula dia yakin, teman-temannya sudah bertengger rapi disana. See, benar tebakan Altair. Mereka tengah duduk disofa panjang yang tersedia dirumah itu. "Woah. Sudah selesai urusan-mu?" Kevin bertanya pertama. Lelaki itu menghampiri Altair dan menarik-nya duduk disofa bersama yang lain. Altair menggeleng pelan. Membuat ke-empat teman-nya mengerutkan dahi dan terkekeh. "Dia menuntutmu?" Deo berkata asal. "Siapa?" tanya Altair bodoh. Bukan-nya menemukan ketenangan, dia malah ditohok dengan banyak pertanyaan. Seharus-nya dia pulang kerumah saja tadi. "Wanita yang kau tabrak itu?" Deo mengulang lagi. Ingin memastikan bahwa sahabat-nya ini tidak terkena masalah serius. "Dia baik-baik saja. Hanya patah kaki." Altair berujar malas. Jawaban itu membuat Rendra mendongak. "Sialan kau Altair. Patah kaki kau bilang baik-baik saja?" "Yeah, u know your friend Ren. Buruk menurut Altair adalah apabila orang itu mati!" Lucas kini melanjutkan. "Sudahlah berhenti membahas wanita gila itu. Aku lelah." kata-nya kemudian. "Memang apa yang kau lakukan?" Kevin bertanya cepat. Heran karena sahabat-nya itu terlihat tidak seperti biasa-nya. "Atau, apa yang wanita gila itu lakukan kepada Altair kami?" Lucas menambahkan. "Dia meminta-ku untuk bertanggung jawab." Altair menjawab pasrah. Deo menyunggingkan senyum mengejek, "Wow, tolak saja seperti biasanya. Kau Altair. Apapun yang tidak ingin kau lakukan, maka jawaban-nya tidak kan?" Altair menghela nafas berat. Bagaimana dia menjelaskan masalah itu, sementara sahabat-nya saja tidak tahu apa yang Altair lakukan selama tiga tahun belakangan ini. Begini, walaupun kau memiliki seorang teman, ada sesuatu yang tidak dapat kau katakan, meski kau percaya kepada orang itu. Sesuatu yang runyam dan sulit untuk dijelaskan. Sial-nya, wanita yang tiba-tiba menjungkir balikan dunia Altair dalam dua puluh empat jam, adalah satu-satunya yang mengetahui rahasia milik-nya. Sial! "Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur melakukan-nya." Akhirnya hanya itu yang dapat Altair katakan. "Tidak, aku tidak percaya seorang Altair melakukan-nya begitu saja." Rendra memproteskan ketidak percayaan-nya. "Akhir-nya. Kau telah membuka hatimu lagi?" kini Kevin bertanya, menggelengkan kepala-nya tidak percaya. Mendengar itu emosi Altair langsung mendidih. Dia menatap tajam Kevin, tidak suka pembahasan ini kembali terarah pada masalah itu. "Jaga mulutmu!" kata-nya gusar. "Oke. Maafkan aku. Aku hanya berpikir kau sudah melupakan-nya." Sahut Kevin merasa bersalah. Membuat teman-temannya yang lain juga tidak lagi menyuarakan protes-nya. "Kalian mengenal wanita itu? Dia satu kampus dengan kita." akhir-nya Altair bertanya yang lain. Lucas, Deo dan Kevin tampak terkejut. Namun Rendra biasa saja. "Kau tau?" tanya Altair langsung kepada Rendra. Rendra mengangguk. "Dia anak hukum." "Sialan. Pantas saja dia kenal dengan-ku." Altair berteriak frustasi. Of course, Fakultas Teknik dan Hukum bersebalahan. Jarak-nya benar-benar hanya dibatasi sebuah rumput hijau. Tidak heran dia mengenal Altair. Namun untuk satu rahasia besar yang berusaha Altair sembunyikan, bagaimana bisa wanita gila itu mengetahui-nya? Hal tersebut juga yang membuat Altair memutuskan untuk menerima permintaan Lea untuk bertanggung jawab. Karena dia harus mencari tahu kenapa wanita sialan itu mengetahui-nya. "Anak hukum? Wow. Tidak bisa dipercaya." Lucas berujar geli. "Bagaimana pertandingan semalam? Siapa yang menang?" Altair kini membahas masalah lain. Sudah cukup memikirkan tentang wanita itu, mari pikirkan bagaimana pertandingan-nya yang kacau semalam. "Kau akan marah jika mendengar-nya," ledek Rendra kemudian. "What? Kenapa memangnya" tanya-nya penasaran. "Sean Danilova Kenrick. Dia mendapatkan posisi pertama." Kevin menyahut kemudian. "Sial!! Sean? Bagaimana mungkin? Kalian tahu dia jauh dibelakang-ku semalam!" Rutuk Altair tidak terima. 'Apa? Posisi pertama? Musuh-nya itu? Sial! Sial! Sial!' "Yeah. Kau tau, dia selalu punya cara untuk menang." Lucas menegaskan. Altair mengerang, mengacak rambut-nya tidak percaya. Sial, Sean merupakan satu-satu lawan terberat-nya disirkuit! Dan yang membuat hati-nya semakin kesal karena Sean anak Hukum! Well, dia pasti mengenal Lea. Tapi kenapa, Altair malah tidak suka mendengar fakta itu. Huh! Baru saja hendak menyuarakan protes-nya lagi, ketika sebuah suara berdering. Altair merasa itu dari saku celana-nya. Takut jika orang tua-nya yang menghubungi. Buru-buru Altair meraih ponsel-nya, dia mengerutkan dahi, sebuah nomor baru terpampang dilayar-nya itu. "Halo. Siapa?" tanya-nya tanpa basa basi. "Datanglah, aku ingin makan sate kambing. Bawakan juga sebuah tongkat. Berjalan kekamar mandi saja aku sudah kesusahan!" rutuk wanita disebrang sana. Membuat Altair menjauhkan ponsel dari telinga-nya. Menggenggam kuat ponsel itu dijemari-nya. Altair menggeram. "Dasar menyebalkan!!" rutuk Altair sebelum memutuskan sambungan sepihak. Tidak menghiraukan celotehan wanita itu lagi. Altair menatap ponsel-nya gusar, sebelum menekan tombol tambah kontak, memberi nama Lea dikontak-nya dengan panggilan Wanita Gila. Dia kemudian memasang jaket jeans ditubuh-nya, mengambil kunci sedan-nya dan berlalu meninggalkan teman-teman nya yang kini sudah menatap-nya bingung. "Kau bisa mengambil motor-mu besok. Bang Maman sudah selesai memperbaiki-nya!" Teriak Kevin sebelum Altair menghilang dari balik pintu basecamp tersebut. Menghiraukan seruan teman-teman nya, Altair tetap melangkah pergi. Sialan. Karena permintaan wanita itu, Altair bahkan tidak punya pilihan untuk menolak. ???
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD