Mungkin kita terpati untuk saling menyakiti.
Tanpa pernah tahu lebih dari pada ini, kita hanya terlalu enggan mengakui. Bahwa kita adalah insan yang begitu ingin memiliki.
***
Entah kebodohan apa yang telah Altair lakukan. Bukan hanya itu, bagaimana mungkin wanita gila yang baru dikenal-nya itu, sudah mengusik hidup-nya sejauh ini.
Tapi ketimbang memikirkan itu, Altair lebih penasaran bagaimana Lea dapat mengetahui rahasia besar milik-nya.
Jadi, atas semua rasa penasaran-nya, Altair memilih untuk mengikuti apa yang wanita itu ingin-kan.
Kini, sebuah tongkat dan sate kambing sudah Altair simpan pada kursi kemudi disebelah kiri-nya. Sebentar lagi, dia akan sampai diapartemen wanita itu.
Lagi pula, biarkan saja. Altair sedikit menyukai perdebatan-nya bersama wanita gila itu.
Sedikit heran karena kebanyakan wanita enggan berurusan dengan-nya, Lea malah terlihat menikmati setiap perdebatan mereka.
Tidak mungkin Altair salah mendeskripsikan itu kalau ternyata disini, dia yang mulai menyukai perdebatan yang kerap kali terjadi.
Altair sudah berada didepan kamar wanita itu. Baru saja hendak menekan sandi apartemen-nya, seorang laki-laki bertopi dengan perawakan aneh terlihat berjalan memasuki apartemen yang terletak percis di sebelah kamar Lea.
Laki-laki itu menarik perhatian Altair, membuat-nya memicing untuk memastikan bahwa barang kecil yang dibawa-nya adalah sesuatu yang tidak asing dimata-nya. Lelaki itu berjalan sempoyongan, dengan mata merah dan berbicara seorang diri, Aktair menyimpulkan ini, lelaki itu sedang kehabisan obat. Dia terlihat seperti pemakai narkotika.
Namun, malas memikirkan itu Altair kemudian menekan sandi kamar Lea dan mulai memasuki apartemen itu tanpa permisi.
"Ini sate dan tongkatmu. Merepotkan sekali." singgung Altair ketika dia sudah sampai dikamar Lea. "Kau makan selarut ini? Hei, mau seperti apalagi badan-mu. Badak?" sambung-nya mengejek.
Lea sudah duduk diatas ranjang-nya, menatap lelaki songong dihadapan-nya itu dengan pandangan membunuh. Tidak habis pikir bagaimana Altair selalu membuat-nya gondok setengah mati. "Lebih baik badanku seperti badak. Dari pada mati menahan lapar!" rutuk Lea seraya mulai melahap sate kambing yang sudah dibawakan oleh Altair tadi.
Altair duduk pada kursi yang terletak tidak jauh dari ranjang Lea. Sambil menggelengkan kepala, dia terus menyaksikan Lea melahap seluruh makanan itu dengan nikmat.
"Kau mau?" Tawar Lea kemudian, keki sendiri melihat Altair terus menatap-nya.
"Tidak." ketus-nya. "Makan saja, dari pada aku dituduh membunuh anak orang yang tengah kelaparan!" Altair berujar menggoda.
Membuat Lea mengedikkan bahu-nya dan mulai melahap sate itu kembali.
"Besok jemput-lah aku. Aku ada mata kuliah jam sepuluh." Lea berujar santai. Seakan semua yang ia inginkan, adalah suatu keharusan yang harus Altair turuti.
Altair menggeleng tidak percaya. "Sekarang, kau menjadikan-ku suruhan mu??"
"Tidak bukan begitu. Lagi pula memang-nya aku bisa berjalan sendiri dengan kaki seperti ini?" jawab Lea beralasan.
Membuat Altair mendengus gusar. "Sumpah kau sudah benar-benar membuat-ku naik darah!"
Namun Lea malah tersenyum melihat ekpresi lelaki itu. "Kau tahu, semua mahasiswa difakultas ku sering membicarakanmu,"
Altair menautkan kedua alis-nya. Berusaha untuk tidak peduli, namun wanita itu malah semakin gencar berbicara.
"Kebanyakan dari mereka mengagumi-mu dan teman-teman berandalan-mu itu!" jelas-nya lagi.
"Heh, jaga mulut-mu. Kau tidak mengenal teman-teman ku!" Altair berujar marah.
Lea terkekeh. "A-ah tidak ku sangka seorang Altair begitu menyayangi teman-temannya." ledek Lea sembari mengunyah sate kambing-nya tersebut.
"Aku juga tidak menyangka wanita gila seperti mu menyukai gosip murahan." balas Altair sarkas.
"Terserah, lagi pula aku tidak peduli!" jawab Lea akhir-nya.
"Tidak peduli? Kurasa kau malah sangat peduli pada gosip murahan itu. Bukti-nya, kau sampai mengenal ku." singgung Altair lagi.
Lea mengunyah makanan-nya cepat. "Kau ini. Berhentilah menjawab omongan-ku. Mulutmu seperti wanita saja!"
"Masalah-nya kau terlalu menyebalkan," kata Altair lagi. Dia kemudian memainkan ponsel-nya, malas terus berdebat dengan wanita gila ini.
Tapi Aneh-nya, Altair malah betah berada disana. Dia dibuat seolah-olah tidak punya pilihan untuk pergi. Sialan!
"Altair?" tegur Lea perlahan. Lelaki yang dipanggil hanya menoleh sesaat. Sebelum kembali memainkan ponsel-nya lagi.
"Kau tidak memiliki kekasih?" tanya Lea kemudian. Perlahan tapi pasti, ia harus memulai semua itu.
Mendengar itu Altair langsung memasukkan ponsel-nya kembali. Menatap Lea lekat, sungguh Altair tidak suka masalah pribadi-nya menjadi pembahasan saat ini. Tidak, belum saat-nya. Wanita ini sudah terlalu jauh mengorek hidup-nya.
"Habiskan saja makananmu. Jangan kepo dengan hidupku." kata-nya marah.
Dengan Lea yang tidak lagi menyuarakan tanya-nya. Belum, Lea harus pandai bermain. Masalah itu nanti saja, Lea masih punya banyak waktu.
"Altair, ambilkan minuman untuk ku," pinta Lea seraya tersenyum. Ia berusaha untuk terlihat memelas.
"Ambilah sendiri manja. Aku sudah membelikan mu tongkat." tolak Altair langsung, membuat Lea mengerucutkan bibir-nya.
"Kaki ku nyeri setelah tadi kekamar mandi berkali-kali. Kau ini tega sekali," rutuk Lea lagi.
Bibir manyun wanita itu, juga mata-nya yang mengerjap berkali-kali membuat Altair menghela nafas-nya panjang. Sebelum mendengus seraya berjalan menuju dapur.
Meninggalkan Lea yang sudah tersenyum dibuat-nya. Sedikit aneh karena mereka baru saja kenal, namun bisa jadi senyaman ini.
Tidak lama Altair datang, menyerahkan sebuah gelas panjang berisi air putih, seraya duduk kembali dikursi-nya. Bingung, karena dia belum punya alasan untuk beranjak dari apartemen milik wanita itu.
Lama hening tercipta. Kedua-nya tak kunjung membuka suara. Yang satu sibuk dengan ponsel-nya, satu-nya lagi berkutat dengan semua pikiran-nya. Sampai akhir-nya Lea memulai pembicaraan kembali.
"Baiklah, mari kita membahas masalah lain, berhubung aku tidak suka diam-diam saja." jelas Lea kemudian. "Kenapa kau mengikuti balapan liar itu?" tanya Lea akhir-nya.
"Hobi." Altair menjawab santai.
"Hobi? Wow. Hobi-mu berkaitan dengan mempermainkan nyawa ternyata," kekeh Lea disana. Ia sudah selesai melahap habis makanan-nya. Kini dia mengubah posisi duduk-nya, sehingga berhadapan dengan Altair yang berada tidak jauh disana.
"Hiduplah dengan bebas Lea. Kau tidak dapat melakukan hobi-mu jika kau mati karena kelaparan," sahut Altair tidak mau kalah.
"Ish kau ini! Berhenti bergurau." Desis Lea. "Balapan bisa membahayakan mu." Sambung-nya lagi.
"Tidak masalah. Lagi pula aku sudah terbiasa menghadapi bahaya." Altair bergumam pelan. Membuat Lea memicingkan telinga-nya.
Namun, jangan salah. Lea bahkan mendengar ucapan lelaki itu. Hingga kini Lea masih tidak percaya bahwa lelaki dihadapan-nya tersebut ternyata seorang pemakai. Pengguna narkotika, meski Lea tidak paham itu narkotika jenis apa. Lea hanya tahu itu narkoba. Seakan otak-nya tak berhenti memikirkan lelaki itu, Lea semakin dibuat tidak percaya karena Altair yang berada dekat dengan-nya kali ini tidak terlihat seperti lelaki yang buruk. Entah, Lea memang selalu berpikiran baik kepada semua orang.
"Yasudahlah. Tidak ada habis-nya berdebat denganmu. Jangan lupa menjemput ku besok." ujar Lea kemudian. Ia berkata memperingati.
"Ya, aku juga ada mata kuliah pagi." sahut Altair.
"Hum. Lagian fakultas mu dan fakultas ku berdekatan. Tidak membuatmu repot hanya karena menepikan ku didepan gerbang-nya," Lea berujar santai.
"Kemana kedua orang tua mu?" cetus Altair langsung. Sejak tadi hanya itu yang membuat-nya penasaran. Bagaimana selama dua hari ini Altair bahkan menemukan wanita itu sendiri terus.
Namun jawaban dari Lea malah membuat Altair semakin keki.
"Ceritakan dulu tentang-mu. Akan ku beritahukan juga cerita ku," tantang Lea disana. Ia menyeringai puas.
"Cerita ku tidak begitu penting. Tidak ada yang perlu kau ketahui." jawab-nya malas.
"Kalau begitu ceritaku juga sama. Tidak ada yang istimewa." Sahut Lea membalas Altair.
"Kau memang paling ahli menjawab omongan-ku." Ketus-nya tidak suka.
"Menyenangkan melihat wajah-mu seperti itu," Lea meledek lelaki dihadapan-nya itu. Entahlah, rasanya kini Lea merasa damai.
Mereka dibuat seolah-olah terhubung oleh semua perdebatan itu.
"Kau mengenal lelaki yang tinggal disebelah kamarmu ini?" Kini Altair bertanya, semenjak tadi rasa penasaran-nya sudah dia tahan.
Lea menggeleng. "Kenapa memangnya? Tapi aku sering mendengar suara berisik dari kamar sebelah,"
"Hm-- tidak, bukan masalah besar." kata-nya kemudian. Dia tidak ingin Lea berpikir buruk. Lagi pula apa yang perlu dia takutkan? Wanita gila itu terlihat pemberani.
"Aku pikir kau menyukai-nya." Lea berujar mengejek. Membuat Altair menatap-nya tajam.
"Kau pikir aku gayy??!" kata-nya tidak terima.
"Yeah maybe." Lea berkata sambil terkekeh geli. "Memang siapa yang tahu? Kau bisa membuktikan-nya?" Sambung Lea menantang lagi.
Altair menyeringai, sebelum berdiri dan melangkah mendekati Lea. "Oke mari kita buktikan." Ujar-nya yang kini sudah berada disisi ranjang Lea.
Altair membuka jaket denim-nya pertama, mendorong tubuh Lea pelan diatas ranjang wanita itu. Membuat posisi Lea berbaring, dengan tubuh Altair mengapung diatas-nya. Dia mendekatkan wajah-nya pada Lea, menyapu wajah wanita itu dengan jemari-nya. Seakan Altair begitu menikmati sesuatu yang sedang dia lakukan kini.

Hal tersebut sukses membuat Lea tercekat. Ia masih tidak habis pikir atas perlakuan mendadak Altair saat ini, sehingga untuk bersuara pun rasa-nya Lea mati. "Al--tair, apa yang kau lakukan??!" kata-nya gelagapan.
"Membuktikan bahwa yang kau tuduhkan itu, tidak benar." kata-nya berbisik disebelah telinga Lea. "A-ah satu lagi, kau tidak takut dengan-ku kan? Bodoh. Kau ternyata belum mengenalku," sambung-nya seraya mendekatkan muka-nya pada wajah Lea. "Well, satu lagi. Kau tengah terluka, aku bisa dengan mudah melakukan apa yang aku inginkan tanpa perlawan, kau terlihat menggoda Lea." goda-nya tanpa henti. Altair terus menatap tajam wanita itu, mengedarkan mata-nya dari atas hingga bahwa.
Altair masih terus menyentuh wajah Lea dengan jemari-nya, membiarkan tangan-nya menari-nari pada wajah wanita gila ini.
Lea bukan hanya tercekat, ia bahkan sudah kehilangan seluruh nafas-nya. Bahkan, untuk mendorong tubuh Altair diatas tubuh-nya, tenaga Lea benar-benar musnah seketika.
Lea hanya terus menggeleng, membuat Altair mengerutkan dahi dan menyeringai puas. Lebih puas dari yang diduga-nya, karena Lea terlihat pucat dan a-h satu lagi ketakutan.
Altair menyukai tantangan, terlihat jelas dari bagaimana dia menyukai balapan, namun menyaksikan wajah wanita dihadapan-nya itu membuat Altair benar-bebar tertantang.
Dia kemudian mendekatkan wajah-nya, Lea terlihat memejamkan mata. Altair terkekeh karena kini dia yakin wanita itu berpikir dia akan mencium-nya. Namun bukan itu tujuan-nya, Altair mendekatkan bibir-nya kepada wajah gadis itu, sedikit menurun dan yup! Disanalah Altair mendaratkan gigitan-nya pada telinga wanita dihadapan-nya itu.
"Aw! Apa yang kau lakukan Altair!" Lea berteriak malah. Sialan, bagaimana bisa lelaki songong itu mempengaruhi degup jantung-nya. Secepat kilat Lea mendorong tubuh itu kasar, meski hanya dengan kekuatan kedua tangan-nya.
Altair terkekeh sebelum menguraikan rengkuhan kedua tangan-nya dari tubuh wanita itu, dia kini terduduk diranjang tepat disebelah wanita itu. Altair benar-benar puas. Dia terkekeh geli.
"Wow, kau berharap aku mencium-mu, Lea?" tanya-nya terkekeh.
Lea menajamkan mata-nya, menatap keki lelaki disebelah-nya kini, tidak pernah Lea terbuai pada semua kemanisan yang kerap kali laki-laki tunjukan untuk menggoda-nya. Tapi Altair berbeda, lelaki songong itu berhasil membuat Lea tidak hanya kehabisan akal, ia juga lumpuh karena perlakuan sialan yang diberikan lelaki itu. Sambil memegang telinga-nya bekas gigitan Altair, Lea berdecak kesal.
"Tidak!! Ngapain aku mengharapkan ciuman dari laki-laki songong seperti-mu?" Teriak Lea berbohong. Bagaimana tidak, Lea sudah benar-benar gila karena berpikir lelaki sialan itu akan mencium-nya.
Altair sudah benar-benar tertawa lepas. Membuat Lea semakin keki menatap-nya. "Apa kau masih berpikir aku ini gay?"
Secepat mungkin Lea menggeleng. "Tidak. Kau memang tidak gay! Tapi tidak perlu melakukan hal seperti tadi!" Lea masih menyerocos panjang.
"Ha? Memang hal gila apa yang aku lakukan?" desis-nya menyeringai.
"Sialan! b******n kau Altair!!" Rutuk Lea sebal.
Altair tersenyum mendengar cemohan dari wanita itu, sambil masih dengan tawa-nya dia menjawab puas. "Yes, I'm."
"Pergi sana. Aku lelah terus berhadapan dengan-mu." ujar Lea kemudian. Sebenar-nya ia hanya berusaha menghindari tatapan sialan lelaki itu.
"Bagaiman kalau aku tidur disini saja? Bukan-nya kau yang memintaku untuk datang?" Altair masih bersikeras menggoda wanita itu.
"In your dream! Tidurlah disofa depan, kau pikir aku jalang??" Lea menjadi marah.
"Hei kenapa marah? Memang-nya siapa yang mengatai mu jalang?" jelas Altair lagi. Senyum-nya tak memudar, dia begitu menikmati perdebatan itu, sungguh. Kehadiran wanita itu membuat Altair menemukan kembali sebagian hidup-nya.
"Ish! Pergi saja sana! Memang kau tidak dicari orang rumah-mu?" Lea sampai bingung harus bagaimana. Pembicaraan-nya malah semakin ngalur kidur.
"Santai saja, orang tua ku akan mengerti jika aku bilang, aku tidur bersama wanita-ku." jelas-nya santai.
Membuat Lea membulatkan mata tidak percaya, "Kau sudah benar-benar tidak waras Altair!"
"Memang. Baru tau?" kata-nya geli.
"Ya aku kalah. Sudahi saja perdebatan ini, aku kenyang dan mengantuk. Pergilah!" kini Lea benar-benar mengusir lelaki itu.
Altair langsung turun dari ranjang tersebut, memasang kembali jaket denim-nya, dia terkekeh sebelum berjalan keluar dari kamar Lea. Namun sebelum itu, Altair berkata, "Pasang-lah tirai mu. Kau tidak takut seseorang dari gedung sana mengintipmu?"
"Lupakanlah. Kau tidak lihat jarak-nya sejauh ini?" Lea mendengus kesal. Lelaki itu terkesan mencampuri kesukaan-nya.
"Dasar otak kecil-mu itu memang tidak berfungsi baik." singgung Altair gusar. "Apa guna-nya teropong didunia ini? Dungu!" sambung-nya seraya melangkah pergi.
Meninggalkan Lea yang sudah berteriak protes.
Jika Lea masih sibuk mengatur jantng-nya. Sial, Altair bahkan keluar dari apartemen wanita itu dengan senyuman.
Tidak. Tidak. Tidak boleh seperti ini.
***