Sebuah utas jatuh tidak pada komposisi-nya.
Tidak terduga namun terhempas menggoda.
Tidak seharus-nya namun menjadi sepatut-nya.
***
Altair melangkah pelan ketika dia memasuki rumah mewah dihadapan-nya. Sudah pukul 01.00 dini hari sejak Altair meninggalkan apartemen wanita itu.
Altair tidak tahu kebingungan apa yang mendadak merasuki-nya. Seharus-nya, setelah meninggalkan kamar wanita itu, Altair sudah harus pergi mengingat tugas-nya telah selesai. Namun sial-nya, Altair mendapati diri-nya sendiri duduk disofa yang tersedia diapartemen itu. Lama Altair berada disana, tanpa Lea tahu. Tanpa wanita itu tahu karena Altair berlalu ketika memastikan wanita itu benr-benar terlelap.
Aneh-- Altair juga tidak habis pikir kenapa dia melakukan itu. Hanya saja, dia merasa tidak ingin cepat berlalu. Meski wanita menjengkelkan itu terus-terusan mengusir-nya.
Ketika sebuah suara membuyarkan lamunan Altair. Altair menoleh dan mendapati David Atalanta telah berada pada ruang tamu mewah rumah mereka.
'Apakah dokter itu memberitahukan masalah-nya kepada Papa-nya? Ish dokter sialan itu!' rutuk Altair dalam hati.
"Altair?" David kembali menegur.
"Ada apa Pa? Kenapa papa belum tidur??" Altair balik bertanya, kepada laki-laki yang dikatakan sangat mirip dengan-nya.
David, dia menghembuskan nafas berat. Rahang tegas-nya, hidung mancung-nya, bahkan tatapan mata yang tajam itu, terlihat begitu percis dengan milik Altair. Yang membedakan hanya pahatan wajah yang indah dari orang tua itu, terlihat begitu lelah dan semakin tua.
Kemudian David meletakkan i-pad ditangan-nya dan berujar memperingati anak-nya tersebut. "Berhati-hatilah membeli barang itu, Papa dengar sudah banyak pemakai yang menjadi mata-mata polisi!"
Altair mendesah pelan. Dia pikir ada masalah apa. Oh syukurlah, dokter itu menepati janji-nya. Lagi pula Altair malas menjelaskan kepada David masalah wanita gila itu. Jadi sudah cukup, biar Altair yang mempertanggung jawab kan-nya.
"Aku tahu Pa. Jangan khawatir, lagi pula aku tidak terlalu sering melakukan transaksi dengan si-Caesario itu!" jelas Altair kemudian. Dia tidak ingin David khawatir hanya karena masalah itu.
"Maaf sudah melibatkan mu dengan barang bahaya itu Altair." David berujar lagi. Suara-nya terlihat semakin payau. Namun Altair hanya ingin meyakinkan bahwa itu bukan masalah besar. Memastikan lagi dan lagi bawa segala-nya akan berjalan lancar.
"Sudahlah Pa. Tidak apa. Istirahatlah, kau tidak lelah? Mama mana? Sudah tidur?" tanya Altair panjang.
"Mama sudah tidur, jangan khawatir, dia baik-baik saja." David menegaskan pertama. "Baiklah, Papa tidur dulu kalau begitu." sambung-nya kemudian. David angkat dari duduk-nya, membawa kembali I-pad yang sempat diletakkan-nya tadi. Sebelum itu dia berujar kembali, "Kau juga. Tidurlah Altair, setelah tidak pulang kemarin malam."
Altair menghela nafas. 'Tunggu. Ah, Papa-nya tahu dia tidak pulang semalam? Tentu saja semua itu karena wanita gila tersebut!'
???
Lea terbangun ketika mendengar suara dentuman keras seperti biasa-nya. Sejenak ia melirik pada jam wekker yang terletak dinakas-nya. Sudah menunjukkan pukul 01.45 dini hari.
Seharus-nya Lea tidak peduli, walaupun suara itu sering didengar-nya kini, tidak tahu ringisan apa, antara teriakan, tangisan bahkan lemparan keras, Lea memilih untuk tidak menghiraukan itu. Lagi pula jika sudah terbangun ke-esokan hari-nya, semua itu seperti tidak terjadi apa-apa.
Namun yang membuat Lea menggeram, karena semakin lama, kegaduhan itu semakin mengusik-nya. Bagaimana ya, Lea sudah tinggal diapartemen ini sekitar dua tahun belakangan ini. Ia juga sudah mengenal beberapa orang lama yang memang tinggal dilantai sepuluh ini. Tapi, memang hanya laki-laki disebelah kamar-nya itu yang tidak Lea tahu sama sekali. Mungkin karena lelaki itu baru pindah beberapa bulan yang lalu. Dan semenjak itu, tidur Lea hampir setiap malam terganggu, entahlah apa yang sedang laki-laki itu lakukan.
Dan celaka-nya, semua perkataan Altair malah berputar dikepala-nya. Tentang dia yang tiba-tiba bertanya siapa laki-laki disebelah itu dan juga tirai yang seharus-nya Lea pasang di apartemen-nya ini. Lea menghembuskan napas lagi, kenapa perasaan-nya malah menjadi sekacau ini?
Lea tidak bisa begitu saja terlelap, selain memikirkan kamar sebelah itu, kaki-nya juga terasa begitu nyeri. Akhir-nya mengecilkan volume ac dikamar-nya, Lea mengambil ponsel yang ia letakkan diatas tempat tidur-nya.
Entah setan apa yang merasuki Lea, karena ternyata ia mengeluh kesahkan tidur-nya yang terganggu itu kepada Altair. What? Lea benar-benar sudah gila. Dia memang telah terjebak pada si-songong itu.
???
"Tuan muda. Bangun-lah. Tuan dan Nyonya sudah menunggu untuk sarapan bersama," mbok Tuti--pembantu Altair masih sibuk mengguncang tubuh majikan-nya itu.
Sudah hampir setengah hidup-nya asisten rumah tangga yang kerap disapa Tuti itu, mengabdi kepada keluarga Atalanta. Sudah sejak dulu pula Tuti lah yang mengurus Altair, mulai dari hal-hal kecil hingga membangunkan lelaki itu, bahkan ketika dia sudah sebesar saat ini. Mbok Tuti, menjadi pengecualian diantara banyak-nya pelayan, karena beliau sudah seperti keluarga sendiri.
Altair mengerang sejenak, berusaha untuk membuka mata-nya karena dia masih terasa lelah. Bayang-kan saja, setelah terjatuh dan berguling dari motor demi menghindari wanita gila itu, hari ini badan Altair terasa begitu sakit dan pegal. Dia mengerang disana, sambil berujar karena bik Tuti masih setia menunggu-nya. "Aku sudah bangun, turun-lah lebih dulu. Selesai bersiap-siap aku akan menyusul,"
Mbok Tuti langsung mengangguk. Paham betul maksud tuan muda-nya itu.
Kemudian setelah kepergian mbok Tuti, Altair langsung berdiri dan melangkah kekamar mandi, mempersiapkan diri karena dia juga harus menjemput wanita menyebalkan itu. Tentu saja harus, Altair adalah pemegang janji paling handal.
"Semalah Altair pulang jam berapa, Pa?" Clarissa, ibu Altair bertanya kepada suami-nya itu. Dia terduduk diatas kursi roda, karena syaraf otot dikaki-nya melemah Clarissa tidak dapat berjalan dengan baik seperti dulu lagi.
David membenarkan posisi kursi roda istri-nya, menatap lekat dengan penuh cinta wajah wanita yang sudah menemani-nya berpuluh-puluh tahun itu. "Jam satu sayang. Dia ada kegiatan kampus. Jadi pulang sedikit telat," David berujar berbohong, dia tidak pernah tega membuat istri-nya itu khawatir. Lagi pula, melihat wajah sedih istri-nya saja mampu membuat hancur hati-nya. Bagaimana mendeskripsikan-nya, David begitu mencintai istri-nya ini. Meski pada rentan waktu yang tak dapat dikatakan-nya.
"Dia tidak melakukan balapan liar itu lagi kan?" Clarissa bertanya pelan, wajah-nya menampilkan kecemasan. Clarissa tidak menyukai hobi anak-nya itu, dia begitu menentang-nya karena Altair adalah segala-nya.
Baru saja David hendak menjawab ketika suara Altair menggagalkan ucapan Papa-nya disana.
Altair langsung mencium manis pipi Clarissa, duduk tepat disana dan berhadapan dengan kedua orang tua-nya.
"Seperti-nya kalian tengah membicarakan-ku." singgung Altair pertama. "Huh, pantas saja kegantengan ku ini terus bertambah, bukan hanya mahasiswa dikampus-ku. Mama-ku sendiri saja selalu membicarakan ku diam-diam," sambung Altair lagi. Dia tengah meminum sebuah jus yang telah tersedia diatas meja makan itu.
Perkataan Altair membuat David dan Clarissa terkekeh. Terlebih lagi Clarissa, dia bahkan langsung enggan membahas masalah balapan itu lagi.
"Siapa wanita yang sering membicarakan Altair?" sahut-nya tidak suka. "Tidak. Mereka harus berhadapan dengan Mommy!" Clarissa berkata ketus. Dia memang paling posessif terhadap anak semata wayang-nya itu.
Membuat Altair terkekeh geli diatas kursi-nya. "Satu Bima Sakti selalu membicarakan-ku mom." kata-nya puas. Mendapati wajah Clarissa yang kebingungan membuat Altair tertawa kembali.
"Altair makan roti saja Mom, ada mata kuliah pagi ini. Dosen-nya galak, jika telat Altair bisa dihukum!" Altair berujar takut. Lagi pula seorang Altair takut dihukum? Heh, kebohongan seperti apa itu.
"Siapa dosen-nya?" Kini David berujar penasaran, menatap anak semata wayang-nya itu. "Apa mereka lupa siapa yang memberi banyak sekali dana disana? Bagaimana mungkin mereka memarahi Altair kami?" singgung-nya tajam. Membuat Clarissa langsung mengangguk setuju.
Well, Altair salah bicara. Hanya karena wanita gila itu, dosen-nya harus Altair korban-kan.
"Lagi pula aku masih kenyang, jangan mengkhawatirkan-ku," ujar Altair mengalihkan pembicaraan. Altair tahu, Mommy-nya paling kalut jika dia tidak sarapan, tapi Altair benar-benar tidak punya waktu lagi. David dan Clarissa benar-benar memperlakukan-nya seperti seorang bayi. Altair kini membuka ponsel-nya yang sejak tadi dia letakkan diatas meja.
Kedua orang tua-nya masih bercengkrama, sebab itu Altair lebih fokus pada benda persegi ditangan-nya tersebut. Apalagi saat membaca pesan dari Lea, Altair langsung berniat pergi saat itu juga. Dia bahkan tidak menyangka bibir-nya mengukir senyum disana.
Wanita gila
Kamar sebelah terlalu berisik, suara dentuman keras membangunkan-ku. Apa yang harus aku lakukan?
Wanita gila
Kaki-ku masih terasa nyeri. Seandai-nya laki-laki sialan yang menabrak-ku memperlakukan ku lebih baik.
Wanita gila
Aku lapar lagi, tapi tetap kutahan. Dari pada aku dikatai babi.
Wanita gila
Aku jadi tidak bisa tidur. Huh.
Altair menghentikan aktifitas-nya membaca semua celotehan wanita gila itu, karena suara Clarissa mengejutkan-nya.
"Apa ada sesuatu yang penting? Kenapa kau terus menatap layar ponsel-mu itu Altair?" ujar Clarissa penasaran.
"Ada masalah?" kini David ikut-ikutan. "Sejak tadi kau terus tersenyum," tambah-nya lagi.
Altair menggeleng cepat, berdiri untuk mencium pipi Clarissa lagi, dia memasukkan seluruh roti dimulut-nya, membuat pipi tirus itu terlihat penuh, Altair berjalan dan melambaikan tangan-nya, dia harus keapartemen Lea sekarang juga.
Membuat David dan Clarissa hanya tertawa melihat tingah anak-nya tersebut. Menghiraukan Altair yang sudah dewasa, bagi mereka Altair tetap bayi kecil mereka.
???
Mula-nya Altair tidak seperti ini. Dia bukan tipe yang mudah peduli kepada orang lain. Dia juga lebih suka mengurusi motor-nya daripada ikut terlibat dalam semua keraguan orang-orang. Namun-tidak tahu sejak kapan, semua yang Altair hiraukan malah menjadi yang pertama dia kalutkan. Tentu saja semua itu karena wanita gila yang sudah ditabrak-nya tanpa sengaja waktu itu.
Altair masih belum paham sama apa yang tengah dia alami. Mungkinkah itu murni karena rasa bersalah? Atau karena sesuatu yang lain. Tapi sudah-lah biarkan waktu yang akan menjawab semua keraguan-nya.
Altair melirik jam Rolex dipergelangan tangan sebelah kiri-nya. Sudah menunjukkan pukul sembilan, yang artinya dia masih punya satu jam untuk mata kuliah pertama-nya. Termasuk hal yang aneh, karena jadwal-nya sama dengan milik wanita gila tersebut.
Dia melajukan sedan-nya tanpa kendala, menghiraukan hiruk piruk orang berkendara teratur disetiap sisi jalanan, Alair malah dengan gesit memanfaatkan kesempatan yang dimiliki-nya. Jarak rumah-nya dengan apartemen Lea bisa terbilang cukup jauh. Namun hanya butuh setengah jam bagi seorang Altair untuk sampai disana. Dan benar, tidak perlu menunggu lama dia sudah berada diapartemen wanita itu.
Altair kembali membuka sandi kamar milik Lea tanpa perlu menunggu izin dari wanita itu. Sedikit aneh, karena rasa-nya dia sudah hapal seluruh isi rumah wanita tersebut. Secepat mungkin Altair masuk tanpa permisi. Berjalan hingga sampailah pada kamar Lea, yang ternyata sudah terbuka lebar. Wanita itu tidak mengunci-nya, Altair dibuat sedikit berlonjak karena mendapati wanita itu hanya mengenakan sebuah tanktop dan juga jeans berwarna hitam. Rambut-nya masih dibalut handuk, sambil terus menatap pemandangan diluar sana, seperti-nya Lea tidak sadar oleh kehadiran Altair.
"Mau jadi apa generasi bangsa ini, kuliah jam sepuluh tapi jam segini masih santai-santai!" Altair berseru dari ambang pintu.
Membuat Lea spontan menoleh dan langsung menutup sebagian tubuh-nya, dengan selimut diatas ranjang-nya.
"Apa yang kau lakukan disini??" rutuk Lea gusar. Ia sedang melakukan persiapan untuk berangkat kuliah, namun sial-nya si-songong itu sudah berada diapartemen-nya.
"Menjemput wanita gila yang terus-terusan mengeluh!" Altair menjawab cepat, sambil menggelengkan kepala dia berujar kembali, "Pasanglah bajumu bodoh, jangan memamerkan d**a yang tidak indah itu!" ledek-nya seraya beranjak pergi, menunggu Lea disofa ruang tamu apartemen itu.
"Terkutuklah kau Altair!!" teriak Lea dari dalam kamar. Ia mendengus marah, 'Apa katanya? Dadaku tidak indah? Sialan!!' Lea tak henti-henti merutuki Altair. Akhir-nya dengan kedua tongkat-nya, Lea berjalan pelan, membuka lemari jati yang terletak disudut kamar-nya untuk mengambil baju yang akan dikenakan-nya.

Lea sudah tersenyum melihat pantulan diri-nya pada cermin besar disamping lemari itu. Dengan celana putih dan sweater turtleneck berwarna merah, Lea memoles sedikit pelembab bibir-nya. Mencepol rambut-nya kemudian melangkah keluar kamar dengan kedua tongkat-nya.
Namun senyum Lea perlahan memudar melihat Altair sudah terbaring disofa-nya, lelaki itu telah larut dengan ponsel-nya.
"Eh-hem!" Lea berdehem pelan.
Altair langsung menoleh mendengar itu, masih dengan senyum menyeringai, dia kembali menggoda Lea. "Nah, begitu lebih baik. d**a kecil-mu tidak perlu kau pamerkan!"
"Diam kau Altair! Jangan membuat pagi ku rusak karena mulut bebek mu itu!" singgung Lea malas. Ia memutar bola mata-nya jengah.
"Huh. Aku lebih suka melihat pagimu rusak. Karena pagiku sudah rusak oleh wanita gila yang mengirimkan banyak sekali pesan." ujar-nya seraya mengedikkan bahu puas.
Lea menghela nafas, sebelum melanjutkan jalan-nya yang kesusahan, karena belum terbiasa dengan kedua tongkat ditangan-nya tersebut. Ia berusaha untuk tidak berdebat dengan lelaki songong itu. Karena meladeni Altair, tidak ada berkesudah.
Lea membuka pintu apartemen-nya, di-ikuti Altair dibelakang-nya, lelaki itu masih menatap-nya--dengan senyum menyebalkan yang biasa dia tampilkan. Bahkan hingga pintu tertutup kembali, Altair terlihat tersenyum mengejek kearah-nya. Tidak, lebih tepat-nya pada bagian tubuh yang berada dibawah leher-nya. 'Altair b******n!!' gusar Lea dalam hati-nya.
"Yatuhan, kalau seperti itu jalan-mu, kita akan meninggalkan dua mata kuliah!" geram Altair karena wanita itu terlihat begitu lamban.
"Kakiku sakit bodoh! Dan aku tidak terbiasa menggunakan tongkat ini!!" balas Lea tidak mau kalah. Heran karena Altair terlihat tidak berpikir atas apa yang telah dialami-nya.
"Bahkan siput lebih cepat dari-mu!" ujar-nya lagi.
"Siput yang sakit tidak akan dapat bergerak sepertiku!!" Lea menjawab malas. Rasa-nya Altair memang punya hobi meladeni semua perkataan-nya.
Merasa jengah karena sejak menuruni lift tadi Lea berjalan semakin pelan. Altair mengambil keputusan sepihak, dia berjalan mendekat, menyentuh pinggang Lea dengan tangan sebelah kiri-nya, sementara tangan yang lain-nya Alair pakai untuk memegang paha wanita itu. Altair menggendong-nya.
Hal tersebut membuat Lea spontan menarik tongkat-nya, masih tidak habis pikir oleh perlakuan Altair.
"Hei!! Apa yang kau lakukann??" teriak Lea panik.
"Waktu-ku bukan hanya untuk mengurusi mu bodoh! Melihat mu berjalan lambat membuat ku kesal!!" Altair berujar jengah.
See, hanya beberapa menit hingga mereka berdua kini sudah berada dimobil sedan Altair. Membuat Altair secepat kilat menghidupkan mesin mobilnya, dan mulai melajukan sedan tersebut.
"Katakan dulu jika kau ingin menggendong-ku!" Lea protes keras.
"Lagi pula aku sudah tahu jawaban-nya." kata Altair kemudian.
"Dasar kau manusia paling sok tahu!" cecer Lea menghakimi.
"Persetan dengan itu. Mari kita berganti topik pada laki-laki disebelah kamar-mu itu?" Altair bertanya hal lain. Sejak tadi itu yang terus dipikirkan-nya.
"Entah-lah, sejak kau bertanya semalam aku jadi memikirkan-nya." ujar Lea kemudian.
Altair masih sibuk dengan setir kemudi-nya, sesekali dia mendesah marah, macet-nya Ibu Kota membuat lelaki itu menggerutu tanpa henti, "Kau pernah berteguran dengan-nya?"
"No. Tidak sama sekali. Tapi aku pernah berpapasan dengan-nya, menurut ku dia aneh." jelas Lea. Ia ingat setiap kali berpapasan dengan lelaki itu, bahkan untuk sekedar tersenyum saja lelaki itu tidak pernah.
"Berhati-hatilah. Apartemen tempat mu tinggal, di-isi dengan banyak orang aneh!" ringis Altair disana.
Lea mengerutkan dahi-nya, tidak paham maksud perkatan Altair barusan.
"Pasangan yang berciuman diparkiran, lelaki bertopi aneh." Altair kemudian menjelaskan. Membuat Lea mengangguk paham. "A-ah satu lagi, wanita gila yang menangkap pokemon di-sirkuit balap."
Membuat Lea mendengus dan memukul pergelangan tangan lelaki disebelah-nya tersebut.
Akhir-nya kedua-nya sudah memasuki halaman Bima Sakti. Fakltas Altair dan Lea terletak di-ujung selatan. Jika melewati jalan depan, Fakultas Hukum yang pertama dilewati, setelah-nya barulah Fakultas Tekhnik.
Altair menghentikan sedan-nya pada parkiran Fakultas Hukum, padahal Lea sudah meminta-nya untuk berhenti didepan gerbang saja, mengingat kedua Fakultas itu tidak akur. Namun seperti-nya Altair terlihat acuh dan tidak peduli.
Dia turun dari bangku kemudi, membuka pintu penumpang untuk Lea, bagaimana menjelaskan ini, tapi seluruh anak hukum memandang Altair dengan penuh kekaguman. Tentu saja, mana mungkin pandangan jatuh cinta itu ditujukan kepada Lea.
"Kau sudah boleh pergi," kata Lea pelan. Ia merasa-jengah.
"Siapa juga yang mau menunggu siput seperti-mu. Membuang waktu-ku saja." jawab Altair cepat seraya melangkah memasuki sedan-nya.
Dia sudah menghidupkan kembali mesin mobil-nya, melajukan sedan tersebut meninggalkan parkiran Fakultas tetangga-nya itu.
Disana, dari balik kaca gelap sedan-nya, Altair menatap tidak suka, kepada seorang laki-laki yang sedang menuntun Lea berjalan.
Hell, perasaan macam apa ini? Yang benar saja.
???