Tidak semua kenang dapat kau ulang. Tidak semua luka dapat kau toreh.
Dan bagaimana jika semua dapat terobati.
Tanpa perlu saling menyakiti.
***
Jika semua orang berpikir, Altair melajukan sedan-nya menuju Fakultas-nya, semua salah besar. Altair hanya malah melewati Fakultas-nya, dia berbelok pada jalan belakang yang biasa langsung menjadi jalan pintas.
Altair memang sering melewatkan jadwal kuliah-nya, lagi pula dia sudah semester akhir. Tidak banyak lagi mata kuliah yang tersisa, Altair juga malas karena beberapa dosen lebih senang mengomeli-nya, dari pada memberikan materi untuk tugas akhir-nya.
Masih mengemudi mobil-nya dengan satu tangan, karena tangan sebelah-nya Altair gunakan untuk menghubungi sohib-nya. Altair menderu sedan itu cepat, lagi pula dia yakin teman-temannya itu tidak ada yang sudi datang kekampus se-pagi ini.
"Kau dimana?" tanya Altair ketika panggilan itu sudah terhubung.
"Aku masih dirumah. Pergilah lebih dulu kebasecamp." seseorang menyahut dari sebrang sana. "Oh tunggu, apa yang membuat seorang Altair dapat bangun sepagi ini? Huh?" Kevin langsung menyerocos, menyadari tidak seperti biasa-nya Altair sudah tersadar dipagi hari.
"Aku harus mengantar wanita gila itu ke Fakultas-nya. Bangun-lah dan temui aku, aku tidak sabar mengambil motor-ku!" tukas Altair. Dia langsung memutuskan sambungan setelah mengatakan itu, bahkan ketika Kevin belum selesai menjawab-nya.
Jadi tanpa suruhan dari Kevin pun, Altair tetap melajukan sedan-nya menuju basecamp mereka.
Sepanjang perjalanan Altair dibuat berpikir banyak hal, tentang wanita gila yang tiba-tiba mengusik hidup-nya tersebut. Bagaimana kehadiran Lea mulai mempengaruhi-nya.
Benar-benar aneh, karena semua berjalan tanpa diduga-nya. Mungkin, karena Altair terlanjur penasaran oleh wanita itu. Namun bagaimana mengatakan-nya, mereka saja selalu berdebat tentang semua hal. Membuat Altair tidak punya kesempatan untuk bertanya.
???
"Apa kaki mu parah?" Pietro bertanya sambil memapah Lea menuju kelas-nya. Kelas mereka terletak diujung pojok kanan. Membuat Lea harus bersabar melewati seluruh koridor fakultas-nya ini.
Beberapa orang menoleh kepada-nya dan juga Pietro, namun Lea tidak peduli. Tentu saja penampilan-nya paling mencolok karena ia pergi kekampus menggunakan sebuah tongkat.
"Tidak terlalu, tapi nyeri-nya setiap malam bertambah sakit," Lea mengadu kepada sahabat-nya itu.
"Kau sih! Ide gila-mu itu sangat tidak masuk nalar manusia!" rutuk Pietro kesal. Namun dia dengan sabar tetap menuntun Lea menuju kelas mereka.
"Bagaimana lagi? Demi Serena, aku harus menemukan kebenaran-nya!" tukas Lea payau. Setiap kali membahas sepupu-nya itu suara Lea tercekat. Bahkan hingga kini ia masih tidak percaya, bahwa Serena sudah meninggalkan-nya selama-nya.
"Tapi tidak perlu berniat untuk mencelakai-mu," Pietro menjawab ketus. "Pakai-lah cara yang lebih masuk akal!" sambung-nya lagi.
"Kau tau betul bagaimana lelaki songong itu. Dia tidak tersentuh." jelas Lea disana. "Sudahlah, ini sudah terjadi, yang terpenting dia mau bertanggung jawab. Aku hanya perlu mengorek-nya lagi," desis Lea kemudian.
Membuat Pietro membuang nafas-nya kasar sebelum mengangguk paham. Mereka pun sudah sampai dikelas, membuat teman sekelas-nya itu langsung menyemprot Lea dengan banyak sekali pertanyaan.
Well, disanalah Lea tengah memainkan peran-nya. Membohongi seluruh teman-temannya, kecuali Pietro tentu saja. Karena lelaki berkacamata itu mengetahui segala-nya.
???
Altair memasuki basecamp mereka seperti biasa. Dia membuka pintu itu perlahan, mendapati Rendra masih tertidur pulas disofa ruang tamu. Dia menggelengkan kepala.
"Ren. Bangun-lah!" kata Altair. Dia menggoyang tubuh sahabat-nya itu.
Tidak perlu menunggu lama, Rendra tersadar, dia mengerangkan suara-nya. Masih dengan mata terpejam, dia berusaha untuk duduk. "Jam berapa ini?"
"Sebelas! Kau melewatkan mata kuliah hari ini," singgung Altair kemudian.
"Kau juga sama! Jangan menipu-ku," tukas Rendra seraya melangkah memasuki kamar mandi.
Altair terkekeh, dia memainkan ponsel-nya selagi menunggu Rendra.
Altair terdiam lama menatap benda pipih itu, mengimang apakah dia harus menghubungi wanita gila tersebut, atau membiarkan-nya begitu saja? Altair jadi bingung sendiri.
Dia harus melakukan pertandingan malam ini. Menuntaskan kekalahan-nya beberapa hari yang lalu, jadi dia tidak punya waktu untuk meladeni wanita gila itu.
"Kenapa?" tegur Rendra yang tiba-tiba sudah berada dihadapan-nya.
Altair langsung mengulurkan niat-nya mengabari wanita gila itu. Lagian untuk apa? Mereka bukan siapa-siapa yang wajib saling bertukar pesan. Mereka hanya dua orang asing nan terjebak pada sebuah kesalahan.
"Bukan masalah. Kevin begitu lama, mari kau saja yang menemani-ku ke bengkel bang Maman." ajak Altair kemudian. Dia sudah berdiri dan memainkan kunci mobil-nya pada jari-jari nya.
Sementara Rendra, dia mengikut dengan pasrah dibelakang Altair. Tidak pernah punya pilihan untuk menolak permintaan sahabat-nya tersebut.
Mereka sudah menaiki sedan Altair, bengkel Bang Maman terletak tidak jauh dari basecamp. Juga tidak jauh dari sirkuit balap. Bang Maman memang sudah menjadi langganan Altair, beliau mengurus semua masalah tentang kendaraan Altair. Tentu saja, bengkel itu Altair yang memberi dana-nya.
"Hei! Milik siapa ini??" tanya Rendra. Dia menunjukkan sebuah benda kecil. Lama Rendra memperhatikan itu sebelum tersadar, itu adalah sebuah lipstik yang tanpa sengaja terduduk oleh-nya.
Altair menoleh sebentar sebelum menyambar itu cepat, menyimpan-nya pada dasbor mobil dia berujar, "Punya wanita gila itu seperti-nya."
"Kalian habis b******u di mobil ini??" Rendra bertanya, ralat karena lebih tepat-nya dia menggoda sahabat-nya itu.
"What? Apa hubungan-nya?!" Altair menjawab keki. Sialan, Rendra!
"Cih, kau berbicara dengan siapa? Aku tahu hal klasik seperti itu," ujar-nya bersikeras. Membuat Altair semakin menautkan kedua alis-nya. Masih tidak habis pikir atas jalan pikiran sahabat-nya itu.
"Tapi aku memang tidak mengerti kemana arah pembicaraan-mu itu!" tukas Altair kemudian.
"Aku pikir kau hanya bercanda mengatakan bahwa kau bertanggung jawab atas wanita itu," kekeh Rendra disana.
"Mau bagaimana lagi, aku tidak ingin dipanggil b******n yang tidak bertanggung jawab," sahut Altair berbohong.
"Biasa juga kau tidak peduli oleh semua ejekan itu," goda Rendra, dia masih kekeuh hingga Altair akan berkata jujur. Tapi bukan Altair nama-nya jika lelaki itu mudah dikelabuhi.
"Kenapa kau seperti menodong-ku dengan semua pertanyaan itu?!" singgung Altair keki. Rendra memang tingkat ingin tahu-nya melebihi kapasitas. Mungkin karena dia berperan lebih banyak diantara Deo, Kevin dan juga Lucas.
Yang disalahkan malah tertawa, sambil berujar lagi, "Tidak biasa melihat Altair mengalah,"
"Sudahlah--kenapa jadi membahas wanita itu! Kau tahu dia begitu menyebalkan!" desis-nya kemudian. Bagaimana ya, setiap membahas wanita gila yang mengetahui rahasia-nya itu, membuat Altair malas dan juga keki diwaktu bersamaan.
"Kau sudah benar-benar move on ternyata," Rendra berujar, sambil terkekeh geli.
"Terserah kau saja!" jawab Altair malas. Bertepatan dengan sedan-nya yang sudah berhenti dihalaman besar bengkel bang Maman tersebut.
???
Lea menghembus nafas lega, langit sudah hampir beurbah warna. Mata kuliah mereka telah benar-benar berakhir. Tadi, setelah menceritakan kecelakaan yang dihadapi-nya, minus Altair tentu saja, membuat teman sekelas Lea menatap-nya iba. Mereka merutuki seseorang yang menabrak Lea.
Hell, kalau saja mereka tahu itu ulah si-songong Altair. Pandangan iba itu akan berganti dengan pandangan penuh semangat. Lea yakin! Bagaimana menjelaskan-nya, mengingat fakultas mereka bersebalahan, Altair sering menjadi trending topik dijurusan Lea. Mendapati si-songong itu memiliki banyak sekali fans, Lea menggeleng tidak percaya. Namun, malas memikirkan itu, Lea juga lelah berhadapan dengan si-songong itu.
Selepas kepergian dosen mata kuliah Hukum Internasional, Pietro langsung kembali menghampiri sahabat-nya. Tidak pernah Lea bayangkan jika tidak ada lelaki itu dihidup-nya, Lea pasti akan kesulitan.
Lea menyayangi Pietro sebagai sahabat-nya. Lea bahkan tidak ingin itu berakhir menjadi bagian yang lain.
"Kau akan pulang dengan-ku?" tanya Pietro kemudian.
Lea tidak langsung menjawab, ia mengimang ajakan Pietro. Padahal sebelum-nya Lea tidak pernah seperti ini. Tapi bagaimana lagi, ia harus selalu bertemu Altair, mencari kebenaran atas semua yang mengganjal itu. Atau kah karena Lea merasa kehadiran lelaki songong itu lebih membuat-nya nyaman? s**t! Pemikiran macam apa itu.
"Kau naik motor?" tanya Lea kemudian.
"Iya, menurut-mu naik apa? Jet pribadi?" ledek-nya disana. Membuat Lea terkekeh geli.
"Akan susah jika aku pulang dengan motor, kau bisa lihat kaki-ku seperti ini," ujar Lea beralasan. Ia tidak pernah masalah harus pulang dengan apa saja. Motor, mobil ataupun angkot sekalipun, tapi mengingat kondisi-nya seperti ini Lea jadi meringis.
"Jadi, seorang Lea menolak ajakan ku pulang bersama??" Pietro mendengus malas.
"Pietro! Bukan seperti itu," ujar Lea merasa bersalah.
Pietro malah tertawa, "Iya-iya, aku paham. Santai saja, aku tidak marah."
"Memang kau tidak boleh marah!!" celetuk Lea cepat.
"Kau akan pulang dengan lelaki itu?" tanya-nya memastikan. Lea langsung mengangguk mantap.
"Apakah aku harus ikut menunggu?" tanya Pietro lagi. Secepat kilat Lea menggeleng.
"Ini sudah mulai malam, pulang lah lebih dulu Pietro. Aku akan menunggu sendiri," jelas Lea.
"Baik-lah, tapi biarkan aku menuntun-mu hingga kedepan sana," ajak Pietro kemudian. Kini dia sudah membawa Lea melewati seluruh koridor untuk sampai pada parkiran depan. Memastikan agar Lea tidak repot lagi berjalan sendirian dari kelas mereka yang berada di-ujung sana.
Lea hanya tersenyum, terlampau bahagia karena Pietro selalu ada untuk-nya. Well, Lea begitu menyayangi sahabat-nya itu.
Kemudian, setelah sampai dikoridor fakultas utama, Lea duduk pada bangku panjang yang tersedia disana. Pietro sudah pergi, karena Lea meyakinkan-nya bahwa ia bisa menunggu sendiri. Lagi pula menunggu bukan hal yang sulit. Jadi, mengeluarkan ponsel-nya dari dalam tas hogo, Lea mulai menghubungi Altair.
Panggilan pertama tidak dijawab. Namun Lea terus mencoba, 'apakah anak Tekhnik belum pulang?' pikir-nya dalam hati.
Yang membuat Lea semakin resah adalah karena sudah panggilan kelima dan Altair belum juga mengangkat panggilan itu. Lea merutuk lelaki songong itu habis-habisan. Jika begini lebih baik ia nebeng Pietro saja tadi. Ish! Masalah-nya, langit sudah gelap. Waktu semakin berputar cepat, siapa sangka Lea sudah menunggu hampir dua jam? Sementara panggilan-nya saja bahkan tidak direspon sama sekali.
Namun memastikan bahwa segala-nya akan baik-baik saja, Lea mencoba lagi dengan sabar. Ketika panggilan itu diterima, ia langsung menyerocos panjang.
"Hei! Altair! Aku telah menghubungi-mu sebanyak sepuluh kali!"
"Aku sudah pulang sejak dua jam yang lalu,"
"Kampus ku sudah mulai sepi, disini banyak sekali nyamuk. Kau tega sekali Altair!"
Kira-kira begitulah semua cerocosan yang Lea katakan. Semua kekesalan-nya langsung dia hambur begitu panggilan dari Altair terangkat.
Yang membuat Lea semakin keki karena jawaban dari lelaki songong itu. Benar-benar tidak bisa diterima-nya.
"Aku akan memulai balapan sebentar lagi. Tunggu saja kalau mau, kalau tidak pergilah lebih dulu. Balap ku lebih penting dari pada menjemput-mu," Altair berujar sarkas, kemudian memutuskan sambungan sepihak. Gusar sendiri karena omelan wanita gila itu, sungguh mengusik-nya.
Lea langsung meremas ponsel-nya kuat, menghela nafas kasar karena Altair begitu tidak bertanggung jawab. Sialan! Lea benar-benar ingin mencincang si-songong itu.
Bagaimana mungkin Lea disuruh untuk menunggu lagi, sementara ia sudah dua jam duduk seperti orang bodoh.
Tidak! Lea tidak akan sudi menunggu Altair. Lebih baik ia menghubungi Pietro saja, walaupun Lea yakin sahabat-nya itu akan mengejek-nya, namun tidak masalah. Lebih baik, daripada ia harus menunggu Altair selesai balapan.
Begini, mungkin memang tujuan kadang tidak selamanya berjalan mulus. Kita bisa saja ingin kebarat, ketika dipertengahan jalan malah berbelok keselatan.
Begitulah yang tengah dirasakan Lea, ia baru saja ingin menghubungi Pietro, terbanting sial karena ponsel-nya sudah lebih dulu mati.
Lea tidak hanya mengerang, ia mengacak rambut-nya frustasi. Menatap iba kaki-nya yang harus berjalan dengan tongkat, Lea dengan sangat-sangat terpaksa harus menunggu Altair. Huh! Lelaki b******k itu!!
???
Altair sudah berada diposisi-nya, hanya tinggal beberapa detik hingga ninja hitam milik-nya akan melaju pada sirkuit dihadapan-nya.
Altair sudah menggunakan perlengkapan, meski hanya sebuah sarung tangan, helm fullface dan juga deker untuk menahan lutut-nya jika menikung. Karena ini merupakan balapan liar tanpa aturan, mereka tidak diwajibkan untuk memakai perlangkapan lengkap, maka bahaya-nya jauh lebih terasa.
Tadi setelah seharian dibengkel bang Maman untuk memastikan ninja-nya siap, disinilah Altair saat ini. Berada pada sirkut balap yang dihadiri hampir lima belas orang disana.
Tepat disebelah-nya, Altair menemukan Sean. Meski dalam helm fullface Sean, Altair tahu musuh-nya itu tengah tersenyum meremehkan.
Namun bukan itu yang menjadi masalah bagi Altair, melainkan karena panggilan dari Lea.
Bagaimana wanita gila itu berceloteh panjang, bahkan ketika Altair belum sempat bertanya. Semua perkataan menyebalkan dan juga permohonan agar Altair menjemput-nya, membuat Altair menjadi kalut.
Tapi segera dia enyahkan pikiran mengenai wanita itu, urusan belakang apabila wanita gila itu menunggu-nya atau tidak. Yang terpenting Altair harus menyelesaikan balap-nya malam ini.
Aba-aba sudah diberikan, semua pembalap sudah bersiap pada garis start masing-masing. Dibelakang-nya, tempat para pendukung berdiri Altair sudah menemukan ke-empat teman-nya disana.
Membuat Altair menghela nafas dan mulai kembali fokus. Meskipun kini fokus-nya hilang seketika.
Seorang wanita sexy yang berada didepan garis start sudah bersiap dengan bendera ditangan-nya, motor-motor juga sudah mulai mengegas untuk melaju, hingga akhir-nya bendera yang dilemparkan wanita sexy itu, langsung membuat semua pembalap melajukan ninja mereka.
Seperti biasa, Altair selalu memimpin. Dia berada di posisi pertama. Tidak banyak yang harus Altair lakukan, dia hanya harus memutari sirkuit itu sepuluh kali putaran dan tetap diposisi pertama, jadi balapan itu akan segera Altair menangkan.
Namun pikiran Altair benar-benar dibuat kacau, karena sepanjang melajukan motor-nya itu, sekelabat hal mengenai Lea berputar dikepala-nya. Aneh, karena Altair tidak pernah seperti ini sebelum-nya.
Dan, karena kebodohan-nya memikirkan wanita gila itu, Altair menemukan Sean sudah lebih unggul dihadapan-nya. Padahal hanya tinggal satu kali putaran lagi Altair akan menang.
Sean berhasil merebut posisi Altair ditikungan curam, termasuk hal yang nekat karena beberapa orang jarang melakukan itu.
Sambil meremas gas motor-nya, Altair menggeram dari balik helm-nya. Altair membenci kekalahan! Sialan!
Pertandingan telah selesai satu jam setelah-nya. Tidak bisa Altair jelaskan bagaimana wajah meremehkan Sean terus tertuju kearah-nya.
"What wrong's with u bro?" Kevin bertanya pertama. Dia menepuk pundak Altair pelan.
"Sedang banyak pikiran?" kini Deo ikut menimpali.
"See, bagaimama Sean sialan itu terus tersenyum ke arah kita?" Lucas berdecak tidak suka.
"Kau hampir saja memenangkan sepuluh juta ini," Rendra berujar gusar. Dia tahu beberapa hari ini Altair memang jarang latihan. Mendapati Altair kehilangan fokus dilapangan tadi, Rendra dapat menebak kekalahan sohib-nya itu.
Altair tidak merespon, sudah cukup kepala-nya sakit. Dia tidak butuh lagi ceramah dari teman-temannya.
Jadi, melempar asal kunci motor-nya yang langsung disambut Rendra, Altair meminta kunci mobil-nya kembali.
"Kemana kau??" teriak Rendra lagi.
Altair mengacak rambut-nya frustasi dan berujar. "Mau jemput wanita sialan itu!"
Setelah-nya Altair menghilang, Meninggalkan raut bingung ke-empat teman-nya. Altair berdecak kesal sepanjang perjalanan.
Tidak pernah membayangkan, wanita gila itu dapat membuat seorang Altair dipaksa peduli. Sialan! Ada apa dengan hati-nya?
???