Pada semua kelam yang mulai menyayat diri, kupastikan itu tidak akan terjadi.
Ku yakinkan pada diri sendiri, ternyata memang, sejak awal ini tak pernah berarti.
Menepis itu lagi dan lagi. Perasaan ini tidak seharus-nya menempati hati.
***
Altair melajukan sedan-nya cepat, menghilangkan kekesalan-nya karena kalah melawan Sean. Ini tidak pernah begini. Pikiran Altair benar-benar dikecoh oleh wanita menyebalkan itu.
Tidak peduli pada jalanan umum dihadapan-nya, Altair terus melajukan sedan-nya, menghiraukan seluruh pekikan dari pengendara lain karena hati-nya begitu membara.
Altair membenci Sean. Tidak ada lagi kebersamaan mereka. Tatapan benci itu semakin membara dan kentara sekali. Jadi melihat-nya tersenyum meremehkan, membuat Altair memukul kemudi-nya kasar. 'Sial!' umpat-nya dalam hati.
Akhir-nya setelah meredam sedikit emosi-nya, Altair mengeluarkan ponsel-nya, menekan kontak wanita gila dan mulai melakukan panggilan pada nomor itu.
Kening Altair mengerut, mendapati nomor Lea tidak dapat dihubungi. Dalam hati Altair mengeluh panjang, sudah cukup kekacauan disirkuit, tidak ada lagi setelah ini.
Tapi, semua orang pun dapat menyimpulkan bagaimana Altair terlihat khawatir saat ini. s**t!
Sambil melajukan kembali sedan-nya, Altair menderu mobil-nya ke Bima Sakti. Dia harus memastikan, urusan Lea menunggu-nya atau tidak, Altair tidak peduli.
Hingga akhirnya sedan Altair sudah berhenti tepat diparkiran Fakultas wanita gila itu. Altair coba menghubungi sekali lagi dan hasil-nya masih saja nihil.
Setelah-nya Altair memutuskan untuk turun dari mobil-nya. Dia melangkah menuju koridor utama Fakuktas tersebut. Ini sudah begitu larut, mahasiswa sudah pada pulang. Lagian, orang gila macam apa yang tetap disini dan menunggu jemputan hingga jam dua belas malam. Hell! Tidak masuk akal.
Namun, detik selanjut-nya Altair berlonjak. Dia menemukan wanita itu sudah meletakkan kepala-nya diatas meja, dengan tangan-nya menjadi penyangga.
Altair tahu itu Lea, tentu saja karena tongkat wanita itu begitu jelas terlihat disana.
Altair menggelengkan kepala, tersenyum kecut karena mendapati wanita gila itu ternyata masih menunggu-nya.
"Hei. Dungu. Bangunlah!" tegur Altair. "Lea! Bangunlah!!" sambung-nya sambil mengguncang tubuh wanita itu.
Lea membuka mata perlahan, menoleh kepada seseorang yang telah membangunkan-nya. Lea menatap Altair gusar.
Tidak tahu kenapa, Lea tidak melakukan celotehan panjang seperti sebelum-nya, tapi--ia sudah menangis disana.
Mebuat Altair kalut sendiri melihat itu.
"Aku bukan memukul-mu, kenapa kau menangis??" tukas Altair tidak percaya. Dia heran sekaligus bingung.
Lea masih terisak, menatap tajam lelaki itu dalam gelap karena lampu dikoridor ini tidak dinyalakan. Hanya tersisa lampu bulat ditaman yang menjadi penerang diantara mereka.
"Seriosly? Kenapa kau menangis?!" rutuk Altair kesal. Dia bahkan tidak menyentuh kuat wanita itu.
"Kau jahat sekali Altair!" isak Lea kemudian. "Kata-nya kau akan bertanggung jawab, tapi kenapa menjemput ku saja kau tidak bisa??!" ujar Lea marah.
"Sudah kukatakan, aku sedang balapan." jelas Altair pertama. "Apa aku harus merubah sirkuit balap itu kearah sini??" Altair berdecak tidak percaya. "Lagian kenapa tidak pulang dengan laki-laki berkaca mata itu!"
Lea mengerutkan dahi, sebelum membersihkan sisa air-matanya, ia paham siapa yang dimaksud Altair. "Dia sudah pulang sejak sore, aku menolak-nya mengantarku!" singgung Lea gusar.
"Siapa suruh kau menolak-nya," jawab Altair menyalahkan.
"Karena aku yakin kau menjemputku!" sahut Lea seraya mengambil tongkat-nya. Ia sudah berjalan mendahului Altair. Berdebat dengan si-songong itu memang tidak akan pernah ada habis-nya.
Altair tidak juga menjawab, karena dia tertegun mendengar jawaban wanita itu. Menunggu-nya? Altair tidak percaya wanita menyebalkan itu tetap mengingat-nya.
Altair berjalan dibelakang Lea, mengikuti-nya dari belakang, memperhatikan seluruh gerakan wanita tersebut. Altair terkekeh karena Lea terus saja mengeluh, entah sekedar tongkat-nya yang tidak seimbang atau karena tubuh-nya yang belum lihai menggunakan tongkat itu.
Altair menghentikan langkah-nya mendapati Lea mendadak berhenti. Ia menoleh kebelakang, menatap tajam Altair dan berujar keki, "Berjalan-lah disebelah-ku. Kau terlihat seperti penguntit jika seperti itu!"
Altair langsung membalas tatapan keki Lea. "Kurang kerjaan sekali menguntit-mu. Lebih baik menguntit Kendal Jenner yang sexy, daripada menguntit babi berdada rata seperti mu!"
Membuat Lea langsung menodong-nya dengan sebelah tongkat milik-nya. "Sialan! Kenapa kau terus menghina-ku!!" teriak Lea tidak terima.
Altair terkekeh sebelum mendahului Lea, dia berujar,"Berjalan-lah cepat siput, kaki-ku pegal menunggu-mu!"
Meninggalkan Lea yang sudah menatap-nya tajam, memberikan pandangan mematikan-nya kepada si-songong itu.
"Aku masih tidak habis pikir wanita garang seperti-mu ternyata begitu cengeng," ledek Altair ketika mereka sudah memasuki mobil. Sambil menikmati pekat-nya malam bersama wanita menyebalkan itu, Altair sengaja menderu pelan sedan-nya.
"Tubuh-ku habis digigit nyamuk, jangan meledek ku lagi! Kau sudah membuatku marah hari ini!" jawab Lea ketus. Ia menyenderkan kepala-nya pada bantalan yang tersedia dimobil Altair.
Tadi setelah berkutat dengan kemarahan-nya, Lea malah tertidur diatas meja koridor pertama fakultas-nya tadi. Ponsel-nya mati total, membuat Lea tidak punya banyak pilihan.
"Masih mending hanya nyamuk, coba kalau macan. Bisa bertengkar kalian," Altair masih meledek wanita itu habis-habisan. "Lagi pula apa yang kau marah-kan, sekarang pun aku sudah menjemputmu." sambung-nya kemudian.
"Kau jahat! Meninggalkan seorang wanita sendirian diFakultas-nya hingga selarut ini!" tukas Lea sebal.
"Kau masih kesal karena masalah itu? Huh, kau pendendam juga ternyata," jawab Altair, ukiran bibir-nya menyeringai.
Menghiraukan itu Lea masih terus menyalurkan kekesalan-nya, "Bagaimana mungkin banyak orang yang mengagumi-mu, mereka tidak tahu kau sangat buruk!" Lea balas mencecar lelaki songong itu.
Altair hanya tertawa mendengar perkataan Lea, begitu menyenangkan setiap kali berdebat dengan wanita itu. Seakan adrenalin-nya kembali di-uji. "Yeah, sudah kukatakan hidup-ku penuh bahaya. Sayang sekali, karena kau sudah mulai terlibat didalam-nya."
Membuat Lea mengernyitkan dahi-nya, bingung sendiri oleh maksud Altair barusan. Namun, menghiraukan perdebatan mereka lagi. Lea lebih baik memalingkan muka, melihat pemandangan dari jendela tempat-nya duduk. Ia lebih memilih menyaksikan lalu lalang orang daripada terus berdebat dengan si-songong ini.
"Bangun-kan aku jika kita sudah sampai diapartemen, aku mengantuk dan lelah." ujar Lea, sebelum mata-nya benar-benar tertidur pulas didalam mobil Altair.
Altair tidak menjawab, dia hanya fokus mengemudi sedan-nya, namun sesekali mata-nya melirik wanita menyebalkan itu.
Namun siapa yang mengira, pandangan Altair lebih sering kearah wanita itu, dari pada jalanan yang tengah dilalui-nya?
Hell! Ini sudah mulai tidak waras.
???
Altair menghentikan sedan-nya, di apartemen Lea, pada dua puluh menit setelah-nya. Dia sudah memarkirkan rapi mobil-nya.
Altair berdehem pertama, sengaja sedikit nyaring, namun wanita gila itu masih terlelap. Tidak ada tanda-tanda akan segera tersadar.
Akhir-nya menghela nafas panjang, Altair memutuskan untuk menggendong Lea. Lagi pula, Altair merasa iba.
Sedetik dia terkekeh, melihat wajah wanita menyebalkan itu, tidak tahu setan apa yang merasuki-nya lagi. Altair menyentuh wajah Lea, menyapu jari-nya diatas wajah wanita itu, menepikan beberapa anak rambut yang menghalangi wajah menyebalkan Lea, persis seperti apa yang dilakukan-nya dulu dikamar wanita ini.
Senyum terukir dibibir-nya, perasaan aneh ini lagi semakin kentara sekali dan mulai terlihat jelas.
Buru-buru Altair menyadarkan diri-nya lagi.
Altair baru saja akan beranjak kalau bukan karena laki-laki bertopi yang ditemui-nya disebelah kamar Lea, terlihat baru saja keluar dari lobi. Lelaki itu melangkah keparkiran, sesekali menoleh kebelakang-nya, Altair yang menyadari ada keganjalan segera menuruni tubuh-nya, sedikit bersembunyi walaupun kaca mobil-nya berwarna hitam, dia tetap harus melakukan itu.
Altair masih fokus kepada lelaki bertopi itu, disana--mungkin seratus meter dari tempat mobil-nya parkir, lelaki bertopi itu sedang menunggu seseorang, terlihat jelas dari raut dan juga ekpresi-nya yang Altair simpulkan begitu--resah.
Altair masih terus memperhatikan, tidak sedikitpun mata-nya kearah lain, bagaimana laki-laki itu tengah merokok, juga tangan-nya yang sibuk memegang sebuah ponsel kecil. Dia terlihat begitu--butuh sesuatu.
Ketika suara erangan dari wanita menyebalkan disebelah-nya, merusak lamunan Altair.
"Hei bodoh, kenapa kau tidak membangunkan ku?" Lea berujar keki. Membuat Altair membulatkan mata seraya mendekap mulut wanita itu dengan tangan-nya.
"A-ph-a hang hau hakukan! ( apa yang kau lakukan )" rutuk Lea sambil menepis tangan Altair.
Membuat Altair membulatkan mata dan terus mendekap mulut Lea.
"Sttttt, diamlah dungu. Aku sedang memata-matai," ujar Altair, melepaskan jemari-nya seraya menunjuk lelaki bertopi disana.
Melihat itu Lea menoleh, mata-nya membulat sempurna, ia mengangguk paham.
Namun ketika lelaki bertopi itu menoleh kearah mobil Altair, Lea langsung menundukkan kepala-nya. Mendekat-kan tubuh-nya pada bangku kemudi, sehingga jarak-nya dengan Altair--sangat dekat.
Lea menengadah, mendapati Altair yang juga tengah menatap-nya. Terkutuklah karena mereka harus berada diposisi ini!
"Dia berjalan kemari!!" ujar Lea panik. Altair menoleh, memastikan sesaat ketika sialan lelaki bertopi itu benar-benar berjalan kearah mereka.
"s**t!" erang Altair kemudian.
"Hei, bagaimana ini??? Dia semakin mendekatt!!" Kata Lea semakin panik. Ia bingung sekaligus--takut.
"Kau berisik sekali! Kita jadi ketahuan dungu!" Altair berujar menyalahkan.
"Kaca mobil-mu hitam, tidak masalahkan?" jelas Lea kemudian.
"Tetap saja tembus pandang!" Altair meyakinkan itu.
"Bagaimana kalau kita kabur saja?? Cepat nyalakan mobil-mu!" jerit Lea kemudian.
"Tidak bisa dungu! Itu sama saja cari mati!" rutuk Altair kesal.
Lea mengigit bibir-nya kasar, panik dan takut sekaligus menjadi satu. Ia benar-benar dibuat kalut. "Altair lakukan sesuatu, bagaimana ini???"
Sejenak Altair berpikir keras, memikirkan banyak cara yang masuk akal untuk disampaikan sebagai alasan. Namun otak-nya dibuat hilang akal. Dia juga bingung sendiri.
Lama Altair berpikir ditengah cerocosan wanita menyebalkan itu. Lelaki bertopi tadi benar-benar melangkah kearah mereka, mungkin dia juga penasaran.
Sehingga satu meter mendekati mobil-nya, Altair tidak punya pilihan lain selain melakukan ini. Tidak tahu, ini terlintas begitu saja.
"Tegak-kan tubuh-mu!" ujar Altair kemudian.
Lea mengerutkan dahi, bingung.
"Lakukan-lah dungu!!" paksa Altair lagi. Lea langsung menurut cepat.
Altair menarik wajah wanita menyebalkan itu, menyeringai sebelum mendekatkan bibir-nya pada bibir Lea. Altair menangkup wajah Lea dengan kedua tangan-nya. Tidak butuh waktu lama bagi Altair untuk mendaratkan ciuman-nya pada bibir Lea, menarik paksa bibir itu dalam lumatan yang--dalam.
Altair menikmati itu, layak-nya memutari roller coaster. Hati-nya kacau dan diakhiri dengan kepuasan.
Lea berlonjak, tercekat dan juga tidak percaya. Mata-nya membulat sempurna. Tidak pernah terbayangkan dalam hidup-nya, first kiss-nya akan jatuh kepada lelaki songong itu.
Lea tidak punya pilihan selain sibuk mengatur degupan jantung-nya.
Sialan, karena lelaki bertopi itu benar-benar mengintip sedan Altair dari luar.
Cepat Lea memejamkan mata. Pura-pura menikmati cumbuan mendadak Altair, Lea menahan degupan gila dijantung-nya. Ini sangat tidak masuk akal.
Lea membuka mata kembali, mengintip perlahan dan menemukan bagaimana lelaki bertopi itu kemudian melangkah pergi.
Memastikan keberadaan mereka sudah aman, cepat-cepat Lea menyadarkan diri-nya. Sehingga membuat Lea mendorong tubuh Altair cepat, sebelum pikiran nya benar-benar terkuras habis.
"Gila! Apa yang kau lakukan!!" teriak Lea marah, ia sudah menutup bibir-nya dengan tangan-nya.
Altair menatap Lea dengan mata hazel itu, meski dalam pekat malam, Lea tahu sorot tajam lelaki itu. "Mengalihkan perhatian." jelas Altair. Mendapati hati-nya yang kacau Altair kikuk sendiri. "See? Dia sudah pergi sekarang." sambung-nya berusaha santai.
Membuat Lea keki karena Altair berkata seolah-olah yang barusan terjadi bukan masalah besar. s**t!!
"Tapi--kenapa kau menciumku??" Lea masih tidak terima atas apa yang terjadi. Walaupun dalam beberapa detik singkat itu, Lea merutuki hati-nya karena ia begitu menikmati ciuman mereka. Sialan!
"Tidak ada cara lain Lea. Kau tahu pasti." ujar-nya sambil mengangkat alis-nya.
Lea menghela nafas panjang. Bagaimanapun ia berdebat dengan Altair, lelaki itu selalu saja punya banyak jawaban tersendiri.
Jadi, memilih untuk menghiraukan-nya, Lea bersiap-siap turun dari sedan Altair.
"Kau marah?" Altair bertanya kemudian. Dia seharus-nya tidak peduli, tidak terbuai pada apa-apa yang biasa-nya terjadi. Tapi ini berbeda, bagaimana Lea diam saat Altair mencumbu-nya, membuncah keinginan Altair untuk tetap menikmati bibir wanita itu. Membuat keadaan yang tidak seharus-nya menjadi semakin Altair inginkan. Sialan, karena bibir Lea membuat-nya kehilangan akal.
"Mau bagaimana lagi," ujar Lea akhir-nya, ia berlalu menuruni sedan Altair.
Altair juga melakukan hal yang sama. Dia turun dan sedan-nya, mengikuti Lea kembali. Altair harus mengantar wanita itu, lagi pula mereka masih belum tahu apa yang tengah dilakukan lelaki bertopi tadi.
"A-ah itu ciuman pertama-mu??" Altair kini menggoda Lea. Dia menoleh genit pada wanita disebelah-nya itu, terkekeh karena mendapati Lea terlihat begitu putus asa.
"Diam saja Altair! Jangan membahas ciuman itu lagi!" gusar-nya marah.
Altair semakin jadi menyunggingkan senyum-nya, "Oh wanita menyebalkan ini baru pertama kali ciumam ternyata," kekeh-nya lagi. Membuat Lea menghentikan langkah-nya, ia menatap Altair berang.
Bukan Altair tentu-nya jika dia langsung diam hanya karena tatapan menggemaskan itu--menurut Altair. Dia mengedikkan sebelah mata-nya. Kemudian berujar kembali, "Sejujur-nya bibir mu terasa manis Lea. Aku ingin menikmati-nya lagi,"
Dengan Lea yang kembali menatap-nya keki. "ALTAIR!" teriak-nya nyaring. "Berhenti menggoda-ku!!" sambung-nya gusar. Barulah Altair mengangguk seraya tersenyum geli.
Mereka sudah sampai pada lobi utama. Meski Altair harus dibuat sabar karena menunggu wanita gila itu dengan tongkat-nya, Altair masih terus memikirkan perlakuan-nya tadi. Tidak menyangka bahwa mencium wanita menyebalkan itu ada dalam kamus-nya. Hell ini semua karena pemikiran sialan tadi!
Altair dan Lea sudah memasuki lift, baru saja Altair akan menekan tombol lantai sepuluh, seseorang ikut bergabung bersama mereka. Yang membuat Altair dan Lea sama-sama menoleh adalah karena yang masuk ternyata lelaki bertopi yang sengaja mereka intai tadi.
Lea meneguk ludah-nya, muka-nya tiba-tiba--pucat. Melihat itu Altair langsung berdiri disebelah-nya, mengambil alih tongkat Lea, seraya memegang pinggang wanita tersebut.
Altair menatap Lea--lama. Menghujani mata wanita itu dengan penuh cinta. Altair berlaku seolah-olah sangat menyukai wanita direngkuhan-nya itu. Kadang kala dia mengelus pangkal kepala Lea, sesekali Altair mencium puncak kepala wanita itu.
Lea semakin jadi menahan degupan jantung-nya. Ia tahu semua perlakuan Altair semata-mata karena mereka harus bertingkah layak-nya sepasang kekasih dihadapan lelaki bertopi itu.
Lama hening tercipta, hingga sebuah suara ponsel berdering nyaring. Lea dan Altair langsung menoleh kepada lelaki bertopi didepan mereka, mengingat posisi Altair dan Lea mentok pada dinding lift tersebut.
"Permisi sebentar," tukas lelaki bertopi itu sopan. Lea dan Altair serempak mengangguk.
Buru-buru lelaki bertopi itu meraih meraih ponsel-nya yang berada disaku. Saat menarik benda pipih itu, sebuah barang berwarna putih kecil terbungkus ikut terjatuh.
Altair dan Lea saling menajamkan mata-nya, Lea membulatkan mata sempurna, sementara Altair terlihat biasa saja.
Shit, itu Narkotika jenis Sabu!
Lelaki bertopi itu segera mengambil barang itu, menoleh sesaat kepada Lea dan Altair tajam, sebelum mengangkat ponsel-nya. "Aku sudah menerima barang-nya!" ujar-nya. "Lain kali datang-lah, jangan menyuruh orang lain. Merepotkan!" sambung-nya lagi sebelum memutuskan panggilan.
Altair berusaha menenangkan Lea, mengatasi keterkejutan wanita itu, karena ternyata lelaki disebelah kamar-nya merupakan pemakai juga.
"Jika kalian memang begitu ingin berciuman, lakukanlan dirumah. Jangan dimobil seperti tadi." ujar lelaki bertopi itu, bertepatan dengan lift yang sudah terbuka.
Lelaki itu sudah meninggalkan mereka. Lea masih berjalan jauh dibelakang, ia sudah mengumpulkan semua pertanyaan-nya kepada Altair. Namun berusaha Lea tahan, setelah masuk keapartemen-nya Lea berjanji akan mencecar Altair dengan semua pertanyaan yang dikumpulkan-nya.
"s**t, kau melihat barang yang jatuh tadi??" cerocos Lea ketika mereka baru saja memasuki apartemen-nya.
"Kenapa kau panik, kau tahu itu apa?" Altair mengerutkan dahi. Pura-pura bodoh. Tentu saja Lea tahu, ia sudah sering melihat barang haram itu.
"Of course! Jangan berpura-pura tidak tahu!" kata-nya keki.
"Oke-oke. Aku tahu, kenapa memang-nya?" tukas Altair santai. Lea sudah menggeleng kuat.
"Jangan-jangan semua keributan yang terjadi setiap malam itu karena dia sedang sakau? Maka-nya dia melempar barang-barang dikamar-nya itu?" Lea menyimpulkan imajinasi-nya sendiri.
Noted : Sakau, atau sakaw, alias putus obat, adalah gejala tubuh yang terjadi akibat pemberhentian pemakaian obat secara mendadak, atau akibat penurunan dosis obat secara drastis sekaligus.
"Mungkin saja." kata Altair kelewat santai. Membuat Lea gusar.
"Apakah orang sakau terlihat begitu menakutkan? Kau pernah? Kau pernah sakau?" tanya Lea bertubi-tubi.
Altair terkekeh, "Tidak, aku tidak pernah. Lagian bukan narkoba jenis itu yang aku ambil,"
"Bohong, kau pemakai! Tidak mungkin jika kau tidak pernah sakau!" tuduh Lea langsung, ia sedikit menjauhkan diri-nya dari Altair. Tiba-tiba merasa sedikit--takut.
Altair malah tertawa lepas, "Sudah kukatakan jangan pernah membahas masalah itu lagi. Simpan saja semua pengetahuan soktahu mu itu."
"Yatuhan kenapa hidup-ku dikelilingi oleh orang-orang seperti-mu!" jerit Lea frustasi. "Kau! Jangan pernah kau sakau saat denganku. Aku takut!" ujar Lea kemudian.
Membuat Altair menyeringai sambil mendekati Lea, mengacak-acak rambut wanita itu dan berujar, "Tenang saja. Kau memang belum mengenalku dungu!"
Shit! Lea berkali-kali mengumpat dalam hati-nya, kenapa hidup-nya begitu suram?
Ugh! Menyebalkan!
???