Seharus-nya tidak seperti ini.
Sebuah nyaman yang datang tanpa terkira, menolak diterima ketika ternyata mereka sudah menetap.
Menepis itu pada banyak keraguan, kesalahan kembali datang.
Nyaman-nya terus bersarang.
***
Altair tidak langsung pulang begitu perdebatan-nya dengan wanita menyebalkan itu selesai. Dia masih duduk disofa ruang tamu apartemen itu. Seakan ada sebuah magnet yang menarik-nya untuk tetap tinggal.
Altair membiarkan semua pikiran buruk Lea, tanpa ingin membantah-nya. Meskipun wanita itu tidak tahu menahu fakta yang sebenar-nya. Tidak masalah, semua hanya tentang waktu yang akan menjawab-nya.
Jika Lea pikir, Altair terlihat santai. Itu semua salah besar, Altair sudah curiga dengan gerak-gerik lelaki bertopi dikamar sebelah apartemen Lea ini.
Sejak awal bertemu dengan lelaki itu kemarin, dia terlihat berkeringat kuat, sementara cuaca sedang tidak panas, mata-nya juga berair dan dia terlihat kebingungan.
Altair memiliki segudang pengalaman, jadi mendapati lelaki bertopi itu Altair menebak lelaki itu sedang sakau. Terlihat jelas dan kentara sekali.
Namun bukan itu masalah-nya, siapa sangka kalau Altair malah memikirkan segala hal--mengenai Lea.
Seharus-nya Altair tidak peduli, juga tidak perlu tahu. Tapi kenapa semua-nya menjadi berbeda setiap kali Altair berhadapan dengan wanita itu. Ada sebuah keinginan untuk tetap bertahan, ada sebuah paksaan untuk tetap tinggal. Altair menepis pemikiran bodoh itu, meyakinkan diri kembali ketika sebuah pemikiran konyol menyelimuti kepala-nya. Mungkin kah itu karena dia semakin lama dibuat nyaman?
Hell! Tidak boleh. Altair tidak boleh terjebak pada masalah yang sama, wanita.
Akhir-nya, Altair memutuskan untuk terbaring disofa panjang tersebut. Dia memejamkan mata, menenggelamkan seluruh pikiran yang tengah berkecamuk dikepala-nya.
"Hei, apa yang kau lakukan! Kenapa belum pulang??" teriak Lea ketika ia mendapati Altair sudah tertidur disofa-nya. Lea baru saja selesai membersihkan tubuh-nya.
Tadi setelah selesai mandi dan mengganti baju-nya dengan sebuah piama bercorak polkadot, Lea keluar dari kamar karena hendak mengambil air. Namun langkah-nya terhenti karena ia melihat si-songong itu masih berada diapartemen-nya. Lea pikir sejak tadi Altair sudah pulang.
Altair yang baru saja akan memejamkan mata, mendengus kesal. Wanita menyebalkan itu selalu saja mengusik ketenangan-nya. Membuat Altair kembali membenarkan posisi duduk-nya. "Kenapa kau terus mengusir-ku??"
"Ini apartemen-ku. Terserah apa yang ingin aku lakukan," sahut Lea puas. Ia menarik sebelah alis mata-nya. Menantang Altair. Lea ikut terduduk disofa depan Altair, sebelum itu ia meletakkan pelan tongkat-nya kelantai.
"Hm--aku tengah memikirkan bagaimana jika lelaki dikamar sebelah itu kehabisan obat-nya dan menggedor-gedor pintu kamar-mu." jelas-nya beralasan.
"Tidak masalah. Lagi pula dia tidak bisa masuk. Kalau-pun dia mengusik-ku, aku tinggal lapor satpam dibawah," sahut Lea kemudian. Ia menyungging kan senyum-nya.
Membuat Altair menatap keki wanita menyebalkan itu.
"Seperti-nya, aku lebih takut berada disatu ruangan yang sama dengan-mu!" ujar Lea melanjutkan.
"Bodoh. Sudah kukatakan kau tidak mengenal-ku. Aku tidak mungkin sakau didepan-mu!" tukas Altair marah. Wanita menyebalkan itu membuat emosi-nya naik turun.
"Siapa yang tahu? Kau bisa memastikan itu??" Lea menuntut Altair.
"Berani bertaruh?" Altair berujar penuh keyakinan. Well, wanita menyebalkan itu tidak tahu yang sebenar-nya. Altair memiliki ide cemerlang untuk itu.
Lea menatap lekat lelaki dihadapan-nya, mengerutkan dahi seraya memikirkan perkataan Altair. Lama Lea mengimang itu, sebelum meyakini, "Deal! Mari kita bertaruh!"
Altair terkekeh. "Oke, jika aku tidak pernah sakau didepan-mu. Berikan aku ciuman atas itu. Bagaimana?"
Lea membulatkan mata sempurna. "Kau gila!! Apa hubungan-nya?"
"Yeah itu taruhan-ku. Kau bebas memilih pilihan-mu," Altair berujar puas. Dia menyunggingkan senyum mengejek kemudian menyilangkan kaki-nya disofa.
"Ish tidak mau. Aku tidak mau berciuman dengan lelaki yang tidak ku-sukai!" tolak Lea mentah-mentah. Altair hanya terkekeh mendengar itu.
"Jangan menyalahkan-ku kalau nanti kau yang begitu kecanduan pada ini," ledek Altair sambil menunjuk bibir tebal-nya.
Lea mendengus kesal, "Tidak Altair! Tidak akan pernah!"
"Aku tidak ingin bertaruh untuk yang lain. Aku hanya ingin bibir-mu." ujar-nya geli.
Lea hanya menggeleng. Tidak tahu lagi harus bagaimana menyikapi Altair. Lea dibuat seolah-olah berada pada posisi yang runyam. Pada kenyataan yang belum didapat-nya, namun sebuah nyaman sudah sejak dulu bersarang.
'Sialan, kenapa jantung-nya jadi seperti ini??!' rutuk Lea dalam hati. "Terserah kau saja!" kata Lea akhir-nya. Rasa-nya Lea begitu tertantang, lagi pula tidak mungkin semudah itu.
Altair seorang pemakai. Lea mengingat itu. Sedikit kemungkinan kalau lelaki itu tidak akan sakau dihadapan-nya. Yeah, Lea memang sudah terjebak dalam bahaya. Mungkin karena memang ia sendiri yang nekat menerobos-nya.
"Lakukan pilihan-mu." kata Altair lagi, membuat Lea berpikir keras atas apa yang akan ia lakukan terhadap lelaki ini.
"Kau, kaya raya kan?" tanya Lea lebih dulu. Altair langsung mengerutkan dahi-nya. Bingung.
"Kenapa? Kau ingin meminta semua harta-ku?" Altair menuduh tidak percaya.
Lea terkekeh. "Jika memang boleh." ledek-nya disana. "Tapi tentu saja bukan itu, kau kira aku matre?" sambung Lea tidak terima.
"Tidak masalah jika memang itu yang kau ingin-kan." Altair menjawab santai.
"Tidak perlu. Bawa saja aku ke Cappadocia. Bagaimana?" Lea berbinar-binar mengatakan itu.
"Tempat itu lagi? Kau memang begitu ingin pergi kesana?" Altair meyakinkan lagi.
Lea mengangguk penuh semangat. "Karena kau kaya, bawalah aku kesana. Sebelum aku mati, aku harus menikmati pemandangan terbaik disana!"
Altair terkekeh. "Tapi seperti-nya kau hanya bermimpi, karena bagaimana pun aku tidak akan pernah sakau,"
Lea mengedikkan bahu-nya. Tidak peduli, karena tingkat kesoktahuan-nya memang sangat tinggi. "Oh tapi bagaimana kau tahu Cappadocia? Bukan kah kemarin kau tidak tahu?" Lea bertanya heran.
Membuat Altair kikuk seketika. Bagaimana dia menyampaikan ini, namun selepas Lea mengatakan tentang Cappadocia itu beberapa waktu yang lalu, Altair heran. Dia mendapati diri-nya sendiri mencari tahu apa yang dimaksud wanita menyebalkan itu. Ketika siapa sangka itu adalah sebuah tempat bersejarah didaerah Anatolia Tengah, Turki.
Well, tidak bisa Altair jelaskan bagaimana dia langsung kagum melihat pemandangan itu, meskipun hanya dari layar handphone-nya saja.
Tapi tidak ingin melihat wanita menyebalkan itu besar kepala, Altair mengatakan sesuatu yang lain sebagai jawaban. "Hanya orang bodoh yang tidak tahu tempat itu!"
"Kau tidak tahu kemarin!" tuduh Lea kemudian.
"Aku hanya berpura-pura!" Altair menjawab asal. Membuat Lea menatap-nya lekat, mencari-cari kebohongan yang tengah lelaki itu lontarkan.
"Berikan aku ciuman sekarang," ujar Altair kemudian.
Lea langsung meneguk ludah-nya berkali-kali. "S-s-ekarang?" kata-nya terbata. Altair hanya terkekeh geli dari tempat-nya.
"Sudah kukatakan aku tidak mau!" ujar Lea cepat. "Lagi pula permintaan-mu sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin aku memberikan ciuman-ku sementara kita saja tidak bertemu setiap saat!" sambung Lea tidak terima.
"Oke, kalau begitu mari kita terus bersama." jelas Altair pertama. "Mulai besok dan seterus-nya. Kau akan selalu dengan-ku, hanya waktu kuliah kau bebas bersama siapa!" sambung-nya kemudian.
Lea meneguk ludah-nya kembali, ia mengerjap. Menatap lekat Altair, berusaha mencari sesuatu yang ia butuh-kan. Namun, tatapan Altair menghangat, mata-nya seperti tersimpan banyak sekali rahasia.
Lea tidak langsung menjawab, ia tengah berpikir keras. Seharus-nya Lea langsung menerima itu, mengingat ada keuntungan karena dengan begitu Lea bisa lebih mengorek informasi tentang lelaki itu.
Jika perkataan Altair seperti itu, bukankah Lea tidak punya waktu untuk pergi bersama orang lain? Bagaimana hidup-nya setelah ini? Apa Lea tidak punya pilihan selain menuruti itu?
Tapi bagaimana lagi, kembali kerencana awal, semua demi Serena.
"Baiklah." jawab Lea. Ia balas meledek Altair. "Dengan senang hati, karena kini aku memiliki supir pribadi!" sambung-nya.
Altair tersenyum sebelum angkat dari duduk-nya, dia berjalan menghampiri Lea. Masih dengan cengiran songong yang ditampilkan, Lea jadi kalut sendiri.
Lea mendadak panik, mau berlari juga tidak mungkin mengingat kaki-nya saat ini. "Altair! Mau apa kau?!" teriak Lea.
Altair menyeringai, dia sudah duduk disamping wanita menyebalkan itu. Memaksa tubuh Lea untuk berhadapan dengan-nya, Altair meraih pinggang Lea. Persetan dengan semua janji-nya. Altair menginginkan bibir wanita itu lebih dari apapun.

Menguraikan rengkuhan-nya pada pinggang Lea, Altair beralih menopang wajah wanita itu. "Kau tahu? Aku menginginkan ini," kata-nya seraya meyapu bibir Lea dengan jemari-nya.
Lea membulatkan mata, bahkan hanya sekedar untuk bersuara, serapah-nya tertahan ditenggorokan-nya. Lea seolah-olah lumpuh. Apalagi ketika Altair mulai mendekatkan wajah songong-nya kepada Lea.
Lea benar-benar mati. Oleh semua perlakuan sialan Altair.

Altair memberi ciuman pertama pada leher wanita itu, memberikan kissmark disana, tidak tahu kenapa dia melakukan-nya. Altair benar-benar hilang kendali. Bagaimana seluruh aroma Lea ingin dihisap-nya tanpa henti.
Beralih pada leher jenjang wanita itu, Altair turun pada bibir menggiurkan disana. Mengakhiri seluruh nafsu-nya pada bibir sexy Lea, membungkam wanita menyebalkan itu dengan seluruh ciuman-nya.
Lama...
Altair menarik bibir Lea, menghisap-nya dengan penuh kerinduan, dia tidak menyadari bahwa sentuhan seperti ini sudah lama tidak dia salurkan.
Kembali menghisap, mencecap, menggigit bibir Lea, merasakan bahwa semua kenikmatan ada dalam diri wanita itu, Altair melakukan-nya terus.
Menghayati seluruh kenikmatan itu, Altair bahkan menautkan lidah-nya dengan milik Lea. Menari-narikan sesuatu yang sangat tidak masuk akal disana, sehingga Lea bahkan kesulitan bernafas.
"Argh!" erang Lea tiba-tiba. Begitu terhipnotis oleh semua perlakuan yang diberikan Altair.
Bagaimana Altair menodai-nya dengan semua nafsu si-songong itu, bagaimana Altair menghisap leher dan bibir-nya, membuat semua pikiran Lea hancur berantakan. Lea tidak diberikan pilihan untuk menolak. Karena disana, dalam sentuhan meliar Altair, Lea menikmati sentuhan hangat itu lagi. Lea senang melakukan-nya lagi.
Sial! Lea benar-benar kacau.
Altair masih menarik dalam bibir Lea. Mencecap bibir itu begitu lama, sesekali menggigit-nya pelan dan mengulum-nya berkali-kali tanpa ampun. Altair benar-benar sudah kehilangan akal sehat-nya, sejak ciuman mendadak diparkiran apartemen tadi, sentuhan kecil bibir Lea membuat Altair ingin menikmati-nya lagi.
Heran, karena Altair sebelum-nya tidak pernah secandu ini!
Lea memang tidak membalas semua yang Altair lakukan, ia terlihat tengah menyerahkan diri. Dan menata semua perasaan kacau-nya. Menahan jantung-nya yang berpacu semakin gila. Ini ciuman pertama Lea seumur hidup-nya. Bagaimana Altair melakukan semua itu dengan pelan, membuat Lea menyukai-nya tanpa terkira. Jujur, Lea menikmati semua sentuhan Altair, dengan sepenuh hati. Mengenyahkan seluruh pikiran kotor-nya karena Lea terbuai, ia tidak mau itu berakhir. Lea tidak tahu apa yang akan ia lakukan setelah sadar nanti, tapi sepanjang ciuman manis Altair, Lea hanya terus mengerang.
Lama ciuman hangat itu berlangsung, sampai akhir-nya Altair menghentikan-nya lebih dulu. Altair menatap Lea lekat, masih dengan kekehan kecil-nya, dia berujar puas. "See, kau begitu menikmati ciuman kita Lea."
Lea langsung tersadar atas apa yang dilakukan-nya. Sialan! Lelaki itu tengah menguji-nya ternyata. "Kau sedang menguji-ku??!" kata Lea tidak terima.
Altair hanya tersenyum, mengangguk mantap sebelum berdiri dan mengambil kunci mobil-nya diatas meja. Dia terkekeh dan berujar, "Huh bibir-mu begitu candu Lea. Aku ingin terus menikmati-nya!"
"b******k kau Altair! b******n!!" teriak Lea gusar.
"Yes, I'm!" tukas-nya menyeringai. Altair mulai dengan merapikan barang-barang-nya. Mengambil kunci sedan-nya dan berlalu.
Altair sudah sampai diambang pintu apartemen Lea. Dia berbalik untuk melihat wajah kusut wanita menyebalkan itu sebelum berujar, "Tidurlah, ini sudah begitu larut. Jangan terus membayangkan ciuman kita,"
"Sialan! I hate you!!" teriak Lea.
Altair sudah menghilang dari balik pintu apartemen itu. Meninggalkan Lea yang tengah mengatur degupan jantung-nya.
Lea tidak pernah membayangkan ciuman pertama-nya akan disita habis oleh lelaki songong itu.
Sebelum-nya Lea pikir ciuman-nya akan seindah pada film disney atau film romance yang kerap kali ditonton-nya. Namun siapa sangka, kalau ciuman yang diharapkan Lea sangatlah tragis. Jatuh kepada si-songong yang bahkan membuat-nya gondok setengah mati! Ish, Lea membenci semua permainan konyol ini!
Lea berlonjak lagi karena suara handphone-nya berbunyi. Lea menarik benda pipih itu cepat, ada sebuah pesan masuk. Secepat mungkin Lea membuka-nya.
Lelaki Songong
Tidurlah. Besok aku akan menjemput-mu. Persiapkan saja bibir-mu untuk ciuman kita, selanjutnya.
Setelah membaca itu, Lea melempar kasar ponsel-nya pada sofa tempat Altair pertama duduk. Kemudian, Lea mengambil tongkat-nya, berjalan memasuki kamar-nya dengan perasaan gondok setengah mati.
'Altair sialan!' rutuk Lea berkali-kali.
Altair melangkah dengan penuh senyum, menyusuri seluruh koridor apartemen dengan perasaan asing yang merayap-nya. Dia juga tidak tahu kenapa bisa seperti ini, tapi perasaan aneh itu tidak bisa Altair simpulkan sembarangan.
Perasaan asing itu timbul kembali, dia tidak pernah seperti ini. Namun setelah kejadian itu, Altair tidak pernah ingin jatuh cinta lagi. Tidak sampai dia benar-benar telah menemukan.
Mula yang tidak disangka menjadi seburuk ini, semua kejadian mendadak aneh silih berganti. Altair terbiasa dengan semua bahaya yang dia lewati, tapi tidak dengan wanita menyebalkan itu.
Entah sejak kapan perasaan ingin memiliki ini timbul kembali, tapi tidak boleh. Altair harus menepis itu.
Atas semua pengkhianatan dan luka yang dia berusaha lewati, semua-nya sudah mulai terkikis. Altair tidak ingin memulai lagi. Karena dia tahu, akhir-nya akan tetap sama. Meski itu kesimpulan yang dibuat-nya sendiri.
Altair sudah menyerahkan seluruh hidup-nya. Menjadi yang terdepan memeluk-nya, menjadi yang pertama memegang tangan-nya, bahkan menjadi bodoh Altair rela, hanya demi perempuan itu. Serena.
Altair berhenti balapan untuk sesaat. Karena Serena membenci hobi-nya. Altair menuruti itu semua, asal dengan cara itu Serena tetap menjadi milik-nya. Mendengar semua keluh kesah wanita itu, menjadi tameng yang kuat dan pelindung terdepan agar Serena baik-baik saja. Hingga akhir-nya Altair tahu, hadir-nya memang tidak pernah berarti apa-apa.
Tapi ini lain, Lea misterius. Wanita menyebalkan itu berbeda. Bahkan sejak awal Altair bertemu dengan-nya, tatapan wanita itu seakan memburu-nya. Menghujani-nya dengan banyak sekali pertanyaan, hingga akhir-nya Altair memilih melangkah bersama.
Dia mendapati hati-nya yang kacau total. Terbukti dari pertama bertemu wanita itu, Altair malah tetap menunggu-nya, disaat dia bisa saja pergi secepat mungkin dari rumah sakit dulu.
Tapi Altair tidak menyesal, karena dia merasa hari-harinya sudah mulai berwarna, hidup-nya seperti putaran yang melaju dan tiba-tiba mengejutkan.
Mendapari Lea yang tidak takut dengan-nya. Altair meyakini lagi, Lea berbeda. Sekali lagi dia mengatakan itu. Terbukti dari rahasia besar milik-nya yang diketahui Lea, jika memang wanita menyebalkan itu tahu Altair seorang pemakai narkoba, seharus-nya Lea tidak perlu mendekati-nya. Cukup berhenti jika memang dirasa perlu. Tidak perlu terlibat sejauh ini dan memaksa untuk menerobos-nya.
Namun melihat Lea semakin gencar setiap kali beradu mulut dengan-nya, Altair tahu mereka berdua sudah terjebak. Pada semua keinginan yang tidak seharus-nya. Mereka sengaja bermain-main disana.
Meski Lea tidak pernah tahu yang sebenar-nya.
Tapi Altair tidak punya pilihan, selain melanjutkan seluruh bahaya yang tengah dilewati-nya.
Hingga waktu yang tak dapat ditentukan-nya.
Altair juga menyimpulkan, mungkin dia memang butuh penyembuh atas semua luka yang sudah dihadapi-nya.
Siapa sangka. Jika memang wanita menyebalkan itu obat-nya? Harus bagaimana lagi Altair menghadapi itu.
Hell!!
???