Tidak berdaya dan terbuai begitu saja. Tidak terkira dan berakhir menjadi apa-apa.
Sebuah rasa aneh yang bergejolak dalam d**a.
***
"Lea, ada apa dengan kaki mu?!" teriak Dryna ketika dia sudah memasuki apartemen milik sepupu-nya itu. Tentu saja Dryna bisa masuk, dia sudah hapal diluar kepala kode masuk apartemen Lea.
Mendengar pekikan dari dalam kamar-nya membuat Lea cepat-cepat membuka mata-nya. Takut kalau Altair mendapati wajah bengkak-nya saat bangun tidur. Lea mengerang sesaat, menggosok mata-nya perlahan dan tersadar, 'Ish apa yang tengah ia pikirkan, kenapa malah lelaki songong itu yang di-ingatnya!'
"Omg, Lea! Kau tidak apa-apa? Kenapa kaki-mu bisa sampai begitu?" Dryna bercerocos panjang, dia berjalan kesisi ranjang sepupu-nya itu, duduk tepat disebelah Lea. Mata-nya terus mengamati kaki kiri Lea yang sudah terbalut perban dengan rapi.
"Ish! Bertanya-lah satu-satu. Kepala-ku sakit mendengar semua pertanyaan-mu!" rutuk Lea sebal, ia masih mengucek mata-nya.
"Oke, huh baiklah. Jelaskan, kenapa kaki-mu bisa seperti ini? Ini tidak sesuai rencana kita?!" tanya Dryna kembali.
"Lebih baik kau buatkan sarapan dulu untuk-ku. Setelah itu aku akan menceritakan-nya," jelas Lea seraya bergeser untuk meraih tongkat-nya.
"Oke akan aku buatkan. Sebelum itu, kenapa kau tidak mengangkat panggilan-ku?" tukas Dryna penasaran. Dia heran karena lima panggilan-nya semua tidak terjawab, takut Lea kenapa-kenapa membuat Dryna memutuskan untuk datang ke apartemen ini.
"Handphone ku ada diatas sofa ruang tamu," decak Lea akhir-nya.
Dryna menghela nafas sebelum beranjak kedapur sepupu-nya itu. Dia hanya akan membuatkan roti bakar dan sebuah s**u, lagi pula dia sudah begitu penasaran. Kemarin waktu Dryna mengirim pesan kepada Lea, sepupu-nya itu juga tidak menceritakan apa-apa yang penting. Membuat Dryna bingung dan kalut sendiri.
Sementara Lea, ia sudah berada dikamar mandi, mempersiapkan diri. Lagi pula masih pukul 08.00. 'Ish, Dryna begitu mengusik tidur-nya.'
Tidak lama, masih dengan setelan piama-nya, Lea keluar dari kamar. Menuju sofa tempat-nya semalam dan Altair berciuman. Mengingat itu buru-buru Lea menggeleng kepala-nya kuat. Disana Dryna sudah merebahkan diri, Lea tersenyum karena mendapati pesanan-nya sudah disediakan oleh sepupu-nya tersebut.
Setelah meletakkan asal tongkat-nya dan duduk disofa, Lea langsung menyambar roti bakar yang sudah tersedia, diselingi dengan meminum s**u buatan Dryna tersebut.
Melihat itu Dryna menghentikam aktifitas-nya bermain ponsel, dia membenarkan posisi duduk-nya. Menatap heran sepupu-nya itu yang masih saja suka bertindak ceroboh. Membuat Dryna menggeleng kepala heran.
"Makanlah pelan-pelan, memang-nya kau sudah tidak makan berapa tahun!" tutur Dryna heran.
"Semenjak berkenalan dengan lelaki songong itu, tenaga-ku selalu terkuras Dry!" jawab Lea asal. Membuat Dryna mengerutkan dahi-nya bingung.
Lea meletakkan roti yang tersisa setengah kepiring, meneguk sebentar s**u-nya kemudian mulai menjelaskan kepada Dryna.
"Aku ditabrak Altair." ujar Lea seraya mengelus kaki-nya.
Dryna langsung membulatkan mata tidak percaya. "Bukan seperti itu rencana-nya! Kenapa bisa??"
"Aku merubah-nya Dry, lagi pula itu satu-satu cara yang ampuh..." jelas Lea.
"s**t, tapi tidak perlu sampai separah ini?!" decak Dryna kesal.
Lea terkekeh. Ia sudah menebak respon yang akan diberikan oleh sepupu-nya itu. "Sebenar-nya itu semua salah-ku. Aku sengaja melakukan-nya. Memikirkan rencana sendiri tanpa memberitahu-mu..."
"What?? Kau sudah gila??" teriak Dryna kuat. Mata-nya sudah memerah marah.
"Aku tidak punya pilihan lain, Dry. Kau tahu dia seperti apa," ujar Lea akhir-nya. Lea hanya ingin meyakinkan sepupu-nya itu.
Dryna menggeleng kuat. "Demi Serena? Kau melakukan semua itu demi-nya?"
Lea mengangguk. "Sesuai rencana kita."
Dryna langsung menangis saat itu juga. Kenangan buruk dua bulan lalu masih terngiang jelas dikepala-nya. Tidak akan pernah bisa hilang, karena itu hal terburuk yang pernah dilihat-nya. Lea jadi panik sendiri, namun mengingat kaki-nya yang susah untuk bergerak, Lea hanya menenangkan sepupu-nya itu dari tempat-nya.
"Berhentilah menangsi Dry. Kita akan menemukan kebenaran-nya," ujar Lea pelan. Melihat tangisan Dryna, membuat mata-nya juga berkata-kata.
"Aku merasa tidak berguna sebagai kakak-nya. Aku bahkan melibatkan kau atas semua masalah ini," isak Dryna merasa bersalah.
"Tidak apa, kau juga tahu alasan kenapa aku yang melakukan-nya." jelas Lea kemudian.
"Tapi tidak perlu sampai membuat-mu terluka Lea." tutur Dryna merasa bersalah. Dia menepis air mata-nya. Menatap lekat sepupu-nya itu.
"Lagi pula kau tahu Dry, dia begitu menyebalkan!" kata Lea. Ia jadi merasa keki setiap membahas lelaki itu.
"Kau sudah mulai mengorek-nya??" Dryna bertanya penasaran.
Lea menggeleng. "Dia menolak membahas masalah apapun. Dia begitu keras kepala Dry, aku jadi kesusahan sendiri."
"Tapi dia mau bertanggung jawab karena sudah menabrak mu?" Dryna bertanya sambil berdiri untuk mengambil air mineral didapur apartemen Lea.
"Tentu saja, aku memanfaatkan itu untuk mencari tahu semua-nya." kata Lea mantap.
"Pelan-pelan saja Lea. Nanti jika kau menemukan sesuatu, beritahu aku terus. Aku begitu membenci-nya. Bahkan hingga aku mati!" Dryna berujar penuh amarah. Dia sudah kembali dari dapur, mata-nya sudah kembali menajam. Mendengar nama lelaki itu saja sudah membuat emosi-nya naik turun.
Lea mengigit bibir-nya perlahan, tiba-tiba perasaan aneh menghujani-nya. Lea tidak mengerti, tapi mendengar perkataan Dryna, Lea merasa, bingung.
"Iya Dry. Aku akan memberitahu-mu semua yang kutahu." jelas Lea akhir-nya.
"Baiklah. Aku pergi dulu kalau begitu. Ada mata kuliah pagi ini," ujar Dryna seraya angkat dari posisi-nya.
Lea hanya menatap punggung Dryna hingga hilang dari balik pintu apartemen-nya. Setelah itu Lea menghembus nafas-nya berat.
Pikiran-nya kembali berputar pada sosok Altair. Bagaimana lelaki songong itu memperlakukan-nya, hingga bagaimana seorang Altair bisa berakhir menjadi orang yang kini mulai mengisi sebagian hari-nya.
Lea masih terus memikirkan itu, seakan tak ada henti-nya, karena kini bayangan ciuman lembut lelaki tersebut mulai mengalun dikepala-nya lagi-lagi.
Sejak kepulangan Altair semalam, Lea berusaha keras mengenyahkan pikiran itu. Namun tentu saja sebuah kesia-sia an. Karena semua-nya malah berporos pada titik itu, pada Altair yang mencecap hangat leher dan bibir-nya, mengulum lembut bibir-nya hingga menautkan kedua lidah mereka disana. Sialan karena kini ujung bibir Lea telah mengukir senyum. Lea bahkan sudah benar-benar gila, hanya karena sentuhan lembut dari lelaki songong itu.
Pikiran Lea langsung buyar begitu ponsel-nya berbunyi, Lea langsung meraih ponsel itu yang memang sejak semalam dilempar-nya pada sofa ruang tamu. Lea mengerutkan dahi-nya, itu panggilan dari Ayah-nya. Secepat mungkin Lea mengangkat-nya.
"Ada apa yah?" tegur Lea pertama.
"Hei kenapa anak-ku yang cantik ini tidak pernah mengunjungi ku lagi, sudah hampir sebulan kau tidak pulang. Apakah tugas kuliah menyulitkan-mu?" Gavi--ayah Lea bertanya khawatir. Membuat senyum Lea merekah, ia tahu betul betapa Ayah-nya itu sangat menyayangi-nya. Lea juga sama, tapi berpisah tempat tinggal adalah jalan terbaik menurut ayah-nya. Lea awal-nya menolak, namun Gavi terus memastikan segala-nya akan baik-baik saja.
"Iya yah, ada banyak sekali tugas kuliah. Ayah tahu kan Lea sudah semester akhir, jadi ada banyak tugas yang harus diselesaikan," Lea berujar putus asa.
"Tidak apa sayang. Cepat wisuda cepat juga Lea dapat pekerjaan. Tidak seperti Ayah," Gavi berujar sedih.
Walaupun Lea tidak dapat melihat wajah ayah-nya disebrang sana, tapi Lea yakin lelaki kuat itu sedang bersedih. "Jangan berkata seperti itu, ayah melakukan-nya demi Lea. Untuk kita, tidak masalah ayah. Lea juga mengerti,"
"Terimakasih sayang. Ayah tidak punya siapa-siapa lagi, selain Lea. Maaf telah membuat Lea malu." Gavi berujar putus asa. Suara-nya terdengar begitu berat.
"Tidak apa ayah. Yang penting ayah berhati-hati saja, sekarang sudah banyak yang tertangkap," Lea berujar hati-hati.
"Jangan khawatir Lea, Ayah selalu berhati-hati. Kamu juga, hidup-lah dengan tenang dan nyaman. Makan yang sehat, Ayah akan mengirimkan uang untuk Lea nanti." jelas Gavi disana.
"Iya ayah. Ayah juga, makan-lah yang teratur, jangan sampai sakit." balas Lea, tapi sebulir air bening berhasil keluar dari kelopak-nya. Lea meringis, tidak pernah membayangkan hidup-nya akan menjadi sesulit ini.
Setelah Gavi memberikan pesan-pesan singkat dan peringatan kepada anak satu-satunya itu, panggilan terputus. Lea sudah benar-benar menangis selepas itu. Lea terus meyakinkan bahwa ayah-nya akan baik-baik saja, meski semua pikiran buruk setiap hari bersarang dikepala-nya.
???
"Mom? Obat-nya sudah diminum?" Altair bertanya pelan. Dia berjongkong seraya meraih jemari Clarissa yang kini tengah duduk diatas kursi roda.
Clarissa mengangguk. Dia tersenyum seraya menangkup wajah anak semata wayang-nya tersebut. "Tadi sebelum berangkat kerja, Papa sudah menodong mama dengan semua obat yang ada,"
Membuat Altair terkekeh mendengar perkataan Mama-nya itu.
"Altair, bagaimana dengan Sean? Kalian masih bertengkar?" Clarissa bertanya penasaran. Dia menatap lekat mata hazel anak-nya, warna coklat dibola mata itu selalu membuat Clarissa tenang. Namun Clarissa juga tahu, mata coklat itu tengah menyimpan banyak sekali kerapuhan. Itu terlihat dari bagaimana rahang Altair kini mengeras.
"Berhentilah membahas dia, Mom. Aku tidak ingin membicarakan-nya lagi." ujar Altair malas. Membuat Clarissa tersenyum, seraya mengelus pangkal kepala anak-nya tersebut. Dia selalu melakukan itu, beranggapan bahwa Altair-nya masih menjadi anak kecil nan lugu.
"Altair tahu Kennedy dan Kenrick bersahabat sejak dulu," jelas Clarissa lagi. "Seharus-nya kalian--"
"Mom--" potong Altair cepat.
Clarissa tersenyum geli, "Baiklah sayang. Mari kita membahas masalah lain," jelas-nya kemudian. Membuat Altair menatap tajam Mama-nya tersebut.
"Kenalkan-lah wanita yang membuat Altair mama ini sampai tidak pulang dan pulang selalu larut," Clarissa menggoda anak-nya tersebut.
Membuat Altair mengerutkan dahi, bingung. Namun detik selanjut-nya dia tersadar, mungkin Clarissa tengah membahas malam dimana Altair tidak pulang karena menabrak wanita menyebalkan itu. Dan hari-hari selanjutnya, dimana Altair pulang selalu larut karena mengurus Lea.
Sebenar-nya Altair memang kerap kali pulang larut, namun jam berapa pun dia pulang, Altair akan selalu kembali kerumah-nya. Namun ini berbeda, Altair tahu kemana arah pembicaraan Clarissa.
Sebelum-nya, Altair memang tidak pernah mengenalkan pacar atau mantan pacar-nya kepada kedua orang tua-nya. Bagi Altair hubungan dia, harus dijalani-nya terlebih dulu. Hingga Altair yakin, suatu saat nanti dia akan mengenalkan wanita pilihan-nya kepada kedua orang tua-nya. Tapi kenapa rasanya Altair sudah ingin menceritakan wanita menyebalkan itu kepada Clarissa? Well, ini sudah mulai simpang siur.
"Kenapa mama tiba-tiba menyimpulkan Altair bersama seorang wanita?" ujar Altair heran, dia menatap lekat Mama-nya tersebut.
"Mama menebak saja. Lagi pula, mama kenal anak Mama," Clarissa berkata sambil mengedipkan sebelah mata-nya. Masih terus menggoda anak-nya itu.
Altair menatap tajam wanita dihadapan-nya sebelum terkekeh, "Mama memata-matai Altair?" kata-nya menuduh.
Clarissa berpura-pura terkejut, sebelum mengatakan, "Jadi benarkah? Yatuhan, Altair kami sudah besar ternyata,"
"Dia wanita yang menyebalkan Ma. Dan hanya dia satu-satunya wanita yang berani menjawab semua perkataan Altair." ujar Altair keki. Setiap membahas Lea, perasaan-nya memang selalu terasa gondok.
Clarissa tertawa, "Kenalkan-lah dia sama Mama. Mama ingin menemui wanita itu," Clarissa sedikit memohon.
Altair tidak menjawab. Dia hanya tengah berpikir keras. Tidak menyangka bahwa dia sudah benar-benar menceritakan Lea kepada Mama-nya. Hell, kacau.
"Melihat Altair tersenyum menatap layar handphone waktu itu, Mama sudah menebak-nya." Clarissa meledek, dia masih membahas masalah kemarin.
"Mama memang paling mahir menebak," Altair mengungkapkan kekaguman-nya. Dengan Clarissa yang sudah tertawa lepas dibuat-nya.
"Wanita itu satu kampus dengan Altair?" Clarissa bertanya penasaran.
Altair mengangguk. "Ma, kenapa jadi membahas wanita itu? Dia belum jadi pacar Altair!"
"Belum? Nanti-nya pasti ya?" Clarissa semakin gencar meledek.
Membuat Altair mendengus, "Seperti-nya tidak mungkin. Dia sangat menyebalkan Ma,"
"Tidak ada yang dapat mengalahkan pesona anak Mama. Mama yakin wanita itu pasti jatuh cinta pada Altair," Clarissa berusaha meyakinkan.
Altair hanya memicingkan kepala, sebelum terkekeh pelan. "Tidak Ma, Altair tidak menyukai wanita itu."
"Benarkah? Kenapa mama melihat sesuatu yang berbeda dari mata itu?" tukas Clarissa sambil menunjuk mata Altair.
"Mom--sudahlah. Altair harus pergi kekampus." kata-nya mengalihkan. Tidak ingin berdebat dengan Clarissa, karena Mama-nya itu selalu membuat Altair kehilangan kata-kata.
Hal tersebut juga yang membuat Altair senang berdebat dengan Lea. Wanita menyebalkan itu mirip dengan Clarissa. See, Altair bahkan sudah menghabiskan pikiran-nya mengenai wanita itu.
Clarissa tersenyum seraya mengangguk, "Iya, pergi-lah. Mama juga ingin istirahat, begitu lelah rasa-nya."
"Mama butuh sesuatu? Ada yang sakit? Altair tidak usah kuliah saja ya," kata-nya panik sendiri.
Clarissa mengelus wajah Altair, sambil berujar, "Sayang, Mama tidak apa-apa. Ada bik Tuti yang berjaga, pelayan juga banyak. Mama takut wanita itu sudah menunggu Altair."
"Ma--" jawab Altair cepat. Dia benar-benar tidak ingin membahas wanita menyebalkan itu lagi. Tapi Clarissa malah terus menggoda-nya.
"Iya-iya, yasudah pergi sana." kekeh Clarissa kemudian. Dengan Altair yang kini mencium lembut wajah Mama-nya seraya berlalu.
Altair harus melakukan kewajiban-nya sekarang, menjemput wanita menyebalkan itu. Yang tidak Altair sangka malah mempengaruhi sebagian hidup-nya.
Altair baru saja akan menderu sedan-nya, ketika handphone-nya berbunyi.
Sebuah pesan masuk menghiasi layar-nya. Cepat Altair membuka pesan itu.
Wanita Menyebalkan
Heh songong, lama sekali kau menjemput-ku. Aku ada mata kuliah Hukum Perdata. Cepatlah datang, tunjukan keahlian balap bodoh mu itu.
Altair hanya tersenyum kecut, membaca-nya.
Sialan, wanita menyebalkan itu meremehkan-nya!
???