Menerima Bahaya

2413 Words
Begini cara-ku memahami. Pada semua ulasan yang kutampilkan, selalu ada celah untuk menemukan. Semua perasaan anen nan menggila didasar d**a. Ini sudah mulai tidak waras. *** Altair sudah sampai diapartemen Lea, jika seharusnya jarak tempuh antar rumah-nya ke apartemen Lea satu jam, kali ini Altair melakukan-nya hanya dengan tiga puluh menit saja. Usai mendapati pesan meremehkan dari wanita menyebalkan itu, Altair benar-benar ingin membuktikan-nya. Masih berada didalam sedan-nya, Altair langsung menghubungi wanita menyebalkan itu. "Aku sudah diparkiran, turun-lah cepat!" ujar-nya ketika panggilan baru saja terhubung. "Benarkah? Wow, kau bukan pembalap abal-abalan ternyata," Lea terkekeh dari sebrang sana. "Dalam sepuluh menit kau tidak turun, aku akan meninggalkan-mu." kata Altair gusar. "Hei kau tahu kaki-ku sedang terluka, jangan gi--!" rutuk Lea sebal. Tuut-tuut! Panggilan terputus, bahkan disaat Lea belum selesai menyuarakan protes-nya. Sambil menunggu wanita itu, Altair merebahkan kepala-nya dibangku kemudi. Dia memejamkan mata, memikirkan banyak hal yang masih mengganjal dibenak-nya. Altair memang baru saja kehilangan, mendapati pengkhianatan dan juga rasa tidak di-inginkan. Dia hanya takut untuk membuka kembali hati-nya, karena dia tidak pernah begitu ingin terjebak pada perasaan konyol itu lagi. Tapi semenjak menemukan Lea pada waktu yang tidak dia perhitungkan, Altair seolah-olah kehilangan kendali atas diri-nya sendiri. Bagaimana kini wanita itu semakin gencar ingin dia temui. "Tega sekali kau, huh kaki-ku sakit berjalan cepat!" gusar Lea ketika ia baru saja memasuki sedan Altair. Mendengar suara wanita itu membuat Altair menyadarkan diri dari lamunan-nya. Dia menoleh sesaat, sebelum tersenyum kecut karena wajah masam Lea. "Kau saja bisa menyuruhku untuk cepat, kenapa aku tidak?" kata-nya sambil mengangkat sebelah alis-nya. "Sekarang lihat-lah. Siapa yang pendendam?" kata Lea geram. Setelah menyimpan tongkat-nya dibelakang, Lea membenarkan posisi rambut-nya yang berantakan. Keringat-nya sudah bercucuran, membuat-nya menatap Altair kesal. Altair tidak menghiraukan pandangan intimidasi dari wanita menyebalkan itu, dia hanya menghidupkan mesin mobil-nya dan mulai melaju. "Kau marah?" Lea bertanya heran. Sejak tadi Altair tidak kunjung membuka suara. Tidak biasa karena lelaki itu selalu berdebat dengan-nya. Terasa aneh karena mendapati lelaki itu kini hanya diam. "Kenapa? Bukan-kah aku menepati janji turun dalam sepuluh menit?" sambung-nya lagi. Altair tidak menoleh, dia masih fokus mengendarai sedan-nya, dia juga bingung kenapa seperti ini, tapi bagaimana menjelaskan-nya, dia tidak suka melihat wanita menyebalkan itu berpakain sexy seperti saat ini. Tapi memilih untuk bungkam, Altair berusaha untuk tidak peduli. Lagian bukan urusan-nya.  "Heh, berbicaralah. Aku suntuk diam-diaman seperti ini!" Lea berujar tidak suka. Altair bukan hanya mendiamkan-nya, lelaki itu bahkan tidak menoleh kepada-nya. "Diam-lah. Kepala-ku sakit," Altair berujar pelan. Lea sontak mendekati lelaki itu, dengan punggung tangan-nya ia memegang dahi Altair, Lea merasakan suhu lelaki itu. "Apa yang kau lakukan," rutuk Altair seraya menepis tangan wanita itu. "Merasakan kepala-mu, siapa tau kau demam," jelas Lea heran. Ia masih menatap lekat lelaki disebelah-nya. Sering kali Lea terhipnotis oleh wajah tampan Altair, pada rahang-nya yang kokoh dan juga hidung mancung milik lelaki itu. Namun berkali-kali pula Lea meyakinkan kepada diri-nya sendiri, ia tidak boleh terjebak. Pada seluruh permainan yang dibangun-nya sendiri. Tidak boleh, ini sudah salah. "Aku pusing karena mendengar celoteh-mu. Bukan karena demam bodoh!" Altair berujar keki. Membuat Lea memanyunkan bibir-nya, bete. Tapi ia tetap saja kekeh untuk berbicara. "Aku sudah penasaran tentang ini, kenapa kau memakai narkoba itu?" "Sudah kukatakan jangan membahas masalah itu lagi," Altair berujar tidak ingin tahu. Dia benar-benar malas membicarakan-nya kepada wanita menyebalkan ini. "Lagi pula aku sudah tahu, terbukalah sedikit," Lea masih bersikeras. "Kau tidak tahu apa-apa bodoh," Altair berujar sarkas. "Aku tahu, jangan mengatakan aku tidak tahu. Aku tahu semua-nya, tentang-mu. Tidak ada yang aku tidak tahu," Lea spontan mengatakan semua itu. Membuat Altair menoleh dan menatap-nya tajam. "Kau memata-mataiku?" "Ti-dak. Bukan seperti itu, lagian siapa yang tidak mengenal-mu??" Lea berujar terbata. Ia sudah salah bicara. "Tidak ada yang benar-benar mengenal-ku Lea. Kau harus tahu itu," Altair berujar tajam. "Maka buat-lah aku mengenalmu lebih dari yang lain," jelas Lea, ia menyunggingkan senyum-nya puas. "Kau benar-benar tidak takut dengan-ku? Jika semua yang kau katakan itu benar?" Altair menarik sebelah alis-nya. Heran karena wanita ini begitu menantang-nya. "Tentu saja tidak. Sudah kukatakan aku tidak takut kepada-mu," Lea meyakinkan itu. "Benarkah? Kau tahu, hidup-ku dikelilingi bahaya. Jika kau memang ingin mengenalku, kau siap terjebak dalam semua bahaya itu?" Altair kembali memberi tantangan. Masih dengan senyum kecut dibibir-nya, dia penasaran mendengar jawaban wanita itu. See, Lea tidak langsung menjawab. Ia tengah memikirkan semua perkataan Altair. Lea tahu bahaya apa yang dimaksud, seharus-nya Lea menolak. Tapi hati-nya malah berkata lain. Sialan, tanpa disuruh pun sejak awal, Lea memang sudah terjebak. "Aku bersedia." jawab Lea santai. Membiarkan Altair menggeleng tidak percaya. "Baiklah, sekarang kau tidak punya jalan keluar. Karena apapun yang terjadi, kau sudah pasti terlibat Lea." tukas Altair lagi. Dia hanya ingin meyakinkan jika wanita menyebalkan itu ingin mundur, Altair mempersilahkan-nya. Tapi memang sejak awal Lea sudah menantang-nya, Altair yakin wanita itu tetap pada pendirian-nya. "Who care's?" jelas Lea mantap. Dengan Altair yang kini sudah mengedipkan sebelah mata-nya. "Jadi, bersabar-lah. Kau akan menemukan kebenaran atas rasa penasaran-mu itu!" jelas-nya. Membuat Lea berteriak dalam hati-nya, yash ia berhasil mengelabuhi lelaki songong ini. Altair sudah menghentikan sedan-nya diparkiran Fakultas Hukum. Altair membuka jaket denim-nya yang sudah terbalut rapi ditubuh-nya, setelah itu Altair melempar jaket itu tepat dipangkuan Lea. "Pakailah jaket ini, jangan memamerkan tubuh yang seperti babi itu!" singgung-nya tajam. Altair sudah turun dari mobil, mengambil tongkat milik wanita menyebalkan itu dan memegang-nya terlebih dahulu. "Apa yang salah dengan baju-ku?? Aku tidak mau menggunakan ini," tolak Lea mentah. Altair menatap tajam wanita itu, sambil berujar gusar. "Jika kau ingin mengenalku, pakai itu lebih dulu! Aku tidak suka seseorang yang ingin mengenal-ku lebih membantah semua yang ku suruh." jelas-nya sambil menunjuk jaket denim ditangan wanita itu. Lea membuang nafas-nya kasar, sebelum benar-benar membalut tubuh-nya dengan jaket milik Altair. Well, kenapa jadi begini. Lea hanya ingin mengenal lelaki itu lebih supaya ia dengan mudah dapat menemukan kebenaran-nya, bukan malah mendengarkan semua yang lelaki itu mau, ish! Tapi satu-hal yang mulai Lea pahami, Altair possesif! Namun meski dengan celotehan dan bibir yang ditekuk masam, Lea tetap mengenakan jaket tersebut. Altair terlihat tersenyum puas, dia menyeringai senang. "Begitu lebih baik, sudah kukatakan d**a-mu tidak indah. Jangan terlalu sering menggunakan pakaian yang kurang bahan," Lea mendengus sambil menatap tajam lelaki itu. "Kenapa kau selalu menghina d**a-ku! Sialan!" rutuk Lea gusar. Masih dengan duduk dibangku penumpang, sementara Altair menunggu diluar, membuat kedua-nya terlihat layak-nya sepasang kekasih sungguhan. Pembicaraan kedua-nya terlihat begitu intens, membuat beberapa mahasiswa yang berlalu lalang curi-curi kesempatan, ada juga yang sengaja berlama-lama demi melihat sosok rupawan Altair. His, Lea tahu sorot-sorot ingin memiliki dari seluruh wanita disana. "Berhenti mengomel, kau lebih cantik seperti ini." Altair berujar tulus, sambil menyerahkan tongkat Lea dari tangan-nya. Lea menerima-nya dan mulai turun dari mobil, masih dengan dipapah Altair, Lea menghirup aroma lelaki disamping-nya ini. 'Aroma yang kini mulai menghiasi indra penciuman-nya, aroma yang tiba-tiba sangat dikenal-nya. s**t, ini sudah mulai tidak beres.' celoteh Lea dalam hati. "Terimakasih songong," tukas Lea seraya menerima tongkat-nya dari tangan Altair. "Kau menyebalkan!" balas Altair tidak terima. Dengan Lea yang sudah terkekeh disana. "Tumben sekali memuji-ku, huh!" tukas Lea tidak percaya, dengan tongkat disisi kanan dan kiri-nya, Lea menatap lelaki songong itu takjub. Altair hanya mengenakan jeans dan kaos hitam biasa, tapi tubuh-nya begitu sempurna dan menakjubkan. Ketika kekehan dari lelaki itu berhasil membuat Lea menyadarkan diri-nya lagi-lagi. "Yeah cantik. Cantik sedikit dari Ursula!" Ejek Altair dengan kekehan geli. "Penyihir licik itu? Sialan!!" Lea berujar tidak terima. Dengan Altair yang sudah tertawa lepas. "Kau bolos kuliah lagi?" tuduh Lea kemudian, ia mengganti topik-nya karena kesal dengan lelaki itu. Altair memang paling handal membuat-nya terbang dan jatuh diwaktu bersamaan. Dan saat mendapati lelaki itu tengah balapan kemarin, Lea yakin Altair pasti melewatkan mata kuliah-nya. "Bukan urusan-mu!" kata-nya seraya berlalu. Meninggalkan Lea yang sudah menatap-nya keki. Kepergian Altair membuat Lea mulai melangkahkan kaki-nya. Walaupun kelas-nya berada dipojok, Lea tidak punya pilihan. Menghela nafas berat, ia mulai melangkah pelan sepanjang koridor fakultas-nya. Ketika sebuah suara berhasil menghentikan langkah-nya. "Lea?" Mula-nya Lea pikir Pietro yang menyapa-nya, namun saat menoleh Lea berlonjak karena itu Sean. Lea mengerutkan dahi-nya, sedikit bingung karena tidak biasa-nya lelaki pembuat onar difakultas-nya itu menegur-nya. Aneh, karena walaupun mereka sering berada dikelas yang sama, Sean hampir tidak pernah bertegur sapa dengan-nya. Lea bahkan berfikir lelaki itu tidak peduli pada sekitar-nya. Jadi, tanpa menjawab seruan itu, Lea hanya diam dan terus memperhatikan. "Lea, right?" ulang lelaki itu lagi. Lea mengangguk. "Ada apa?" kata-nya penasaran. Lelaki itu terkekeh sebelum ikut berdiri disamping Lea. "Kau satu kelas dengan-ku sejak semester pertama kan?" Sean bertanya itu untuk basa basi. Lea berusaha mengingat-nya sebelum kembali mengangguk. "Kau tadi turun dari mobil Altair?" tanya-nya pertama. Dia mulai mengajak Lea untuk terus berjalan, tidak perlu berhenti dikoridor karena mereka akan menghalang jalan. Masih dengan memapah tongkat-nya, Lea mulai berjalan pelan. "Kenapa memang-nya?" tutur Lea kemudian. "Hanya memastikan," Sean berujar geli. Perkataan Sean membuat Lea langsung menoleh. "Kau mengenal-nya?" tanya Lea polos. "Tentu saja. Dia musuh-ku disirkuit!" jelas-nya bangga. "Musuh-mu? Disirkuit?" Lea mengerutkan dahi-nya. "Oh ataukah kau wanita yang ditabrak-nya ditengah sirkuit waktu itu??" ujar Sean tidak percaya. Dia baru sadar saat memperhatikan gulungan perban dikaki wanita itu. "Kau juga ikut balapan liar itu?" tukas Lea tidak percaya. Ia tidak menyangka bahwa teman sekelas-nya ini juga memiliki hobi yang sama dengan Altair. "Tentu saja, aku kemarin berhasil mengalahkan si-songong itu!" jelas-nya sambil menepuk-nepuk d**a. Lea terkekeh, "Pantas saja dia terlihat kesal kemarin," kata-nya bercerita. Pembicaraan-nya dengan Sean jadi semakin menarik. Lea tidak menyangka bahwa lelaki disebelah-nya ini mengetahui tentang Altair juga. "Kau pacar-nya?" Sean bertanya lagi. Jika memang wanita ini adalah pacar Altair, Sean sudah merencanakan sesuatu. Lea menggeleng, "Tidak sudi memiliki pacar se-songong itu!" Membuat Sean tertawa geli, baru kali ini dia menemukan wanita yang tidak terpengaruh oleh pesona Altair. "Benarkah? Tapi Altair bukan tipe lelaki yang akan mengantar jemput seorang wanita," ujar-nya menantang. Lea hanya tersenyum kecut, jika saja lelaki ini tahu apa yang terjadi, dia tidak mungkin mengatakan itu. "Mungkin aku pengecualian," tutur Lea mantap. "Jika kau memang bukan pacar-nya, bagaimana jika aku yang menjadikan-mu pacar-ku?" Sean berujar penuh tantangan. Membuat Lea menghentikan langkah-nya, ia tidak hanya tercekat, namun juga berlonjak. "A-apa kata-mu?" kata-nya terbata. "Bukan apa-apa, hanya saja--" Sean menghentikan ucapan-nya, dia merubah ekpresi-nya, geli sendiri melihat perubahan digaris wajah Lea. Namun detik selanjut-nya dia menyunggingkan senyum lagi, "Aku mengenal Altair lebih baik dari siapa-pun." kata-nya seraya berlalu meninggalkan Lea. Sebelum itu Sean berbalik badan dan mengedipkan sebelah mata. Lea tidak lagi melanjutkan langkah-nya, ia terdiam ditempat, kaki-nya terasa melemah. Lea masih tidak habis pikir, bagaimana mungkin lelaki itu berkata asal seperti tadi? Siapa dia? Siapa Sean sesungguh-nya? Hell! Ini sudah mulai membingungkan. ??? "Hei, kemana saja kau??" Lucas yang pertama kali menegur ketika Altair terlihat baru saja duduk dibangku-nya. Kelas mereka memang sudah mulai, namun dosen belum juga menunjukkan diri-nya. "Apa yang wanita itu lakukan?" kini Kevin yang menimpali. Altair hanya melirik malas kesumber suara, kedua teman-nya yang itu memang paling berisik dan begitu ingin tahu. Malas meladeni, Altair lebih memilih berbicara kepada Deo dan juga Rendra. Namun sialan, tidak hanya Kevin dan Lucas. Nyata-nya Deo dan Rendra ikut menanyakan hal yang sama. "Kau begitu kacau, tidak seperti biasanya," Deo berujar. "Wanita itu mengancam-mu?" Rendra ikut bersuara. Altair menggeleng, "Aku hanya melakukan apa yang sudah kujanjikan dengan-nya," jelas Altair kemudian. "Ini bukan seperti-mu, kau selalu menentang sesuatu Altair!" Kevin menyahut cepat. "Dan kau tidak suka berurusan dengan wanita lain, setelah kejadian itu," Lucas ikut-ikutan. Mendengar permasalahan itu kembali dibawa, Altair menatap tajam seluruh teman-nya. Mereka memang tahu, tapi Altair tidak ingin masalah itu terus dibahas. Dia tengah berusaha melupakan-nya. Tapi bagaimana, ketika teman-temannya sendiri malah kerap kali membahas itu lagi? "Ada yang tidak beres disini," Deo meyakinkan itu. "Kau menyukai wanita gila itu Altair," tukas Rendra kemudian. Altair mengerutkan kening-nya. Tidak, dia tidak mungkin menyukai wanita menyebalkan itu. Dia hanya tengah meminimasirkan keadaan gila yang sudah terjadi. Altair tidak ingin jatuh lagi, tidak akan pernah. Karena luka-nya begitu mencekam didada. "No! Aku tidak menyukai wanita gila itu. Jangan berargumen sembarangan," Altair menolak sanggahan itu. "Benarkah? Tapi baru kali ini aku melihat seorang Altair meninggalkan sirkuit secepat itu hanya karena ingin menjemput seorang wanita," ledek Kevin disana. "A-ah dan mendapatkan kekalahan hanya karena mengkhawatirkan seseorang," Lucas menambahkan. "Stop-it! Sudah kukatakan aku hanya bertanggung jawab atas wanita gila itu!" kata-nya bersikeras. Ke-empat temannya hanya tertawa disana. Membuat Altair menatap-nya kesal. "Berhenti membantah semua-nya Altair, kau terlihat jelas menginginkan wanita itu," Deo berujar sarkas. "Kau pikir dia barang?" ucap-nya tidak terima. Tanpa sadar suara Altair meninggi. Hell, kenapa seperti ini. Apa yang ada dikepala-nya. Melihat itu Deo benar-benar terkekeh. "See guys? Altair bahkan berteriak kepada-ku sekarang!" ledek Deo tak henti-henti. "Ini beda dari pertama kali kau menabrak-nya. Malam itu kau bahkan terlihat tidak peduli," Rendra berkata sambil menepuk pelan pundak sahabat-nya itu. "Bukan seperti itu," Altair berujar pelan, dia membuang nafasnya kasar. Berdebat dengan ke-empat teman-nya ini memang tidak akan pernah berakhir. "Sudahlah Altair. Kami memahami segala-nya sekarang." Kevin berujar sambil terkekeh. "Meskipun kau mengatakan tidak, kami tahu itu berbeda dari apa yang wajah-mu tampilkan," Lucas belum juga selesai menggoda sahabat-nya itu. Altair baru saja ingin membantah lagi, ketika suara langkahan dari pintu mulai terdengar jelas. Dosen mereka sudah memasuki kelas. Altair tidak punya pilihan lain selain mengatup mulut-nya. Dia juga tidak tahu, sekeras apapun Altair menolak itu semua, hati-nya terasa lain. Semua-nya begitu sukar dia mengerti. Dia sudah mulai kehilangan pertahanan-nya. s**t! ???
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD